Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016: Penyelesaian Siklus Ketiga
Hari penyelesaian Siklus 3 tiba tanpa drama dari luar.
Tidak ada kebakaran.
Tidak ada selebaran fitnah.
Tidak ada investor yang tiba-tiba datang sambil membawa triliunan.
Hanya Rian Prasetyo, sebuah kantor sunyi di PT Garuda Emas Group Jakarta, dan panel biru Sistem Rugi yang melayang di depan matanya seperti hakim yang terlalu mengenalnya.
Di luar ruangan, Jakarta masih bergerak. Es Madu Kopi tetap ramai. Laporan Garuda Mart dari Kota Tanjung Emas stabil. Restoran Rasa Nusantara tetap penuh reservasi. Di lantai lain, Naga Games baru mulai menggambar mimpi yang menurut Rian seharusnya sangat mahal dan sangat tidak pasti.
Semua tampak sehat.
Terlalu sehat.
Rian duduk sendirian, kedua tangan terlipat di atas meja.
"Ayo," gumamnya. "Jangan terlalu kejam."
Panel biru berkedip.
[Siklus 3 berakhir.]
[Audit Dana Sistem dimulai.]
[Dana Sistem: Rp 1.000.000.000.000.]
[Dana eksternal investor: dicatat sebagai dana operasional non-konversi.]
[Unit aktif: Garuda Mart, Restoran Rasa Nusantara, Es Madu Kopi, PT Naga Games.]
[Catatan: keuntungan dari dana eksternal tidak dikonversi menjadi Dana Pribadi.]
[Catatan: keputusan operasional host tetap dinilai terhadap Dana Sistem.]
Rian menahan napas.
Baris-baris angka mulai muncul.
Pendapatan Garuda Mart.
Pendapatan Restoran Rasa Nusantara.
Pendapatan Es Madu Kopi.
Biaya sewa ratusan gerai.
Gaji ribuan karyawan.
Renovasi.
BPJS.
Pelatihan.
Bonus.
Peralatan studio game.
Gaji Yoga, Pak Bambang, Andhika.
Rian menatap daftar itu dengan perasaan aneh.
Dulu, ia hanya berharap rugi sebanyak mungkin.
Sekarang, ia mulai melihat pola.
Siklus pertama gagal total karena Garuda Mart terlalu sehat dan biaya belum cukup dalam.
Siklus kedua memberinya Rp 50.120 karena sewa mahal, gaji tinggi, dan dividen karyawan akhirnya menekan angka sampai sedikit merah.
Siklus ketiga lebih rumit.
Investor luar membuat perusahaan tampak makin besar, tapi sistem tidak begitu saja mengubah uang orang lain menjadi uang pribadi Rian. Yang dihitung adalah keputusan yang benar-benar berada di bawah kendali Sistem Rugi: bagaimana ia memakai dana sistem, seberapa boros biaya yang sah, dan seberapa jauh margin ditekan tanpa melanggar aturan.
Setiap keputusan "bodoh" yang ia buat memang tidak selalu menghancurkan bisnis. Sering kali malah membuat bisnis lebih kuat. Tapi keputusan itu juga menekan margin, memanjangkan biaya, dan membuat sistem mengakui sebagian kerugian dari sisi keputusan pribadinya.
Artinya, ia tidak perlu hanya mencari kehancuran.
Ia perlu mencari cara membuat bisnis tetap berjalan sambil menahan profit sebanyak mungkin.
Pemahaman itu tidak membuatnya bahagia.
Tapi setidaknya, ia tidak lagi merasa meninju tembok kosong.
[Audit selesai.]
Rian menegakkan punggung.
[Hasil keputusan personal yang memenuhi syarat konversi: -Rp 245.000.000.]
[Konversi Dana Pribadi: Rp 245.000.000.]
[Dana Pribadi telah ditransfer.]
Ponselnya bergetar.
Saldo masuk.
Rp 245.000.000.
Rian tidak berkedip.
Ia menatap angka itu selama sangat lama.
Dibandingkan triliunan yang berputar di bawah namanya, 245 juta kecil.
Sangat kecil.
Tapi dibandingkan Rp 50.120 yang dulu ia bawa ke warung Soto Ayam, angka ini seperti lompatan dari sendal jepit ke mobil pribadi.
Ini uangnya.
Uang pribadi.
Uang yang boleh ia pakai untuk makan tanpa takut sistem menamparnya.
Rian membuka aplikasi bank dan melihat total saldo pribadinya. Setelah sisa kecil sebelumnya dan beberapa penyesuaian rekening, jumlahnya mendekati 500 juta Rupiah.
