NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Menemukan Buku yang Terluka

Rumah besar keluarga Pratama di sore hari itu tampak begitu sunyi, diselimuti oleh cahaya matahari temaram yang menyusup malas melalui celah-celah ventilasi. Di sudut paling belakang lantai dasar, jauh dari dapur tempat Kirana sibuk menyiapkan pesanan kuenya, terdapat sebuah ruangan tua yang jarang sekali dijamah: gudang penyimpanan barang-barang lama.

Arka melangkah masuk ke dalam ruangan berdebu itu dengan langkah gontai. Udara di dalam gudang terasa pengap, beraroma kertas tua dan kayu lapuk yang lama terkurung.

Hari-hari belakangan ini, Arka merasa kewarasannya diuji oleh keheningan rumahnya sendiri. Setiap sudut rumah seolah meneriakkan penyesalan, setiap ruangan menyimpan bayangan masa lalu yang kian menyiksa. Dalam upaya putus asa untuk mencari sesuatu—apa saja yang bisa mendekatkannya kembali pada sosok Kirana yang kini telah berubah menjadi batu es—ia memutuskan untuk merapikan gudang tersebut, berharap menemukan secercah kenangan dari masa awal pernikahan mereka.

Di tengah tumpukan kardus-kardus *box* pindahan lama yang belum sempat dibongkar sejak mereka pertama kali pindah ke rumah ini, sebuah kotak kayu berukuran sedang berwarna cokelat tua menarik perhatiannya. Kotak itu terselip di balik tumpukan majalah bisnis usang.

Arka berlutut di atas lantai semen yang dingin. Tangannya yang gemetar meraih kotak kayu tersebut, lalu membuka penguncinya yang berderit pelan.

Di dalam kotak itu, tidak ada barang mewah. Tidak ada perhiasan mahal atau dokumen penting. Yang ada hanyalah beberapa kenangan sederhana: tiket bioskop pertama mereka saat kencan dulu, foto-foto polaroid tua yang mulai menguning, dan sebuah buku tulis bersampul kulit sintetis hitam dengan pinggiran halaman yang sedikit bergelombang.

Dahi Arka mengernyit. Ia mengenali buku itu seketika. Itu adalah buku harian pribadi Kirana—buku yang dulu sering disembunyikan istrinya dengan senyuman malu-malu setiap kali Arka mendekat ke arah meja belajarnya di tahun-tahun pertama pernikahan.

Dulu, Arka tidak pernah peduli. Ia menganggap buku harian itu hanyalah coretan kekanak-kanakan atau curahan hati seorang wanita rumah tangga yang kurang kerjaan. Ia tidak pernah sekalipun berniat membacanya, sibuk dengan dunianya sendiri di luar sana.

Namun hari ini, dengan tangan yang bergetar hebat, Arka membuka lembar demi lembar halaman buku harian tersebut.

Tulisan tangan Kirana yang rapi menyapa matanya. Awalnya, lembar-lembar pertama dipenuhi oleh catatan-catatan manis tentang hari pernikahan mereka, harapan-harapan sederhana seorang istri muda yang ingin mengabdi dan mencintai suaminya sepenuh hati.

*“Hari ini Mas Arka memuji masakanku. Meskipun dia mengatakannya sambil terburu-buru mau ke kantor, hatiku rasanya berbunga-bunga. Semoga aku bisa terus menjadi rumah yang hangat untuk tempatnya pulang.”*

*“Mas Arka lembur lagi malam ini. Tidak apa-apa, aku paham dia bekerja keras demi masa depan kami. Aku sudah menyiapkan sup hangat di atas meja makan. Semoga saat dia pulang nanti, lelahnya bisa hilang.”*

Arka terus membalik halaman demi halaman. Semakin ke tengah, warna kertas di beberapa bagian tampak sedikit berkerut dan memudar—bukan karena usia, melainkan karena noda air mata yang mengering di atasnya.

