Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Kamar tidur minimalis itu diselimuti oleh keheningan malam yang pekat, hanya ditemani oleh temaram lampu tidur berwarna kuning hangat. Di atas tepi ranjang, Rania meringkuk dalam dekapan yang begitu kokoh dan menenangkan.
Rangga Pratama berlutut di hadapan istrinya, membiarkan kedua lengannya melingkar erat merengkuh tubuh Rania yang terus bergetar hebat. Isakan tangis yang sejak tadi ditahan kini pecah tak terkendali, tumpah ruah membasahi permukaan kemeja kerja Rangga.
Bagi seorang Rania—wanita yang selama ini dikenal paling garang, mandiri, dan selalu memasang duri perisai untuk melindungi harga dirinya di hadapan orang lain—menangis tersedu-sedu di hadapan orang lain adalah hal yang pantang ia lakukan. Namun, malam ini, runtuh sudah seluruh benteng pertahanan itu. Luka batin masa kecil, rasa tidak pernah dianggap berharga, hingga hantaman tuntutan keji dari kedua orang tuanya sukses menghancurkan pertahanan mentalnya dalam sekejap.
Rangga tidak mengucapkan sepatah kata pun teguran atau pertanyaan interogasi seperti kebiasaannya. Pria berdarah dingin itu tahu betul bahwa saat ini Rania tidak butuh logika atau argumen tajam; wanita itu butuh tempat untuk bersandar.
Tangan kokoh Rangga bergerak naik turun mengusap punggung Rania dengan gerakan lembut yang penuh kehati-hatian—sebuah kelembutan langka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun seumur hidupnya. Sesekali, ia mencium puncak kepala Rania pelan, menyalurkan kehangatan dan kekuatan mutlak lewat dekapannya.
"Menangislah sepuasmu," bisik Rangga parau tepat di dekat telinga Rania dengan suara baritonnya yang menenangkan. "Keluarkan semuanya. Kau tidak perlu berpura-pura kuat di hadapanku."
Mendengar kalimat itu, tangisan Rania justru semakin menjadi-jadi. Jemarinya mencengkeram erat kain kemeja di dada Rangga, meremasnya kuat-kuat seolah-olah pria di hadapannya adalah satu-satunya jangkar yang mampu menyelamatkannya dari terjangan ombak kehancuran.
Di tengah dekapan hangat yang mulai meredakan isakan Rania, suara bising bernada dering yang tajam tiba-tiba memecah keheningan malam.
Bzzzt... bzzzt...
Suara itu berasal dari ponsel pintar Rania yang tergeletak di atas nakas sebelah tempat tidur. Layar ponsel tersebut menyala terang benderang, memancarkan nama kontak yang sama sekali tidak ingin dilihat oleh Rania malam ini: Ibu.
Rania terperanjat kecil di dalam pelukan Rangga. Tubuhnya mendadak menegang kaku. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap ke arah ponsel yang terus-menerus berdering tanpa henti, seolah menuntut untuk segera diangkat.
Rangga ikut melirik ke arah layar ponsel tersebut. Alis tebalnya bertaut tajam, garis rahangnya mengeras seketika. Tanpa perlu diberi tahu, insting bisnis dan ketajamannya sebagai seorang pria langsung menangkap sinyal bahwa gangguan di malam hari ini pasti berasal dari orang tua Rania yang tidak tahu diri.
"Biarkan saja, jangan diangkat," suara Rangga terdengar rendah dan dingin, tangannya terulur hendak meraih ponsel itu untuk mematikannya.
Namun, Rania dengan cepat menggelengkan kepala pelan. Ia menepis tangan Rangga secara halus, lalu menarik napas panjang untuk mencoba menstabilkan suaranya yang masih serak.
"Jangan... biarkan aku mengangkatnya, Mas," ucap Rania lirih, menyebut panggilan 'Mas' secara refleks tanpa sadar akibat sisa kerapuhan di hatinya. "Aku... aku harus menyelesaikan ini sekarang juga. Aku tidak mau terus-terusan menjadi bayang-bayang ketakutan di bawah kendali mereka."
