Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Buronan Nomor Satu dan Kota Naga Jatuh
ZRAAAASH!
Di atas sebuah hutan purba yang lebat dan diselimuti kabut tebal, berjarak ribuan mil dari wilayah Sekte Awan Ungu, ruang udara tiba-tiba terbelah. Dari dalam celah dimensi yang gelap gulita, sesosok bayangan putih terlempar keluar seperti batu yang dilontarkan dari ketapel.
Brak!
Lin Tian menghantam kanopi pepohonan raksasa, mematahkan belasan dahan tebal sebelum akhirnya mendarat berdebum di atas tanah berlumpur.
"Ukh!"
Lin Tian berguling dan langsung berlutut, memuntahkan seteguk darah hitam yang langsung mendesis saat menyentuh rerumputan—darah itu mengandung sisa-sisa energi ungu dari Master Sekte. Ia terengah-engah, keringat dingin membasahi pelipisnya. Sayap keperakan di punggungnya berkedip redup sebelum akhirnya memudar dan menghilang ke dalam tubuhnya.
"Sial. Lompatan spasial jarak jauh benar-benar menguras habis tenaga," Lin Tian menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan. "Dan benturan dengan Tapak Penghancur Awan Ungu itu... meski aku berhasil membelahnya, gelombang kejut dari tahap Jiwa Nascent masih sempat mengguncang organ dalamku."
Di dalam ruang batinnya, sisa kesadaran Mutiara Kehampaan mendengus sinis.
"Kau terlalu sombong, Bocah. Untung saja fisikmu telah ditempa oleh Darah Kaisar, jika tidak, meridianmu pasti sudah hancur lebur. Tahap Inti Emas hanyalah permulaan. Di hadapan Jiwa Nascent, kau masihlah seekor semut yang kebetulan memiliki gigi tajam."
"Gigi yang cukup tajam untuk membuat semut-semut tua itu ketakutan," kekeh Lin Tian pelan, meski dadanya terasa sesak.
Ia tidak membuang waktu. Tempat ini belum sepenuhnya aman. Lin Tian menyeret langkahnya mencari sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik akar pohon beringin raksasa. Ia menyegel pintu masuknya dengan batu dan menaburkan bubuk penyamar aroma dari Cincin Penyimpanannya.
Di dalam gua yang gelap, Lin Tian duduk bersila dan menutup mata.
Inti Kehampaan di Dantiannya perlahan berputar. Berbeda dengan Inti Emas biasa yang bersinar terang, inti milik Lin Tian menyerupai lubang hitam seukuran kelereng yang menyerap segala jenis cahaya dan energi di sekitarnya.
Lin Tian mengeluarkan seratus Batu Roh Tingkat Menengah dan menelannya dengan Tubuh Penelan Kehampaan. Energi murni mengalir masuk, memperbaiki organ-organ dalamnya yang sedikit retak dan mengisi kembali kekosongan di Dantiannya.
Butuh waktu tiga hari tiga malam bagi Lin Tian untuk kembali ke kondisi puncaknya.
Di hari keempat, Lin Tian membuka matanya. Luka dalamnya telah sembuh total, dan auranya kini terasa lebih stabil dan dalam. Tahap Inti Emas Awal miliknya telah terkonsolidasi dengan sempurna.
"Sekarang, mari kita lihat apa yang ditinggalkan oleh 'Jenius Nomor Satu' itu untukku," gumam Lin Tian sambil mengeluarkan Cincin Penyimpanan perak milik Lu Changkong.
Ia mengalirkan Qi Kehampaan untuk menghancurkan segel spiritual yang tersisa di cincin tersebut. Begitu segelnya terbuka, Lin Tian tidak bisa menahan senyumnya.
Di dalam ruang penyimpanan seluas sepuluh meter persegi itu, terdapat tumpukan harta yang luar biasa.
"Tiga ribu Batu Roh Tingkat Menengah... sepuluh botol Pil Pemulihan Tingkat Bumi... dan berbagai tanaman spiritual langka," mata Lin Tian berbinar.
Namun, yang paling menarik perhatiannya bukanlah kekayaan itu, melainkan sebuah medali kayu berwarna merah darah dengan ukiran tengkorak bertanduk, serta sebuah perkamen surat yang masih tersegel.
Lin Tian mengambil medali dan surat itu. Alisnya berkerut saat ia merasakan aura Qi darah yang sangat menjijikkan dari medali tersebut—aura yang mirip dengan seni terlarang yang digunakan Lu Changkong saat menghisap nyawa pengikutnya.
Ia membuka surat itu dan membacanya.
