NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Kehancuran Topeng di Depan Publik

Pencahayaan temaram Restoran L’Ambroisie mendadak terasa begitu menyengat di bawah histeria Sheila. Suara melengking wanita itu memantul di antara dinding-dinding marmer, merusak atmosfer mewah yang semula tenang. Beberapa pasang mata dari kalangan borjuis Jakarta yang sedang menikmati makan malam di meja lain mulai menoleh. Mereka berbisik-bisik, melemparkan tatapan penuh celaan ke arah meja sudut tempat drama itu tersaji.

Arka Narendra bangkit dari kursinya dengan wajah yang memerah padam, antara malu yang luar biasa dan amarah yang tertahan. Dia mencengkeram pergelangan tangan Sheila dengan kasar, mencoba menarik wanita itu menjauh dari meja.

"Sheila! Tutup mulutmu! Apa yang kamu lakukan di sini, hah?! Pulang sekarang!" bentak Arka dengan suara rendah yang bergetar menahan geram.

"Aku tidak mau pulang, Arka!" Sheila mengempaskan tangan Arka dengan bertenaga. Air matanya mulai merusak riasan wajahnya yang mahal. "Jadi ini alasanmu berdandan rapi dan meninggalkan rumah malam-malam? Kamu bilang ada rapat darurat dengan investor asing! Tapi ternyata kamu menemui wanita mandul ini?! Kamu mau kembali padanya karena perusahaannya kaya, iya?!"

Sheila kemudian memutar tubuhnya, menatap Vira yang masih duduk dengan melipat kaki dengan sangat tenang. Topeng keanggunan Vira tidak bergeser sedikit pun.

"Davira! Kamu sengaja, kan?! Kamu sengaja memancing suamiku ke sini untuk merebutnya kembali dariku? Kamu mau membalas dendam karena aku yang memenangkan hatinya tiga tahun lalu?! Ingat ya, biar sekarang kamu kaya dan jadi bos, kamu tetap saja wanita cacat yang tidak punya rahim! Kamu tidak akan pernah bisa memberikan Arka anak!" teriak Sheila, melontarkan kalimat paling beracun yang dia miliki untuk menghancurkan mental Vira.

Mendengar kata 'rahim' dan 'mandul' diteriakkan di tempat umum, Arka merasa dunianya runtuh. Dia tahu persis bahwa Vira yang sekarang memegang kendali atas napas perusahaannya. Penghinaan Sheila sama saja dengan menembakkan peluru ke kepala Narendra Group.

Namun, di luar dugaan Sheila dan Arka, Vira justru mengulas senyuman yang sangat tipis dan anggun. Dia meletakkan gelas anggurnya, lalu berdiri dari kursi dengan gerakan yang teramat elegan. Tingginya yang semampai berkat sepatu hak tinggi membuat Sheila yang sedang hamil tampak kecil di hadapannya.

Vira melangkah satu kali, mendekati Sheila hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa puluh sentimeter. Aura dominan yang dipancarkan Vira begitu pekat, membuat nyali Sheila mendadak menciut tanpa alasan.

"Nyonya Sheila Narendra," ucap Vira, suaranya terdengar begitu merdu, jernih, namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Pertama, saya tidak memancing suami Anda. Dialah yang mengirimkan buket bunga mawar besar ke kantor saya, memohon-mohon seperti pengemis agar saya sudi meluangkan waktu malam ini."

Vira mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu menekan sebuah tombol untuk memutar rekaman suara. Detik berikutnya, suara Arka yang sedang memelas terdengar jelas di seluruh penjuru area meja tersebut:

“...Hatiku, jiwaku, tetap tertinggal pada wanita yang menungguku pulang setiap malam selama tiga tahun. Yaitu kamu, Davira. Aku berjanji akan menceraikan Sheila, dan kita bisa membangun kembali apa yang pernah hancur.”

Klik.

Vira mematikan rekaman itu. Wajah Sheila seketika berubah dari merah padam menjadi seputih kertas. Dia menoleh ke arah Arka dengan tatapan tidak percaya yang teramat hancur. "Arka... kamu... kamu mau menceraikan aku?"

"Sheila, bukan begitu... itu hanya..." Arka terbata-bata, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

"Dan kedua," Vira memotong kalimat Arka tanpa ampun, kembali menatap Sheila dengan pandangan merendahkan. "Mengenai rahim... Anda benar. Saya tidak memiliki rahim lagi. Tapi setahu saya, rahim yang utuh pun tidak ada harganya jika pemiliknya menggunakan kandungan itu untuk menjebak suami orang demi naik kasta menjadi nyonya kaya."

Vira melirik perut Sheila yang kini sudah tidak seindah dulu. "Jagalah suamimu baik-baik, Sheila. Karena di mataku, pria yang sedang bersamamu saat ini tidak lebih dari sekadar sampah investasi yang sedang bersiap kulempar ke tempat pembuangan akhir. Selamat menikmati malam kalian."

Vira mengambil tas Hermes-nya, lalu melangkah pergi dengan kepala tegak, meninggalkan Arka dan Sheila yang langsung terlibat pertengkaran hebat dan saling dorong di tengah restoran, menjadi tontonan gratis yang memalukan bagi seluruh pengunjung.

