~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
***
Sinar matahari pagi menyusup halus melalui celah-celah dinding bambu, menjatuhkan berkas cahaya hangat tepat di atas pembaringan. Melani perlahan membuka kelopak matanya. Kepala bidan muda itu masih terasa sedikit berat, namun rasa lelah dahsyat yang semalam meremukkan tubuhnya telah berangsur berkurang.
Wajah cantiknya yang manis dan teduh kini tak lagi tertutup peluh maupun noda lumpur. Ia menghirup napas dalam-dalam; udara di ruangan itu beraroma sangat menenangkan, perpaduan antara wangi kayu manis dan dedaunan hutan yang dikeringkan.
Melani menoleh ke samping. Di atas meja kayu kecil di dekat pembaringan tempat tidur Rumah Adat yang bersih itu, telah terhampar setumpuk pakaian tenun khas Hulu Rawa berwarna biru gelap berukir indah yang tampak masih baru, lengkap dengan semangkuk bubur jagung hangat yang menguarkan aroma manis dan cangkir bambu berisi teh herbal.
"Di mana aku..." gumam Melani pelan, meraba dahi dan mengumpulkan kesadarannya.
Ingatan semalam mendadak berkelebat—pendarahan Nyai Sunti, pelita minyak tanah yang remang, perintah tegasnya pada sang Ketua Adat, hingga momen ketika pandangannya menggelap dan ia terkulai di dalam pelukan hangat Rangga Wira. Pipi Melani mendadak terasa hangat membayangkan detak dada tegap pria itu yang sempat ia dengar sebelum pingsan.
Setelah membasuh wajah dan mengenakan pakaian tenun yang disediakan—yang membingkai paras ayunya dengan sangat anggun—Melani menyangkutkan tas medisnya di bahu dan merapikan rambut hitamnya. Ia memegang kenop pintu kayu dan perlahan melangkah keluar menuju teras Rumah Adat.
Begitu kakinya menapak di luar, langkah Melani seketika terhenti.
Pelataran luas di depan Rumah Adat telah dipenuhi oleh puluhan warga Desa Hulu Rawa. Ibu-ibu, para pemuda, hingga para tetua berambut perak berkumpul dalam barisan yang rapi. Di puncak tangga teratas, berdiri sosok Rangga Wira. Pria tegap berparas tampan itu mengenakan jubah tenun kebesarannya, berdiri begitu gagah dengan sorot mata sehitam malam yang memancarkan otoritas penuh.
Saat sosok Melani muncul di balik pintu, keheningan mendadak melingkupi seluruh pelataran. Semua mata tertuju pada bidan muda itu.
"Dia sudah bangun..." bisik seorang ibu di barisan depan dengan nada tak lagi dingin, melainkan sarat akan rasa kagum.
Rangga Wira memutar tubuhnya, menatap Melani. Seulas garis tipis—hampir menyerupai senyum samar—terlintas sekejap di bibir tegas sang Ketua Adat sebelum kembali datar penuh wibawa. Rangga melangkah mendekati Melani, lalu berbalik menghadap warganya.
"Dengarkan saya, seluruh warga Hulu Rawa!" suara bariton Rangga Wira menggelegar, membelah keheningan pagi dan bergema di antara pepohonan hutan.
"Semalam, seorang perempuan asing melangkah ke tanah kita. Kita menyambutnya dengan kecurigaan, bahkan saya sendiri sempat menutup pintu bagi niat baiknya. Namun, di saat nyawa warga kita di ambang maut dan tradisi kita tak lagi mampu memberikan jawaban, perempuan ini bertaruh harga diri dan keberaniannya demi menyelamatkan nyawa Nyai Sunti dan bayinya!"
Rangga Wira menatap lurus ke arah para warga yang mulai mengangguk-angguk setuju.
