Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Positif Hamil
Waktu berlalu begitu cepat.
Jarum jam kini menunjukkan pukul setengah sebelas siang.
Suasana taman kanak-kanak mulai lengang setelah seluruh kegiatan belajar selesai. Ainun merapikan beberapa buku di atas meja guru, lalu memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
Ia mengembuskan napas pelan.
‘Aku harus segera ke klinik.’
Baru saja hendak melangkah keluar dari ruang guru, sebuah suara menghentikannya.
“Bu Ainun.”
Ainun menoleh.
Pak Faizan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Senyum ramah masih menghiasi wajah pria itu.
“Bagaimana, Bu?” tanyanya. “Jadi makan bakso bareng? Saya sudah mengajak Bu Melda juga.”
Jemari Ainun mengerat pada tali tasnya. Sesaat ia terdiam sebelum mengulas senyum tipis.
“Maaf, Pak Faizan,” ucapnya pelan. “Lain kali saja, ya.”
Raut wajah Pak Faizan tampak sedikit berubah.
“Eh...”
“Soalnya saya sudah ada janji dengan seseorang,” ucap Ainun cepat.
Pak Faizan mengangguk pelan, meski sorot matanya tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya.
“Oh... baiklah.” Ia tersenyum tipis. “Semoga lain kali Ibu tidak menolak ajakan saya lagi.”
Ainun membalas senyumnya dengan sopan.
“Insyaallah, Pak.” Ia sedikit menundukkan kepala. “Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Faizan. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Faizan.
Tanpa menambah percakapan, Ainun berbalik dan melangkah meninggalkan ruang guru.
Langkahnya menyusuri koridor hingga tiba di halaman sekolah.
Embusan angin siang menyapu lembut wajahnya. Namun. Belum sempat ia mencapai gerbang, seseorang kembali memanggilnya.
“Eh, Bu Ainun!”
Ainun menghentikan langkah, lalu menoleh.
Bu Melda berjalan menghampirinya sambil tersenyum.
“Gimana sekarang? Masih pusing, Bu?”
Ainun menggeleng pelan. “Alhamdulillah, sudah mendingan.”
“Syukurlah.” Bu Melda mengembuskan napas lega. “Tadi dokter bilang apa?”
Ainun berusaha tetap terlihat tenang. “Katanya kemungkinan karena saya telat makan.”
“Oh, begitu.” Bu Melda mengangguk. “Lain kali jangan lupa sarapan, ya, Bu. Sarapan itu penting supaya tubuh punya energi.”
“Iya, Bu. Terima kasih sudah mengantar saya tadi.”
“Sama-sama.”
Ainun kembali tersenyum tipis. “Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Iya. Hati-hati di jalan, Bu Ainun.”
“Iya, Bu.”
Setelah berpamitan, Ainun kembali melangkah meninggalkan halaman sekolah.
Begitu melewati gerbang, senyum tipis di wajahnya perlahan memudar. Jemarinya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih datar.
‘Semoga... dugaan dokter tadi gak benar.’
Namun, semakin ia berusaha menenangkan diri, semakin keras jantungnya berdegup.
Kini hanya ada satu tujuan yang memenuhi pikirannya.
Klinik obstetri dan ginekologi.
Ia harus memastikan sendiri apakah ucapan dokter UKS itu benar... atau hanya dugaan semata.
.
.
Tak membutuhkan waktu lama, Ainun akhirnya tiba di sebuah klinik obstetri dan ginekologi.
motor angkutan daring yang ditumpanginya berhenti tepat di depan pintu masuk.
Sebelum turun, Ainun menoleh kepada pengemudi.
“Bang, tunggu sebentar, ya. Saya nggak lama, kok.”
Pengemudi itu mengangguk sambil tersenyum ramah.
“Siap, Neng.”
“Iya, terima kasih.”
