NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.

 

Bab 2: Pertemuan yang Tak Direncanakan

Tiga hari berlalu sejak kejadian pagi yang memalukan itu. Namun bagi Raina, rasanya seperti tiga tahun yang panjang. Wajah tampan pemuda itu terus muncul di setiap sudut pikirannya, seakan menempel kuat dan tak mau pergi. Setiap kali ia menutup mata, ia kembali melihat sepasang mata teduh yang menatapnya tanpa rasa marah, justru penuh kelembutan yang tak bisa ia jelaskan.

Raina mencoba menganggap itu semua hanya mimpi buruk. Ia kembali sibuk bekerja di kantornya, mengurus berkas-berkas, bertemu klien, dan melakukan segala cara agar pikirannya teralihkan. Namun setiap kali ia berpapasan dengan pria asing di jalan, atau melihat sosok muda yang mirip, jantungnya selalu berdegup kencang tanpa alasan.

"Sudahlah Raina," gumamnya pelan sambil menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi kantor. "Kamu sudah dewasa. Itu hanya kesalahan semalam. Dia hanya anak muda yang tidak kamu kenal. Lupakan saja."

Namun melupakan ternyata tidak semudah mengucapkannya.

Di sisi lain kota, Dika juga tidak bisa tenang. Pagi itu setelah Raina pergi, ia duduk lama di tepi tempat tidur, menatap pintu yang tertutup. Ia tidak tahu nama wanita itu, tidak tahu di mana ia tinggal, dan tidak tahu kapan mereka akan bertemu lagi. Namun bayangan wajah sedih namun anggun itu terus menghantui pikirannya.

"Dik, kamu kenapa melamun terus?" tanya sahabat sekamarnya saat makan siang di kantin kampus. "Kamu biasanya penuh semangat kalau membahas tugas akhir. Ini malah melamun menatap kosong."

Dika tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Mungkin hanya sedikit lelah saja."

Ia tidak menceritakan kejadian itu pada siapa pun. Entah kenapa, ia merasa itu adalah rahasia kecil yang hanya milik mereka berdua. Dan anehnya, hatinya merasa berharap suatu saat nanti ia bisa bertemu kembali dengan wanita itu.

Keesokan harinya, takdir seolah mendengar doa yang tak terucapkan itu.

Raina harus datang ke sebuah universitas ternama di kota itu untuk mengurus perizinan kerjasama antara perusahaannya dengan fakultas ekonomi. Ia berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna krem yang membuatnya tampak sangat profesional dan berwibawa. Ia berjalan menyusuri lorong kampus yang luas, sesekali menyapa dosen atau petugas yang ia temui.

Setelah selesai mengurus segala urusan, Raina berjalan menuju halaman parkir. Namun saat melintasi sebuah taman kecil di tengah kampus, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.

Di sana, duduk di bangku taman sambil membaca buku, adalah sosok yang selama ini menghuni pikirannya. Wajah yang sama, rahang yang tegas, mata yang tajam namun teduh. Hanya saja kali ini ia tampak lebih rapi dengan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana panjang.

Dika seolah merasakan ada seseorang yang memperhatikannya. Ia mendongak dari bukunya, dan matanya langsung bertemu dengan sepasang mata yang sangat ia kenal.

Waktu seolah berhenti berputar.

Mereka hanya saling memandang dari kejauhan selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya rasa kaget yang mendalam bercampur dengan rasa senang yang tak terduga.

Dika segera menutup bukunya, berdiri perlahan, dan berjalan mendekati Raina. Langkahnya tenang namun pasti.

"Selamat siang," sapanya pelan saat berdiri tepat di hadapan wanita itu. Suaranya terdengar sama lembutnya seperti saat di kamar asrama dulu.

Raina menelan ludah dengan susah payah. Ia merasakan pipinya memanas kembali. "Siang... maaf... saya tidak menyangka bisa bertemu lagi di sini."

"Saya juga tidak menyangka," jawab Dika sambil menatapnya lekat-lekat. "Saya senang. Saya kira saya tidak akan pernah tahu siapa nama Anda."

Mendengar itu, rasa canggung Raina sedikit berkurang. "Nama saya Raina."

"Saya Dika."

Mereka tersenyum tipis satu sama lain. Ada rasa nyaman yang aneh menyelimuti mereka berdua. Meskipun baru bertemu untuk kedua kalinya, rasanya seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.

"Bolehkah saya mengajak Anda duduk sebentar?" tanya Dika menunjuk bangku taman yang tadi ia tempati. "Hanya untuk mengobrol."

Raina sempat ragu sejenak. Logikanya berkata untuk menolak dan segera pergi. Namun hatinya menariknya kuat untuk tetap tinggal. Akhirnya ia mengangguk pelan.

"Boleh."

Mereka duduk berdampingan, namun tetap menjaga jarak sopan. Mereka mengobrol tentang hal-hal sederhana: tentang pekerjaan Raina, tentang kuliah Dika yang sudah memasuki semester akhir, tentang hobi dan kesukaan masing-masing. Semakin lama mereka mengobrol, semakin Raina menyadari betapa luar biasanya pemuda di sebelahnya ini.

Dika bukan hanya sekadar tampan. Ia sangat cerdas, sopan, dan memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa dibandingkan usianya yang masih dua puluh dua tahun. Ia pandai menghargai pendapat orang lain, dan cara pandangnya tentang kehidupan membuat Raina kagum.

"Jadi Anda sudah bekerja dan hidup mandiri sejak lama?" tanya Dika dengan pandangan penuh rasa hormat.

"Ya, sudah cukup lama," jawab Raina sambil tersenyum tipis. "Termasuk bangkit kembali setelah kegagalan rumah tangga saya."

Raina berkata jujur tanpa menutupi masa lalunya. Ia ingin Dika tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

Dika tidak terlihat kaget atau menjauh. Ia justru menatap Raina dengan tatapan yang semakin dalam. "Itu sangat hebat. Bagi saya, wanita yang mampu bangkit kembali jauh lebih berharga daripada apa pun."

Kata-kata sederhana itu membuat dada Raina terasa sesak karena haru. Selama ini banyak orang yang memandangnya rendah karena statusnya yang sudah bercerai. Namun di hadapan pemuda yang jauh lebih muda darinya, ia justru merasa dihargai sepenuhnya.

Waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa. Matahari mulai condong ke barat, menyinari wajah mereka dengan cahaya keemasan yang hangat.

"Saya harus pulang sekarang," ucap Raina dengan berat hati.

"Bolehkah saya meminta nomor telepon Anda?" tanya Dika dengan nada sungguh-sungguh. "Saya ingin bertemu Anda lagi. Bukan karena kejadian semalam, tapi karena saya ingin mengenal Anda lebih jauh."

Raina menatap manik mata Dika yang jernih dan tulus. Di sana tidak ada niat buruk, hanya ada keinginan murni untuk mengenalnya. Perlahan, ia mengangguk dan menyebutkan nomor ponselnya.

Saat Raina berjalan meninggalkan taman itu, ia merasakan perasaan yang berbeda dari biasanya. Ada harapan kecil yang mulai tumbuh di dalam dadanya, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Dan di bangku taman itu, Dika masih duduk diam sambil menatap layar ponselnya yang kini menyimpan nomor wanita itu. Ia tahu, langkah ini mungkin tidak mudah. Ia tahu perbedaan usia dan latar belakang mereka sangat jauh. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa menemukan seseorang yang membuatnya ingin berjuang.

Pertemuan kedua itu bukan sekadar kebetulan. Itu adalah awal dari sebuah kisah yang akan mengubah seluruh hidup mereka berdua.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!