Rangga menatap lurus ke dalam mata Rania yang masih menyisakan genangan air mata. Meskipun ada kilatan amarah yang mendesak di dadanya untuk merebut ponsel itu dan memaki si penelepon, Rangga akhirnya menarik kembali tangannya, memberikan ruang kepada sang istri untuk menghadapi masa lalunya sendiri, meski ia tetap siaga di sisi Rania tanpa beranjak sedikit pun.
Rania meraih ponsel di atas nakas, menarik napas dalam-dalam, lalu menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut. Ia meloudspeaker panggilan itu agar Rangga bisa mendengarnya juga.
Belum sempat Rania mengeluarkan sepatah kata sapaan, suara melengking penuh kemarahan dari Sarah—sang ibu—langsung menyerbu gendang telinga mereka dari ujung sana.
"Rania! Kenapa lama sekali mengangkat telepon?! Sengaja mau mengabaikan ibumu sendiri, hah?!" bentak Sarah langsung tanpa ampun, nadanya penuh emosi meluap-luap. "Dasar anak tidak tahu diuntung! Setelah kau berhasil masuk ke keluarga kaya raya dan hidup bergelimang harta di penthouse mewah suamimu, sekarang kau mulai sombong dan melupakan keluargamu sendiri?!"
Rania mengepalkan tangan kanannya di atas tempat tidur, menahan dada yang kembali sesak. "Aku tidak sombong, Bu. Aku hanya—"
"Jangan membantah!" potong Andre Santoso merebut telepon dari istrinya, suara sang ayah terdengar menggelegar penuh ancaman di ujung sana. "Rania, dengar baik-baik! Ayah dan Ibumu tidak peduli dengan alasan remahanmu itu! Perusahaan keluarga kita di ambang kebangkrutan! Sisa waktu kita tinggal beberapa hari sebelum bank menyita semuanya! Kewajibanmu sebagai anak kandung adalah menebus semua pengorbanan kami selama ini dengan cara merayu suamimu agar mau mengeluarkan dana talangan!"
Rania menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air matanya kembali menetes membasahi pipi. "Tidak, Ayah... Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak akan pernah memanfaatkan Rangga untuk kepentingan bisnis keluarga kita. Itu bukan urusanku, dan aku tidak mau mencampuri urusan finansial perusahaan kalian!"
Brak!
Suara hantaman meja terdengar keras dari ujung telepon, menandakan betapa marahnya Andre mendengar penolakan mentah-mentah dari putrinya.
"Kau benar-benar anak durhaka, Rania!" maki Andre dengan suara bergetar karena murka. "Setelah kami membesarkanmu, menyekolahkanmu, dan memberi tempat tinggal, begini caramu membalas budi orang tua?! Kau lebih memilih hidup senang sendirian di atas penderitaan keluargamu sendiri! Dasar anak tidak tahu diuntung! Air susu dibalas dengan air tuba!"
Sarah menimpali dengan isak tangis buatan yang sarat akan manipulasi emosional. "Ya Tuhan, Rania... tega sekali kau melihat ayah dan ibumu jatuh miskin dan menanggung malu di hadapan para relasi bisnis! Di mana hati nuranimu, nak? Kau rela melihat keluargamu hancur lebur sementara kau tidur nyenyak di atas kasur empuk suamimu yang konglomerat itu?!"
Hujatan demi hujatan, tuduhan sebagai anak durhaka, dan kalimat-kalimat manipulatif terus dilontarkan bergantian oleh kedua orang tuanya tanpa henti. Setiap kata yang keluar dari speaker ponsel itu terasa bagaikan belati tajam yang menusuk-nusuk ulu hati Rania, membuat tubuhnya kembali gemetar hebat menahan beban psikologis yang luar biasa berat.
Rania menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, mencoba menahan isakannya agar tidak terdengar semakin lemah. Ia mengerahkan seluruh sisa keberanian di dalam dirinya untuk melawan balik tekanan mental tersebut.
"Cukup, Ayah... Ibu... cukup!" seru Rania dengan suara parau yang bergetar hebat namun penuh ketegasan. "Selama aku hidup bersama kalian di rumah itu, tidak pernah sekalipun kalian menganggapku ada! Apapun yang kulakukan selalu salah, selalu dibanding-bandingkan dengan Kak Resti! Dan sekarang, saat kalian butuh uang, kalian datang merendahkanku, memaksaku, dan menyebutku anak durhaka?!"
