NovelToon NovelToon
Ayahku Memiliki Sistem

Ayahku Memiliki Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.

Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.

Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

​Sesampainya di pabrik sepatu, Raka dan Budi langsung membaur dengan pegawai lainnya. Namun, malam ini suasana di dalam pabrik terasa sangat berbeda. Ada ketegangan yang aneh dan canggung di antara para pekerja.

​Raka yang menyadari hal itu langsung menyenggol lengan Budi dan berbisik, "Ada apa nih, Om? Kok suasananya suram begini? Ada masalah ya?"

​Budi ikut mengedarkan pandangan dengan bingung. "Nggak tahu juga. Bentar, aku tanya dulu."

​Budi berjalan menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang menata bahan sepatu. "Bi Asih, ini ada apa sih? Kok pada tegang semua begini?" bisik Budi.

​Bi Asih menghela napas panjang sambil melirik kanan-kiri. "Tadi sebelum kalian datang, pengawas ke sini. Katanya ada beberapa pasang sepatu yang hilang dari gudang, terus dia langsung nuduh orang-orang di shift kita yang nyuri."

​Budi terkejut. "Pengawas yang itu?"

​"Iya, si Kurniawan siapa lagi," timpal Bi Asih kesal.

​Setelah mendapat informasi tersebut, Budi kembali mendekati Raka.

​"Gimana katanya, Om?" tanya Raka.

​"Itu... katanya pengawas datang ngamuk-ngamuk karena ada sepatu yang hilang—"

​Belum sempat Budi menyelesaikan kalimatnya, Raka langsung memotong, "Dan dia langsung nyalahin grup kita?"

​Budi melongo. "Loh, kok kamu bisa tahu?"

​"Ya tahulah, Om. Pola kayak gini mah ketebak. Palingan pelakunya salah satu dari orang di ruangan ini, atau malah si pengawas itu sendiri yang nyolong buat dijual lagi, wkwk. Di pabrik kayak begini mah modus begitu udah biasa," ujar Raka santai. Pengalamannya bekerja di berbagai tempat di masa depan membuatnya paham betul drama-drama internal dunia kerja kasar.

​Budi manggut-manggut, cukup kagum dengan analisis cepat Raka. "Iya juga sih. Tapi terus gimana cara kita nyari tahu pelakunya?"

​Raka tersenyum penuh arti. "Tenang aja, Om. Nanti gua pancing pelakunya keluar. Untuk sekarang, kita fokus kerja aja dulu."

​Mereka bertigaRaka, Budi, dan Bi Asih mulai melakukan pekerjaan bagian cutting atau pemotongan bahan sepatu. Di sela-sela kesibukan itu, Bi Asih memperhatikan gerak-gerik Raka.

​"Raka hari ini kok agak beda ya sifatnya?" tanya Bi Asih.

​"Ah, masa sih, Bi? Perasaan Bibi aja kali," jawab Raka sambil cengengesan.

​"Halah, perasaan apaannya. Dia mungkin lagi kesambet jin gudang, Bi," celetuk Budi yang langsung disambut tawa kecil dari Bi Asih.

​Raka tidak membalas candaan Budi. Matanya mulai melirik ke sekeliling ruangan, mencari waktu yang pas untuk memulai rencananya.

Tiba-tiba, dia sengaja membungkuk dan berlagak seperti menemukan sesuatu di lantai bawah mejanya.

​"Eh! Benda apa nih? Gua nemuin sesuatu!" seru Raka cukup keras. "Jangan-jangan... ini barang punya orang yang nyuri sepatu tadi ya?!"

​Seketika, semua kepala di ruangan itu langsung menoleh ke arah Raka.

​Di tangan Raka, sebenarnya hanya ada sebuah gantungan kunci besi kecil yang sudah berkarat.

Benda itu tidak sengaja dia temukan di jalanan saat berangkat tadi dan dipungut karena bentuknya unik.

​Raka membolak-balik gantungan kunci itu dengan wajah serius, lalu sengaja mengernyitkan dahi dalam-dalam. "Wah... kalau bener benda ini milik si pelaku, habis deh dia. Bakal langsung ketahuan."

​Ruangan pabrik mendadak hening seketika. Beberapa pekerja mulai saling berpandangan dengan cemas.

Sementara itu, di sudut ruangan, seorang pria tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan sangat erat dan berkeringat dingin.

