NovelToon NovelToon
MERESET TAKDIR SUAMIKU

MERESET TAKDIR SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Diam-Diam Cinta
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.

Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.

Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA DI BALIK KEHENINGAN.

Malam ketiga setelah kepergian Damar, rumah orang tuanya tampak dipenuhi oleh para tetangga dan kerabat dekat. Mereka datang untuk mendoakan almarhum. Di saat lantunan ayat-ayat suci dan tahlilan bergema dari kaum pria di ruang depan, Yenita mengajak Kirana menuju lantai atas. Wanita paruh baya itu membawa mantan menantunya masuk ke dalam kamar pribadi Damar, kamar yang ditempati pria itu sebelum mereka menikah.

Yenita membimbing Kirana duduk di tepi ranjang yang bersih. Di sebelah ranjang, terdapat sebuah nakas kayu. Pandangan Kirana seketika terkunci pada sebuah figura foto yang ada diatasnya. Jantungnya berdesir saat melihat foto di dalam bingkai tersebut. Itu adalah foto dirinya sendiri, mengenakan seragam putih abu-abu dengan senyum polos khas anak SMA.

Kirana terkejut dan langsung menatap sang ibu mertua dengan mata penasaran. "Ma... kenapa ada foto saya di sini?"

Yenita tersenyum tipis, meski gurat kesedihan mendalam tak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Itu karena Damar sudah mencintaimu sejak kamu masih di bangku SMA, Kiran."

Mendengar penuturan itu, ingatan Kirana berputar ke masa lalu. Ia mendadak ingat saat dirinya masih menjadi siswi kelas satu SMA, Damar adalah kakak kelasnya yang baru saja lulus dari sekolah yang sama. Saat itu, Damar sering berkunjung kembali ke sekolah mereka sebelum akhirnya pria itu melanjutkan studi ke luar negeri. Dua tahun setelah Damar pulang, mereka dipertemukan kembali.

Kirana teringat juga, ketika Damar tiba-tiba datang melamarnya dan menjanjikan akan membiayai seluruh kuliahnya yang sempat tertunda dua tahun. Pertanyaan yang selama dua tahun ini terpendam kini mulai berputar hebat di kepalanya. Apa yang sebenarnya dipikirkan suaminya saat itu? Mengapa ia bersikap begitu dingin jika benar ia mencintainya?

Melihat kebingungan yang tercetak jelas di wajah Kirana, Yenita merogoh saku pakaiannya dan mengeluarkan sebuah dompet kulit berwarna hitam milik Damar. "Terimalah ini, Nak."

Kirana refleks mundur dan menggelengkan kepala. "Jangan, Mama. Ini peninggalan terakhir Kak Damar, sudah pasti Mama yang lebih berhak menyimpannya."

Yenita memegang lembut tangan Kirana, meletakkan dompet itu di telapak tangannya. "Memang kurang baik memberikan barang milik orang yang sudah meninggal. Tapi Nak, Mama berharap kau mau melihat isinya, sekali saja."

Karena Yenita terus mendesak penuh harap, Kirana akhirnya perlahan membuka dompet tersebut. Matanya seketika membelalak lebar saat melihat sebuah pasfoto terselip di balik plastik pembatas. Itu adalah fotonya sendiri, mengenakan baju pengantin di hari pernikahan mereka dua tahun lalu.

"Kenapa... kenapa foto ini ada di sini?" bisik Kirana, suaranya tercekat di tenggorokan.

Yenita terdiam. Ia merogoh kembali sakunya, lalu membuka telapak tangannya di hadapan Kirana. Di sana, tergeletak sebuah cincin emas yang permukaannya masih berlumuran noda darah yang sudah mengering.

"Damar menggenggam cincin ini dengan sangat erat, Kiran. Sampai akhir hayatnya, bahkan sampai ketika jenasahnya hendak dimandikan, jarinya mengunci cincin ini. Jadi Mama berpikir, mungkin sebenarnya dia sama sekali tidak ingin bercerai darimu," kata Yenita dengan suara yang mulai bergetar.

Dalam hati, Kirana berteriak, itu tidak mungkin. Selama dua tahun, pernikahannya terasa begitu hambar dan tanpa rasa. Namun, benaknya mendadak menghentikan sanggahan itu ketika kilasan wajah sedih Damar sesaat sebelum pergi dari meja makan di pagi hari itu kembali melintas di ingatannya. Wajah terpukul suaminya saat ia menyodorkan surat cerai.

Yenita mencoba menahan air mata yang hendak luruh. "Sebenarnya, Damar pernah berjanji pada Mama dan Papa. Dia bilang akan selalu menuruti semua keinginan kami berdua. Tapi, dia mengajukan satu syarat mutlak."

