NovelToon NovelToon
Sistem Raja Wisata: Gunung Legendaris Warisan Kakek

Sistem Raja Wisata: Gunung Legendaris Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Suasana di ruang kantor notaris itu terasa sangat dingin.

Hujan deras turun membasahi kaca jendela dengan suara gemuruh yang tidak henti.

Brak!

Seorang pria paruh baya menggebrak meja kayu di hadapannya dengan sangat keras.

"Aku tidak peduli apa pun yang terjadi pada gunung sialan itu!" teriak pria itu dengan wajah memerah.

"Gunung itu hanya membawa kerugian bagi keluarga kita selama sepuluh tahun terakhir."

Pria itu adalah Budi Santoso.

Dia adalah paman tertua Rizky yang selalu merasa paling berhak atas semua kekayaan keluarga.

Di sebelahnya duduk seorang wanita dengan riasan tebal dan perhiasan emas yang mencolok.

Wanita itu memutar bola matanya dan tersenyum sinis.

"Mas Budi benar sekali," kata Maya, bibi Rizky, sambil mengikir kukunya dengan santai.

"Kakek sudah pikun saat memutuskan untuk mempertahankan Gunung Sumber Abadi."

"Setiap bulan kakek selalu menghabiskan ratusan juta hanya untuk memperbaiki fasilitas yang selalu rusak sendiri."

"Sekarang setelah dia meninggal, kita harus segera membuang tempat sampah itu dari daftar aset kita."

Rizky hanya bisa duduk diam di sudut ruangan.

Tangannya saling meremas satu sama lain dengan gelisah.

Hatinya masih hancur karena kakeknya baru saja dimakamkan kemarin sore.

Kakek adalah satu-satunya orang yang peduli padanya setelah kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan belasan tahun lalu.

"Lalu siapa yang akan menanggung hutang operasional kawasan wisata itu?" tanya Hendra, sang pengacara keluarga.

Pengacara itu membetulkan letak kacamatanya sambil melihat tumpukan dokumen warisan.

"Hutangnya kepada bank sudah mencapai lima ratus juta rupiah."

"Jatuh temponya adalah akhir bulan ini."

Hening sejenak menyelimuti ruangan tersebut.

Tidak ada satu pun dari keluarga kaya raya itu yang berani bersuara setelah mendengar angka tersebut.

Mereka semua memiliki rumah mewah di Jakarta dan mobil keluaran terbaru.

Namun, mendengar kata hutang membuat telinga mereka tiba-tiba menjadi tuli.

Tatapan mata Budi perlahan beralih ke arah sudut ruangan.

Senyum licik mulai terbentuk di wajah pria paruh baya tersebut.

"Bukankah kita masih punya pewaris yang paling disayangi oleh ayah?" ucap Budi sambil menunjuk ke arah Rizky.

Rizky mengangkat kepalanya dengan terkejut.

"Paman bermaksud memberikan gunung itu padaku?" tanya Rizky dengan suara serak.

"Tentu saja, Nak," jawab Maya dengan nada suara yang dibuat-buat agar terdengar lembut.

"Kakekmu sangat menyayangimu sejak kamu masih kecil."

"Jadi sudah sepantasnya kamu yang meneruskan impian terbesarnya mengurus gunung itu."

"Impian apanya?" batin Rizky sambil menggertakkan giginya menahan marah.

"Kalian hanya ingin melimpahkan semua hutang itu kepadaku agar kalian bisa membagi aset perusahaan dengan bersih."

Rizky tahu betul niat busuk keluarganya yang serakah ini.

Gunung Sumber Abadi sudah lama mati dan tidak ada pengunjung yang datang.

Fasilitasnya hancur berantakan dan rumor tentang kutukan pendaki yang hilang membuat tempat itu sangat ditakuti.

"Rizky, kamu kan masih muda dan butuh banyak tantangan," tambah Budi sambil berjalan mendekati keponakannya.

"Lagipula, kamu tidak punya pekerjaan tetap sekarang."

"Anggap saja ini adalah modal awal dari paman dan bibimu agar kamu bisa belajar mandiri."

