Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Dua mobil hitam milik Laurent Corporation baru saja berhenti.
Beberapa pria berpakaian hitam turun dengan langkah tegas.
Bel pintu berbunyi.
Dan Ariana tahu...
Saat yang paling ia takutkan akhirnya tiba.
Malam kembali menghampiri.
Langit di atas kota dipenuhi awan gelap.
Dua SUV hitam berhenti perlahan di depan rumah Ariana.
Lampu depan kendaraan menyinari pagar besi yang tinggi.
Empat pria berpakaian hitam turun lebih dulu.
Mereka adalah Team Alfa, unit pengamanan elite Laurent.
Pemimpinnya, Victor, mengangkat tangan memberi isyarat.
"Dua orang ke pintu depan."
"Dua orang amankan sisi belakang."
"Pastikan tidak ada yang menghalangi."
"Siap."
Mereka bergerak cepat.
Bel rumah ditekan beberapa kali.
"Ting tong..."
Tidak ada jawaban.
Victor kembali menekan.
Masih sunyi.
Salah seorang anggota melapor pelan.
"Terdengar langkah kaki di dalam."
Victor berbicara tegas.
"Nona Ariana."
"Kami dari Laurent Corporation."
"Silakan buka pintu."
Di dalam rumah...
Ariana yang masih duduk gemetar memeluk lututnya.
Air matanya belum berhenti mengalir.
Ia tahu...
Mereka sudah datang.
Namun rasa takut membuatnya tidak sanggup melangkah.
Bel kembali berbunyi.
Kali ini disusul suara Victor.
"Ini peringatan terakhir."
"Buka pintu."
Keheningan tetap menjadi jawaban.
Victor menarik napas panjang.
Ia menekan alat komunikasi.
"Tuan Adrian."
"Tidak ada respons."
Suara Adrian terdengar dari seberang.
"Masuk."
Victor menjawab singkat.
"Diterima."
Ia mengangkat tangan.
"Dobrak."
Dua orang anggota maju.
Satu...
Dua...
BRAAKK!!
Pintu utama terbuka paksa.
Para anggota segera masuk sambil memastikan setiap ruangan.
"Ruang tamu aman."
"Dapur aman."
"Lantai dua."
Tak lama kemudian terdengar suara.
"Ketemu!"
Ariana berdiri di sudut kamarnya.
Wajahnya sangat pucat.
Ia memegang ponsel dengan tangan gemetar.
Victor menghampiri.
"Nona Ariana."
"Silakan ikut kami."
Ariana menggeleng cepat.
"Aku..."
"...aku ingin menunggu Bibi Claire."
Victor tetap tenang.
"Maaf."
"Perintah Tuan Lucas harus dilaksanakan sekarang."
"Aku tidak akan kabur."
"Aku hanya..."
Victor memotong dengan sopan.
"Silakan menjelaskan langsung kepada Tuan."
Ariana menunduk.
Ia tahu...
Tidak ada pilihan.
Beberapa menit kemudian...
SUV hitam melaju menuju Mansion Laurent.
Sepanjang perjalanan...
Tidak ada seorang pun berbicara.
Ariana hanya memandangi jendela.
Dadanya berdebar semakin keras.
Gerbang Mansion Laurent perlahan terbuka.
Mobil memasuki halaman.
Begitu turun...
Ariana langsung menyadari sesuatu.
Mereka tidak membawanya ke ruang tamu.
Tidak juga ke ruang kerja.
Victor berjalan di depan.
"Ikuti saya."
Mereka melewati koridor panjang.
Lalu berhenti di depan pintu baja.
Pintu itu terbuka menggunakan pemindai sidik jari.
Ariana menelan ludah.
"Ruang bawah tanah..."
Ia baru pertama kali melihat tempat itu.
Tangga panjang mengarah ke bawah.
Udara terasa jauh lebih dingin.
Lampu-lampu putih menerangi lorong.
Di ujung...
Sebuah ruangan sederhana dengan meja logam dan beberapa kursi.
Lucas sudah menunggu di sana.
Ia berdiri membelakangi pintu.
Mendengar langkah kaki Ariana...
Lucas perlahan berbalik.
Tatapannya begitu dingin hingga Ariana tanpa sadar mundur setengah langkah.
Victor memberi hormat.
"Tuan."
"Nona Ariana sudah dibawa."
Lucas mengangguk.
"Kalian keluar."
"Baik."
Tak lama kemudian ruangan hanya tersisa Lucas, Adrian, dan Ariana.
Suasana begitu sunyi.
Lucas akhirnya membuka suara.
"Duduk."
Ariana perlahan duduk.
Tangannya saling menggenggam erat.
Lucas tetap berdiri.
"Aku hanya akan bertanya sekali."
"Ariana."
"Kenapa kau mengunci Alyssa?"
Ariana menunduk.
"Aku..."
Lucas memotong.
"Jawab."
"Aku..."
"...tidak sengaja."
Lucas menatap Adrian.
"Rekaman CCTV."
Adrian langsung meletakkan tablet di atas meja.
Video diputar.
Terlihat Ariana membawa Alyssa menuju gudang.
Beberapa menit kemudian...
Ariana keluar sendirian.
Ia menoleh ke kanan dan kiri.
Lalu mengunci pintu menggunakan kartu akses.
Video berhenti.
Ruangan kembali sunyi.
Lucas berbicara pelan.
"Itu tidak terlihat seperti tidak sengaja."
Ariana langsung menangis.
"Aku hanya..."
"...ingin memberinya pelajaran."
Lucas mengepalkan tangannya.
"Pelajaran?"
"Iya..."
"Aku tidak pernah berpikir dia akan terkunci selama itu."
Lucas kembali bertanya.
"Kenapa?"
Ariana mengangkat wajah dengan air mata bercucuran.
"Karena aku cemburu."
Keheningan langsung memenuhi ruangan.
Bahkan Adrian ikut terdiam.
Ariana menangis semakin keras.
"Aku sudah bertahun-tahun bekerja bersamamu."
"Aku selalu ada."
"Aku selalu berharap..."
"...suatu hari kau melihatku."
"Tapi..."
"Sejak Alyssa datang."
"Semuanya berubah."
Lucas menatapnya tanpa ekspresi.
Ariana melanjutkan.
"Kau membawanya ke kantor."
"Kau mengawalinya dengan tim elite."
"Kau tersenyum padanya."
"Kau..."
"...tidak pernah seperti itu kepadaku."
Lucas akhirnya berbicara.
"Jadi."
"Hanya karena iri?"
Ariana mengangguk pelan.
"Hanya karena cemburu?"
Air mata Ariana terus mengalir.
"Iya..."
Lucas mengembuskan napas panjang.
Suaranya tetap tenang.
Namun setiap katanya terdengar tajam.
"Ariana."
"Apa kau tahu..."
"...Alyssa hampir kehabisan oksigen?"
Ariana langsung membeku.
"Apa kau tahu..."
"...dokter mengatakan dia bisa meninggal kalau terlambat ditemukan?"
Tangis Ariana semakin pecah.
"Aku..."
"...tidak tahu."
Lucas mendekat beberapa langkah.
"Kau adalah Manajer Umum."
"Jabatan yang kuberikan karena kemampuanmu."
"Bukan karena perasaanmu."
"Kau tahu aturan perusahaan."
"Tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan."
Ariana menutup wajahnya.
"Maaf..."
Lucas menggeleng pelan.
"Maaf tidak menghapus akibat."
Ruangan kembali hening.
Beberapa saat kemudian...
Lucas membuka sebuah map.
Ia meletakkannya di depan Ariana.
Ariana melihat isi map itu.
Matanya langsung membesar.
"Ini..."
Surat pemberhentian kerja.
Di bawahnya...
Terdapat rincian hak pesangon sesuai kontrak dan ketentuan perusahaan.
Lucas berkata tegas.
"Mulai malam ini."
"Statusmu sebagai Manajer Umum Laurent Corporation dicabut."
"Kau akan menerima seluruh hakmu."
"Pesangon."
"Gaji terakhir."
"Dan kompensasi sesuai kontrak."
Ariana langsung berdiri.
"Lucas!"
"Tolong!"
"Aku bisa memperbaikinya."
Lucas menggeleng.
"Tidak."
"Aku janji tidak akan mengulanginya."
"Tidak."
"Aku akan minta maaf kepada Alyssa."
Lucas menjawab datar.
"Masalahnya bukan hanya Alyssa."
Ariana terdiam.
Lucas melanjutkan.
"Masalahnya..."
"...aku tidak bisa lagi mempercayakan keselamatan ribuan karyawan kepada seseorang yang membiarkan emosinya mengalahkan penilaiannya."
Kalimat itu membuat Ariana perlahan terduduk kembali.
Wajahnya dipenuhi penyesalan.
Saat itulah...
Pintu ruang bawah tanah terbuka.
Adrian yang tadi keluar menerima panggilan berlari masuk.
"Tuan!"
Lucas menoleh.
"Ada apa?"
Adrian menarik napas.
"Nyonya Claire..."
"...baru tiba di mansion."
Lucas terdiam beberapa detik.
"Ibu?"
"Iya, Tuan."
"Beliau meminta bertemu Anda."
Lucas menghela napas pelan.
Ia sudah menduga Ariana akan menghubungi ibunya.
Lucas menutup map di atas meja.
Lalu berkata kepada Adrian,
"Tolong antar Ibu ke ruang tamu."
"Jangan biarkan beliau turun ke sini."
"Baik."
Adrian mengangguk dan segera berbalik meninggalkan ruangan.
Lucas kembali menatap Ariana.
Suaranya tetap tenang.
"Pembicaraan kita belum selesai."
Ariana hanya mampu menundukkan kepala.
Di atas ruang bawah tanah...
Claire Laurent baru saja memasuki aula utama mansion dengan wajah penuh kekhawatiran.
Ia mengenal putranya lebih dari siapa pun.
Dan ia tahu...
Jika Lucas sampai mengambil keputusan secepat ini, berarti yang terjadi malam ini bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan pelanggaran terhadap kepercayaan yang selama ini paling dijaga oleh keluarga Laurent.