NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Sentuhan yang teramat intens itu memicu sengatan yang melumpuhkan seluruh pertahanan Andrea. Di bawah remang kegelapan ruang loker yang pengap oleh aroma hujan, T-shirt salurnya kini telah tersingkap sepenuhnya ke atas, menyisakan tubuh bagian atasnya yang polos dan terekspose di hadapan sorot mata lapar milik Bara.

"Kak Bara ... tolong jangan ... ini salah .... "

Bibir Andrea terus meracau lirih, mencoba menyuarakan penolakan yang tersisa di sudut akal sehatnya. Namun, suaranya terputus menjadi de sa han pasrah saat telapak tangan Bara yang hangat dan kokoh mulai meremas dan mempermainkan kedua bulatan indah di dadanya tanpa ampun.

Bibir keduanya kini justru bersentuhan dengan begitu dahsyat karena malam ini Andrea berani membalas ciuman itu. Ia bahkan begitu menikmati pertukaran saliva yang terjadi dengan semakin memperkuat ce ca pannya, tapi saat bibir mereka terlepas, Andrea masih kembali memohon untuk dilepaskan.

Ia menolak adegan panas itu meski tubuhnya sudah panas dingin tersulut ga irah yang membara, tapi Bara sudah tidak peduli pada kata-kata penolakan itu. Ia tahu persis bahwa tubuh Andrea telah sepenuhnya berkhianat pada prinsipnya sendiri.

"Mulutmu bisa menolak semaumu, Andrea, tapi tubuhmu tidak pernah bisa berbohong," bisik Bara dengan suara rendah yang begitu menggoda, bergetar oleh gairah yang sengaja ia kobarkan untuk menjerat mangsa di hadapannya.

Detik berikutnya, pria itu bergerak semakin liar. Setelah memuaskan hasratnya di area dada, tangan Bara merayap turun dengan cepat, menyusup ke balik celana jeans biru yang dikenakan Andrea. Ujung jemarinya bergerak dengan ahli. Menembus rintangan terakhir yang ada dan langsung menyentuh inti tubuh gadis itu yang telah sepenuhnya basah dan hangat.

"Ahhh! Kak Bara ... ja_jangaan .... " Andrea memekik tertahan. Mulutnya terus berkata jangan, tapi kedua kakinya justru terbuka sukarela. Hal itu membuat Barra tersenyum miring.

Di matanya semua wanita sama saja. Bukan cinta murni yang mereka miliki, tapi has rat.

Tak cukup sampai di sana. Dengan tangan yang masih mempermainkan benda diantara kedua kaki Andrea, bibirnya semakin bergerak liar. Ke sana kemari di atas area-area sensitif di tubuh Andrea, membuat gadis itu semakin pasrah.

"Selina ... kau harus lihat ini, anak yang kau bangga-banggakan kini menyerahkan dirinya padaku," bisik Barra di dalam hati, di tengah hawa panas yang kian mendera, sementara Andrea sudah kehilangan arah.

Matanya terpejam erat dengan kepala yang terdongak membentur loker besi. Tubuh indahnya menggeliat hebat, melengkung ke depan saat jemari kokoh Bara mulai memberikan stimulasi yang teramat intens di area paling sensitifnya.

Sensasi panas-dingin yang bergulung-gulung membuat seluruh persendian Andrea lemas. Ia terpaksa mencengkeram kuat bahu bidang Bara agar tidak ambruk ke lantai. Namun, kejutan terbesar belum selesai.

Bara mendadak berlutut di lantai yang dingin. Dengan gerakan cepat yang tak terbantahkan, ia menurukan celana jeans Andrea bersamaan dengan kain berenda tipis yang menutupi inti gadis itu. Anehnya Andrea tak lagi protes. Bahkan saat Bara dengan berani membuka lebar kedua pahanya lalu menenggelamkan wajah tampanannya di antara kedua kakinya.

"Kak .... "

Andrea men de sah pasrah diantara kabut ga i rah yang melumpuhkan pikiran normalnya. Di bawah sana, Bara mulai mempermainkan inti tubuhnya langsung dengan bibir dan sapuan lidah yang menggelora.

Kali ini bibir Andrea benar-benar tak bisa diam. Kepalanya mendongak sambil menggigit jari tangannya sendiri menahan ledakan yang menuntut keluar dari dalam tubuhnya.

"Enghh ... Kak ... stop .... " racau Andrean tapi tangan kirinya justru menekan kepala Bara semakin dalam. Tubuhnya pun semakin meliuk indah, seolah menyerahkan intinya seutuhnya kepada Bara.

