bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Setelah beberapa lama berdebat soal warisan, ketegangan di ruangan itu mulai
mencair. Nadira merasakan otot lehernya yang sebelumnya kaku mulai melonggar. Ia
menegakkan punggung, memastikan postur tubuhnya tetap menunjukkan otoritas.
Pak Herman tampak puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan Nadira, meski ada keraguan yang masih menyelimuti raut wajahnya yang keriput.
Nadira menutup buku catatannya dengan satu tangan, jemari lainnya meremas lengan
kursi untuk menjaga keseimbangan. Ia mengangguk mantap, meyakinkan Pak Herman bahwa ia siap memimpin perusahaan keluarga tanpa campur tangan siapa pun.
Rasa lelah mulai terasa di pelipisnya, namun kepuasan karena berhasil melewati sesi berat itu terasa lebih besar. Ia merasa sudah selangkah lebih dekat dengan tujuannya.
Ia menarik napas panjang untuk terakhir kalinya, membiarkan udara sejuk mengisi
paru-parunya sebelum akhirnya berdiri dari kursinya.
Kaki kanannya sedikit gemetar saat
menyentuh lantai marmer, namun ia segera melangkah percaya diri menuju jendela. Di
luar sana, langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga pudar. Ia tahu diskusi ini baru
permulaan dari pertempuran besar yang menunggunya di depan.
Namun, ketenangan itu mendadak buyar saat ia melirik ke arah pintu masuk yang belum
sepenuhnya tertutup. Ada suara langkah kaki yang familiar di koridor, langkah kaki yang
terlalu cepat dan berisik untuk ukuran rumah besar ini. Nadira menahan napas lagi, kali ini
bukan untuk relaksasi, melainkan untuk bersiap menghadapi sesuatu yang tidak terduga.
Pintu ruang tamu didorong dengan keras, membuat daun jendela bergetar hebat. Dinda
berdiri di ambang pintu dengan mata melotot dan napas memburu. Kehadirannya seketika
mengubah keseriusan ruangan menjadi ketegangan yang terasa tajam dan mengancam.
Pintu ruang tamu didorong dari luar dengan keras hingga membentur dinding pembatas.
Dinda melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, membawa aroma parfum mahal yang menyengat hidung. Gaun sutra hijaunya mengelembung saat ia berjalan, sepatu hak tinggi menggedor lantai marmer dengan ritme yang sengaja diperlambat.
Ia menatap Pak Herman yang duduk di sofa, lalu alihkan pandangan tajam ke arah sudut
ruangan.
"Rupanya kamu masih betah bersembunyi di sini," kata Dinda sambil meletakkan tas
branded ke atas meja kayu jati. Senyum meremehkan menggeliat di bibirnya saat melihat kerutan di dahi Pak Herman.
Suasana ruangan yang tadinya tenang berubah menjadi medan perang dingin yang mencekam. Dinda sengaja menyenggol vas bunga porselen di dekat pintu agar perhatian teralih sepenuhnya padanya. Bunyi pecah tidak terjadi, tapi suara gesekan keramik itu cukup membuat Pak Herman menegakkan punggung.
"Ada masalah apa kamu datang tanpa kabar?" tanya Pak Herman, suaranya parau dan
terdengar lelah. Ia berdiri tegak dari kursi sofa, tidak membiarkan Dinda mendominasi percakapan seperti biasanya. Jemarinya meremas sisi rok dengan pelan, menahan keinginan untuk segera memotong semua kata-kata Dinda.
"Aku cuma ingin memastikan kalian tidak membuat keputusan bodoh di belakangku,"
jawab Dinda sambil menyilangkan tangan di dada. Matanya menyapu ruangan dengan jijik, seolah tempat ini kotor dan tidak layak untuk sebuah pertemuan penting.
Setiap kata yang keluar dari mulut Dinda mengandung racun yang ditujukan untuk
menjatuhkan kredibilitasnya di depan Pak Herman. Nadira tahu sepupunya itu sedang
mencoba memancing emosi supaya ia melakukan kesalahan fatal.
"Kamu masih merasa paling berhak atas semua ini, Dinda?" Nadira menatap lurus ke arah Dinda. Suaranya tenang, tidak mempedulikan ejekan yang baru saja dilemparkan.
Dinda tertawa pendek, suaranya melengking tajam di ruang tamu yang sepi.
"Hak? Kamu pikir orang sepertimu punya hak di rumah ini? Pak Herman tahu siapa yang sudah mengurus keluarga ini selama bertahun-tahun."
Nadira a tetap tenang, membalas tatapan Dinda dengan senyum tipis yang justru membuat sepupunya itu terlihat gelisah.
Nadira melangkah maju satu langkah, mempersingkat jarak di antara mereka berdua di depan Pak Herman.
Pak Herman hanya terdiam, mengamati persaingan sengit antara dua wanita yang
memperebutkan takhta kekayaan itu. Tangannya bergetar kecil saat memegang cangkir kopi yang sudah dingin, memilih untuk tidak mengambil posisi sebelum ia melihat siapa yang akan menyerang lebih dulu.
Suara langkah kaki Pak Herman memudar ke arah tangga, meninggalkan jejak aroma
masker bedah yang menyengat. Begitu pintu kamar kerja di lantai atas berbunyi tertutup,
Dinda segera mencengkeram lengan atas Nadira. Gadis itu menyeretnya ke sudut ruangan yang paling jauh dari pintu, tepat di balik rak buku jati yang tinggi.
Udara di sudut itu terasa pengap, berbau campuran parfum mahal Dinda dan debu buku lama. Wajah Dinda tampak tegang, rahangnya mengeras saat ia menatap tajam ke arah Nadira.
Suaranya merendah, hampir tak terdengar, namun setiap kata yang keluar terasa seperti
ancaman dingin yang menusuk.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakangku?" bisik Dinda, napasnya memburu karena menahan amarah.
"Kembalikan dokumen itu sekarang juga, atau aku akan memastikan kamu keluar dari rumah ini malam ini juga tanpa sepeser pun."
Nadira menahan napas, otot bahunya sedikit menegang di balik kain gaun sutra. Ia bisa
merasakan detak jantungnya yang mulai berpacu, namun ia berusaha mengendalikan
ekspresi wajahnya agar tidak menunjukkan ketakutan.
Dinda jelas menudingkan tuduhan yang sangat spesifik, sesuatu yang hanya orang dalam yang tahu tentang brankas pribadi
di ruang kerja. Ini bukan sekadar tebakan acak, Dinda benar-benar mengawasinya dengan sangat teliti.
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," jawab Nadira datar, menatap lurus ke mata
Dinda tanpa berkedip. Ia berharap suaranya terdengar meyakinkan, meski dalam hati ia
mulai memutar otak. Bagaimana Dinda bisa tahu? Apakah ada kamera tersembunyi, atau
mungkin pelayan yang setia pada Dinda?
Nadira menyadari bahwa permainan ini jauh
lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan, karena Dinda sepertinya sudah menguasai peta rahasia yang ada di rumah besar ini.