NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:193.4k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Memilih Pergi

Meninggalkan Rumah

Arini melangkah cepat menuju halaman rumah. Dadanya masih terasa sesak. Rasanya semakin lama berada di dalam rumah itu, semakin sulit ia mengendalikan amarah dan luka yang memenuhi hatinya.

Di belakangnya, suara Bu Sumarni dan Galang masih terdengar memanggil. "Arin, bikin dulu sarapan! Kok malah pergi?" teriak Bu Sumarni dengan nada tidak senang.

Arini berhenti sejenak. Ia berbalik sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Lho, kok harus aku yang bikin sarapan? Bukannya Mayang yang mau ngatur rumah tangga ini?"

Kalimat itu membuat wajah Bu Sumarni langsung berubah. Arini tidak menunggu jawaban. Ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Tangannya segera memutar kunci kontak.

Mesin mobil menyala. Namun sebelum ia sempat menjalankan mobil, Galang berlari mendekat.

"Rin, kamu jangan egois gitu lah," katanya dengan nada kesal. "Ini mobil mau aku pakai jalan-jalan bareng Mayang. Terus kamu juga belum bikin kami sarapan."

Arini tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu hambar. "Suruh istri mudamu yang menyiapkan sarapan!"

"Ya nggak bisa. Dia nggak terbiasa kerja kasar."

Kalimat itu membuat Arini menatap Galang beberapa detik. Jadi begitu. Mayang terlalu berharga untuk mencuci piring. Mayang terlalu istimewa untuk memasak. Tapi dirinya?

Selama dua tahun terakhir, ia harus bangun paling pagi, memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, bahkan melayani adiknya tanpa pernah mendapat ucapan terima kasih.

"Itu masalahmu. Jangan libatkan aku dalam kesulitanmu!"

Wajah Galang langsung mengeras. "Rin, kamu masih istriku. Kamu harus menghormati aku sebagai suami!"

Mendengar itu, Arini benar-benar ingin tertawa.

Menghormati? Kata itu terdengar sangat lucu keluar dari mulut seorang pria yang baru saja membawa wanita lain masuk ke rumah mereka.

"Enak banget ya, Mas. Mas aja nggak pernah menghormatiku sebagai istri, kok nuntut aku menghormatimu?"

Galang terdiam. Ia tidak memiliki jawaban.

Arini memundurkan mobil perlahan. Ia sudah terlalu lelah. Terlalu banyak air mata yang ia keluarkan untuk keluarga ini. Kini ia hanya ingin pergi. Pergi sejauh mungkin dari orang-orang yang terus menyakitinya.

Saat mobil hendak keluar dari halaman, tiba-tiba seseorang berlari mengejarnya. "Mbak Ariiiin! Tunggu!"

Arini menginjak rem.

Ia menurunkan kaca mobil. Ternyata Vera. Adik iparnya itu tampak terengah-engah setelah berlari. "Ada apa lagi?" tanya Arini dingin.

Vera menggaruk tengkuknya. "Itu... cucianku banyak. Di kulkas juga nggak ada bahan buat bikin sarapan."

Arini memicingkan mata. "Terus?"

"Cuciin dulu bajuku dan bikinin dulu sarapan!"

Arini sampai tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Di tengah semua kekacauan ini, Vera masih sempat menyuruhnya mencuci dan memasak?

"Suruh aja kakak iparmu!"

Vera langsung mengerucutkan bibir. "Bisa jadi dia nggak bisa apa-apa."

"Nah, kalau dia nggak bisa apa-apa, kenapa kalian semua begitu bangga menerimanya?" balas Arini tajam.

Vera langsung bungkam. Arini melanjutkan ucapannya. "Dengar ya, Vera. Aku ini istri Mas Galang, bukan pembantu keluarga kalian."

"Tapi selama ini Mbak yang ngerjain semuanya..."

"Karena aku masih punya hati dan rasa tanggung jawab."

Arini menatap satu per satu wajah yang berdiri di halaman rumah.

Bu Sumarni.

Galang.

Mayang.

Dan Vera.

"Sekarang kalian sudah punya anggota keluarga baru yang katanya lebih baik dariku. Jadi manfaatkan dia!"

Mayang yang sejak tadi diam langsung tersinggung. "Mbak ngomongnya kenapa nyindir terus sih?"

Arini tersenyum tipis. "Karena kenyataannya memang begitu."

Wajah Mayang memerah. Sementara Bu Sumarni mulai naik pitam.

"Arini! Jangan kurang ajar!"

Namun Arini sudah tidak peduli lagi. Ia menatap mereka untuk terakhir kalinya.

"Dua tahun aku berusaha menjadi istri dan menantu yang baik. Tapi ternyata semua itu nggak pernah cukup buat kalian." Suasana mendadak hening.

"Bersyukurlah. Mulai hari ini kalian nggak perlu lagi melihat wajahku."