Untuk pertama kalinya sejak mendapatkan Sistem Rugi, ia bisa disebut punya uang sungguhan.
Dengan uang itu, ia bisa menyewa tempat tinggal layak tanpa menghitung harga mi instan.
Bisa membeli ponsel baru kalau ponsel lamanya mati.
Bisa mengirim uang kepada Ibu tanpa berbohong bahwa semuanya baik-baik saja.
Pikiran terakhir membuat dadanya lebih hangat daripada angka di layar.
Ia belum siap menelepon Bu Sri malam ini.
Tapi untuk pertama kalinya, ia punya sesuatu yang benar-benar bisa ia berikan.
Ia bahkan sempat membuka halaman kontak Ibu, menatap nama itu beberapa detik, lalu menutupnya lagi.
Nanti.
Kalau suaranya sudah tidak terdengar seperti orang habis selamat dari perang akuntansi.
Ia bersandar di kursi.
Tidak tertawa.
Tidak menangis.
Hanya menarik napas panjang.
"Jadi begini caranya," bisiknya.
Sistem tidak menjawab.
Tentu saja.
Panel itu hanya melanjutkan tugasnya.
[Siklus 4 dimulai.]
[Dana Sistem: Rp 2.000.000.000.000.]
[Durasi: 90 hari.]
Angka itu muncul dengan tenang.
Dua triliun.
Sebelumnya, setiap dana baru terasa seperti hukuman.
Sekarang, hukuman itu masih ada, hanya saja Rian mulai melihat bentuk borgolnya.
Gaji tinggi bekerja.
Fasilitas mahal bekerja.
Proyek jangka panjang bekerja.
Semua itu tidak menghancurkan perusahaan, sialnya, tapi setidaknya membuat sistem mengakui biaya nyata.
Dulu, angka seperti itu akan membuat Rian ingin membenturkan kepala ke meja.
Sekarang ia masih ingin melakukan itu, tapi tidak sekuat sebelumnya.
Ada rasa takut.
Ada tekanan.
Tapi juga ada sesuatu yang baru.
Strategi.
Rian mematikan panel ketika terdengar ketukan di pintu.
Bagas masuk membawa kotak makanan dan wajah penuh kecurigaan. "Bos, lu masih hidup?"
"Sayangnya."
"Berarti hasilnya bagus atau buruk?"
Rian memandangnya. "Tergantung sudut pandang."
Bagas meletakkan kotak makanan. "Kalau dari sudut pandang gue?"
"Kita dapat uang."
"Mantap!"
"Dan sekarang ada dua triliun lagi yang harus diurus."
Bagas berhenti membuka kotak makanan.
"Oke, itu agak tidak mantap."
Ponsel di meja berbunyi. Video call dari Darmawan.
Rian menerimanya.
Wajah Darmawan muncul di layar, latarnya kantor Garuda Mart. "Pak Bos, laporan Kota Tanjung Emas aman. Garuda Mart stabil, Restoran Rasa Nusantara penuh, bantuan untuk warga terdampak kebakaran sudah tersalurkan."
"Bagus. Terima kasih, Darmawan."
Darmawan tersenyum kecil. "Kami hanya menjalankan arahan Pak Bos."
Rian hampir membantah, tapi ia terlalu lelah.
Bagas mengangkat kotak makanan ke kamera. "Pak Dar, kita harus rayakan. Bos akhirnya kelihatan nggak mau pingsan."
"Selamat, Pak Bos," kata Darmawan dengan tulus. "Apa pun pencapaian hari ini, kami ikut bangga."
Rian menatap dua orang itu.
Mereka tidak tahu angka sistem.
Tidak tahu bahwa 245 juta membuatnya lega, sementara 2 triliun membuatnya pusing.
Tapi mereka ada di sana.
Setia.
Dan untuk sesaat, itu cukup.
Bagas membuka kotak makanan. "Jadi kita rayakan apa?"
Rian mengambil satu potong ayam goreng, lalu berkata datar, "Merayakan bahwa masih ada 2 triliun yang harus kita rugikan."
Bagas menatapnya.
Darmawan di layar terdiam.
Lalu Bagas mengangguk pelan. "Bos, cuma lu yang bisa bikin kabar kaya terdengar seperti utang arisan."
Rian tersenyum tipis.
Ia menatap angka Rp 2.000.000.000.000 yang masih membekas di ingatannya.
Kali ini, ia tidak sekadar takut.
Kali ini, ia mulai paham.
"Dua triliun," gumamnya.
Panel biru muncul kembali, seolah menunggu.
Rian duduk lebih tegak.
"Kali ini, aku tahu harus bagaimana."