NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Brak.

Pria itu langsung tidak sadarkan diri dengan hidung yang hancur berantakan.

"Mati kau keparat."

Dua orang musuh di sebelah kiri Sony langsung mengayunkan popor senapan mereka.

Mereka berniat memukul kepala Sony secara bersamaan dari dua sisi.

Sony hanya merunduk santai menghindari hantaman senjata berat tersebut.

Bugh bugh.

Dua kepalan tangan Sony meluncur deras mengenai perut bagian bawah kedua musuh itu.

"Ughhh."

Mereka berdua langsung memuntahkan cairan dari mulutnya dan jatuh berlutut memegangi perut.

Sony tidak membuang waktu dan menendang wajah mereka secara bergantian hingga pingsan.

Hanya dalam waktu kurang dari lima detik, tiga orang penyerang elit sudah berhasil dilumpuhkan.

Tujuh orang yang tersisa mulai gemetar ketakutan melihat kecepatan Sony yang menyerupai hantu.

"Mundur semuanya, ambil jarak dan tembak terus."

Mereka berusaha berjalan mundur sambil menembakkan senjata api mereka secara acak.

Dor dor dor.

Namun Sony sudah menempel terlalu dekat dengan barisan mereka.

[Titik lemah target divalidasi: Celah di antara rompi anti peluru dan kerah leher]

Sony menyelinap masuk ke tengah formasi musuh dengan sangat luwes.

Sret sret.

Dia menggunakan ujung jari telunjuk dan tengahnya untuk menusuk pangkal leher para musuh.

Tepat di bagian celah rompi yang tidak terlindungi oleh baja.

"Argh."

"Tolong."

Satu per satu penyerang itu jatuh tersungkur ke atas aspal yang basah.

Saraf di leher mereka terganggu hebat membuat mereka kehilangan kesadaran secara instan.

Bruk bruk bruk.

Tujuh tubuh kekar itu kini terkapar tidak berdaya di jalanan tol tersebut.

Sony berdiri di tengah-tengah mereka dengan setelan jas yang sama sekali tidak terkena noda lumpur.

Dia hanya membersihkan sedikit cipratan air hujan dari lengan bajunya.

Ting.

[Sistem Pemberitahuan: Ancaman jarak dekat berhasil dinetralisir]

[Peringatan: Penembak jitu di atas jembatan sedang mencoba mencari sudut tembak baru]

Sony mengangkat kepalanya dan menatap ke arah celah jembatan layang di atasnya.

"Sekarang tinggal mengurus tikus yang bersembunyi di atas sana."

Sony berjalan perlahan mendekati tiang penyangga jembatan beton tersebut.

Dia melihat ada sebuah tangga pemeliharaan kecil yang terbuat dari besi karatan.

Tap tap tap.

Sony memanjat tangga besi itu dengan sangat cepat tanpa mengeluarkan suara decitan sedikit pun.

Hanya butuh beberapa detik baginya untuk sampai ke atas jembatan layang yang sepi.

Di ujung jembatan, seorang pria berpakaian kamuflase sedang berbaring tengkurap.

Matanya menempel rapat pada lensa bidik senapan runduk kaliber besar miliknya.

"Ke mana perginya target kita?"

"Kenapa anak buah Komandan Bima di bawah sana tidak ada yang melapor?"

Penembak jitu itu bergumam sendiri melalui alat komunikasi di telinganya.

"Mereka semua sedang tidur siang di jalan tol bawah sana."

Suara Sony terdengar sangat dekat, tepat dari arah belakang pria itu.

Penembak jitu itu terkejut setengah mati dan langsung berusaha mencabut pistol dari pinggangnya.

Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pistol, ujung sepatu Sony sudah menginjak punggungnya dengan keras.

Krak.

"Arghhh punggungku."

Pria itu menjerit kesakitan saat tulang belakangnya ditekan paksa ke atas aspal beton.

Senapan runduknya terlepas dari tangannya dan terpental agak jauh.

"Diam di tempat atau aku akan mematahkan tulang belakangmu menjadi dua bagian."

Sony memberikan ancaman yang sangat dingin dan tidak main-main.

Penembak jitu itu langsung berhenti meronta dan menelan ludahnya dengan susah payah.

"S-siapa kau sebenarnya?"

"Bagaimana kau bisa naik ke atas sini secepat itu?"

Pria itu bertanya dengan suara gemetar karena ketakutan yang luar biasa.

"Aku yang seharusnya bertanya padamu."

Sony sedikit menekan ujung sepatunya untuk memberikan efek sakit tambahan.

"Di mana aku bisa menemukan Komandan Bima yang mengirim kalian kemari?"

Pria berpakaian kamuflase itu menggigit bibirnya mencoba bertahan dari rasa sakit.

"Aku tidak akan memberi tahu markas kami padamu."

"Komandan Bima akan memotong leherku jika aku berani membuka mulut."

