Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Kain dan Cerita di Balik Nama KIMI
“Jadi, pria bertopeng itu melacak topengmu sampai ke sini?”
Ratih berhenti di depan sebuah atelier kecil di Kebayoran Baru. Tulisan KIMI terpasang sederhana di kaca, sebagian hurufnya tertutup gulungan kain yang disandarkan dari dalam.
“Dia hanya mengenali mereknya,” jawab Anindya.
“Itu sudah cukup menyeramkan. Aku pinjam topeng itu dari Kemal, bukan supaya ada laki-laki kaya mengikuti jejaknya.”
“Saya datang untuk mengembalikannya, bukan bersembunyi.”
“Kalau mulai pakai saya ke aku, berarti kamu tegang.”
Ratih membuka pintu sebelum Anindya sempat membalas.
Atelier itu hanya terdiri atas ruang kerja utama, ruang pas kecil, dan meja panjang penuh pola. Kain batik tulis tergantung di satu sisi, sementara sketsa gaun modern menutupi dinding lainnya. Mesin jahit tua berdiri di samping laptop dengan layar retak. Tempatnya sederhana, tetapi tak ada satu benda pun diletakkan tanpa tujuan.
“Kemal!” panggil Ratih. “Aku bawa topengmu kembali. Masih utuh, pemakainya yang hampir rusak.”
Seorang pria keluar dari balik rak kain dengan pita ukur di leher. “Kamu selalu masuk tanpa salam lalu menghina barang saya.”
“Assalamualaikum juga.”
“Waalaikumsalam.” Kemal menggeleng, lalu menoleh kepada Anindya. “Anda pasti teman yang memakai koleksi amal lama itu.”
Anindya menyerahkan kotak topeng. “Terima kasih sudah meminjamkan. Maaf sempat menjadi bagian dari insiden.”
“Topengnya bisa diperbaiki. Pergelangan Anda bagaimana?”
“Sudah baik.”
Kemal tidak menanyakan gosip malam itu. Tatapannya justru berpindah dari garis bahu Anindya ke panjang lengan dan cara gaunnya jatuh.
“Jangan lihat teman saya seperti kain dua meter,” kata Ratih.
“Saya sedang bekerja.”
“Mata kamu memang selalu kerja.”
“Karena ada orang yang selalu datang mengganggu jam kerja.”
Mereka bertengkar dengan mudah, seperti orang yang telah mengulang percakapan serupa bertahun-tahun. Ratih mengambil kopi Kemal tanpa bertanya. Kemal memindahkan gunting dari jangkauannya tanpa melihat.
Anindya menangkap keakraban yang keduanya pura-pura anggap biasa.
“Saya sedang menyelesaikan koleksi kecil,” kata Kemal. Ia menarik sebuah gaun dari rak. “Boleh saya minta Anda mencoba ini?”
Gaun itu berwarna hijau gelap dengan potongan bersih dan panel batik halus di sisi pinggang. Tidak berkilau, tetapi jahitannya membuat kain tampak hidup saat bergerak.
“Saya tidak datang untuk menjadi model.”
“Bukan model. Saya perlu melihat apakah pola bahunya jatuh benar pada tubuh manusia, bukan manekin.”
“Tubuh manusia lain banyak.”
“Proporsi Anda tepat untuk rancangan ini.”
Ratih mengambil gaun itu dan mendorongnya ke tangan Anindya. “Coba. Kalau jelek, kita hina Kemal bersama.”
“Kalau bagus?”
“Kita tetap hina dia supaya tidak sombong.”
Kemal menghela napas panjang.
Anindya akhirnya masuk ke ruang pas. Saat gaun menutupi tubuhnya, kain menyentuh bekas luka di bahu tanpa menekannya. Potongannya tidak berusaha menyembunyikan seluruh tubuh atau memamerkan sesuatu untuk pandangan orang lain.
Ia membuka tirai.
Ratih berhenti mengunyah kue. Kemal bahkan tidak langsung mengambil jarum pentul.
“Apa?” tanya Anindya.