Ainun turun dari motor, lalu melangkah menuju dalam klinik itu. Namun sebelum ia masuk, langkahnya berhenti dan berdiri sejenak di depan bangunan klinik itu.
Tatapannya terpaku pada papan nama yang terpasang di atas pintu masuk.
Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.
Perlahan, ia menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri melangkah masuk.
Suasana di dalam klinik tampak bersih dan tenang. Aroma khas antiseptik langsung menyambut indera penciumannya.
Ainun berjalan menuju meja pendaftaran.
Seorang petugas administrasi tersenyum ramah ketika melihatnya datang.
“Ada yang bisa kami bantu, Mbak?”
Ainun menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat.
“Saya... ingin cek kandungan.” suaranya terdengar lirih. “Saya ingin memastikan... apakah saya hamil atau tidak.”
“Baik, Mbak.” Petugas itu segera mengambil selembar nomor antrean. “Silakan didaftarkan dulu. Ini nomor antreannya.”
“Iya, Mbak. Terima kasih.”
Ainun menerima secarik kertas itu. Pandangannya langsung tertuju pada angka yang tercetak di sana.
'Nomor empat.'
Ia menoleh ke arah ruang tunggu.
Langkahnya sempat terhenti. Di sana telah duduk tiga orang pasien.
Dua di antaranya tampak memiliki perut yang sudah membuncit. Masing-masing ditemani seorang pria yang duduk di sisi mereka sambil sesekali mengusap lembut punggung atau menggenggam tangan istrinya.
Di ujung lain, seorang wanita dengan perut yang masih belum begitu terlihat juga duduk bersama seorang pria yang terus mengajaknya berbincang.
Ainun menundukkan kepala.
‘Mereka datang bersama suami mereka....’
Jemarinya perlahan meremas nomor antrean.
Lalu ia mengusir pikiran itu, lalu berjalan menuju satu kursi kosong di sudut ruang tunggu.
Perlahan, Ainun duduk.
Tangannya masih menggenggam erat nomor antrean, sementara kedua matanya sesekali menatap pintu ruang praktik.
Satu per satu nama pasien dipanggil.
Suara langkah kaki keluar masuk ruang pemeriksaan membuat jantungnya ikut berdebar.
Hingga akhirnya...
“Nomor antrean empat. Atas nama Ibu Ainun Nahwa Abimana.”
Tubuh Ainun sedikit menegang. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.
‘Bismillah....’
Perlahan, ia berdiri dari kursinya.
Dengan langkah yang terasa lebih berat daripada sebelumnya, Ainun berjalan menuju ruang pemeriksaan, sementara dadanya terus dipenuhi rasa cemas menanti jawaban yang terus mengusiknya sejak tadi.
.
Ainun melangkah pelan memasuki ruang pemeriksaan. Di balik meja, seorang dokter wanita telah menunggu sambil membuka berkas pasien.
“Silakan duduk, Bu,” ujar sang dokter ramah.
“Iya, Dok,” balas Ainun lirih.
Ia menarik kursi, lalu duduk dengan kedua tangan bertaut di atas pangkuan. Jemarinya saling meremas tanpa sadar.
Dokter itu menatap Ainun beberapa saat sebelum mulai bertanya, “Apa keluhan yang Ibu rasakan?”
Ainun menarik napas pelan.
“Tadi pagi setelah saya selesai mengajar, saya merasa pusing dan mual, Dok. Setelah diperiksa dokter UKS, beliau bilang kemungkinan saya hamil. Tapi beliau menyarankan saya memeriksakan diri ke dokter kandungan supaya hasilnya lebih pasti.”
Dokter mengangguk sambil mencatat sesuatu.
“Baik. Terakhir haid kapan?”
Pertanyaan itu membuat Ainun terdiam.
Keningnya berkerut pelan. Ia menoleh ke arah kalender yang tergantung di dinding, berusaha mengingat.
