Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Lorong IGD yang Mencekam
Langkah kaki Arka bergemuruh menghantam lantai keramik putih Rumah Sakit Harapan Bangsa dengan kecepatan penuh. Jas kerjanya sudah tidak lagi beraturan, kancing teratasnya terlepas, dan dasinya kusut masai akibat ia tarik dengan kasar di dalam mobil saat mengemudi dalam kepanikan luar biasa. Hujan deras di luar sana masih menyisakan genangan di sepatu pantofel mahalnya, namun ia tidak memperdulikan itu sama sekali. Yang ada di dalam kepalanya hanya satu nama: Kirana.
Begitu ia tiba di area Instalasi Gawat Darurat (IGD), bau khas cairan antiseptik, darah, dan kepanikan langsung menyergap indra penciumannya. Lorong panjang berlampu neon putih itu terasa begitu mencekam, dipenuhi oleh keheningan tegang yang hanya dipecah oleh suara monitor jantung dari bilik-bilik tirai di sekitarnya.
"Permisi! Di mana pasien atas nama Kirana Pratama?!" suara Arka melengking tajam, mencengkeram lengan seorang perawat jaga yang kebetulan melintas membawa nampan berisi instrumen medis steril.
Perawat itu terperanjat kaget melihat penampilan Arka yang berantakan dengan mata merah menyala penuh air mata. "T-Tuan Arka? Suami dari pasien Kirana?" tanyanya memastikan.
"Ya! Saya suaminya! Di mana istri saya?!" desak Arka, suaranya bergetar hebat, nyaris kehilangan kendali.
"Pasien baru saja selesai menjalani penanganan darurat di ruang tindakan utama dan sedang dipindahkan ke ruang pemulihan intensif..." perawat itu menunjuk ke arah sebuah pintu kaca ganda di ujung koridor. "Tapi, Tuan, Anda harus bersiap mental. Kondisinya..."
Tanpa menunggu kalimat itu selesai, Arka langsung berlari melewati perawat tersebut. Ia mendorong pintu ganda itu dengan kasar, menerobos masuk ke dalam area tindakan IGD yang steril dan berdarah.
Langkah Arka seketika terhenti. Seluruh darah di tubuhnya mendadak berdesir dingin, membeku di tempat.
Di atas meja brankar baja yang bergeser sedikit ke sudut ruangan, sebuah kantong plastik transparan besar tergeletak terbuka di atas meja samping. Di dalam kantong itu, pakaian yang dikenakan Kirana siang tadi—mantel rajut panjang berwarna krem yang indah, syal rajut hangat, dan piyama—tampak bersimbah bercak darah merah pekat yang telah mengering. Kain-kain itu tampak compang-camping, sebagian besar sengaja digunting oleh tim medis demi memudahkan akses penanganan darurat pada tubuh istrinya yang mengalami trauma benturan masif.
Di sebelah kantong pakaian berdarah itu, terdapat sisa-sisa kain kasa medis kotor dan sarung tangan latex bekas pakai yang dibuang begitu saja, menjadi saksi bisu betapa hidup dan mati berjuang di ruangan itu beberapa menit yang lalu.
Arka melangkah mendekati brankar kosong tersebut dengan lutut yang terasa lemas. Ia menjulurkan tangan gemetarnya, menyentuh ujung mantel krem Kirana yang basah dan bernoda darah. Pemandangan itu menghantam dadanya dengan kekuatan ribuan ton. Setiap tetes darah di kain itu seolah meneriakkan kebodohannya, membongkar betapa egois dan kejamnya ia selama ini mengabaikan wanita yang mencintainya separuh mati.
"Kirana..." bisik Arka lirih, air matanya tumpah seketika, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi.
Ia tidak hanya kehilangan pakaian istrinya yang basah oleh hujan; di ruangan bernuansa putih steril inilah seluruh masa lalu, kehangatan rumah tangga, dan janji-janji yang tak sempat ia tepati hancur berkeping-keping. Bayangan rantang makanan yang mendingin di meja kerjanya kembali terlintas, berpadu dengan kenyataan pahit bahwa ia telah membunuh harapan terakhir istrinya dengan kebisuan dan keangkuhannya sendiri.
Seorang dokter berjas putih dengan masker melorot di dagunya keluar dari bilik tirai medis di dekat sana, menatap Arka dengan pandangan penuh kelelahan dan duka mendalam.
"Tuan Arka?" panggil dokter itu dengan suara berat.
Arka mendongak, menatap sang dokter dengan tatapan kosong penuh permohonan agar seseorang mengatakan bahwa semua ini hanya mimpi buruk. "Dok... bagaimana istri saya? Dan... anak saya..."
Dokter itu menghela napas panjang, meletakkan papan klip rekam medis di tangannya ke atas meja. Ia menepuk pundak Arka pelan dengan penuh empati.
"Nyawa Nyonya Kirana berhasil kami selamatkan. Beliau wanita yang sangat kuat dan bertahan hidup melampaui batas... tapi, maafkan kami, Tuan. Benturan keras di sisi samping kendaraan serta pendarahan hebat membuat kami tidak bisa menyelamatkan janinnya. Kehamilan beliau... gugur akibat trauma fisik yang terlalu parah."
Mendengar konfirmasi itu secara langsung dari mulut sang dokter, pertahanan terakhir Arka runtuh sepenuhnya. Ia jatuh bersimpuh di lantai IGD yang dingin, di samping tumpukan pakaian berdarah istrinya, meratapi kehilangannya dalam isak tangis tertahan yang merobek dada—sebuah penyesalan abadi yang datang terlambat, saat segalanya telah berubah menjadi puing-puing kehancuran.