"Mulai hari ini, detik ini... Bidan Melani bukan lagi orang luar!" tegas Rangga Wira, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. "Ia adalah bagian dari Hulu Rawa! Ia berada di bawah perlindungan hukum adat saya langsung! Siapa pun yang mengganggu, menghina, atau mencoba mengusir Bidan Melani, artinya ia berhadapan dengan saya dan seluruh Adat Hulu Rawa!"
Sorak lega dan tepuk tangan pelan merayap di antara warga. Mbah Baya, tetua adat berjanggut putih yang semalam paling keras menolak, kini menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah Melani sebagai bentuk rasa hormat.
Di tengah kehangatan itu, seorang pria muda berlari kecil menaiki tangga Rumah Adat. Itu Seno. Wajahnya yang semalam pucat dan penuh tangis kini memancarkan rasa haru yang luar biasa. Di belakangnya, beberapa warga membawa keranjang-keranjang anyaman bambu yang sarat berisi hasil bumi—ubi manis, madu hutan murni, pisang raja, hingga kain tenun halus.
"Bidan Melani!" jerit Seno penuh emosi. Pria itu langsung berlutut di depan Melani, membuat Melani terkejut dan memegang bahu pria itu untuk membangunkannya.
"Pak Seno, tidak perlu seperti ini! Berdirilah," ujar Melani panik, suaranya terdengar lembut namun penuh kepedulian.
"Tidak, Bidan... Tolong izinkan saya berterima kasih," tangis haru Seno pecah seraya menatap Melani. "Istri saya... Nyai Sunti sudah sadar pagi ini. Bayi laki-laki kami juga sehat dan menyusu dengan kuat. Kalau bukan karena keberanian dan kepandaian Bidan Melani semalam, saya pasti sudah kehilangan mereka berdua..."
Seno menggeser keranjang-keranjang hasil bumi itu ke depan kaki Melani. "Ini... ini tidak seberapa dibanding nyawa anak dan istri saya, Bidan. Tolong terimalah hasil bumi dari ladang kami ini. Tolong..."
Melani memandangi tumpukan hasil bumi yang begitu banyak dengan canggung. Hatinya tersentuh luar biasa oleh ketulusan Seno, namun naluri profesionalismenya membuat ia merasa tak enak hati.
"Pak Seno, terima kasih banyak atas kebaikanmu... tapi saya menolong Nyai Sunti murni karena tugas dan kewajiban saya sebagai bidan. Saya tidak meminta balasan sebanyak ini, sungguh," tolak Melani halus, menyunggingkan senyum manis yang membuat beberapa pemuda desa di pelataran terpesona.
Seno tampak berkecil hati. "Tapi Bidan... kalau Bidan menolak, saya bingung harus membalas kebaikan Bidan dengan cara apa lagi..."
Merasa bingung, Melani secara refleks memalingkan wajahnya ke samping, menatap Rangga Wira yang berdiri tepat di sebelah kanannya. Mata jernih Melani seolah bertanya pada sang Ketua Adat tentang apa yang harus ia lakukan.
Rangga Wira menatap Melani. Melihat kepolosan dan ketulusan di mata bidan muda itu, dada Rangga kembali bergetar pelan. Ia melangkah mendekat, berdiri cukup dekat hingga Melani dapat merasakan kehangatan tubuh pria itu.
Rangga memberikan anggukan pelan, sebuah isyarat halus yang penuh penegasan.
"Terimalah, Melani," suara berat Rangga Wira terdengar lembut, khusus ditujukan padanya. "Di tanah ini, menolak pemberian tulus dari keluarga yang telah kamu selamatkan bisa melukai hati mereka. Itu adalah tanda bahwa kamu telah menjadi bagian dari keluarga besar kami."
Mendengar penjelasan lembut dari Rangga Wira dan melihat anggukan tegasnya, Melani akhirnya luluh. Ia menatap Seno kembali dengan binar mata yang hangat.
"Baiklah, Pak Seno... Saya terima dengan senang hati. Terima kasih banyak," ucap Melani tulus.