Napas Arka mulai tersengal-sengal. Jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya dengan rasa sakit yang luar biasa saat ia membaca catatan-catatan dari beberapa bulan terakhir, masa di mana keangkuhannya mulai merusak segalanya.

*“Malam ini sudah pukul dua pagi. Makanan di meja sudah dingin untuk kesekian kalinya. Mas Arka tidak memberi kabar. Saat aku meneleponnya, suaranya terdengar kesal karena aku mengganggu rapatnya. Apakah aku sudah menjadi beban baginya? Kenapa jarak di antara kami terasa begitu jauh padahal kami tidur di bawah atap yang sama?”*

*“Hari ulang tahunku. Aku menunggu sampai tengah malam di ruang tamu dengan kue kecil yang kubuat sendiri. Tidak ada ucapan. Tidak ada pelukan. Mas Arka pulang dalam keadaan lelah dan langsung tidur tanpa melirikku sedikit pun. Dadaku sesak sekali. Rasanya seperti mencintai bayangan angin; terlihat ada, tapi tidak bisa disentuh.”*

*“Aku lelah. Sungguh, aku sangat lelah. Kenapa mencintainya harus sesakit ini? Apakah memohon sedikit perhatian dan waktu luangnya adalah sebuah kesalahan besar? Tuhan, jika rasa sakit ini tidak kunjung reda, kumohon berikan aku kekuatan untuk bertahan, atau lepaskan aku dari kesunyian ini.”*

*Bugh.*

Buku harian itu nyaris lepas dari genggaman Arka. Air mata yang sejak tadi terbendung di pelupuk matanya tumpah tumpah ruah, mengalir deras membasahi pipinya yang tirus.

Ia membaca sebuah halaman khusus di bagian tengah—halaman di mana tetesan air mata Kirana tampak begitu nyata membuat tinta penanya sedikit luntur. Tulisan di halaman itu ditulis dengan goresan yang begitu gemetar dan penuh keputusasaan.

*“Hari ini aku menangis lagi di kamar mandi seorang diri, takut suara tangisanku mengusik tidurnya di kamar sebelah. Aku sangat merindukannya. Aku merindukan suami yang dulu tersenyum manis saat pertama kali melamarku. Di mana Arka yang dulu? Kenapa dia berubah menjadi dinding es yang membunuhku perlahan-lahan? Jika suatu saat nanti aku memilih pergi, bukan karena aku berhenti mencintainya... melainkan karena jiwaku sudah mati di dalam rumah ini.”*

*Jleb!*

Kalimat terakhir itu bagaikan tusukan ribuan jarum beracun yang menghujam langsung ke jantung Arka.

Pria itu tidak lagi mampu menahan bebannya. Pertahanan terakhir yang ia bangun dengan segala keangkuhan dan kekayaannya runtuh berkeping-keping seketika.

Arka jatuh tersungkur ke lantai semen gudang yang kotor. Kedua lututnya menumpu di atas lantai, sementara kedua tangannya memeluk buku harian Kirana erat-erat di depan dadanya. Ia membenamkan wajahnya di antara lipatan lengannya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, CEO muda yang disegani banyak orang itu menangis sejadi-jadinya—meraung dalam kesendirian, melepaskan isak tangis yang memilukan, meratapi kebodohannya sendiri yang telah membunuh wanita yang begitu tulus mencintainya.

"Maafkan aku... Kirana... maafkan aku..." teriak Arka di antara isak tangisnya yang parau, suaranya pecah menggema di dinding gudang yang sempit.

Tidak ada siapa pun yang datang untuk menenangkan. Tidak ada tangan lembut yang menghapus air matanya. Yang ada hanyalah tumpukan kardus berdebu dan buku harian penuh luka yang menjadi saksi bisu atas kejahatan emosional yang telah ia perbuat.

Di lantai gudang yang dingin itu, Arka Pratama merasakan kehancuran yang sesungguhnya—menyadari bahwa air mata penyesalannya hari ini tidak akan pernah mampu menghapus goresan luka yang telah ia torehkan di hati wanita yang kini menjadi asing di rumahnya sendiri.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!