NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Sepupu yang Sombong

Tiga hari setelah telepon Guntur, Larissa Couture kembali terlihat tenang.

Ketenteraman itu bertahan sampai Bima berdiri di depan pintu kaca ruang kerja Vanya sambil menyipitkan mata.

Vanya tertidur dengan kepala bersandar pada sandaran kursi. Di meja seberang, Gita juga terlelap di balik tumpukan katalog. Mereka bekerja sampai lewat tengah malam untuk mengejar jadwal presentasi koleksi baru.

Bima hanya ingin memastikan apakah keduanya perlu dibangunkan untuk rapat daring dua puluh menit lagi. Namun ketika ia menggeser kepala sedikit untuk melihat jam dinding, mata Gita tiba-tiba terbuka.

"Bima!"

Vanya terbangun dan hampir menjatuhkan pulpen. "Ada apa?"

Gita menunjuk pintu. "Sopir kurang kerjaan itu mengintip kita tidur."

Bima membuka pintu beberapa senti. "Saya sedang memastikan dua pemegang saham terbesar Larissa masih bernapas."

"Dari luar pintu?" tanya Vanya, masih setengah sadar.

"Protokol keselamatan. Saya tidak masuk tanpa izin."

Gita mengambil bantal kecil dari sofa dan melemparkannya. Bima menutup pintu. Bantal itu menghantam kaca dari dalam.

"Rapat dua puluh menit lagi," katanya melalui pintu. "Saya sudah minta staf menyiapkan kopi."

"Pergi!" seru Gita.

Bima berjalan menjauh sambil tersenyum. Tak ada pandangan tidak pantas, tak ada langkah melewati ambang. Hanya dua bos kelelahan dan satu pengawal yang terlalu senang mengganggu mereka.

Pintu lift terbuka sebelum ia mencapai ujung lorong.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun keluar dengan kemeja mahal dan jam tangan mencolok. Bahunya lebar, langkahnya ringan, dan buku-buku jarinya menunjukkan bekas latihan bertahun-tahun.

"Ruang Vanya Wijaya?" tanyanya.

"Ada janji?"

Pria itu menatap seragam Bima dari sepatu sampai kerah. "Katakan Denny Wisesa datang menemui sepupunya."

Gita muncul dari ruang kerja dengan rambut yang sudah dirapikan. "Kang Denny? Kenapa tidak bilang mau datang?"

Denny tersenyum lebar dan merentangkan tangan. Gita menerima pelukan keluarga singkat, lalu memperkenalkannya kepada Vanya yang ikut keluar.

Tatapan Denny tertahan pada wajah Vanya sedikit lebih lama daripada sopan santun biasa.

"Jadi ini pendiri Larissa," katanya. "Gita terlalu jarang membawa teman sehebat ini ke Bandung."

"Selamat datang," jawab Vanya profesional. "Maaf, sebentar lagi kami ada rapat."

"Aku tidak akan lama." Denny menunjuk Bima dengan dagu. "Dia sopir baru kalian?"

"Sopir sekaligus pengawal," jawab Gita.

"Pengawal?" Denny tertawa kecil. "Keluarga kita bisa mengirim orang yang benar-benar terlatih. Tidak perlu menyerahkan keselamatan pada pegawai biasa."

Bima tidak tersinggung. Ia sudah menilai napas, tumpuan, dan pusat berat Denny. Pemuda itu memang bukan pajangan keluarga. Kekuatannya cukup untuk menundukkan petarung jalanan dan sebagian besar murid silat biasa.

Masalahnya, keyakinan Denny tumbuh lebih cepat daripada kemampuannya.

"Kang Denny," tegur Gita, "Bang Bima sudah beberapa kali melindungi kami. Jangan menilai orang dari seragam."

"Aku hanya menawarkan bantuan keluarga."

Suara gaduh dari bawah memotong percakapan. Radio di bahu Bima berbunyi.

"Pak Bima, dua orang mencari Anda di depan gedung," lapor Pak Hadi. "Salah satunya Darman. Yang satu lagi belum dikenal."

Senyum Bima hilang.

"Jangan biarkan staf keluar. Saya turun."

Vanya menahan pintu lift. "Kami ikut."

"Tetap di lobi."

"Ini perusahaan saya."

Bima tak membuang waktu berdebat. Ia meminta Pak Hadi menutup akses tamu, lalu turun bersama Vanya, Gita, dan Denny. Ketika lift berhenti, Bima lebih dulu menuju area parkir samping untuk memastikan BMW tidak terjebak di jalur keluar. Tiga lainnya mencapai lobi beberapa detik lebih dulu.