Seno tersenyum lebar dan mengusap air matanya, diikuti gumaman lega dari warga yang menyaksikan momen hangat tersebut. Melani merasa seolah beban berat yang diimpitkan oleh penindasan Pak Pramono di kota seketika terangkat di tanah buangan ini. Di sini, di tengah keterbatasan, ia menemukan penghargaan atas profesinya yang begitu murni.
Namun, di tengah suasana penuh keharuan dan kehangatan pagi itu, tidak semua orang menyambut kehadiran Melani dengan suka cita.
Jauh di sudut kolong rumah panggung yang remang, agak terpisah dari kerumunan warga, berdiri Bi Naya. Dukun beranak tua itu mengepalkan jemarinya yang keriput hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang tajam dan berkerut menatap Melani dari kejauhan dengan kilatan kebencian yang mendalam.
Di samping Bi Naya, berdiri dua orang pria berbadan tegap—pengikut setianya yang selama ini mendapat keuntungan dari praktik pengobatan tradisional dan penjualan ramuan di desa.
"Lihat itu..." desis Bi Naya, suaranya serak dan penuh racun. "Hanya dalam satu malam, perempuan kota berwajah manis itu sudah merebut penghormatan warga. Bahkan Ki Rangga sampai berlutut melindungi hukumnya demi dia."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Bi?" bisik salah satu pria di sampingnya, bernama Sutan, dengan raut wajah berang. "Kalau warga mulai berpaling ke obat-obatan kimia milik bidan itu, ramuan dan pengaruh kita di desa ini akan habis. Kita tidak akan mendapat bagian hasil panen lagi."
Bi Naya meludah ke tanah, matanya tak lepas memandangi Melani yang kini sedang tersenyum ramah berbincang dengan ibu-ibu desa.
"Perempuan itu cuma beruntung semalam," desis Bi Naya sinis. "Ilmu medis dari kota itu tidak akan bertahan lama di tanah leluhur ini. Kita harus membuat warga percaya bahwa kedatangan Melani membawa sial bagi Hulu Rawa."
"Bagaimana caranya, Bi?" tanya Sutan penasaran.
Bi Naya menyunggingkan senyum licik yang mengerikan, memperlihatkan deretan giginya yang menghitam akibat mengunyah sirih.
"Air sumur di dekat Puskesmas tua di ujung desa... kita beri racun akar getah hitam sedikit demi sedikit," bisik Bi Naya bergidik. "Saat anak-anak desa mulai muntah-muntah dan sakit perut besok lusa, kita sebarkan rumor bahwa obat-obatan si bidan cantik itulah yang telah meracuni mereka dan mengutuk tanah ini. Kita lihat... apakah Ki Rangga masih bisa melindunginya saat seluruh desa menuntut perempuan itu dibakar!"
Sutan dan rekannya tersenyum puas, mengangguk setuju atas rencana licik sang dukun tua.
Sementara di teras Rumah Adat, Melani yang sedang tertawa kecil mendengarkan cerita para warga tiba-tiba merasakan dorongan dingin berdesir di tengkuknya. Ia berpaling menatap ke arah sudut desa yang gelap, namun tak menemukan siapa pun di sana.
Rangga Wira yang menyadari perubahan raut wajah Melani langsung melangkah merapat ke sisinya.
"Ada apa, Melani?" tanya Rangga pelan, sorot matanya yang tajam menyapu sekeliling, seolah siap melindungi Melani dari bahaya apa pun.
Melani menoleh pada Rangga, menatap garis wajah tegap pria itu sebelum menyunggingkan senyum menenangkan. "Tidak apa-apa, Pak Rangga... Hanya perasaan saya saja."
Rangga Wira menatapnya dalam-dalam, berjanji di dalam hatinya bahwa ia akan menjaga bidan muda ini dengan taruhan nyawanya sendiri.
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