Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa-Doa di Sepertiga Malam
Kehangatan dari momen makan siang romantis di perbukitan siang itu masih menyisakan rasa manis yang membekas di hati Fatimah.
Malam pun bergulir, mengganti riuh dunia dengan keheningan yang pekat.
Di dalam kamar utama istana kecil mereka, jam dinding kuno berdetak pelan, menunjukkan pukul tiga dini hari.
Rayhan terbangun lebih dulu. Seperti biasa, ia membersihkan diri lalu menggelar dua sajadah di atas karpet bulu yang tebal.
Setelah siap, ia melangkah mendekati ranjang, lalu mengusap lembut puncak kepala istri kecilnya yang terlelap.
"Ima... bangun, Sayang. Sudah sepertiga malam," bisik Rayhan dengan suara baritonnya yang parau khas orang baru bangun tidur.
Fatimah melenguh pelan, membuka sepasang mata jernihnya yang masih diselimuti kantuk.
Melihat senyum teduh suaminya, ia segera bangkit.
"Iya, Mas Ray. Ima ambil wudu sebentar, ya."
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berdiri sejajar—Rayhan di depan sebagai imam, dan Fatimah di belakang sebagai makmum yang setia.
Ruangan yang sunyi itu seketika bergetar halus oleh lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan Rayhan dalam salat Tahajud mereka.
Suara Rayhan terdengar begitu syahdu, merayap masuk ke dalam relung hati Fatimah, menghantarkan rasa damai yang tak ternilai harganya.
Usai salam, Rayhan membalikkan tubuhnya menghadap Fatimah.
Ia mengulurkan tangan kanannya, yang langsung disambut oleh Fatimah dengan takzim.
Gadis itu mencium punggung tangan suaminya dengan penuh rasa hormat.
Rayhan lalu menangkup kedua pipi Fatimah yang terasa hangat.
"Ima, mari kita berdoa bersama. Mas yang memimpin, kamu yang mengaminkan, ya?"
"Iya, Mas Ray," jawab Fatimah lembut, menatap lekat sepasang mata dewasa suaminya.
Rayhan mengangkat kedua tangannya, memejamkan mata, dan mulai merapalkan doa dengan suara yang bergetar penuh penghambatan.
"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim... Jagalah pernikahan kami."
"Berkahilah setiap langkah kaki kami dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini."
" Jadikanlah istriku, Fatimah, sebagai bidadari surgaku, dan bimbinglah aku agar bisa menjadi imam yang amanah untuknya," ucap Rayhan, bulir air mata perlahan menetes di pipinya.
"Aamiin ya Allah, Aamiin..." bisik Fatimah, air matanya pun ikut luruh mendengar ketulusan doa sang suami.
Rayhan melanjutkan doanya, kini suaranya terdengar semakin lirih.
"Ya Allah, lapangkanlah kubur ayah mertuaku, Ahmad bin Subakir."
"Tempatkanlah beliau di tempat terbaik di sisi-Mu."
"Terima kasih karena melalui perantara beliau, Engkau telah menitipkan permata seindah Ima ke dalam hidupku."
Mendengar nama almarhum ayahnya disebut dalam doa tahajud mereka, tangis Fatimah pecah. Ia menunduk dalam, menahan isak yang tertahan di dada.
Setelah menutup doa dengan sholawat, Rayhan menggeser duduknya menjadi lebih dekat.
Ia menarik tubuh ramping Fatimah ke dalam dekapan hangatnya, membiarkan istrinya menumpahkan sisa duka dan haru di dada bidangnya.
"Mas Ray... terima kasih," bisik Fatimah di sela tangisnya, mengeratkan pelukannya pada pinggang Rayhan.
"Terima kasih karena selalu mendoakan Ayah."
"Ima, mendengar Mas, ya," kata Rayhan sambil mengusap lembut punggung Fatimah yang berbalut mukena.
"Ayahmu adalah ayah Mas juga. Sudah kewajiban Mas untuk selalu mengirimkan doa di setiap sepertiga malam Mas."
Fatimah mendongak, menatap mata Rayhan yang memerah.
"Ima sangat bersyukur menjadi istri Mas Ray. Ima berjanji akan belajar menjadi istri yang lebih baik lagi untuk Mas."
Rayhan tersenyum sangat dalam, mengecup kening Fatimah dengan penuh perasaan.
"Kamu sudah lebih dari cukup, Ima. Bersamamu, Mas merasa ibadah Mas menjadi lebih sempurna. Mari kita terus melangkah bersama hingga ke jannah-Nya Allah."
"Iya, Mas Ray. Semoga Allah selalu mengabulkan doa-doa kita," sahut Fatimah, mengulas senyum terbaiknya.
Di sepertiga malam yang sunyi itu, cinta mereka tidak hanya bertaut di dunia, melainkan telah melambung tinggi menembus langit melalui untaian doa di sepertiga Malam.