Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 16
Di dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari kediaman Kiara, Vino mendadak seperti dihantam hantaman keras di dadanya. Tangan yang menggenggam ponsel itu gemetar hebat saat membaca balasan singkat dari Kiara.
'Aku sibuk, Mas. Jangan telepon atau kirim pesan terus-terusan. Fokus saja pada 'berkas pekerjaan' yang sedang kamu urus dan sangat penting sampai kamu berbohong padaku!.'
Darah dalam tubuh Vino rasanya mendadak dingin. Kata "berkas pekerjaan" yang ditandai dengan kutipan itu menghantam kesadarannya bagai petir di siang bolong. Itu adalah kalimat persis yang dia gunakan semalam saat berbohong dari teras luar kamar rawat Shela.
"Nggak... nggak mungkin," bisik Vino dengan suara bergetar panik. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin mulai membasahi dahinya.
Ingatannya mendadak berputar cepat ke kejadian semalam. Nada suara Kiara yang mendatar saat menanyakan soal berkas pekerjaan, penolakannya yang dingin untuk dijemput pagi ini, hingga alasan 'pergi bersama teman', semuanya kini menyatu menjadi satu kenyataan mengerikan yang baru saja menyengat logikanya.
Kiara tahu.
Kiara bukan cuma curiga. Kiara tahu persis bahwa semalam dia berada di rumah sakit bersama Shela.
Rasa takut yang luar biasa merayap, mencengkeram dada Vino hingga dia kesulitan bernapas. Ketakutan kali ini jauh lebih membekukan daripada saat Kiara memusuhinya beberapa bulan lalu. Kali ini tidak ada nada marah dalam pesan Kiara, tidak ada makian, tidak ada ajakan berdebat. Hanya ada dingin yang mematikan, tanda bahaya paling nyata dari seorang wanita yang sudah lelah dan memutuskan untuk mematikan perasaannya.
Padahal sudah lebih dari satu bulan dia berusaha meyakinkan Kiara dan hubungan mereka baru saja membaik walau Kiara selalu menghindar di saat dia membicarakn masalah pernikahan mereka. Namun kini dia kembali melakukan kesalahan, Vino mengira bantuannya terakhir kepada Shela kali ini tak akan di ketahui oleh Kiara. Dia benar-benar tak bermaksud membohongi Kiara, namun dia melakukan hal ini karena tak tega saat melihat Shela benar-benar sakit dan tak ada yang mengurusnya. Dan dia juga sudah mengatakan kepada Shela jika ini adalah pertolongannya yang terakhir untuk dia.
Vino dengan panik kembali menekan tombol panggilan ke nomor Kiara.
Tut... tut... tut...
Nada sambung itu terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terputus otomatis. Coba lagi. Hasilnya sama. Pesan WhatsApp yang ia kirimkan berturut-turut setelahnya pun hanya memunculkan tanda centang satu.
"Ra, tolong angkat... Tolong angkat, Ra!" raung Vino frustrasi di dalam kabin mobil yang hening. Dia memukul lingkar kemudinya berkali-kali dengan perasaan membuncah penuh penyesalan.
Dia baru saja membuang kepercayaan Kiara yang dibangun mati-matian selama satu setengah bulan terakhir demi rasa kasihan salah tempat pada Shela. Kemarin malam, Vino berpikir dia bisa membereskan semuanya dengan cepat tanpa harus menyakiti Kiara. Dia berbohong hanya karena 'tak ingin Kiara salah paham'.
Namun kini, kebohongan dangkal itu justru menjadi menggali kuburannya sendiri.
Tanpa berpikir panjang, Vino menyalakan mesin mobilnya dan menancap gas secara ugal-ugalan menuju kantor Kiara. Sepanjang jalan, pikirannya kacau balau. Bayangan Kiara yang tersenyum padanya kemarin pagi, bayangan kehangatan yang baru saja mulai kembali di antara mereka, kini terancam sirna sepenuhnya gara-gara keputusan bodohnya semalam.
Setibanya di gedung kantor Kiara, Vino keluar dari mobil tanpa mempedulikan jasnya yang sedikit kusut akibat menginap di RS. Dia berjalan cepat menembus pintu putar lobi, berniat langsung menuju lantai divisi Kiara.
Namun, saat dia melangkah mendekati area lift, dua petugas keamanan gedung yang mengenali wajahnya langsung berderap maju dan menghadang langkahnya dengan tegas.
"Maaf, Pak Vino. Selamat pagi," potong salah satu petugas keamanan dengan sopan namun barikade tubuhnya tak tergeser sedikit pun.
