Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 — PANGGILAN "AYAH"
Suara gemuruh hujan di luar Paviliun Barat perlahan melunak menjadi gerimis konstan yang mengetuk kaca jendela batu. Di dalam kamar utama, bau ramuan herbal yang pahit menyeruak pelan, bercampur dengan aroma minyak kayu putih dan lilin lebah yang meleleh di sudut meja.
Tabib Master baru saja meninggalkan ruangan setelah memastikan ramuan penurun panas berhasil ditelan oleh Elian. Suhu tubuh anak itu mulai berangsur turun, walau napasnya masih terdengar sedikit berat dan pipinya masih menyisakan rona hangat.
Alena duduk berlutut di atas lantai kayu di samping ranjang, mengganti kain kompres di dahi Elian dengan gerakan yang teramat lembut. Matanya yang sembap dan dikelilingi bayangan hitam memancarkan kelelahan luar biasa.
Di sisi lain tempat tidur, Pangeran Adrian masih setia bertengger di tepi kasur. Pria tegap itu tidak pernah melepaskan tangannya. Jemari besarnya yang berkapalan dibiarkan berada dalam genggaman mungil Elian. Zirah perak dan pangkat Putra Mahkota seolah kehilangan seluruh artinya malam ini; yang tersisa hanyalah sosok seorang pria yang menatap anak kecil di hadapannya dengan pendar mata yang dipenuhi kerinduan dan rasa bersalah yang tak terukur.
"Anda bisa kembali ke kediaman Anda, Yang Mulia," bisik Alena pelan, break keheningan yang panjang. Suaranya serak dan nyaris tenggelam oleh desir angin gerimis di luar. "Tabib bilang demamnya sudah mulai turun. Kehadiran Anda di sini hingga larut malam hanya akan memicu rumor berbahaya di antara para pengawal."
Adrian tidak langsung menjawab. Matanya tetap terkunci pada wajah lelap Elian.
"Biarkan rumor itu berkobar, Alena," jawab Adrian, suaranya rendah dan dalam, bergema dengan ketenangan yang dingin. "Aku tidak peduli lagi apa yang diketik oleh para menteri di laporan dewan mereka besok pagi."
"Tapi saya peduli!" sahut Alena, emosi yang ditahannya semalaman mulai merekah kembali dalam bisikan yang histeris. "Setiap detik Anda berada di kamar ini, setiap kali Anda menggenggam tangannya... Anda sedang menaruh belati di atas leher anak ini! Apakah Anda tidak paham juga?!"
Adrian memalingkan wajahnya perlahan, menatap Alena. Di bawah pendar redup lampu minyak, mata abu-abu sang pangeran memancarkan rasa sakit yang begitu jujur hingga membuat Alena menahan napas.
"Aku paham, Alena," bisik Adrian parau. "Aku paham bahwa selama tujuh tahun ini kau menanggung ketakutan itu sendirian. Tapi menyuruhku pergi dan berpura-pura tidak peduli saat anakku sedang merintih sakit... adalah hal yang tidak sanggup kulakukan lagi."
Alena mengepalkan tangannya di atas kain kompres. Pengakuan tersirat yang diucapkan Adrian dengan begitu lugas membuat dadanya sesak, menghancurkan sisa-sisa argumen yang dirancangnya.
Tiba-tiba, Elian bergeliat pelan di atas kasur bulu.
Anak kecil itu mengernyitkan dahinya, napasnya sedikit tersengal saat gelombang ilusi dari igauan demam kembali menyerangnya. Matanya yang berwarna abu-abu membuka sedikit—sayu, kabur, dan terombang-ambing antara kesadaran dan mimpi buruk.
"Ibu..." rintih Elian parau, tenggorokannya yang kering membuat suaranya terdengar sangat rapuh.
"Ibu di sini, Sayang," ujar Alena cepat, mengusap pipi hangat putranya. "Ibu di sini. Tidurlah lagi."
Namun Elian tidak menatap ibunya. Penglihatannya yang kabur oleh demam memfokuskan pandangan pada sosok tinggi besar yang duduk di samping tempat tidurnya—pria yang sejak tadi memegang tangannya dengan kehangatan yang amat kokoh dan menenangkan.
Dalam pikirannya yang setengah sadar, di antara ingatan tentang anak-anak desa yang selalu digendong oleh ayah mereka di ladang Bellmare, dan rasa aman asing yang dirasakannya saat dibimbing mengelus kuda putih Frost... kerinduan terdalam anak berusia tujuh tahun itu mendadak pecah.
Jemari mungil Elian meremas ibu jari Adrian lebih erat. Bibirnya yang kering dan pucat terbuka perlahan, melontarkan satu kata yang sanggup meruntuhkan seluruh dunia di dalam ruangan itu.
"Ayah..."
Suara itu sangat pelan. Hanya satu kata pendek yang meluncur polos tanpa beban protokoler atau kebohongan politik.