Di trotoar depan Larissa, Darman berdiri dengan dagu terangkat. Di sampingnya ada seorang pria besar berbusana sederhana. Rambutnya dipotong pendek. Kulit kedua lengannya tampak kasar seperti sering menghantam pasir dan batu.

Guntur.

Ia tidak membawa rombongan. Tidak ada senjata. Namun kehadirannya membuat tiga satpam di pintu berdiri lebih kaku.

"Panggil Bima," kata Darman. "Kang Guntur datang menagih kehormatan."

Denny melangkah keluar sebelum Gita sempat menahannya.

"Kalau cuma mau membuat keributan di depan perusahaan, kalian tidak perlu menunggu sopir. Hadapi saya."

Darman mengenali nama keluarga Wisesa dari sapaan Gita, tetapi rasa malu membuatnya menerima tantangan. "Anak Bandung mau mengajariku?"

Ia menerjang dengan Cakar Rajawali.

Denny memutar bahu, menepis pergelangan Darman, lalu menghantamkan siku pendek ke dada. Darman mundur. Tendangan berikutnya menyapu betisnya dan menjatuhkan Si Mata Satu ke satu lutut.

Beberapa staf yang melihat dari balik kaca menahan napas.

Denny tidak berhenti. Ia menangkap kerah Darman dan melemparkannya ke atas kap mobil Garda Hitam. Benturan itu membuat alarm mobil meraung.

"Begitu saja?" ejek Denny.

Wajah Darman merah padam. Gita seharusnya lega, tetapi justru memucat ketika sepupunya berbalik kepada Guntur.

"Sekarang giliranmu."

Guntur tidak bergerak. "Aku tidak datang untukmu."

"Kau datang membawa orang lemah dan bicara soal kehormatan." Denny mengangkat kedua tangan. "Tunjukkan kehormatan itu."

"Kang Denny, cukup!" bentak Gita.

Terlambat.

Denny melesat dengan pukulan lurus ke dada. Guntur membiarkan kepalan itu mendarat.

Duk!

Bunyinya bukan seperti tinju mengenai tubuh. Lebih mirip kayu menghantam dinding batu.

Wajah Denny berubah. Sebelum ia menarik tangan, jari Guntur sudah menutup lehernya.

Satu angkatan tangan membuat kedua kaki Denny terlepas dari tanah.

"Orang yang belum mengenal gunung seharusnya tidak berteriak dari kaki bukit," kata Guntur.

Denny mencakar pergelangan itu. Wajahnya memerah, lalu membiru di sekitar bibir.

Pak Hadi dan dua satpam bergerak serempak. Mereka tidak menyerang membabi buta; satu mencoba menarik Denny, dua lainnya membatasi lengan Guntur.

Guntur menyapu tangan kirinya.

Ketiganya terpental ke hamparan rumput tepi lobi. Pak Hadi berguling dan memegang bahu, sedangkan dua satpam jatuh terduduk. Tak ada tulang patah, tetapi mereka tak mampu bangkit cepat.

"Lepaskan dia!" teriak Vanya.

Guntur menoleh. Cengkeramannya justru mengeras.

Sebuah bayangan melintas dari sisi parkir.

Bima tiba di antara mereka dengan satu langkah panjang. Kepalannya menghantam sisi dada Guntur, tepat di bawah bahu yang mengangkat Denny.

BUK!

Tubuh Guntur bergeser.

Satu langkah.

Jarinya terbuka. Denny jatuh, langsung ditangkap Bima dengan lengan kiri dan diserahkan kepada Gita. Bekas lima jari mulai menggelap di lehernya. Napasnya kasar, tetapi kembali masuk.

"Bawa dia ke klinik. Periksa jalan napas dan lehernya," kata Bima.

Vanya memanggil kendaraan dan meminta staf mendampingi Denny. Gita berlutut di sisi sepupunya, marah sekaligus takut.

Guntur meraba dada yang baru dipukul. Kemejanya tidak robek. Kulitnya tidak memar. Sesaat sebelum benturan, napasnya telah turun dan seluruh lapisan ototnya memadat melalui Kebal Karang.

Namun Bima tetap memaksanya mundur.

Untuk pertama kalinya, tatapan Guntur benar-benar tertuju pada lawan di depannya.

"Jadi kau Bima."

"Dan kau terlalu mudah mencekik orang yang tidak perlu mati."

Darman bangkit dengan susah payah di dekat mobil. Senyumnya kembali karena ia mengira kekuatan Guntur telah membuat Bima gentar.

Guntur justru mengangkat tangan, menyuruhnya diam.

"Kau punya nyali," katanya kepada Bima. "Tiga hari lagi, kita selesaikan ini dengan cara yang lebih terhormat."

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!