Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34 - Rumah Keluarga Wibisana
Arman mengajak Ratna makan siang di rumah ibunya tiga hari setelah malam hujan itu.
Ia mengatakannya lewat telepon saat Ratna sedang memeriksa tekanan darah Bu Rini. Suara Arman tenang, seolah ia hanya mengajak makan soto.
Ratna hampir menjatuhkan tensimeter.
"Pak Arman, rumah ibu Bapak bukan warung makan."
Bu Rini langsung menoleh. Ratna memberinya tatapan peringatan. Bu Rini pura-pura melihat kalender dinding.
Arman tidak mendesak. Ia hanya berkata, ibunya sudah tahu tentang Ratna dan ingin bertemu.
Kalimat itu membuat Ratna tidak tidur nyenyak malamnya.
Keesokan siang, mobil Arman memasuki kawasan Menteng. Pagar rumah keluarga Wibisana tinggi, hitam, dan dingin. Halamannya luas, pohon-pohon tua menaungi jalan masuk. Rumah itu tidak berteriak mewah, tetapi segala sesuatu di dalamnya tampak terbiasa diperintah untuk tetap rapi.
Ratna duduk tegak di kursi belakang.
Ia memakai kebaya cokelat sederhana. Bukan kebaya baru. Bukan yang terlalu mencolok. Ia memilihnya karena kain itu membuatnya merasa masih menjadi dirinya sendiri.
"Saya salah kostum?" tanyanya.
Arman menoleh. "Ibu pantas."
"Jawaban Bapak terlalu cepat."
"Karena saya yakin."
"Itu tidak selalu membantu."
Arman tersenyum, tetapi tidak menjawab lagi.
Di teras, seorang laki-laki muda menunggu. Tinggi, berkacamata, wajahnya mirip Arman tetapi lebih tajam. Namanya Nadim, keponakan Arman. Ia menyalami Ratna dengan sopan, namun matanya bergerak cepat dari kerudung sampai sandal rendah Ratna.
Ratna sudah biasa dinilai.
Bedanya, di rumah ini penilaian memakai parfum mahal.
Prameswari Wibisana muncul beberapa menit kemudian.
Usianya sudah lanjut, tetapi punggungnya tegak. Rambut putihnya disanggul rapi. Batiknya gelap, selendangnya tipis, dan matanya tenang seperti orang yang sudah lama terbiasa membuat orang lain menunggu.
"Ratna Wulandari?"
"Iya, Bu."
"Saya Prameswari."
Ratna mencium tangannya. Perempuan tua itu menatap tangan Ratna sebentar.
"Tangan dokter," katanya.
Ratna terkejut kecil. "Dulu dokter umum, Bu. Sekarang praktik kecil."
"Tangan orang yang bekerja tetap terlihat."
Makan siang disajikan di meja panjang. Terlalu panjang untuk empat orang. Hidangannya lengkap, tetapi percakapan di atasnya lebih tajam daripada sambal.
Prameswari bertanya tentang anak, pekerjaan, perceraian, dan rumah Ratna sekarang. Pertanyaannya tidak kasar. Justru karena tidak kasar, Ratna harus menjawab dengan hati-hati.
"Perceraian sudah selesai?" tanya Prameswari.
"Proses gugatan masih berjalan. Kami sudah pisah rumah."
Prameswari menatap Arman.
"Jadi belum selesai."
Arman hendak bicara, tetapi Ratna lebih dulu menjawab.
"Belum selesai secara dokumen, Bu. Tapi rumah tangga itu sudah selesai jauh sebelum saya berani mengurus dokumennya."
Nadim berhenti menyendok nasi.
Prameswari kembali menatap Ratna. Tidak ada pujian. Tidak ada senyum. Namun sesuatu di matanya berubah sedikit.
Nadim akhirnya bicara. Nadanya sopan, isinya tidak.
"Bu Ratna pasti paham, keluarga kami punya nama yang harus dijaga."
Arman meletakkan sendok. "Nadim."
Ratna mengangkat tangan kecil, menghentikan Arman.
Ia menatap Nadim.
"Mas Nadim benar. Nama keluarga kalian besar. Nama saya kecil. Kalau orang bicara, mereka mungkin bilang saya tidak tahu diri."
Nadim tampak puas terlalu cepat.
Ratna melanjutkan, "Tapi saya tidak datang meminta nama itu. Pak Arman yang mengundang saya makan. Kalau keluarga ini merasa saya mempermalukan, saya bisa pulang setelah makan."
Wajah Nadim kaku.
Arman menatap Ratna, tetapi Ratna tidak melihatnya. Ia sedang berbicara kepada meja yang terlalu panjang, rumah yang terlalu rapi, dan semua ukuran yang sejak tadi mencoba menempatkannya di sudut.