Setelah mengatakan itu, Arini menaikkan kaca mobil. Meski dadanya terasa sesak, ada sedikit rasa lega yang mulai tumbuh.

Setelah sekian lama... Ia memilih dirinya sendiri.

Mobil itu pun melaju meninggalkan halaman rumah, sementara keluarga Galang hanya bisa memandang kepergiannya dengan wajah kesal dan kebingungan. Mereka belum sadar. Orang yang selama ini mereka remehkan baru saja pergi.

Dan saat Arini benar-benar berhenti peduli, mereka akan mengerti betapa berharganya sosok yang selama ini mereka sia-siakan.

***

"Ya sudah-sudah, nggak usah ditangisi kepergiannya. Malah harus disyukuri, benalu itu sudah pergi!" Bu Sumarni tertawa sumbang.

"Ayo, Vera, kita bikin sarapan!"

Vera yang sedang bermain ponsel langsung mendongak. "Kok aku?"

"Ya siapa lagi? Mayang nggak mungkin bisa bantu-bantu. Di rumahnya kan tinggal makan."

Mayang tersenyum kecil sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. "Iya sih, aku memang nggak bisa masak."

Vera memutar bola matanya. "Iya, iya. Tapi masalahnya nggak ada apa-apa yang bisa dimasak. Biasanya Minggu pagi Mbak Arin udah ke pasar."

Bu Sumarni mendecak.

"Ya tinggal beli. Ribet amat."

Ia lalu menoleh ke arah Galang. "Galang, kasih uang buat belanja. Tuh ada tukang sayur."

Galang merogoh dompetnya dan menyerahkan selembar uang seratus ribu.

"Nih."

Bu Sumarni langsung mengembalikan tatapan tak percaya. "Lah, seratus ribu cukup buat apa?"

Galang menghela napas lalu menambahkan satu lembar lagi. "Ini tambah."

"Nah, gitu dong."

Bu Sumarni segera keluar menghampiri tukang sayur. Begitu ibunya pergi, Vera menghempaskan tubuh ke sandaran kursi.

"Ya ampun."

"Kenapa?" tanya Mayang.

"Baru sekarang aku sadar kalau sarapan nggak muncul sendiri di meja makan."

Mayang terkekeh. Vera melirik ke arah dapur yang masih berantakan. Biasanya saat bangun tidur, meja sudah bersih. Sarapan sudah tersedia. Teh hangat sudah diseduh.

Baju yang ia butuhkan sudah dicuci dan disetrika.

Kalau kehabisan uang, tinggal minta pada kakak iparnya tersebut. Ia tidak pernah memikirkan bagaimana semua itu bisa terjadi.

Karena semuanya selalu dikerjakan Arini. "Tuh kan, baru ditinggal bentar aja udah ngeluh," sindir Galang.

Vera langsung menatap kakaknya. "Lho, memang iya. Selama ini aku tinggal makan doang."

"Makanya jangan manja!"

"Yang manja bukan cuma aku kali."

Tatapan Vera tanpa sadar beralih ke arah Mayang.

Mayang yang merasa tersindir langsung memasang wajah tidak suka.

"Ngapain lihat-lihat aku?"

"Nggak apa-apa."

Suasana kembali hening. Tak lama kemudian Bu Sumarni masuk membawa dua kantong belanja.

"Nih, Vera. Cepat masak!"

"Hah? Aku?"

"Iya kamu."

"Tapi aku nggak bisa masak, Bu."

Bu Sumarni langsung melotot.

"Terus selama ini ngapain aja?"

Vera membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Karena ia tidak punya jawaban. Selama ini memang ada Arini yang mengurus semuanya.

"Semoga Mbak Arini cuma pergi sebentar," ucap Vera tanpa sadar. "Nanti juga dia pasti kembali lagi."

Ucapan itu membuat semua orang menoleh ke arahnya.

Vera sendiri tampak terkejut. Ia tidak menyangka kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Entah kenapa, baru beberapa menit Arini pergi, rumah itu terasa berbeda. Biasanya saat bangun tidur, sarapan sudah tersedia. Pakaian yang menumpuk tiba-tiba sudah bersih dan rapi di lemari.

Tagihan-tagihan selalu terbayar tepat waktu. Bahkan stok kebutuhan rumah tak pernah habis.

Semua berjalan begitu normal sampai mereka lupa bahwa ada seseorang yang bekerja keras di balik semua kenyamanan itu.

"Kamu masih berharap benalu itu kembali ke rumah ini?" Bu Sumarni mendengus sinis.

Vera langsung menunduk.

"Ih, najis! Ibu malah berharap dia pergi selamanya."

"Ibu..." Galang mencoba menegur pelan.

"Apa? Memang begitu kenyataannya." Bu Sumarni menyilangkan kedua tangan di dada. "Sekarang Mayang sudah ada di sini. Rumah ini nggak butuh Arini lagi."