Kini ia tak menahan diri lagi. Andrea membiarkan mulutnya terus meracau. Jemarinya kini beralih meremas rambut hitam lebat Bara saat serangan mendebarkan terus menghantamnya secara bertubi-tubi dan tanpa jeda. Sentuhan bibir dan lidah Bara di sana terasa begitu menuntut dan memabukkan, memaksanya naik ke puncak menembus kabut gai rah yang luar biasa.

Hanya dalam hitungan menit, tubuh Andrea menegang hebat, getaran dahsyat melanda seluruh ototnya seiring dengan pelepasan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Andrea mendesah panjang sebelum akhirnya terkulai lemas dalam kungkungan Bara.

Tepat setelah memberikan pelepasan itu, Bara menghentikan aksinya. Ia berdiri tegak, merapikan kembali pakaian Andrea yang berantakan dengan gerakan yang teramat santai, seolah tidak baru saja menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Bagian bawah tubuh Bara sendiri sebenarnya sudah menuntut pelepasan yang sama, namun akal bulusnya jauh lebih kuat.

Ia menolak untuk melangkah lebih jauh. Ia ingin menyiksa batin Andrea. Ia akan membuat gadis di hadapannya ini merangkak, memohon, dan berbalik menggodanya karena frustrasi oleh rasa candu yang ia tanamkan.

"Pakai celanamu! Kita pulang," ucap Bara, suaranya seketika berubah menjadi tegas dan dingin.

Andrea hanya bisa menatapnya dengan tatapan sayu dan linglung karena masih didera rasa penasaran sekaligus kehampaan yang luar biasa akibat penyelesaian yang digantungkan tersebut.

Tak ada komunikasi lagi diantara keduanya saat dalam perjalanan pulang, dan Selina yang menyambut kedatangan putrinya langsung menyadari kalau ada sesuatu yang berbeda.

"Andrea ... muka kamu sedikit pucat, kamu sakit?"

Andrea yang terkejut dengan pertanyaan itu langsung menyangkal.

"Eh, enggak Ma. Di luar hujan, dingin banget. Untung kak Bara mau mengantar Andrea pulang."

"O gitu .... " sahut Selena tanpa rasa curiga sedikitpun.

Sementara itu, di luar rumah, pesona Bara Adikara bertransformasi menjadi seseorang yang jauh lebih dominan dan berbahaya. Pria itu adalah raja di dunianya sendiri.

****

Malam berikutnya, di sebuah sirkuit balap liar pinggiran kota, raungan mesin mobil sport hitam membelah malam. Di bawah sorot lampu arena dan riuh rendah taruhan ratusan juta, Bara memimpin balapan dengan kendali penuh.

Ia tidak hanya menang, tapi mendominasi lintasan seolah nyawa lawan-lawannya berada di bawah kendali setirnya. Di mata para pembalap dan wanita-wanita malam yang mengerubunginya di garis finis, Bara adalah sosok monster yang sempurna. Tampan, banyak uang, dan tak tertandingi.

Tak berhenti di sana, pesonanya kini berpindah saat ia menuju ke sebuah VIP lounge di club malam elit kota. Di tengah dentuman musik yang menghentak dan kepulan asap rokok, Bara duduk di sofa utama, dikelilingi oleh Mike, Angel, dan beberapa teman setianya.

Suasana santai club sama sekali tidak mengurangi ketegasan aura Bara. Di atas meja kaca, beberapa map dokumen berisi salinan kepemilikan saham dan data manipulasi keuangan yang dilakukan Selina atas perusahaan mendiang ibunya, Ratih Adikara, terhampar rapi.

"Semuanya sudah aman, Bar. Kita tinggal menunggu momen rapat umum pemegang saham bulan depan untuk membalikkan keadaan," ujar Mike sambil menyodorkan segelas wiski, yang hanya diterima Bara dengan anggukan tegas.

"Bagus. Pastikan pengacara kita mengunci semua aset yang telah dialihkan Selina. Aku ingin saat tirai permainan ini dibuka, wanita itu tidak memiliki satu sen pun tersisa untuk menyelamatkan dirinya," jawab Bara. Suaranya rendah namun yakin. Membuat semua temannya patuh tanpa membantah.

Di tempat ini, di bawah temaram lampu club dan rencana perebutan kekuasaan perusahaan yang kian matang, Bara adalah pemimpin. Ia begitu memikat, dingin, dan berkuasa. Dan di rumah nanti, ia tahu umpan kecilnya, Andrea sedang menunggunya dengan hati yang dipenuhi rasa penasaran dan cinta yang membakar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!