Kirana menatap Yenita dengan saksama. "Syarat apa, Ma?"

"Kami tidak boleh sekali pun mengusik rumah tangganya, apalagi sampai membuat Kirana merasa tidak nyaman. Makanya, selama dua tahun ini kami tidak pernah menuntut Damar untuk membawamu berkunjung ke rumah ini. Padahal, Mama sering sekali memohon padanya, karena sesekali Mama juga ingin dekat dan mengobrol denganmu, Nak. Tapi Damar selalu melarang. Dia takut kamu merasa tertekan dan tidak menyukai lingkungan keluarga kami. Dia begitu menyayangimu, sampai-sampai dia memilih menjaga jaraknya sendiri denganmu agar kenyamananmu tetap terjaga," ungkap Yenita panjang lebar.

Mendengar setiap untaian kalimat dari mulut mantan ibu mertuanya, dadanya terasa begitu sesak dan sakit, namun anehnya, tidak ada setetes pun air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Sepertinya, seluruh air matanya sudah benar-benar habis terkuras di hari pertama kematian Damar.

Yenita kembali melanjutkan ceritanya, menatap kosong ke sudut kamar. "Damar itu sejak dulu orangnya sangat pendiam. Dia tidak memiliki banyak teman dan lebih suka memendam semuanya sendiri setiap kali memiliki masalah. Tidak seorang pun dari kami yang tahu apa yang sedang anak itu pikirkan. Tapi suatu hari, tiba-tiba saja dia pulang dan berkata ingin menikahimu. Kami tentu saja sangat senang. Tapi, kami tetap tidak bisa mendekatkan diri kepadamu. Saat pertama kali kami melihatmu, kami langsung tahu bahwa kaulah wanita yang dia cintai di masa mudanya dulu. Kami berpikir dia pasti akan bahagia setelahnya, tapi ternyata..."

Kalimat Yenita tiba-tiba terhenti. Wanita paruh baya itu mendadak berdiri dari tepi ranjang, mencoba menyudahi suasana yang semakin mengiris hati. "Sudahlah, sebaiknya kamu istirahat dulu, Kirana. Malam ini kamu menginap saja di kamar ini."

Kirana yang hatinya sudah hancur berkeping-keping menggeleng pelan. Ia merasa benar-benar tidak pantas untuk tidur di dalam kamar pria yang sudah ia sia-siakan cintanya. "Saya ingin pulang ke kosan saja, Mama."

Yenita terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah kalau itu maumu."

Setelah mendengar itu Kirana pun melangkah pergi, namun baru dua langkah..

"Kirana, selamat ulang tahun ya. Maafkan Mama, belum sempat membelikanmu hadiah di hari ulang tahunmu ini."

Kirana membalikkan badannya sedikit, memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa hambar. "Tidak apa-apa, Mama. Terima kasih banyak."

Kirana langsung melangkah pergi meninggalkan rumah duka tersebut dengan perasaan yang sama sekali tidak karuan. Sepanjang perjalanan pulang menggunakan taksi, ia hanya terdiam menatap jalanan, tetap tanpa menitikkan air mata sedikit pun.

Sesampainya di rumah kos milik Susan, Kirana langsung masuk, Susan yang sedang duduk di sofa langsung bangkit berdiri menyambut kedatangan sahabatnya.

Susan menatap wajah Kirana dengan pandangan khawatir. "Kiran, kamu tidak apa-apakan?"

"Aku baik-baik saja, San," jawab Kirana dengan nada suara yang terdengar sangat datar dan kosong.

Susan mengembuskan napas lega. "Syukurlah. Oh iya, Kiran, tadi sore ada kurir yang datang ke sini dan menitipkan sesuatu untukmu."

Susan menunjuk ke arah meja. Di atas meja itu, tampak sebuah buket bunga mawar putih yang indah bersanding dengan sebuah kotak kado berukuran kecil. Kirana melangkah mendekati meja tersebut. Ia mengambil kartu ucapan yang terselip di antara tangkai bunga, ia langsung membuka dengan tangan bergemetar. matanya seketika terpaku pada guratan tulisan tangan yang sangat ia kenali. Tulisan tangan Damar.

Selamat ulang tahun, Kirana. Semoga apa yang menjadi keinginan dan impianmu bisa terwujud semuanya. Damar Rafardhan.

Melihat tulisan tangan pria yang kini telah tiada itu, pertahanan Kirana seketika runtuh total. Air mata yang tadinya enggan keluar kini langsung meluncur deras membasahi pipinya. Kirana jatuh terduduk di lantai, menangis sekencang-kencangnya dengan suara raungan yang begitu memilukan.