Mayang yang mendengar namanya disebut langsung tersenyum bangga.

"Iya, Bu. Lagian Mbak Arini juga yang memilih pergi sendiri."

Vera menggigit bibirnya. Kali ini ia merasa tidak nyaman mendengar mereka membicarakan kakak iparnya seperti itu. Bagaimanapun juga, selama ini Arini tidak pernah berbuat jahat padanya. Bahkan saat Vera berkali-kali merepotkan, Arini selalu membantu tanpa banyak bicara.

"Mungkin Mbak Arini capek," gumam Vera pelan.

"Alaah, capek apanya?" sahut Bu Sumarni. "Jadi istri itu memang tugasnya melayani suami dan keluarga suami."

"Tapi—"

"Nggak ada tapi-tapian. Kalau dia nggak kembali juga syukur. Berarti dia sadar diri."

Vera terdiam. Sementara itu, entah mengapa hati Galang terasa sedikit tidak nyaman. Biasanya kalau terjadi keributan seperti ini, Arini akan menjadi orang pertama yang menenangkan suasana.

Namun sekarang, kursi yang biasa ditempati istrinya kosong. Dan tidak ada seorang pun yang berusaha mengalah demi menjaga kedamaian rumah itu.

__________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Sinta Dewi
kenapa gak pulang ke jogja aja , kok pikiran nya sempit
Cicih Sophiana
Vera demi duit jual diri Galang... kamu jg kan begitu lg punya duit kamu selingkuh
Arin
La.... urusan kelangsungan hidup keluarga ibu..... mikir sendiri lah. Masa mantan menantu yang sudah disakiti suruh nanggung dan ikut mikir juga. Aneh memang Ibu Sumarni ini....
Arin: iya gak nyambung. Mungkin nyambungnya kedengkul🤭🤭🤭
total 2 replies
Oma Gavin
jadi gembel gelandangan saja seperti sebeujgn sok kaya sekarang sudah kere
Yuni Ngsih
Authooooor ceritramu bgs banget sangat runut bgt ku baca dgn asyiknya tau " dah beres jangan lupa lanjutannya ya Thor ku menunggu ceritramu ....ok mksh.
Cicih Sophiana
wah ini kluarga rusak... mungkin si Varah jg perempuan bataran seperti si mayang jga
Cicih Sophiana
itulah klo orang salah memutar balik kan fakta... biar dia kelihatan orang baik 😅
Cicih Sophiana
ayo ah thor jodohin Arin dgn Satria...😀
Cicih Sophiana
laki laki klo udahnliat perempuan yg lebih bening sedikit aja udah klepek klepek... apa lagi klo perempuan nya yg gatel mau di garukin udah deh langsung gak mikir lagi
Cicih Sophiana
tetap semangat thor... sukses dan sehat slalu
Cicih Sophiana
semoga Arini mendapat kebahagiaan setelah penderitaan nya...
Fey mldn
si Galang otaknya loading sehingga yang dialaminya selalu menyalahkan Airin
Ma Em
Bu Sumarni karena TDK suka punya menantu yg numpang hdp pada anak nya , padahal Galang sendiri yg numpang sama istrinya Bu Sumarni tdk tau bahwa menantu yg selalu dihina malah yg sdh menyokong hdp Galang dan Bu Sumarni sendiri , Galang malah nikah lagi dgn pilihan Bu Sumarni katanya Mayang wanita yg baik ga tau nya Bu Sumarni malah memilih jalang yg akhirnya malah selingkuh dgn suami Bu Sumarni sendiri , skrg rasakan penderitaan mu Galang , Bu Sumarni .
Arin
Ikut capek kan Bu Sumarni. Anak sudah berumah tangga jangan ikut campur tangan. Udah punya istri malah sodorkan wanita lain buat anaknya. Sekarang kena masalah beruntun kan? Karena apa? Karena dirimu terlalu ikut campur dan masuk dalam urusan rumah tangga anak-anakmu. Dirimu menentu kebahagiaan anakmu dengan standar mu.... ujung-ujungnya gak ada...
Cicih Sophiana
percuma ibu baru menyesal sekarang...
Cicih Sophiana
setelah tersakiti sekarang Allah memberikan kebahagiaan... untuk kesabaran nya Arin
Cicih Sophiana
wah pak Rahman ternyata sahabat orang tua Arini... tp sayang yah orang tua Arini sdh meninggal krn kecelakaan kan yah...
Cicih Sophiana
kalian yg salah ko malah menyalahkan orang lain...
Cicih Sophiana
tadi othor bilang ngekos... apa dia ninggalin rumah serta istri nya dan orang tua nya...
Cicih Sophiana
yah emang harus sombong klo menghadapi kamu... kamu aja so yakin klo perempuan itu orang baik dan setia..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!