Prameswari mengambil air putih.
"Dan kalau Arman tetap ingin mengejar Ibu?"
"Itu urusan Pak Arman."
"Ibu tidak ikut memutuskan?"
"Saya memutuskan untuk diri saya. Bukan untuk laki-laki dewasa di samping saya."
Untuk pertama kalinya, Prameswari tersenyum tipis.
Setelah makan, Prameswari mengajak Ratna ke teras belakang. Arman hendak ikut, tetapi ibunya hanya melirik.
"Kamu di dalam."
Arman berhenti.
Teras belakang menghadap taman kecil. Ada kolam ikan dan kursi rotan. Suasananya tenang, tetapi Ratna tidak tertipu. Banyak keputusan keluarga besar mungkin pernah dimulai dari tempat setenang itu.
Prameswari duduk lebih dulu.
"Arman keras kepala."
"Saya mulai tahu."
"Sejak ayahnya meninggal, dia terbiasa memutuskan sendiri. Orang seperti itu kadang mengira keinginannya sama dengan kebaikan orang lain."
Ratna diam.
Kalimat itu bukan serangan kepada Ratna. Itu peringatan tentang Arman.
"Kalau dia membuat Ibu tertekan, katakan."
Ratna menatap perempuan tua itu.
"Ibu tidak melarang?"
"Saya belum sampai di sana."
Jawaban itu dingin, tetapi jujur.
Prameswari memandang taman. "Saya hanya ingin tahu perempuan seperti apa yang membuat anak saya menunda rapat direksi untuk menjemput hujan-hujanan."
Ratna menunduk sebentar.
"Saya juga ingin tahu kenapa dia melakukan itu."
Kali ini Prameswari benar-benar tersenyum, meski hanya sedikit.
"Mungkin kita sama-sama belum tahu."
Saat pulang, Nadim mengantar sampai teras. Ia meminta maaf atas ucapannya di meja makan. Ratna tahu permintaan maaf itu belum sepenuhnya berasal dari penyesalan. Sebagian mungkin karena Prameswari memperhatikannya.
Tetapi Ratna menerimanya dengan anggukan.
Di mobil, Arman bertanya apakah ia lelah.
"Sangat," jawab Ratna.
"Maaf."
"Ibu Bapak tidak jahat."
"Tapi?"
"Tapi rumah itu penuh ukuran. Saya belum tahu apakah saya mau terus diukur."
Arman tidak langsung menjawab.
"Saya akan pastikan Ibu tidak sendirian."
Ratna menatap jalan di depan. Mobil melewati pohon-pohon besar Menteng, lalu masuk ke jalan yang lebih ramai.
"Saya tidak takut sendirian, Pak Arman. Saya takut kehilangan diri karena terlalu sibuk menyesuaikan ukuran orang lain."
Arman menggenggam tangannya sebentar di atas kursi. Tidak erat. Cukup seperti bertanya.
Ratna tidak menarik tangan.
Namun ia juga tidak menggenggam balik terlalu kuat.
Di rumah Menteng, Prameswari tetap duduk di teras belakang setelah mobil Arman pergi.
Nadim berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya masih menyimpan rasa tersinggung yang belum matang.
"Oma benar-benar mempertimbangkan perempuan itu?" tanyanya.
Prameswari menatap kolam ikan.
"Yang Oma pertimbangkan bukan hanya dia. Oma juga mempertimbangkan apakah Arman cukup tahu cara mencintai perempuan seperti itu."
Nadim terdiam.
"Dia jauh dari dunia kita."
"Itu benar."
"Anak-anaknya bisa merepotkan."
"Juga benar."
"Lalu?"
Prameswari mengambil cangkir teh yang sudah mulai dingin.
"Tapi dia tidak meminta apa pun. Orang yang tidak meminta ketika punya kesempatan meminta, biasanya perlu diperhatikan dengan lebih serius."
Nadim tidak menjawab lagi.
Di dalam mobil, Ratna tidak tahu percakapan itu terjadi. Ia hanya melihat tangannya sendiri di pangkuan. Bekas genggaman Arman masih terasa hangat, tetapi yang lebih kuat justru suara Prameswari.
Arman keras kepala.
Ratna menoleh ke jendela.
Mungkin bukan hanya keluarga Wibisana yang harus ia kenali.
Ia juga harus mengenali cara Arman mencintai, sebelum terlambat membiarkan dirinya dicintai.
Mobil terus melaju.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Arman, Ratna sadar bahwa masuk ke hidup laki-laki itu bukan hanya menerima perhatian.
Itu juga berarti belajar berdiri di hadapan keluarganya tanpa mengecilkan diri.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan