NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Mereka yang Pulang Lebih Awal

Keheningan yang terjadi setelah layar ujian mati tidak bertahan lama. Detik berikutnya, suara dengung mekanis yang berat terdengar dari bawah lantai aula. Di layar raksasa yang menggantung di langit-langit, angka 120.000 mulai bergerak turun dengan kecepatan yang mengerikan, seperti papan penghitung kematian digital.

Angka itu menyusut. Seratus ribu. Delapan puluh ribu. Lima puluh ribu.

Bersamaan dengan itu, nama-nama yang tereliminasi mulai bergulir dalam warna abu-abu pudar, sebelum akhirnya lenyap dari sistem. Di lantai aula, lampu indikator di atas meja peserta mulai menyala. Merah berarti pulang. Hijau berarti bertahan.

Satu petikan suara digital, dan hampir delapan puluh persen lampu di dalam aula berubah menjadi merah menyala. Suasana langsung pecah. Tangisan frustrasi, hantaman tinju ke meja, hingga isak tangis yang tertahan dari mereka yang telah mengorbankan segalanya demi hari ini, melebur menjadi satu. Para petugas keamanan berseragam hitam tanpa atribut mulai bergerak masuk dengan efisiensi yang dingin, menepuk bahu peserta yang berlampu merah dan mengarahkan mereka menuju pintu keluar belakang. Pintu yang menuju ke arah kepulangan lebih awal.

Di zona beasiswa, Nabila Cendana Adiwijaya memejamkan matanya rapat-rapat. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia tidak berani melihat ke atas kepalanya sendiri, takut jika warna merah yang akan menyambutnya. Di benaknya, wajah sang ayah yang melepasnya di stasiun dengan sepatu yang solnya sudah menipis kembali terbayang.

"Tolong..." bisik Nabila, jemarinya bertaut erat hingga memutih.

Ketika ia memberanikan diri membuka mata, setitik cahaya menyiram permukaan mejanya. Lampu indikatornya berwarna hijau. Nabila mengembuskan napas yang sedari tadi tertahan di tenggorokan, namun rasa lega itu segera digantikan oleh debaran jantung yang mencekam saat melihat papan skor.

Peringkat 598: Nabila Cendana Adiwijaya – Akurasi: 80.2%

Hanya selisih dua peringkat dari batas eliminasi. Ia lolos, namun posisinya berada di ujung tanduk. Satu langkah salah di tahap berikutnya, dan ia akan terseret jatuh.

Tidak jauh dari Nabila, Dimas Arvant Nugraha melonggarkan kerah kemejanya yang terasa mencekik. Lampu mejanya hijau, berada di peringkat 412. Ia lolos, namun ekspresinya tidak menunjukkan kebahagiaan. Ketika matanya bergulir ke papan atas, nama Gavin, Nareswara, Celine, dan Raka berjejer kokoh di zona tiga puluh besar. Rasa rendah diri yang biasa ia rasakan di rumah kini kembali merayap, membisikkan bahwa ia tetaplah ranting terlemah di antara pepohonan yang menjulang tinggi.

Sementara itu, di barisan depan, Keisya Aurellia Wibisono menatap tajam ke arah layar. Peringkatnya resmi: Peringkat 2. Tepat di bawah nama Atharva Mahendra Prasetya yang bertengger di nomor urut satu dengan angka 100% yang terlihat begitu mutlak dan angkuh.

Namun, di saat semua orang sibuk merayakan kelolosan atau meratapi kekalahan, Atharva justru sedang terpaku pada mejanya.

Layar transparan miliknya yang telah terkunci kini menampilkan lembar rangkuman hasil kerja. Saat Atharva menggulir halaman digital tersebut ke bagian paling bawah di area kebijakan privasi yayasan yang biasanya diabaikan oleh semua orang matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa.

Ada sebuah malfungsi visual kecil, semacam piksel yang berkedip tipis. Jika tidak diperhatikan dengan jernih, itu hanya akan terlihat seperti cacat grafis pada layar purwarupa Nexus. Namun, bagi Atharva yang terbiasa membedah pola visual, itu adalah sebuah kode.

Ia memiringkan kepalanya sedikit, memanfaatkan bias cahaya lampu aula untuk melihat lapisan matriks di balik layar transparan tersebut. Di sana, tersembunyi di balik baris teks hukum yayasan, terdapat sebuah simbol geometris yang dicetak dengan opasitas sangat rendah.

Sebuah simbol segitiga dengan garis fraktal di dalamnya. Namun, garis itu tidak membentuk lambang Nexus Academy yang resmi. Arah fraktalnya terbalik, memotong sudut tajam di bagian bawah, membentuk pola yang menyerupai huruf V yang terdistorsi.

Jantung Atharva berdegup satu kali lebih cepat.

Ia mengingatnya. Sangat jelas. Tiga tahun lalu, di dalam kamar kakaknya yang sudah kosong, Atharva menemukan sebuah buku catatan matematika milik Alvaro yang tertinggal di bawah lemari baju. Di halaman paling belakang buku itu, terdapat coretan tangan Alvaro yang digambar dengan tekanan pena yang sangat kuat, hingga merobek kertasnya.

