Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu Jawaban
Suasana ruang tamu kembali dipenuhi oleh obrolan yang hangat dan akrab. Sementara kedua pasang orang tua sibuk saling bertukar cerita masa lalu, Satria dan Naira kembali mengambil tempat duduk di posisi mereka semula. Meskipun ketegangan di antara keduanya sudah tidak sepekat saat pertama kali tiba, mereka berdua memilih untuk tetap diam dan menyimak.
"Pak Ridwan..." panggil Pak Hasan seraya meletakkan cangkir teh hangatnya secara perlahan di atas tatakan kayu.
"Iya, Pak Hasan? Ada hal lain yang ingin disampaikan?" sahut Pak Ridwan dengan senyum ramahnya yang selalu terbuka.
"Sebelumnya, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena sudah menerima kedatangan kami dengan sangat baik siang ini," ucap Pak Hasan tulus.
"Kami juga berterima kasih karena Pak Hasan sekeluarga sudah berkenan jauh-jauh datang berkunjung ke rumah kami yang sederhana ini," balas Pak Ridwan hangat.
Pak Hasan melirik sekilas ke arah Satria dan Naira secara bergantian, sebelum akhirnya kembali menatap sang sahabat lama.
"Kalau boleh jujur, kami dari pihak keluarga laki-laki sama sekali tidak ingin terburu-buru dalam urusan ini. Kami ingin keputusan besar ini nantinya benar-benar datang dari kemurnian hati anak-anak kita sendiri, tanpa ada unsur keterpaksaan."
"Saya juga berpikiran hal yang sama, Pak Hasan," jawab Pak Ridwan dengan anggukan kepala mantap tanda setuju.
Bu Ratna yang duduk di sebelah Satria ikut memajukan tubuhnya sedikit. Ia menatap Naira dengan senyuman yang sangat lembut keibuan. "Nak Naira... jangan merasa sungkan atau terbebani dengan kehadiran kami, ya. Kalau memang nanti setelah dipikirkan Nak Naira merasa belum yakin atau belum siap, katakan saja sejujurnya. Kami semua tidak akan pernah memaksa."
"Terima kasih banyak atas pengertiannya, Bu," bisik Naira lirih. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan untuk menutupi rasa haru yang tiba-tiba merayap di dadanya.
Suasana di ruangan itu kembali hening selama beberapa saat. Tidak ada satu pun orang tua di meja tersebut yang melayangkan desakan, pun tidak ada yang menuntut sebuah kepastian atau jawaban mutlak di hari itu juga. Justru karena ketulusan dan kelapangan hati kedua keluarga itulah, atmosfer di ruang tamu tersebut terasa jauh lebih menenangkan bagi Satria maupun Naira.
"Bagaimana kalau kita memberikan mereka waktu selama beberapa hari?" usul Pak Ridwan akhirnya memecah kesunyian, menatap Pak Hasan. "Supaya Satria dan Naira bisa benar-benar merenungkan dan memikirkan keputusan masa depan mereka dengan kepala dingin."
"Itu adalah solusi yang sangat bijak. Kebetulan, itu juga yang sejak awal kami harapkan," sahut Pak Hasan tersenyum lega.
Pak Ridwan kemudian mengalihkan pandangannya, menatap putri tunggal kesayangannya. "Naira."
"Iya, Yah?" sahut Naira, menegakkan pandangannya.
"Ayah memberikanmu waktu selama tiga hari ke depan," ujar Pak Ridwan lembut namun penuh ketegasan seorang ayah. "Tidak perlu terburu-buru mengambil sikap. Jawablah setelah hatimu benar-benar merasa yakin dan mantap."
"Baik, Yah. Naira mengerti," jawab Naira dengan anggukan pelan.
Pak Hasan tidak mau ketinggalan. Beliau menoleh dan menatap putra tunggalnya yang sejak tadi duduk tegap di sampingnya. "Satria?"
"Iya, Pak," sahut Satria tangkas.
"Keputusan untukmu juga sama. Manfaatkan waktu tiga hari ini untuk memikirkan semuanya dengan baik-baik," pesan Pak Hasan.
"Baik, Pak. Satria akan memikirkannya," jawab Satria dengan anggukan kepala yang mantap dan tegas.
Tak lama setelah kesepakatan waktu itu dibuat, pertemuan keluarga yang mendebarkan tersebut akhirnya resmi berakhir. Di halaman depan rumah, kedua belah keluarga berdiri berdampingan untuk saling berjabat tangan dan berpamitan.
"Terima kasih banyak atas hidangan teh dan kue browniesnya yang luar biasa enak ini, Jeng," pamit Bu Ratna tulus sembari memeluk hangat ibu Naira.
"Sama-sama, Jeng. Terima kasih kembali sudah sudi mampir," balas Ibu Naira ramah.
"Semoga niat baik kita semua ini diberikan jalan terbaik dan kelancaran oleh Allah," harap Pak Ridwan saat menjabat tangan Pak Hasan.
"Aamiin, ya Allah. Kami pamit dulu, Pak Ridwan," ucap Pak Hasan sebelum melangkah menuju mobil.
Satria bergerak cepat melangkah mendahului kedua orang tuanya. Ia membukakan pintu mobil bagian tengah untuk ibunya terlebih dahulu dengan sikap yang sangat cekatan dan protektif.