Vira berjalan menyusuri lorong luar restoran menuju area lobi utama tempat mobil jemputannya berada. Begitu keluar dari pintu utama, angin malam Jakarta langsung menerpa wajahnya, membantu mendinginkan emosinya yang sempat sedikit terusik.

Meskipun dia berhasil memenangkan telak pertempuran malam ini, ada bagian kecil di lubuk hatinya yang mendadak terasa sedikit sunyi. Ucapan Sheila tentang 'tidak akan pernah bisa memiliki anak' sekilas mengingatkannya pada kenyataan pahit yang harus dia tanggung seumur hidup.

Vira menghela napas panjang, mencoba mengusir kabut tipis di pikirannya. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti ketika melihat sesosok pria bertubuh tegap sedang berdiri di dekat pilar lobi, menghalangi jalannya.

Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi, memberikan kesan kasual namun tetap teramat berkuasa. Di dalam dekapannya, seorang anak laki-laki kecil sedang tertidur lelap dengan kepala yang bersandar nyaman di bahu kokoh sang ayah.

Pria itu adalah Adrian Atmadja.

Vira tertegun. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan kaisar bisnis itu di tempat seperti ini, dan terlebih lagi, pria itu sedang menggendong putranya di larut malam.

Adrian melangkah maju beberapa senti, membuat jarak di antara mereka mengikis. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Vira, memancarkan kehangatan yang belum pernah dia tunjukkan pada wanita mana pun selama tiga tahun terakhir.

"Pertunjukan yang sangat luar biasa di dalam sana, Vira Mahendra," ucap Adrian. Suara baritonnya yang berat terdengar begitu seksi di bawah keheningan malam lobi restoran.

Vira menaikkan sebelah alisnya, menyembunyikan keterkejutannya dengan senyuman formal. "Tuan Adrian Atmadja? Jadi Anda sengaja memata-matai saya?"

"Bukan memata-matai," sahut Adrian, sudut bibirnya terangkat membentuk garis senyuman tipis yang teramat menawan. "Aku hanya memastikan bahwa tidak ada serangga kotor yang berani merusak malam wanitaku."

Mendengar kata 'wanitaku', jantung Vira mendadak berdesir aneh. Sebuah debaran asing yang sudah sangat lama tidak dia rasakan. "Saya rasa Anda salah bicara, Tuan Adrian. Saya bukan wanita Anda. Dan saya bisa mengatasi masalah saya sendiri."

"Aku tahu kamu kuat, Vira. Kamu jauh lebih tangguh dari perkiraanku," ucap Adrian, langkahnya maju satu kali lagi hingga Vira bisa mencium aroma parfum maskulin yang menenangkan dari tubuh pria itu. "Tapi menjadi kuat sendirian itu melelahkan. Jika suatu saat kamu butuh tempat untuk bersandar tanpa perlu memasang tameng dinginmu itu... pintu duniaku selalu terbuka untukmu."

Tepat pada saat itu, anak kecil di gendongan Adrian, Elvano, melenguh kecil dalam tidurnya. Tangan mungil Elvano bergerak acak, dan entah bagaimana, jari-jarinya yang hangat tidak sengaja menyentuh dan menggenggam ujung kelingking tangan Vira yang menggantung di samping gaunnya.

Genggaman kecil yang rapuh namun hangat itu seketika meruntuhkan seluruh dinding pertahanan es di hati Vira. Dia menunduk, menatap wajah tidur Elvano yang begitu damai tanpa dosa. Ada rasa rindu yang teramat dalam yang mendadak terpenuhi di dalam dada Vira hanya karena sentuhan jari bocah itu.

Vira mendongak, menatap Adrian dengan pandangan mata yang kini sedikit melunak. "Anak Anda... sangat menggemaskan, Tuan Adrian."

"Namanya Elvano. Dan dia sangat menyukaimu sejak pertemuan pertama di bandara semalam," balas Adrian lembut, matanya tidak lepas dari wajah cantik Vira. "Maukah kamu meluangkan waktu akhir pekan ini untuk menemuinya? Dia terus menanyakan 'tante cantik' sejak pagi tadi."

Vira terdiam sejenak, menimbang keputusan di dalam kepalanya. Sisi logisnya menyuruhnya untuk fokus pada pembalasan dendam dan menjauhi pria sekuat Adrian, namun sisi hatinya yang merindukan kehangatan keluarga seolah tidak mampu menolak binar penuh harap dari sepasang ayah dan anak di hadapannya ini.

"Mari kita lihat nanti, Tuan Adrian," jawab Vira akhirnya dengan senyuman misterius yang kali ini terasa jauh lebih hangat. Dia perlahan melepaskan kelingkingnya dari genggaman Elvano, lalu melangkah menuju mobil jemputan Alphard hitamnya yang baru saja tiba di depan lobi.

Adrian tetap berdiri di tempatnya, menatap mobil Vira yang perlahan membelah jalanan malam kota Jakarta. Genggaman tangannya pada tubuh Elvano kian erat.

"Kita pasti akan bertemu lagi, Vira. Secepatnya." gumam Adrian dengan keyakinan mutlak yang berakar di dalam dadanya.

Makan malam yang beracun bagi Arka, tapi berbuah manis untuk kedekatan Vira dan Adrian.

1
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!