Susan yang merasa iba langsung memeluknya. Ia tak kuasa melihat kesediaan yang memilukan itu.

"Sebenarnya kenapa dia tidak pernah mengatakan apapun padaku, San? Kenapa?!" raung Kirana di sela tangisnya yang pecah. "Kenapa dulu dia tidak pernah menunjukkan rasa cintanya padaku? Kenapa dia selalu memasang wajah dingin setiap kali menatapku? Kenapa dia tidak membiarkan aku untuk mengenal dirinya lebih jauh? Dan kenapa... kenapa Kak Damar membiarkan aku menyerah atas hubungan kami?"

Kirana terus meraung-raung, meratapi kebodohannya yang tidak pernah peka. "Kenapa baru sekarang aku ingin mengetahui semua tentangmu, Kak? Aku benar-benar benci akhir cerita yang seperti ini!"

Melihat sahabatnya yang sudah begitu histeris dan kelelahan, Susan perlahan membimbing tubuh Kirana untuk bangkit dan merebahkannya di atas tempat tidur.

"Istirahatlah dulu, Kiran. Tidurlah, agar secepatnya kamu bisa melupakan semua kesedihan ini," bisik Susan lembut sambil menyelimuti tubuh sahabatnya.

Kirana hanya terdiam sambil menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang kosong dan basah. Di dalam hatinya, ia bertanya "Benarkah dia sangat mencintaiku? Aah, itu rasanya tidak mungkin. Tapi aku benar-benar ingin mendengarnya langsung dari mulutmu sendiri, Kak."

Kirana perlahan memejamkan matanya yang terasa sangat sembap dan berat. "Seandainya saja aku bisa memutar waktu, kembali ke masa Kakak masih hidup di dunia ini... Apakah akhir dari cerita kita berdua akan berubah?" bisiknya lirih sebelum akhirnya kesadarannya perlahan hilang tertelan kegelapan malam.

1
Radya Arynda
baby damar otw lah😃😃😃😃
Nia nurhayati
monggo mas damar puas"in dahh🤣🤣🤣
Lia siti marlia
adehhhh kak damar ketagihan nya 🤭🤭🤭itu adik bandel banget 😁😁😁
Lia siti marlia
wis mau unboxing lagi damar 🤗🤗🤗🤗🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
bukannya kemaren udah melebur y apa belum sempat unboxing
Nia nurhayati
semoga Samar selamat ya ..agar Kira na tidak sedih lagii
Lia siti marlia
aduhhh semoga sama damar selamat dari kejahatan c clenning sevice itu 🥺🥺🥺ayo ricko kamu harus gercep lindungi bosmu itu
Lia siti marlia
cie cie masa masa bucin mulai terealisasikan 🤭🤭🤭meskipun bahaya mengintai untumgnya punya asisten yang gercep seperti ricko dan kawan kawan 😁😁😁
Nuzul Lina
seru dan menarik banget cerita nya
Lia siti marlia
semangat buat kiran sama damar untuk mengubah masa depan yang kelam🤗🤗💪💪💪
Radya Arynda
semangaaaat💪💪💪💪
Mira Hastati
bagus
Radya Arynda
semangaaat,,jangan menyerah kirana,,, hadapi semua ber sama damar suami mu,,,kamu harus bisa💪💪💪💪💪
Lia siti marlia
akhirnya terkuak sudah rahasia itu 😁😁semoga kedepannya cinta kalian semakin erat 🤗🤗
Lia siti marlia
akhirnya cinta damar sama kirana terbalaskan juga 🤗🤗🤗 semangat juga buat kiran cari terus sumber malapetaka suamimu 🤗🤗🤗
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjuuutttt thor
GANBATEEE NEE 😁🤗💪
dome🌬️🌀🌀🌀
tengkiyuuu Thor....sudah kasih bab terbaikkk🤗🤗🤗
semangat yaa update nyaa😁😁😁
semoga benang takdir bisa terurai dan dalang dibalik Kematian damar bisa terungkap semuanya . semangat kiran, jaga damar dr takdir tragis nya 💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
semangat update yaa thor. makasih update nyaaa.. jangan lama lama yaa crazy up ok😁a😁😁😁
dome🌬️🌀🌀🌀
akhirnya,,,,,.😁kalau ga ada keinginan kuat agar sembuh ga akan bisa lepas rasa trauma nya... hebas kiran demi laki2 yg dicintai dan dikasihi nya. rela kuat melawan rasa traumanya... heemmm semoga takdir buruk bisa berubah🤗🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!