Simbol segitiga yang sama persis dengan yang ada di layarnya saat ini.

Atharva refleks menyentuh permukaan layar di atas simbol tersebut. Tidak terjadi apa-apa pada sistem ujian, namun detik berikutnya, layar di hadapannya mendadak mati total, berganti dengan logo Nexus standar dalam warna hitam putih.

"Kamu melihat sesuatu yang menarik, Anak Muda?"

Sebuah suara berat yang berwibawa menginterupsi dari arah depan. Profesor Adrian Surya Pradana telah berdiri tidak jauh dari baris meja Atharva, ditemani oleh dua orang pengawas senior. Mata sang Direktur yang tersembunyi di balik kacamata perak menatap Atharva dengan ketajaman yang menguliti.

Atharva langsung menarik tangannya kembali ke dalam saku jaket, wajahnya kembali datar tanpa emosi. "Tidak ada, Profesor. Saya hanya memastikan apakah sistem Anda benar-benar tidak memiliki celah."

Profesor Adrian terdiam sejenak, menatap lekat-lekat pada mata Atharva, sebelum akhirnya senyum tipis yang dingin kembali terukir di wajahnya. "Sistem kami tidak memiliki celah untuk mereka yang hanya mengandalkan keberuntungan. Bersiaplah untuk tahap kedua. Tekanan sesungguhnya baru saja dimulai."

Ketika Profesor Adrian berlalu, Atharva melirik ke arah samping dan menyadari bahwa sejak tadi, Keisya sedang memperhatikannya dengan tatapan penuh selidik. Gadis itu tampaknya menyadari gerak-gerik aneh Atharva pada layar barusan.

Aula Seleksi kini terasa jauh lebih luas karena puluhan ribu kursi telah kosong. Mereka yang pulang lebih awal meninggalkan kekalahan yang pekat, sementara bagi enam ratus remaja yang tersisa, ruangan ini mendadak terasa seperti sebuah arena gladiator. Mereka berhasil melewati gerbang pertama, tanpa tahu bahwa labirin di depan mereka telah dirancang untuk menghancurkan mereka dari dalam.

...****************...

Keisya melangkah mendekat, sengaja memotong jalur berjalan Atharva saat para pengawas mulai mengarahkan peserta yang tersisa untuk berdiri. Jarak mereka kini hanya terpaut dua langkah. Di bawah pencahayaan aula yang mulai disetel ulang, Keisya bisa melihat dengan jelas bahwa pemuda di hadapannya ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sesuatu yang tidak wajar setelah dihantam seratus dua puluh soal logika ekstrem.

"Atharva Mahendra," Keisya menyebut nama itu dengan penekanan yang jelas, seolah sedang menguji reaksi pemiliknya. "Kecepatan empat puluh menit dengan akurasi sempurna. Kamu tahu? Di data simulasi nasional tiga tahun terakhir, tidak ada satu pun jenius olimpiade yang bisa menembus waktu di bawah satu jam untuk modul buatan Profesor Adrian."

Atharva menghentikan langkahnya. Ia tidak menoleh sepenuhnya, hanya memiringkan wajahnya sedikit untuk menatap Keisya dari sudut mata. "Lalu?"

"Lalu, itu artinya kamu punya dua kemungkinan," Keisya melipat kedua tangannya di dada, matanya menyipit penuh selidik. "Kamu adalah anomali yang menakutkan, atau kamu punya akses ke dalam sistem yang tidak dimiliki orang lain. Aku sempat melihat layar visualmu berkedip sebelum mati total tadi. Apa yang kamu temukan di bawah sana?"

Mendengar pertanyaan itu, Atharva menyadari satu hal: Gadis peringkat kedua ini tidak hanya cerdas, tapi juga memiliki tingkat observasi yang berbahaya. Keisya memperhatikan detail kecil yang bahkan luput dari pengawasan ketat dua pengawas di dekat mereka tadi.

"Jika aku punya akses ke dalam sistem," Atharva menjawab dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, "aku akan memilih untuk berada di peringkat kedua atau ketiga agar tidak menarik perhatianmu. Berada di posisi pertama hanya membuat orang-orang sepertimu terus bertanya, dan itu... membuang waktuku."

Keisya sedikit tersentak. Jawaban itu terdengar sangat tenang, namun memiliki pukulan telak yang menyerang logikanya. Sebelum Keisya sempat membalas, suara interkom aula kembali membahana, memotong konfrontasi dingin di antara mereka.

“Perhatian kepada seluruh calon Elite One yang tersisa. Waktu istirahat kalian adalah sepuluh menit. Silakan ambil jatah logistik air dan nutrisi di kompartemen bawah meja masing-masing. Tahap kedua. Simulasi Kepemimpinan dalam Situasi Krisis akan dimulai tepat setelah hitung mundur selesai. Harap tidak meninggalkan posisi duduk kalian.”