"Untuk Tuan Muda Lu,
Kami sangat mengapresiasi kerja sama dari keluarga Lu. Pil Penembus Batas telah kami kirimkan seperti yang dijanjikan. Saat Aliran Darah Hitam kami bergerak ke Benua Timur, pastikan keluarga Lu telah menyingkirkan para tetua keras kepala di Sekte Awan Ungu. Kekuasaan sekte akan menjadi milikmu.
- Utusan Bayangan Darah"
Mata Lin Tian menyipit. "Aliran Sesat Darah Hitam?"
Di Benua Timur, Aliran Darah Hitam adalah faksi sesat legendaris yang mempraktikkan kultivasi dengan cara mengorbankan nyawa manusia. Mereka dikabarkan telah dihancurkan oleh aliansi lima sekte besar ratusan tahun lalu.
"Ternyata Lu Changkong dan keluarganya bersekongkol dengan aliran sesat demi merebut kekuasaan di sekte," Lin Tian mendengus sinis. "Jenius yang dipuja-puja sebagai pahlawan ternyata seekor anjing pengkhianat. Jika Master Sekte tahu ini, dia mungkin akan muntah darah."
Lin Tian menyimpan medali dan surat itu kembali. Informasi ini mungkin akan berguna suatu saat nanti, namun untuk sekarang, ia tidak peduli dengan nasib Sekte Awan Ungu. Jika sekte itu dihancurkan oleh aliran sesat, itu justru menghemat tenaganya.
Lin Tian mengganti seragam sektenya yang robek dengan jubah hitam polos dan mengenakan caping (topi bambu) bertepi lebar untuk menyembunyikan wajahnya. Ia tidak membawa Logam Hitam Tanpa Nama di punggungnya, melainkan menyimpannya di dalam cincin agar tidak menarik perhatian. Pedang raksasa itu terlalu mencolok.
Dengan pakaian barunya, ia terlihat seperti pengembara atau kultivator liar (rogue cultivator) pada umumnya.
"Aku butuh informasi tentang lokasiku sekarang, dan peta Benua Timur yang lebih lengkap."
Lin Tian melangkah keluar dari gua dan melesat menembus hutan.
Kota Naga Jatuh
Setengah hari kemudian, Lin Tian tiba di pinggiran sebuah kota kuno yang sangat besar. Tembok kotanya terbuat dari batu hitam pekat, dihiasi oleh goresan-goresan pedang raksasa dan noda darah yang tak terhitung jumlahnya.
Di atas gerbang kota, terpampang aksara kaligrafi kasar berbunyi: Kota Naga Jatuh.
Ini adalah salah satu kota perbatasan terbesar di Benua Timur, wilayah netral yang tidak dikuasai oleh lima sekte besar mana pun. Kota ini adalah surga bagi para pemburu bayaran, alkemis pasar gelap, buronan, dan kultivator liar. Hukum yang berlaku di sini hanyalah hukum rimba: siapa yang tinjunya paling keras, dia yang berkuasa.
Lin Tian berjalan melewati gerbang kota tanpa halangan. Para penjaga gerbang yang hanya berada di tahap Pengembara Qi terlalu malas untuk memeriksa setiap kultivator liar yang masuk.
Begitu melewati gerbang, hiruk pikuk kota langsung menyambutnya. Aroma daging panggang, pil obat yang sedang diracik, hingga bau anyir darah bercampur menjadi satu di udara.
Lin Tian berjalan menuju papan pengumuman besar di pusat alun-alun kota, di mana puluhan orang sedang berkerumun.
"Gila! Sekte Awan Ungu benar-benar murka kali ini!" seru seorang kultivator berwajah garang sambil menunjuk ke sebuah poster perkamen yang baru saja ditempel.
"Bocah ini... Lin Tian? Siapa dia? Dia membunuh murid nomor satu mereka dan mematahkan lengan Tetua Utama? Di usianya yang belum dua puluh tahun?"
Lin Tian berdiri di belakang kerumunan, menyembunyikan wajahnya di bawah caping bambu, dan membaca poster tersebut.
Di sana terpampang lukisan wajahnya dengan sangat akurat.
BURONAN TINGKAT TERTINGGI: LIN TIAN
Tingkat Kultivasi: Inti Emas Awal (Berbahaya!)
Ciri-ciri: Mengenakan pedang hitam raksasa tanpa sarung, memiliki sayap energi spasial. Menguasai seni kegelapan.
Imbalan: Hidup atau Mati - 50.000 Batu Roh Tingkat Menengah, sebuah Pil Jiwa Nascent, dan posisi Tetua Kehormatan di Sekte Awan Ungu.
Mendengar jumlah imbalan itu, semua kultivator di alun-alun menelan ludah.
"Lima puluh ribu Batu Roh Menengah! Dan Pil Jiwa Nascent?! Jika aku mendapatkan kepalanya, aku bisa menjadi raja di kota perbatasan ini!" mata seorang pemburu bayaran berbinar serakah.