"Ayah... jangan pergi..." bisik Elian lagi, menyandarkan pipinya yang panas ke punggung tangan Adrian sebelum matanya kembali terpejam rapat, terlelap kembali dalam tidur yang lebih lelap.
Suasana di dalam kamar mendadak membeku secara total.
Waktu seolah-olah terhenti berputar. Dentuman gerimis di luar jendela dan derit tungku pembakaran mendadak lenyap dari pendengaran. Kata Ayah yang terucap dari bibir Elian menggantung di udara bagai petir yang menyambar di dalam ruangan yang sunyi.
Alena membelalak lebar dalam ketakutan yang luar biasa. Seluruh darah di tubuhnya serasa terkuras habis seketika. Muka Alena berubah pucat pasi bagai mayat.
"Tidak!" jerit Alena dalam bisikan histeris yang tertahan. Dengan gerakan kepanikan murni, Alena melompat maju, menutupi mulut mungil Elian dengan tangannya yang gemetar hebat. "Tidak... dia sedang mengigau! Dia demam tinggi, Adrian! Dia tidak tahu apa yang dia katakan! Dia pikir Anda adalah... adalah pedagang dari cerita saya!"
Alena mencengkeram bahu Elian, berusaha menarik tangan anaknya dari genggaman Adrian secara kasar. Air mata keputusasaan meluncur deras melintasi pipi Alena.
"Dia hanya anak kecil yang sakit!" jerit Alena lagi, suaranya pecah oleh isak tangis yang memilukan. "Jangan dengarkan dia! Dia tidak tahu apa-apa! Tolong... saya mohon pada Anda, Pangeran Adrian... jangan dengarkan dia!"
Namun Adrian tidak melepaskan tangan Elian.
Pria tegap itu duduk membisu bagai patung pahatan batu. Tubuhnya menegang kaku, dan matanya yang berwarna abu-abu pekat membelalak lebar menatap wajah lelap anak laki-laki di hadapannya.
Ayah.
Panggilan itu menghantam dada Adrian dengan kekuatan yang begitu dahsyat hingga paru-parunya mendadak tak sanggup menyerap udara. Sebuah getaran hebat merayap dari pergelangan tangannya, menjalar ke seluruh pembuluh darahnya, hingga merobek bagian terdalam jiwanya. Rasa haru yang membakar, kebahagiaan yang teramat pedih, dan kerinduan seorang ayah yang ditahan selama tujuh tahun meluap seketika di balik dadanya.
Adrian tidak menarik tangannya. Ibu jarinya perlahan mengusap jemari mungil Elian yang kini rileks kembali dalam genggamannya.
Adrian perlahan mengangkat kepalanya. Tatapan mata abu-abunya yang dibasahi oleh lapisan air mata yang langka bertabrakan langsung dengan mata hijau hazel milik Alena yang basah dan liar oleh kepanikan.
Tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka.
Namun dalam keheningan yang menyiksa itu, Alena menyadari satu hal yang mengerikan:
Batas kebohongan telah runtuh sepenuhnya.
Topeng "anak pedagang dari Bellmare" telah hancur berkeping-keping. Tatapan Adrian saat ini bukan lagi tatapan seorang pangeran yang sedang menduga atau mencurigai—itu adalah tatapan seorang ayah yang baru saja mendengar anak kandungnya memanggil dirinya untuk pertama kali dalam hidupnya.
Alena menarik tangannya perlahan dari wajah Elian, meremas dadanya sendiri yang berdenyut perih luar biasa. Ia menundukkan kepala, membiarkan tangis keputusasaannya pecah tanpa suara di atas lantai kayu. Ia tahu, setelah detik ini, tidak ada satu pun kebohongan di dunia ini yang sanggup meyakinkan Adrian lagi.
Adrian menatap Alena yang sedang menangis tergugu di hadapannya. Pria itu tidak memberikan hardikan, tidak memberikan tuntutan pengakuan formal, dan tidak melontarkan kalimat kemenangan.
Dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh kehati-hatian, Adrian melepaskan jemari Elian yang sudah tertidur nyenyak. Pria itu berdiri dari tempat tidur, merapikan jubah hitamnya yang basah.
Ia menatap Alena untuk terakhir kalinya malam itu—sebuah tatapan yang memancarkan janji perlindungan yang teramat pekat, sekaligus tekad mematikan yang tak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun di Aveloria.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Pangeran Adrian Valerian berbalik dan melangkah keluar dari kamar utama, menutup pintu kayu mahoni itu dengan sangat pelan.
Malam itu, Pangeran Aveloria melangkah menyusuri koridor Paviliun Barat yang dingin menembus hujan gerimis. Dan di dalam hatinya yang pernah membatu selama tujuh tahun, sebuah janji darah telah diikrarkan: ia tidak akan pernah membiarkan siapa pun memisahkan dirinya dari anak dan wanita yang menjadi alasan jiwanya bernapas.