Di barisan lain, Nareswara tampak bersiul pelan sambil membuka kompartemen mejanya. Ia mengambil sebotol air mineral dan sebatang cokelat berenergi tinggi yang disediakan sekolah. "Sepuluh menit? Mereka benar-benar memperlakukan otak kita seperti prosesor komputer yang tidak boleh lama-lama," gerutunya, lalu menggigit cokelatnya dengan lahap.

Di sebelahnya, Gavin bahkan tidak menyentuh botol airnya. Ia hanya duduk bersandar, meluruskan kedua kakinya, dan memejamkan mata. Setiap detik adalah pemulihan energi bagi Gavin. Sebagai seorang yang terbiasa dengan kompetisi tingkat internasional, ia tahu bahwa menghemat gerakan fisik adalah kunci mempertahankan fokus mental.

Sementara itu, di sudut yang agak jauh, Farel tampak memperhatikan sekeliling dengan waspada. Instingnya sebagai praktisi bela diri mendeteksi perubahan atmosfer yang signifikan. "Ini bukan lagi sekadar ujian sekolah," bisik Farel pada dirinya sendiri. Ia melihat bagaimana beberapa anak dari keluarga kaya mulai saling memandang dengan tatapan penuh permusuhan, sementara anak-anak seperti Nabila tampak memegangi kepala mereka, mencoba menahan stres yang semakin menumpuk.

Nabila sendiri sedang menatap botol air di tangannya dengan pandangan kosong. Lembar skor di layarnya tadi terus membayangi. Peringkat 598. Ia berada di garis paling belakang dari pasukan elite ini. Jika simulasi berikutnya adalah tentang kepemimpinan, bagaimana mungkin seseorang yang biasa menyembunyikan diri di pojok kelas seperti dirinya bisa memimpin orang-orang jenius yang egois ini?

"Hei," sebuah suara yang renyah mengejutkan Nabila.

Dimas sudah berdiri di dekat pembatas barisannya, mencoba tersenyum meskipun wajahnya sendiri agak pucat. "Jangan tegang begitu. Kalau kita semua kena serangan jantung di sini, Profesor Adrian pasti bakal bingung nyari pengganti komoditas masa depannya."

Nabila mencoba tersenyum tipis, menghargai usaha Dimas untuk mencairkan suasana. "Aku hanya... takut langsung pulang di tahap kedua."

"Tenang saja, setidaknya kalau kamu pulang, kamu ada di peringkat lima ratusan. Lah aku? Kalau jatuh sedikit langsung masuk zona merah," ujar Dimas sambil tertawa miris, mencoba menutupi rasa rendah diri yang masih menggerogoti dadanya.

Di barisan depan, Celine dan Raka tampak mengamati interaksi di sekitar mereka dengan cara yang berbeda. Celine memperhatikan raut wajah peserta yang mulai kelelahan, mencatat dalam hatinya siapa saja yang kemungkinan besar akan tumbang karena panik di tahap berikutnya. Di sisi lain, Raka mulai memetakan kepribadian orang-orang yang berpotensi menjadi alat atau ancaman baginya dalam diskusi kelompok nanti.

Di atas podium, Profesor Adrian tidak bergeming dari posisinya. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana enam ratus remaja pilihan ini mulai terpecah menjadi beberapa faksi psikologis: mereka yang terlalu percaya diri, mereka yang mulai tertekan, dan mereka yang seperti Atharva dan Keisya justru mulai menganalisis lingkungan sekitarnya.

Atharva kembali duduk di kursinya, mengabaikan Keisya yang akhirnya kembali ke mejanya sendiri dengan sisa kekesalan yang tertahan. Atharva meraba permukaan meja lipatnya yang kini bersih dari gambar apa pun. Pikirannya tidak lagi tertuju pada simulasi krisis yang akan datang, melainkan pada simbol segitiga terbalik tadi.

Veritas Lux Fortuna. Nama yayasan itu tercantum di sana. Mengapa kakaknya menggambarkan simbol yang sama sebelum menghilang? Dan apa hubungannya dengan kematian ayah Keisya, seperti yang sempat ia dengar samar-samar dari percakapan gadis itu dengan ibunya di luar aula tadi?

Waktu sepuluh menit berlalu seperti kedipan mata. Lampu aula kembali berubah warna, kali ini bukan putih atau merah, melainkan biru safir yang redup dan dingin. Di layar utama, angka hitung mundur berubah menjadi warna kuning pekat.

00:00:03... 00:00:02... 00:00:01...

Suara penguncian mekanis kembali terdengar, namun kali ini bukan hanya kursi yang terkunci, melainkan sebuah dinding partisi kedap suara yang tipis namun kokoh tiba-tiba naik dari bawah lantai, menyekat setiap meja peserta menjadi bilik-bilik isolasi yang mandiri. Dalam sekejap, enam ratus peserta tidak lagi bisa saling melihat atau mendengar satu sama lain. Mereka benar-benar sendirian di dalam kegelapan bilik masing-masing, siap dihadapkan pada krisis buatan yang akan menguji batas moral dan kepemimpinan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!