"Atas instruksi dari manajemen dan arahan Ibu Kiara, Anda tidak diperkenankan untuk naik ke lantai divisi maupun menemui beliau di area kantor hari ini."
Vino membelalakkan mata, melangkah maju satu pijakan dengan raut panik yang teramat sangat.
"Pak, tolong! Saya cuma butuh bicara sebentar sama Kiara. Cuma lima menit! Ini urusan sangat penting!"
"Mohon maaf sekali, Pak. Bu Kiara memintanya secara langsung dan menegaskan bahwa beliau sedang fokus pada pekerjaan dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Jika Pak Vino memaksa, kami terpaksa meminta Bapak menunggu di luar area gedung," jawab petugas itu tanpa kompromi.
Pernyataan itu telak menghantam Vino. Penolakan halus namun membenteng tebal itu terasa bagai palu godam. Kiara benar-benar menutup pintu rapat-rapat. Wanita itu bahkan tak mau melihat wajahnya, apalagi mendengarkan alasan yang sudah basi.
Vino mundur beberapa langkah dengan tubuh gemetar. Pria itu menyandarkan punggungnya pada tiang marmer lobi, menatap kosong ke arah lift yang membawa Kiara semakin jauh dari jangkauannya. Rasa penyesalan yang membakar kini menggrogoti dadanya, menyisakan ketakutan terbesar dalam hidupnya: bahwa kali ini, ia benar-benar telah kehilangan Kiara untuk selamanya.
Dari mana Kiara tahu? Kiara tak mungkin tahu sendiri kalau tidak ada yang memberi tahukannya? Apa mungkin Shela? Tapi kedua orang tuanya juga belum ada menghubungi dia, artinya Kiara juga belum mengatakan hal ini kepada kedua orang tua mereka. Kalau saja mereka tahu pasti sejak tadi mereka sudah murka.
Drrrtttt
Drrrrtttt
'Pak, mohon segera ke kantor karena setengah jam lagi akan ada meeting dengan direktur utama...'
"Baik"
Saat melangkah masuk ke ruang rapat, sang Direktur Utama sudah duduk di ujung meja bersama beberapa jajaran management lainnya.
"Pak Vino, akhirnya sampai juga. Ayo duduk, kita mulai evaluasi kinerja kuartal ini," tegur Direktur Utama tegas.
"Maaf atas keterlambatan saya, Pak," jawab Vino pelan, langsung menarik kursi di jajarannya.
Rapat berlangsung selama hampir satu jam membicarakan laporan keuangan, strategi pemasaran, dan target ekspansi. Sebagai seorang Manager, Vino seharusnya fokus memimpin pemaparan materi divisinya, namun sepanjang rapat pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
Suara Direktur Utama yang menjabarkan grafik pencapaian terdengar bagai gema jauh di telinga Vino. Setiap kali bayangan wajah Kiara yang dingin dan kata "berkas pekerjaan" berputar di kepalanya, rasa sesak menghantam dadanya kembali. Konsentrasinya kacau balau, membuat ia beberapa kali gagap saat menjawab pertanyaan teknis dari jajaran direksi.
Begitu rapat dinyatakan selesai dan para peserta mulai berhamburan keluar, Direktur Utama sempat menahan Vino sebentar untuk memberikan teguran tajam.
"Pak Vino, kamu tampak sangat tidak fokus hari ini. Laporan divisi kamu ada beberapa detail yang luput. Ada masalah pribadi yang mengganggu?" tegur sang Direktur Utama dengan dahi berkerut.
"Maafkan saya, Pak. Kondisi kesehatan saya sedang kurang baik hari ini," bohong Vino pendek, menyembunyikan badai di dadanya.
"Saya pastikan revisi laporannya selesai siang ini."
"Bagus. Jangan sampai kinerja divisimu turun gara-gara kamu tidak konsentrasi," ujar Direktur Utama sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Kini Vino tinggal sendirian di ruang rapat yang luas dan hening itu.
Pria itu menarik kursi, duduk bersandar, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya naik turun menahan gumpalan penyesalan yang membakar dadanya. Di sini, di tengah hiruk-piruk posisinya sebagai seorang Manager yang dihormati, ia merasa begitu hampa dan hancur.
Dia sadar, kebohongan dangkal semalam demi rasa kasihan salah tempat pada Shela telah menghancurkan seluruh kepercayaan yang dia bangun mati-matian bersama Kiara selama satu setengah bulan terakhir.
'Mas Vin, aku katanya sudah boleh pulang. Kamu tolong jemput aku ya?' pesan dari Shela kembali masuk.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,