Mendengar perlawanan berani dari putri bungsu yang biasanya selalu mengalah dan menunduk itu, kemarahan Sarah dan Andre mencapai puncaknya.
"DIAM KAU, RANIA!" bentak Sarah dengan suara melengking penuh kebencian yang amat nyata di ujung telepon. "Jangan berani-beraninya kau mengungkit masa lalu! Kau itu hanya anak sialan pembawa beban! Kalau bukan karena kakakmu yang kabur, kau bahkan tidak akan pernah dilirik oleh keluarga Pratama! Jangan sok pahlawan dan bertingkah seolah-olah kau yang paling teraniaya di rumah ini!"
Andre ikut membentak dengan nada suara yang jauh lebih mengerikan. "Pilih sekarang, Rania! Kau rayu suamimu malam ini juga untuk memberikan dana suntikan modal, atau lepaskan hubungan keluarga kita selamanya! Mulai detik ini, kau bukan lagi anak kami! Kami coret namamu dari Kartu Keluarga Santoso!"
Deg!
Ancaman pemutusan hubungan keluarga itu mendarat telak di dada Rania. Napasnya tercekat seketika. Meskipun ia sering disakiti dan direndahkan, mendengar kalimat pencoretan nama dari orang kandung sendiri tetap menyisakan luka robek yang teramat dalam di lubuk hatinya. Air mata Rania tumpah semakin deras, tubuhnya lemas tak bertenaga, seolah seluruh tulangnya patah dalam sekejap.
Sebelum Rania sempat membuka mulut untuk memberikan jawaban di tengah keterpurukannya, sebuah tangan yang kokoh, hangat, dan besar tiba-tiba terulur merebut ponsel pintar dari genggamannya.
Rangga Pratama mengambil alih ponsel tersebut dengan gerakan tenang namun memancarkan aura kemarahan mutlak yang siap meledak kapan saja. Pria itu mendekatkan layar ponsel ke dekat mulutnya, menegakkan punggungnya sempurna, lalu menatap lurus ke depan dengan mata menyalang tajam bagaikan predator kelaparan.
"Dengar baik-baik, Tuan dan Nyonya Santoso," suara bariton Rangga menggelegar berat, dingin, penuh wibawa, dan sarat akan ancaman mematikan yang langsung membungkam bentakan di ujung sana seketika. "Saya Rangga Pratama, suami sah dari Rania."
Di ujung telepon, suasana langsung berubah sunyi mencekam. Terdengar suara napas tertahan dari Sarah dan Andre yang terkejut mendengar suara sang menantu konglomerat mendadak mengambil alih sambungan.
"Kalian sudah mencoret namanya dari keluarga kalian?" lanjut Rangga dengan nada suara merendah namun menusuk tulang, setiap suku kotanya diucapkan dengan penekanan absolut. "Bagus. Karena mulai detik ini, Rania sepenuhnya berada di bawah perlindungan mutlak marga Pratama. Dan mengenai perusahaan properti kalian yang sedang sekarat di ambang kebangkrutan..."
Rangga berhenti sejenak, menyunggingkan senyuman miring penuh kemenangan yang sangat dingin.
"...ketahuilah satu hal. Saya sendiri yang akan memastikan sisa aset terakhir perusahaan kalian dihancurkan sampai rata dengan tanah, dan tidak akan ada satu pun bank atau investor di negeri ini yang berani memberikan bantuan sepeser pun kepada kalian. Jangan pernah berani, demi alasan apa pun, menelepon atau mengganggu istri saya lagi."
Tut!
Rangga langsung memutus sambungan telepon secara sepihak dengan menekan tombol merah di layar, lalu melemparkan ponsel itu begitu saja ke atas nakas di samping tempat tidur.
Di hadapannya, Rania terduduk terpaku dengan mata terbelalak lebar menatap suaminya, tertegun oleh pembelaan mutlak dan ancaman telak yang baru saja dilontarkan oleh Rangga demi membelanya dari cengkeraman keluarganya sendiri.
•
•
•
•