“Sepertinya... sekitar sebulan yang lalu, Dok,” jawabnya ragu. “Maaf, saya agak lupa tanggal pastinya.”
“Tidak apa-apa.”
Dokter kembali menulis beberapa catatan, lalu membuka laci meja. Dari dalam laci, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan mengambil sebuah alat berbentuk pipih.
Benda itu kemudian disodorkan kepada Ainun.
“Silakan gunakan ini dulu.”
Ainun menerimanya dengan hati-hati.
“Apa ini, Dok?” tanyanya sambil menatap benda di tangannya.
“Ini alat tes kehamilan,” jelas dokter dengan sabar. “Nanti Ibu buang air kecil ke wadah yang sudah disediakan di kamar mandi. Setelah itu, celupkan alat tersebut sesuai petunjuk yang ada di kemasannya.”
Ainun mengangguk pelan.
“Iya, Dok.”
Jemarinya menggenggam alat itu sedikit lebih erat.
‘Ya Allah... semoga hasilnya sesuai dengan yang terbaik menurut-Mu.’
Perlahan ia bangkit dari kursinya.
Dokter menunjuk sebuah pintu di sudut ruangan.
“Kamar mandinya di sana, Bu.”
“Baik, Dok. Terima kasih.”
Ainun melangkah menuju pintu itu dengan jantung yang terus berdegup semakin kencang. Semakin dekat dengan kamar mandi, semakin kuat pula rasa cemas yang memenuhi dadanya.
. . .
Di dalam kamar mandi, Ainun berdiri mematung di depan wastafel. Tatapannya tertuju pada alat tes kehamilan yang masih berada di dalam genggamannya.
Perlahan, ia meletakkannya di atas wastafel, lalu mengembuskan napas pelan.
‘Bismillah...’
Ia mengikuti setiap petunjuk yang sebelumnya dijelaskan oleh dokter. Setelah selesai, Ainun mencelupkan alat tes itu ke dalam gelas kecil yang telah berisi urine.
Beberapa detik kemudian, ia meletakkannya kembali di atas wastafel.
Kini, yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu. Jemarinya saling bertaut erat.
Tatapannya tak pernah lepas dari benda pipih itu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Perlahan, sebuah garis merah mulai muncul.
Tak lama kemudian, garis kedua ikut terlihat.
Keningnya langsung berkerut. “Lho... kok tiba-tiba muncul dua garis?”
Ia memiringkan alat itu beberapa kali, berharap penglihatannya keliru. Namun, dua garis merah itu tetap terlihat jelas.
‘Apa artinya ini?’
Ainun menggigit bibir bawahnya pelan.
Karena tidak memahami hasilnya, ia memutuskan keluar dari kamar mandi.
Langkahnya kembali menuju ruang pemeriksaan.
Dokter yang sejak tadi menunggu langsung mengangkat wajah saat melihat Ainun datang.
“Bagaimana hasilnya, Bu Ainun?” tanyanya ramah.
Ainun menghampiri meja dokter, lalu menyodorkan alat tes kehamilan itu.
“Maaf, Dok,” ucapnya pelan. “Saya kurang paham cara membacanya. Tadi setelah saya tunggu, muncul dua garis seperti ini.”
Dokter menerima alat tersebut, lalu memperhatikannya dengan saksama.
Beberapa saat kemudian, ia mengangkat pandangannya.
“Bu Ainun,” panggilnya lembut.
“Iya, Dok?”
Dokter tersenyum tipis. “Hasil tes ini menunjukkan bahwa Ibu positif hamil.”
Deg.
Jantung Ainun seolah berhenti berdetak.
Kelopak matanya berkedip pelan, sementara bibirnya terbuka tanpa suara.
‘Positif... hamil?’
Tangannya perlahan bergerak menutupi perutnya yang masih rata.
Dadanya bergemuruh..Sulit baginya menerima kenyataan yang baru saja didengar.
'Bagaimana mungkin?’
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