Budi menepuk pundak Rizky dengan keras hingga pemuda itu sedikit meringis.

"Tapi paman, aku tidak punya uang sepeser pun untuk membayar hutang lima ratus juta itu," bantah Rizky mencoba mempertahankan diri.

"Aku bahkan kesulitan hanya untuk membayar uang sewa kamar kos bulan ini."

"Bagaimana mungkin aku bisa mengelola kawasan sebesar itu sendirian?"

Brak!

Budi kembali memukul meja di dekat Rizky untuk mengintimidasi.

"Jangan banyak alasan kamu!" bentak Budi dengan mata melotot.

"Orang tuamu dulu juga hanya menjadi beban keluarga ini."

"Sekarang saatnya kamu membalas budi karena kami sudah membiarkanmu hidup menumpang selama ini."

Kata-kata itu menusuk hati Rizky seperti pisau yang sangat tajam.

Dia menatap wajah paman dan bibinya secara bergantian dengan tatapan tajam.

Hanya ada keserakahan dan kebencian yang terlihat jelas di mata mereka berdua.

"Bagaimana, Tuan Rizky?" potong pengacara Hendra yang sepertinya sudah tidak sabar.

"Jika Anda menolak, gunung ini akan disita oleh pihak bank dan nama baik almarhum kakek Anda akan hancur."

"Bank akan mengumumkan kebangkrutan kakek Anda besok pagi di halaman utama surat kabar."

Rizky mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Nama baik kakeknya adalah segalanya bagi Rizky.

Kakeknya selalu percaya bahwa Gunung Sumber Abadi memiliki keindahan luar biasa yang belum ditemukan oleh dunia.

Dia tidak bisa membiarkan nama kakeknya dicemarkan oleh bank.

"Baiklah," ucap Rizky akhirnya dengan suara bergetar menahan emosi.

"Aku akan mengambil Gunung Sumber Abadi beserta seluruh hutangnya."

Maya langsung tertawa kecil mendengar jawaban tersebut.

"Bagus sekali, kamu memang anak yang paling berbakti," kata Maya sambil menyodorkan sebuah pena ke arah Rizky.

Srekk.

Srekk.

Suara gesekan pena di atas kertas perjanjian memecah keheningan ruangan.

Rizky menandatangani tiga rangkap dokumen penyerahan hak milik tanpa ragu.

Dengan tanda tangan itu, dia resmi menjadi pemilik kawasan wisata gagal beserta tumpukan hutangnya.

Budi langsung merebut dokumen itu dengan wajah yang sangat gembira.

"Mulai detik ini, kamu bukan lagi tanggung jawab kami," ucap Budi sambil tersenyum lebar.

"Jangan pernah berani datang mengemis ke rumahku untuk meminjam uang."

"Ayo kita pergi dari sini, Maya."

Kedua orang itu berjalan keluar dari ruangan notaris tanpa menoleh lagi.

Mereka meninggalkan Rizky sendirian bersama sang pengacara keluarga.

Hendra merapikan sisa dokumennya dan menatap Rizky dengan tatapan kasihan.

"Semoga berhasil, Nak," kata Hendra sebelum ikut melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Kini hanya tersisa Rizky sendirian di ruangan yang dingin itu.

Dia menatap selembar kertas sertifikat tanah yang terlihat kusam di tangannya.

"Kakek, apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Rizky dengan tatapan kosong.

"Aku bahkan tidak tahu cara mengurus bisnis tempat wisata."

Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.

Rasa putus asa mulai menyelimuti pikiran pemuda berusia dua puluh dua tahun itu.

Namun, tiba-tiba sebuah suara mekanis yang aneh terdengar di dalam kepalanya.

Ding!

[Memindai Host yang cocok...]

[Pemindaian selesai.]

[Sertifikat kepemilikan terdeteksi di tangan Host.]

Rizky terlonjak dari kursinya dan langsung menoleh ke kiri dan kanan.

"Siapa itu?" teriak Rizky dengan panik.

