NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Bel panjang penanda berakhirnya jam pelajaran terakhir akhirnya berkumandang, disambut helaan napas lega dari ratusan murid SMA Nusa Bangsa. Suasana lorong gedung sekolah mendadak berubah riuh dan padat. Di sepanjang koridor hingga tangga menuju lantai bawah, lautan siswa berseragam putih-abu-abu berbondong-bondong melangkah menuju pintu keluar.

Namun, sore itu ada aura yang berbeda. Jika biasanya obrolan kepulangan didominasi oleh rencana nongkrong atau tugas sekolah, hari ini seluruh penjuru sekolah dipenuhi oleh satu topik yang sama: *study tour* minggu depan.

"Gue udah izin sama nyokap! Katanya dibolehin ikut, sekalian mau dibelikan baju baru buat foto-foto di sana!" celetuk seorang siswi dari kelas sebelah dengan nada kegirangan saat melintasi tangga.

"Wah, asyik banget! Gue juga udah masukin uangnya ke amplop, besok pagi langsung mau gue bayar ke Bu Ani biar dapet bangku bus paling depan!" sahut temannya tak kalah antusias.

Gelak tawa, gurauan gembira, dan perbincangan tentang bus mana yang paling nyaman, hotel tempat menginap, hingga baju apa yang akan dipakai saat acara malam akrab bergema memantul di dinding-dinding koridor. Wajah-wajah yang lelah setelah seharian belajar kini kembali berbinar, dipenuhi antusiasme menyambut liburan berkedok tugas belajar tersebut.

Di tengah gelombang kebahagiaan dan keceriaan yang meluap-luap itu, Alya melangkah pelan di antara kerumunan.

Tas ranselnya yang agak pudar terasa berkali-kali lipat lebih berat dari biasanya. Pandangannya tertuju lurus ke lantai semen yang dipijaknya, mengabaikan keriuhan di sekelilingnya. Kontras yang teramat tajam menyelimuti dirinya; di saat semua orang sibuk merencanakan kesenangan, benak Alya justru dipenuhi oleh kalkulasi pahit dan bayang-bayang kecemasan yang mencekik.

Adel dan Jesica berjalan di sisi kanan dan kirinya. Kedua sahabatnya itu masih sibuk mendiskusikan daftar barang yang wajib dibawa.

"Al, nanti kita beli camilan yang banyak ya buat di bus," ujar Adel seraya merangkul lengan Alya santai. "Gue mau bawa *snack* yang banyak biar kita kagak kelaparan di jalan."

"Iya, Al. Terus nanti kameranya bawa punya gue aja, biar hasil foto-fotonya bagus," tambah Jesica semangat.

Alya merespons dengan anggukan lemah dan ukiran senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Iya, terserah kalian aja..."

"Al, lo beneran gak apa-apa?" Jesica menghentikan langkahnya sejenak saat mereka tiba di area halaman depan, menyadari respon sahabatnya yang sedari tadi sangat pasif. "Dari jam sejarah tadi lo diam melulu. Muka lo juga lesu banget."

Alya memegang tali ranselnya lebih erat, berusaha mengatur intonasi suaranya agar tidak terdengar gemetar. "Gak apa-apa kok, Jes. Cuma agak capek aja. Hari ini lumayan padat kan materi pelajaran kita."

Adel mengusap bahu Alya prihatin. "Ya udah, begitu sampai rumah lo langsung istirahat ya, Al. Jangan mikir yang berat-berat dulu."

"Iya. Makasih ya, kalian duluan aja ke parkiran," ucap Alya lembut.

Setelah berpamitan dengan kedua sahabatnya yang dijemput oleh kendaraan pribadi masing-masing, Alya melanjutkan langkahnya sendirian menuju gerbang luar sekolah—tempat ia biasanya menunggu angkutan umum.

Sore itu, langit di atas kota tampak mulai meredup, dilapisi awan jingga keabu-abuan. Angin sore berhembus cukup kencang, menyapu rambut hitam Alya yang terikat sederhana. Setiap langkah yang diambilnya terasa begitu berat. Di dalam benaknya, lembaran kertas rincian biaya dari Bu Ani seolah menari-nari, memperlihatkan deretan angka yang sama sekali tidak sanggup dijangkau oleh simpanan tabungannya yang minim.

'Uang tabungan mengajar les anak SD tetangga cuma ada sedikit... itu pun sudah aku niatkan buat beli buku latihan soal bulan depan,' batin Alya pilu. Rasa frustrasi mulai merayapi dadanya.