“Cermin,” kata Kemal pelan. “Lihat dulu.”
Perempuan dalam cermin itu tidak memakai seragam kopilot, pakaian pasien, atau gaun yang dipilih untuk menjadi istri rahasia seseorang. Kain hijau mengikuti tubuhnya tanpa mengubahnya menjadi milik siapa pun.
Bekas luka tipis masih tampak di dekat bahu. Anehnya, luka itu tidak merusak gaun. Ia hanya menjadi bagian dari perempuan yang mengenakannya.
Anindya menyentuh panel batik di pinggang.
“Ini buatan tangan?”
“Ya. Motifnya saya ubah supaya tidak terpotong di sambungan.” Mata Kemal kembali hidup. “Saya sedang menyiapkan presentasi kecil untuk pembeli dan media mode. Saya ingin Anda memakai ini sebagai salah satu muse.”
“Tidak untuk publik.”
“Saya belum menjelaskan acaranya.”
“Jawaban saya tetap sama.”
Kemal tidak tersinggung. “Kalau begitu, izinkan saya memotret tanpa wajah untuk melihat jatuh kain dan menyempurnakan pola. Tidak dipublikasikan tanpa persetujuan tertulis.”
Anindya mempertimbangkan, lalu mengangguk. “Hanya untuk arsip desain.”
“Sepakat.”
Kemal mengambil beberapa foto detail. Ratih memegang lampu portabel sambil mengkritik sudut pengambilan gambarnya. Pekerjaan kecil itu membuat ruangan terasa hangat, jauh dari kamar rumah sakit dan meja bukti.
Setelah berganti pakaian, Anindya menerima kartu nama KIMI.
“Kalau belum ingin muncul, Anda tetap bisa membantu di balik layar,” kata Kemal. “Saya butuh mata yang jujur untuk membaca koleksi, bukan orang yang selalu bilang bagus.”
“Itu pekerjaan Ratih.”
“Ratih bilang semua desain saya terlalu mahal.”
“Karena memang mahal,” sahut Ratih.
Anindya menyimpan kartu itu. “Kirim rancangan dan anggarannya. Saya lihat apa yang bisa dibantu secara privat.”
Kemal memiringkan kepala. “Anda bahkan belum melihat proposalnya.”
“Karena itu saya bilang akan melihat, bukan langsung membayar.”
Ratih tersenyum puas. “Dia cocok bekerja denganmu. Sama-sama sulit dibujuk.”
Kemal membuka map tipis dari bawah meja. Di dalamnya ada sketsa, daftar kebutuhan penjahit, dan hitungan biaya yang ditulis penuh coretan. Tidak rapi, tetapi setiap angka punya alasan. Anindya membaca cepat, lalu menunjuk biaya sewa ruang presentasi yang terlalu besar.
“Kalau tujuanmu memperkenalkan potongan dan kain, jangan habiskan separuh dana hanya untuk alamat yang terlihat mewah. Cari ruang lebih kecil. Sisanya bisa dipakai membayar pengrajin tepat waktu.”
Kemal menatapnya beberapa detik. “Anda benar-benar membaca.”
“Saya tidak menaruh uang pada sesuatu yang tidak saya pahami.”
Ia pernah hidup sebagai perempuan yang namanya disembunyikan dan pilihannya diputuskan orang lain. Membantu KIMI secara privat bukan cara membeli panggung baru. Itu cara memilih sesuatu dengan sadar, tanpa perlu menjadi wajah siapa pun.
Kemal menutup map. “Baik. Saya kirim versi anggaran yang baru besok.”
“Dan syarat kerahasiaannya.”
“Tentu.”
Saat mereka hendak keluar, Kemal seolah baru mengingat sesuatu.
“Minggu lalu ada seorang pria datang membawa foto topeng KIMI. Dia ingin memesan satu set lengkap dengan desain serupa.”
Langkah Anindya berhenti.
“Namanya?”
“Dia bilang dari keluarga Wibisana. Damar.” Kemal mengangkat kotak topeng. “Sepertinya dia tidak cuma tertarik pada barangnya.”