Pria itu masih mencoba menunjukkan kesetiaannya pada organisasi hitam tersebut.

"Kalau begitu, biar aku yang mematahkan lehermu sekarang juga."

Sony mengangkat kakinya sedikit, bersiap untuk memberikan injakan mematikan.

"Tunggu, tunggu, aku akan bicara."

Pria itu langsung panik dan menyerah sebelum kaki Sony benar-benar turun.

Mentalnya langsung hancur menghadapi aura membunuh Sony yang sangat pekat.

"Bicara yang jelas dan jangan membuang waktuku."

Sony kembali meletakkan kakinya di punggung pria itu dengan tekanan ringan.

"Komandan Bima mengendalikan pasukan pemburunya dari sebuah gudang pelabuhan di sektor utara."

"Gudang nomor empat belas, itu adalah tempat dia melatih semua anak buah elitnya."

Pria itu memberikan informasi tersebut dengan napas yang terengah-engah.

"Gudang pelabuhan ya?"

"Tempat yang sangat klasik untuk bersembunyi bagi seekor anjing penjaga."

Sony bergumam pelan mencerna informasi yang baru saja didapatkannya.

"Apa ada orang lain selain Bima yang harus aku ketahui di markas pusat?"

Sony kembali bertanya untuk menggali informasi lebih dalam.

"Ada Tuan Hendra, dia adalah tangan kanan ketua markas pusat."

"Dia yang memberikan perintah langsung pada Bima pagi ini untuk membunuhmu."

Penembak jitu itu membocorkan semua rahasia yang dia ketahui tanpa sisa.

"Lalu di mana ahli kimia bernama Sang Racun itu bersembunyi?"

Mendengar pertanyaan itu, pria di bawah kaki Sony menggelengkan kepalanya pelan.

"Sumpah, aku sama sekali tidak tahu tentang orang itu."

"Hanya ketua pusat dan Tuan Hendra yang tahu letak pasti laboratorium rahasia itu."

Pria itu menjawab dengan sangat jujur karena memang dia hanyalah prajurit kelas bawah.

[Sistem Pemberitahuan: Deteksi kebohongan tidak menemukan anomali pada target]

[Informasi divalidasi kebenarannya]

Sony membaca layar biru itu dan menarik kakinya menjauh dari punggung pria tersebut.

"Sepertinya kau memang hanya tahu sebatas itu saja."

Sony berbalik badan bersiap untuk turun kembali ke bawah jembatan.

"Syukurlah kau melepaskanku," batin pria itu dengan perasaan lega luar biasa.

Namun saat pria itu mencoba bangun bertumpu pada tangannya, Sony tiba-tiba berbalik.

Bugh.

Satu tendangan kilat mendarat telak di kepala penembak jitu tersebut.

Pria itu langsung pingsan tidak sadarkan diri di atas genangan air hujan.

"Aku melepaskan nyawamu, tapi tidak membiarkanmu bangun secepat itu."

Sony bergumam pelan sambil berjalan santai menuju tangga besi untuk turun.

Di bawah sana, Leo dan Nadhira masih menunggu di dalam limusin dengan perasaan cemas.

Pintu mobil terbuka dan Sony masuk kembali dengan napas yang sangat tenang.

Brak.

"Apakah semuanya sudah selesai, Sony?"

Nadhira bertanya sambil memeriksa tubuh Sony dari atas ke bawah mencari luka.

"Semua hambatan sudah dibersihkan."

"Jalan kita menuju tempat tinggal baru sudah sangat aman."

Sony duduk di kursinya dan mengambil kembali botol air mineralnya.

"Luar biasa, Anda sama sekali tidak terluka sedikit pun, Tuan."

Leo melirik dari kaca spion dan menginjak pedal gas kembali.

Brummm.

Limousin hitam itu melaju meninggalkan mayat-mayat hidup yang berserakan di jalan.

"Jadi apa rencana kita selanjutnya setelah sampai di apartemen nanti?"

Nadhira bertanya sambil memeluk tasnya karena masih sedikit trauma dengan penyerangan tadi.

"Kita istirahat sebentar dan bersiap untuk malam ini."

Sony menjawab santai sambil menatap pemandangan kota distrik pusat yang menjulang tinggi di depan sana.

"Malam ini?"

"Kita mau ke mana lagi malam-malam begini, Sony?"

Nadhira mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

"Kita akan pergi ke pelabuhan sektor utara untuk mengunjungi Komandan Bima."

"Aku harus membalas sapaan hangat yang dia kirimkan untuk kita hari ini kan?"

Sony tersenyum dingin yang membuat udara di dalam mobil itu terasa ikut membeku.

Nadhira hanya bisa menelan ludahnya mendengar rencana gila tersebut.

Dia tahu bahwa badai kehancuran yang lebih besar akan segera menyapu distrik pusat malam ini juga.

Dan Sony adalah pusat dari segala badai yang mematikan itu.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!