Ia memikirkan berbagai cara. Apakah ia harus mencari pekerjaan paruh waktu instan dalam kurun waktu tiga hari? Tapi pekerjaan apa yang mau membayar uang tunai sebanyak itu secara langsung kepada seorang murid SMA dalam waktu singkat? Menjual barang berharga? Alya bahkan tidak memiliki barang mewah apa pun di kamarnya.

Yang paling membuat hatinya nyeri adalah kenyataan bahwa *study tour* ini bersifat wajib dan nilainya akan dimasukkan ke dalam nilai akhir semester. Jika ia tidak ikut, nilainya bisa jatuh sesuatu yang sangat berisiko bagi kelangsungan beasiswa prestasinya.

Saking larutnya Alya dalam pusaran pikirannya sendiri, ia sama sekali tidak menyadari situasi di sekitarnya. Langkah kakinya yang terkulai lesu membuatnya kurang waspada saat menyeberangi jalan kecil di samping area parkiran khusus mobil sekolah.

*Sreeek! Bip biiip!*

Suara decitan rem mobil yang tajam dan deru mesin yang mendadak berhenti menembus kesadaran Alya.

Alya tersentak kaget, tubuhnya membeku seketika. Hanya berjarak tak sampai setengah meter dari lututnya, sebuah mobil *sport* hitam mengkilap berlogo mewah berhenti mendadak. Bumper depannya yang mulus hampir saja menyenggol tubuh Alya.

Alya menelan ludah, jantungnya berdegup kencang karena terkejut. Ia melangkah mundur satu tapak dengan napas terengah-engah.

Kaca mobil bagian pengemudi perlahan turun. Dari balik kemudi, muncul sosok Devan Narendra. Laki-laki itu sudah melepas jas seragamnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku. Tatapan matanya yang tajam menatap Alya dari balik kemudi dengan dahi berkerut dalam.

"Lo kalau jalan pakai mata, bukan cuma pakai kaki," cetus Devan dengan suara beratnya yang ketus, namun tersirat nada cemas yang tersembunyi di baliknya. "Hampir aja lo ketabrak."

Alya menata napasnya yang sempat tertahan. Rasa terkejutnya perlahan berganti dengan rasa canggung dan malu. Namun, alih-alih marah atau membalas ucapan Devan dengan nada tinggi, Alya justru menundukkan kepalanya tipis. Wajahnya yang pucat makin mempertegas betapa rapuhnya kondisi gadis itu sore ini.

"Maaf," cicit Alya pelan. Suaranya terdengar sangat halus, hampir tenggelam oleh suara deru mesin mobil Devan. "Saya kurang hati-hati."

Devan terpaku di tempat duduknya. Ia sejujurnya sudah bersiap jika gadis ini akan memasang benteng pertahanan dinginnya lagi atau membalas perkataannya dengan sikap acuh tak acuh seperti biasanya. Namun, melihat Alya yang menunduk pasrah dengan raut wajah yang tampak begitu lelah dan penuh beban, kejengkelan Devan mendadak menguap tanpa sisa.

Devan menyandarkan punggungnya di jok mobil, matanya meneliti raut wajah Alya yang tidak bergairah. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Mata gadis pintar itu tidak lagi memancarkan binar tegas yang biasa Devan lihat saat dihukum di lapangan pagi tadi. Ada bayangan kesedihan yang amat dalam tertutup di balik ketenangannya.

"Lo..." Devan membuka suara lagi, intonasi suaranya melunak secara drastis, tak lagi secetus tadi. "Lo sakit?"

Alya menggeleng pelan tanpa mengangkat pandangannya terlalu tinggi. "Enggak. Saya permisi."

Tanpa menunggu tanggapan Devan lebih lanjut, Alya melangkah memutari bagian depan mobil mewah itu dan melanjutkan jalannya menuju gerbang luar dengan langkah cepat. Ia ingin segera pergi, ingin cepat sampai di rumah dan menyembunyikan seluruh rasa sesak ini di balik dinding kamarnya yang sempit.

Dari kaca spion samping, Devan memperhatikan punggung Alya yang perlahan menjauh dan menghilang di antara kerumunan siswa yang memadati gerbang luar. Jemari Devan mengetuk-ngetuk kemudi secara teratur. Rasa penasaran yang tadi pagi hanya sebatas percikan kecil, kini berubah menjadi sebuah pertanda besar di dalam hatinya.

Devan tahu betul, ada sesuatu yang sedang menghancurkan ketenangan gadis berotak encer itu dan Devan mendadak memiliki keinginan kuat untuk mencari tahu apa alasannya.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!