Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Titik Nol
#
Tiga hari Damar coba lacak asal foto itu. Dia dateng ke perpustakaan kota, buka koran koran lama di arsip mikrofilm yang debunya bikin dia bersin bersin, nyari nama Ariel Wijaya di mana aja, tapi hasilnya nihil, kayak nama itu emang sengaja dihapus dari catatan sejarah.
Dia coba tanya ke kantor catatan sipil, tapi petugasnya cuma bilang, "maaf, Pak, kalo mau cari data kelahiran atau kematian, harus ada surat pengantar resmi," dan Damar, yang sekarang statusnya cuma "tersangka wajib lapor" tanpa kartu identitas yang bisa dipake buat urusan resmi apapun, cuma bisa pulang dengan tangan kosong lagi.
Dia coba nanya ke beberapa orang tua di kampung deket rumah lama keluarga Hartono, orang orang yang mungkin udah lama tinggal di situ, tapi begitu dia sebut nama Ariel Wijaya, wajah mereka langsung berubah aneh, ada yang buru buru bilang "saya nggak tau apa apa, Mas" sambil buru buru nutup pintu, ada yang malah balik nanya, "Mas ini nyari nyari apa sih, hati hati lho," dengan nada yang bikin Damar makin curiga ada sesuatu yang emang sengaja ditutup tutupin.
Malem itu, malem keempat sejak dia nemuin foto itu, Damar jalan kaki pulang dari perpustakaan, lewat jalan pintas yang biasanya sepi, deket jembatan tua yang jarang dilewatin orang soalnya lampu jalannya banyak yang mati.
Dia lagi mikirin foto itu, mikirin gimana caranya bisa dapet info lebih, kepalanya penuh sama pertanyaan, sampe dia nggak sadar ada dua orang berdiri di ujung jembatan, nunggu dia lewat.
"Damar Aditya Wijaya," salah satu dari mereka manggil, suaranya berat, dan Damar berenti jalan, jantungnya langsung berdebar kenceng.
"Si... siapa kalian?" Damar tanya, mundur selangkah.
Nggak ada jawaban. Yang ada, dua orang itu langsung maju cepet banget, dan Damar baru sadar ini bukan orang biasa, gerakan mereka terlatih, kayak orang yang emang udah biasa nangkep atau nyakitin orang.
"Woy, tolong, TOLONG!" Damar teriak, tapi jalan itu emang sengaja sepi, nggak ada satupun orang lewat, dan salah satu dari mereka udah nyekek lehernya dari belakang, yang satunya lagi coba geledah geledah saku bajunya, kayak nyari sesuatu.
"Mana fotonya," orang itu bisikin di telinganya, suaranya dingin banget, "mana amplop yang kamu terima."
Damar meronta ronta, susah napas, tapi dia sempet mikir, gila, mereka tau soal foto itu, mereka tau, artinya orang yang ngirim foto itu bukan orang sembarangan, dan orang yang nyuruh dua orang ini juga tau kalo foto itu bahaya banget buat dibiarin ada di tangan Damar.
Dengan sisa tenaga, Damar sikut orang yang nyekek dia, berhasil lepas sedikit, terus lari, lari sekencang kencangnya ke arah jembatan, nggak mikir arah, cuma mikir lari lari lari.
"KEJAR DIA!" salah satu dari mereka teriak.
Damar lari lewat jembatan yang emang udah tua itu, pagar besinya udah karatan, dan di tengah larinya, kakinya kesandung sesuatu, mungkin batu, mungkin retakan aspal, dia sendiri nggak sempet liat, dan tubuhnya oleng, nabrak pagar jembatan yang ternyata udah rapuh banget, karatan sampe ke inti besinya.
Pagar itu patah.
Damar ngerasa badannya melayang sepersekian detik, dan dia denger, dari kejauhan, suara dua orang itu teriak sesuatu yang nggak jelas, dan dia liat langit malem yang gelap total tanpa bintang, dan dia mikir, dalem hati, dalem sepersekian detik yang berasa kayak selamanya, ini bukan cara aku mau pergi, aku bahkan belum tau kebenarannya, aku bahkan belum sempet buktiin aku nggak bersalah...
Terus semuanya gelap.
Sungai di bawah jembatan itu emang dalem dan arusnya deres, apalagi lagi musim hujan kayak gitu, dan air yang dingin banget itu narik tubuh Damar ke bawah, ke arus yang lebih kuat, ke kegelapan yang lebih pekat.
Besok paginya, ada yang nemuin sisa sisa jaket Damar nyangkut di dahan pohon di pinggir sungai, sekitar dua kilometer dari jembatan itu. Polisi dateng, nyariin di sepanjang sungai, pake perahu karet, pake anjing pelacak, tapi berhari hari, nggak ketemu apa apa.
Media langsung heboh. "Tersangka Ledakan Pabrik Hartono Diduga Bunuh Diri, Loncat dari Jembatan Tua", judul judulnya, lengkap sama analisis analisis dari "psikolog forensik" yang bahkan nggak pernah ketemu Damar sekalipun, yang bilang, "ini pola umum dari orang yang merasa terpojok dan tidak sanggup menghadapi konsekuensi hukum."
Om Made, yang denger berita itu lewat telfon subuh subuh, langsung nangis di kantor pengacaranya sendirian, kertas kertas berkas yang udah dia kumpulin susah payah berserakan di meja, dan dia mukulin meja itu berkali kali sambil bisikin, "bukan, ini bukan bunuh diri, aku tau anak itu, dia nggak akan pernah nyerah kayak gitu, ada yang salah, ada yang salah banget..."
Broto, begitu denger berita itu, langsung syok berat sampe muntah muntah, dan dia kunci diri di kamar berhari hari, nggak mau ketemu siapapun, termasuk bapaknya sendiri, soalnya dia inget, dia inget banget, kesaksian yang dia kasih ke wartawan itu ikut andil bikin Damar sampe di titik itu, dan dia nggak akan pernah bisa maafin dirinya sendiri buat itu.
Sasha, yang lagi di kamarnya sendiri, jatoh berlutut begitu liat berita itu di hp nya, dan dia nangis sekencang kencangnya, nangis yang udah dia tahan berminggu minggu, teriak teriak sendirian di kamar kosong, "maafin aku, Mar, maafin aku, aku terpaksa, aku terpaksa banget," padahal dia tau, kata kata itu nggak akan pernah nyampe ke telinga orang yang udah nggak ada.
Wisnu, di ruang kerjanya, duduk diem lama banget begitu baca berita itu di layar hp nya, tangannya gemeteran, dan buat pertama kalinya dalem berbulan bulan ini, dia nangis sendirian, diem diem, soalnya nggak ada yang boleh liat dia nangis, tapi hatinya beneran remuk, remuk oleh rasa bersalah yang udah dia tanem dalem dalem dan coba dia lupain, dan sekarang, semuanya numpuk jadi satu, jadi beban yang mungkin bakal dia bawa sampe mati.
Tim SAR terus nyari selama dua minggu, nyusurin sungai sampe ke muara, tapi hasilnya tetep sama.
Tubuh Damar Aditya Wijaya tidak pernah ditemukan.