Namun, tepat sebelum tubuhnya sendiri masuk ke balik kemudi, tanpa sengaja insting Satria menuntunnya untuk menolehkan kepala ke arah teras samping rumah. Di sana, Naira ternyata masih berdiri tegak, berdiri anggun diapit oleh kedua orang tuanya.
Pada detik itulah, tatapan mata mereka kembali bertemu untuk yang terakhir kalinya hari itu. Kali ini tidak ada lengkungan senyum di bibir mereka, tidak ada pula kata sapaan yang terucap. Mereka hanya saling melemparkan anggukan kepala pelan dari kejauhan, sebuah bentuk penghormatan dan isyarat pamit yang sunyi.
Mobil hitam milik keluarga Baskara perlahan-lahan mulai bergerak mundur, meninggalkan area halaman rumah Naira yang asri. Di atas teras, Naira tetap berdiri mematung, menatap lurus ke arah mobil tersebut hingga kendaraan roda empat itu benar-benar hilang di balik tikungan gang perumahan.
Di dalam kabin mobil yang sunyi, Bu Ratna yang duduk di kursi tengah tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap pantulan wajah putranya dari kaca spion tengah. "Bagaimana menurut pandangan pribadimu, Sat?"
Satria tidak langsung menyahut pertanyaan ibunya. Ia tetap fokus mengendalikan setir, matanya menatap lurus ke arah jalan raya di balik kaca depan yang mulai temaram oleh senja. "Dia... perempuan yang sangat sopan dan santun, Bu," jawab Satria setelah jeda beberapa detik.
"Hanya sebatas itu saja?" goda Pak Hasan yang duduk di kursi penumpang samping Satria, ikut tersenyum tipis memancing reaksi sang anak.
Satria menghela napas pendek secara perlahan, mencoba menjabarkan rasa asing yang berkecamuk di dalam dadanya. "Jujur, saya belum mengenalnya sama sekali, Pak, Bu. Tapi..." Satria menggantung kalimatnya sejenak, mencengkeram setir sedikit lebih erat. "...saya merasa ingin mengenalnya lebih jauh lagi."
Kalimat sederhana namun sarat akan keseriusan itu seketika membuat Pak Hasan dan Bu Ratna saling bertukar pandang. Senyum lega dan bahagia langsung mengembang sempurna di wajah kedua orang tua yang telah menua itu.
Sementara itu, di kediaman keluarga Naira...
"Nak," panggil ibunya lembut, merangkul pundak Naira yang baru saja menutup pintu depan rumah dengan rapat.
"Iya, Bu?" sahut Naira, membalikkan badannya menghadap sang ibu.
"Bagaimana penilaianmu setelah mengobrol berdua dengannya di teras tadi?" tanya ibunya penasaran.
Naira menyunggingkan sebuah senyum tipis yang tulus dari bibirnya. "Mas Satria... orangnya ternyata sangat berbeda dari apa yang sempat Naira bayangkan sebelumnya, Bu."
"Berbeda dalam hal apa, Sayang?" timpal ibunya, menuntun Naira untuk duduk di sofa ruang tengah.
"Awalnya Naira mengira beliau akan menjadi sosok pria yang sangat kaku, dominan, dan hanya akan banyak berbicara sombong soal pencapaian dirinya sendiri di kantor kecamatan," urai Naira jujur mengenang prasangkanya.
"Nyatanya tidak seperti itu, kan?" pancing ibunya lembut.
"Tidak, Bu. Sama sekali tidak," geleng Naira cepat. "Beliau justru tipe pria yang jauh lebih banyak mendengarkan." Naira menundukkan pandangannya ke bawah, meremas jarinya sendiri dengan pipi yang mulai merona. "Dan yang paling penting... beliau sangat menghargai pendapat serta jalan pikiran Naira."
Ibu Naira tersenyum penuh arti, lalu mengusap lembut punggung tangan putrinya dengan penuh kasih sayang. "Itu adalah sebuah pertanda awal yang sangat baik untuk masa depan, Naira."
Naira tidak memberikan jawaban lagi. Namun, sejak detik pertemuan di teras itu berakhir hingga malam mulai menjemput, bayangan wajah tenang dengan sorot mata tajam milik Satria seolah enggan pergi dan terus terbayang-bayang di dalam benaknya.
Malam pun kini mulai larut dan beranjak sunyi.
Di dua penjuru rumah yang sepenuhnya berbeda, dua insan yang baru saja dipertemukan oleh takdir itu ternyata sama-sama belum bisa memejamkan mata mereka untuk tidur.
Satria berbaring telentang di atas kasurnya, matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang gelap sembari terus memikirkan kata demi kata yang diucapkan Naira siang tadi. Sementara di kamarnya, Naira duduk bersandar di kepala ranjang, menatap nanar ke arah layar ponsel genggamnya yang tampak kosong melompong.
Tidak ada notifikasi pesan masuk, tidak ada pula riwayat panggilan baru yang tertera di sana. Hal itu tentu saja wajar, karena siang tadi mereka berdua memang sama sekali belum sempat bertukar nomor ponsel pribadi.
Namun, entah karena dorongan magnet apa... malam itu, kedua hati yang baru saling mengenal tersebut tanpa sadar sama-sama sedang menunggu. Menunggu datangnya sebuah keputusan mutlak dalam tiga hari ke depan, keputusan yang akan mengubah total dan menentukan ke mana arah hidup mereka akan berlabuh.
Bersambung...