"Siapa yang sedang berbicara barusan?"

Tidak ada siapa pun di ruangan itu selain dirinya sendiri.

Ding!

[Selamat! Sistem Raja Wisata berhasil diaktifkan!]

[Mengikat jiwa Host: Rizky Santoso.]

Sebuah layar transparan berwarna biru tiba-tiba muncul melayang tepat di depan wajah Rizky.

Layar itu memancarkan cahaya redup yang membuat Rizky harus menyipitkan matanya.

"Sistem?" batin Rizky dengan kening berkerut bingung.

"Apakah aku sedang berhalusinasi karena terlalu stres memikirkan hutang raksasa itu?"

Rizky mencoba menyentuh layar biru itu menggunakan jari telunjuknya.

Namun tangannya menembus hologram itu begitu saja.

Teks di layar biru itu mulai berubah dan menampilkan barisan kalimat baru.

[Status Host]

[Nama: Rizky Santoso]

[Gelar: Pemilik Tempat Wisata Bangkrut]

[Poin Wisata: 0]

[Aset: Gunung Sumber Abadi (Level 0)]

[Kondisi Aset: Hancur, Terabaikan, Memiliki Kutukan Ringan, Memiliki Hutang]

Rizky menelan ludahnya dengan susah payah saat membaca rentetan informasi tersebut.

Status itu benar-benar mengejek kondisinya saat ini dengan sangat brutal dan jujur.

"Tunggu sebentar," gumam Rizky saat membaca baris terakhir.

"Apa maksudnya memiliki kutukan ringan?"

Sebelum dia bisa berpikir lebih jauh, sistem kembali mengeluarkan bunyi nyaring.

Ding!

[Misi Pemula telah diterbitkan!]

[Deskripsi Misi: Seorang calon Raja Wisata tidak boleh berdiam diri melihat wilayahnya hancur berantakan.]

[Tugas: Pergi ke Gunung Sumber Abadi dan bersihkan area gerbang utama dari sampah dalam waktu 24 jam.]

[Hadiah Keberhasilan: 100 Poin Wisata dan 1 Kotak Hadiah Pemula.]

[Hukuman Kegagalan: Sistem akan dicabut secara paksa dan Host akan botak permanen.]

Mata Rizky terbelalak lebar saat membaca kalimat terakhir di layar tersebut.

"Botak permanen?" teriak Rizky sambil memegang rambut hitamnya yang lebat dengan ketakutan.

"Sistem macam apa yang mengancam Hostnya dengan kebotakan!"

Rizky menghela napas panjang dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat.

Dia sering membaca novel fantasi saat sedang memiliki waktu luang di kosannya.

Dia tahu betul apa arti keberadaan sebuah sistem bagi tokoh utama yang sedang terpuruk.

Ini adalah sebuah keajaiban yang turun dari langit.

Ini adalah kunci baginya untuk membalikkan keadaan dan membalas perlakuan paman serta bibinya.

Rizky menggenggam sertifikat tanah di tangannya dengan sangat erat hingga sedikit lecek.

Matanya yang tadi memancarkan keputusasaan kini berubah menjadi tatapan yang dipenuhi kobaran tekad.

"Kalian membuang gunung ini karena menganggapnya sebagai tempat sampah pembawa sial," gumam Rizky dengan senyum tipis di bibirnya.

"Aku akan membuat kalian semua menangis darah karena menyesali keputusan bodoh ini."

Rizky melangkah keluar dari kantor notaris dan menerjang hujan badai di luar sana.

Langkah kakinya terasa ringan seolah beban berat di pundaknya baru saja terangkat.

Tujuannya saat ini hanya satu.

Gunung Sumber Abadi sedang menunggunya.

1
Eka Yudha
Bagus sih meskipun fiksi tapi ceritanya hidup
Rifqy Channel
kak nissa segera update ini gue suka pokoknya sampe 100 Bab pun gak apa-apa karena suka bangett
Nissa Safira: terima kasih kak atas dukungannya🙏
total 1 replies
Rifqy Channel
i like it
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!