"Jangan bodoh," sahut temannya. "Dia bisa mematahkan lengan Tetua Inti Emas Puncak. Kita yang hanya di tahap Pondasi Bumi maju melawannya sama saja mengantar nyawa. Target ini hanya untuk monster tingkat Inti Emas Akhir."
Di balik capingnya, Lin Tian tersenyum tipis. "Lima puluh ribu? Ternyata harga kepalaku lumayan tinggi. Master Sekte benar-benar mengosongkan perbendaharaannya untuk membunuhku."
Alih-alih merasa takut, darah Lin Tian justru berdesir. Buronan? Diburu oleh seluruh benua? Itu artinya, akan banyak 'dompet berjalan' yang datang mengantarkan nyawa dan Batu Roh mereka ke hadapannya!
Lin Tian berbalik dan berjalan menuju sebuah kedai minuman terbesar di jalan itu, Kedai Bulan Berdarah. Ia butuh tempat untuk merencanakan langkah selanjutnya.
Kedai itu sangat bising. Para kultivator mabuk, saling pamer senjata, dan berteriak-teriak. Lin Tian memilih meja di sudut yang gelap, memesan sepoci anggur murah dan sepiring daging asap, lalu duduk diam sambil mendengarkan percakapan di sekitarnya.
Panca inderanya yang tajam mulai menyaring informasi.
"Kudengar perbatasan timur semakin kacau. Dua desa kultivator di lereng Gunung Besi ditemukan tewas mengering. Semuanya mati tanpa setetes darah pun di tubuh mereka."
"Itu perbuatan kultivator iblis! Rumor mengatakan Aliran Darah Hitam telah kembali."
"Ssst! Jaga mulutmu! Kudengar faksi Darah Hitam punya mata-mata di kota ini."
Saat Lin Tian sedang meresapi informasi itu, pintu kedai tiba-tiba ditendang terbuka dengan keras.
BRAK!
Lima orang pria berjubah merah gelap melangkah masuk. Aura yang memancar dari mereka sangat dingin dan menjijikkan, membawa bau darah kental. Pemimpin kelompok itu, seorang pria pucat dengan tato ular di lehernya, memancarkan fluktuasi tahap Inti Emas Awal. Keempat pengikutnya berada di tahap Pondasi Bumi Akhir.
Suasana kedai yang tadinya bising mendadak senyap. Para pemburu bayaran yang garang pun menundukkan kepala, tidak berani menatap mata kelima orang itu.
"Sekte Darah Kemerahan..." bisik seorang pengunjung di meja sebelah Lin Tian dengan nada gemetar. "Mereka adalah sekte penguasa bayangan di wilayah ini."
Pria pucat bertato ular itu menyapu pandangannya ke seluruh kedai. Ia mendengus meremehkan.
"Pelayan!" teriaknya dengan suara melengking. "Kosongkan sudut itu untukku dan saudara-saudaraku! Aku tidak suka ada lalat kotor di dekatku saat aku minum!"
Jari pria pucat itu menunjuk lurus.
Menunjuk tepat ke arah meja di sudut gelap, tempat Lin Tian sedang duduk sendirian, menyesap anggurnya dari balik caping bambu.
Pemilik kedai berlari tergopoh-gopoh dengan keringat dingin. Ia mendekati meja Lin Tian dan membungkuk panik. "T-Tuan pengembara... tolong... bisakah Anda pindah meja? Saya akan menggratiskan minuman Anda. Tolong jangan mencari masalah dengan Tuan Muda Xue dari Sekte Darah Kemerahan."
Lin Tian meletakkan cawan anggurnya secara perlahan. Bunyi ketukan keramik ke meja kayu itu terdengar jelas di tengah kesunyian kedai.
Ia tidak mengangkat kepalanya, hanya memutar cawannya dengan santai.
"Kedai ini memiliki ratusan kursi kosong," suara Lin Tian terdengar datar dan tenang, namun mengandung rasa dingin yang menusuk tulang. "Aku bayar minumanku dengan Batu Roh, bukan dengan tunduk pada anjing jalanan. Suruh mereka duduk di tempat lain... atau aku yang akan menjadikan mereka pupuk untuk kedaimu."
Keheningan yang lebih pekat dan mencekik seketika meledak di dalam kedai. Wajah pemilik kedai berubah menjadi abu-abu pias, merasa nyawanya baru saja terbang dari ubun-ubunnya.
Di ambang pintu, wajah pria pucat bertato ular itu berubah menjadi bengis. Niat membunuh yang merah darah meledak dari tubuhnya.
"Kultivator liar rendahan... kau benar-benar bosan hidup!"