​Budi langsung mendekat ke meja Raka. "Memangnya itu benda apa, Rak?"

​Raka sengaja membalas dengan bisikan, tapi volumenya diatur agar tetap bisa didengar oleh telinga orang di sekitar mereka. "Jangan keras-keras, Om. Takut pelakunya denger terus langsung kabur."

​Kalimat umpan dari Raka itu sukses besar. Beberapa pekerja langsung kelihatan gelisah dan salah tingkah.

Padahal, Raka sama sekali tidak tahu itu barang milik siapa.

Dia hanya sedang bermain psikologis untuk menggertak pelaku yang asli. Setelah itu, Raka kembali melanjutkan pekerjaannya seolah-olah tidak ada hal besar yang terjadi.

​Beberapa menit kemudian, Pengawas Kurniawan masuk kembali ke ruangan dengan wajah ketat. "Gimana? Ada yang sudah menemukan petunjuk atau mau mengaku?"

​Sebelum Budi atau pekerja lain sempat bersuara, Raka langsung berdiri dari kursinya. "Ada, Pak."

​Semua mata kembali tertuju pada Raka. Si pelaku asli bahkan sudah hampir menahan napasnya karena ketakutan.

​"Tapi saya belum bisa mastiin sekarang, Pak. Saya cuma minta waktu sampai jam istirahat nanti buat nyocokin datanya," lanjut Raka dengan percaya diri.

​Kurniawan mengangguk tegas. "Baik. Saya pegang omonganmu. Jangan main-main."

​Begitu pengawas keluar dari ruangan, atmosfer di dalam pabrik menjadi semakin mencekam. Si pelaku mulai panik dan berpikir, "Sial, apa bener dia nemuin barangku yang jatuh?"

​Saat jam istirahat tiba, Raka diam-diam menarik Budi ke sudut koridor dan membisikkan instruksi baru.

​"Om, tolong sebarin gosip ke anak-anak lain. Bilang aja kalau nanti pas jam pulang kerja, pengawas bakal bawa satpam buat geledah tas sama loker semua orang satu per satu tanpa terkecuali."

​Budi mengerutkan kening bingung. "Emangnya beneran bakal digeledah?"

​Raka tersenyum licik. "Ya enggak lah, Om. Itu cuma taktik. Kalau si pelaku beneran nyimpen sepatu curiannya di area pabrik, dia pasti bakal panik dan berusaha ngebuang barang bukti itu sekarang juga sebelum jam pulang."

​Budi akhirnya paham. "Oalah... cerdik juga kamu, Rak! Oke, siap!"

​Strategi Raka berjalan dengan sangat mulus. Menjelang fajar, saat sebagian besar pekerja sudah mulai kelelahan, Raka yang sengaja berjaga di dekat area luar melihat salah seorang pekerja berjalan mengendap-endap menuju gudang belakang. Orang itu membawa sebuah kantong plastik hitam besar.

​Pria itu terus menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang melihat aksinya. Begitu merasa aman, dia bergegas mendekati tumpukan kardus kosong di pojok gudang.

​Namun, tepat saat dia hendak menyelipkan kantong hitam itu ke balik kardus...

​"Ketemu."

​Suara Raka terdengar tepat dari arah belakangnya. Pria itu langsung membeku di tempat, tubuhnya gemetaran hebat.

​Di saat yang sama, lampu gudang dinyalakan. Budi bersama beberapa pekerja lain yang sudah diberi tahu oleh Raka langsung keluar dari tempat persembunyian mereka, mengepung si pelaku yang kini sudah tidak bisa mengelak lagi.

1
Bryan
keren thor, banyakin ya update nya, 1 vote udh melayang 💪👍
Maul: terima kasih banyak kak😆
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
Reno bocil bikin ngakak deh🤣🤣
Maul
/Blush/
Maul
duit 😘
Maul
/Hey/
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Yuliana Tunru
knp verota x jd maju mundur sih kan yg baca bingung 🤭🤭
Maul: hehe, mungkin ke depannya gak akan maju mundur🙏
total 1 replies
Maul
Sistemnya plin-plan wkwk
Maul
waduh, yang ini gk cadel😅
Maul
ngasuh diri sendiri 🤭
Maul
women
Maul
Ayahku adalah diriku sendiri🤔
Maul: cuma bercanda kak, soalnya kan mc nya masuk ke tubuh ayahnya sendiri😅 🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!