NovelToon NovelToon
Love, Kisah Manis Anya

Love, Kisah Manis Anya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rekonsiliasi di Bawah Lampu Kamar 501

Keheningan malam Jakarta terasa begitu menekan saat mobil sedan hitam mewah milik Edgard perlahan memasuki pelataran rumah sakit swasta itu kembali. Hujan sore tadi telah menyisakan genangan air di atas aspal yang memantulkan kerlip lampu jalanan ibu kota. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, tidak ada obrolan bisnis yang kaku. Anya duduk di kursi penumpang depan, mendekap tas ransel kulit hitamnya erat-aerat. Matanya yang indah masih menyisakan rona merah yang samar, namun badai amarah di dadanya telah mereda, digantikan oleh debaran rasa bersalah yang teramat pekat setelah membaca isi kotak kayu mahoni siang tadi.

Edgard menghentikan mesin mobilnya, lalu menoleh menatap wajah cantik Anya melalui bias lampu dasbor. Struktur wajahnya yang setegas aktor dunia dengan garis rahang kokoh mirip Daniel Henney tampak sangat lembut malam ini. Dia mengulurkan tangan kanannya, mengusap punggung tangan Anya dengan gerakan yang teramat pelan dan protektif.

"Semuanya akan baik-baik saja, Anya," ucap Edgard, suaranya bariton, rendah, dan sarat akan ketulusan yang membeku. "Saya akan mendampingimu di dalam. Kamu tidak sendirian lagi."

Anya tidak menarik tangannya. Dia hanya mengangguk pelan, lalu membuka pintu mobil. Sisa wangi bunga lili yang dewasa dari tubuh dewasanya yang seksi menguar, berpadu dengan hawa malam Jakarta yang sejuk saat mereka melangkah bersama menuju lift eksekutif yang akan membawa mereka kembali ke lantai lima.

Begitu pintu lift berdenting terbuka di depan selasar kamar suite eksekutif nomor 501, suasana koridor tampak sepi. Hanya ada dua orang perawat yang bertugas di meja jaga sudut. Mirna dan Joana yang sedang duduk di kursi tunggu langsung menegakkan tubuh mereka saat melihat kedatangan Anya yang berjalan berdampingan dengan Edgard.

Mama Mirna menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar, air mata seketika kembali menggenang di pelupuk matanya yang lelah. Dia melihat tidak ada lagi tatapan mata kosong atau senyum sinis yang dingin di wajah putri bungsunya. Perisai es yang kemarin membungkus ketat tubuh Anya kini telah runtuh seutuhnya.

"Anya..." bisik Mama dengan suara yang serak, langsung melangkah maju memeluk tubuh proporsional Anya dengan kehangatan seorang ibu yang utuh.

Kali ini, Anya tidak memundurkan langkahnya. Dia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan hangat Mamanya, lalu perlahan melingkarkan kedua tangan lentiknya di punggung Mirna. "Maafkan Anya, Ma... Maaf karena Anya terlalu egois dan keras kepala selama ini," tangis Anya akhirnya kembali pecah, teredam di bahu ibunya.

Joana yang berdiri di belakang Mama ikut menangis haru, dia mendekat dan merangkul kedua orang wanita yang paling dicintainya itu dengan rasa lega yang teramat sangat. Beban rasa bersalah yang selama empat ratus hari ini mengunci keceriaan rumah mereka di Jakarta kini seolah menguap tak berbekas di bawah lampu koridor rumah sakit.

Edgard berdiri satu meter di dekat mereka, bersedekap dengan sepasang mata elangnya yang tampak berkaca-kaca menatap rekonsiliasi tiga wanita tersebut. Garis rahangnya yang tegas melunak, menyisakan kelegaan yang luar biasa di dalam dadanya. Pria itu menyadari, keputusannya untuk memaksakan proyek akhir ke Jakarta adalah satu-satunya kebenaran egois yang paling dia syukuri seumur hidupnya.

"Masuklah, Anya," bisik Joana setelah pelukan mereka terlepas, menyeka sisa air mata di pipi adiknya dengan tulus. "Papa baru saja selesai minum obat cair. Kesadarannya sedang sangat baik malam ini. Dia... dia menunggumu."

Anya menarik napas dalam-dalam, merapikan blus rajut abu-abu gelapnya yang sedikit kusut, lalu melangkah perlahan membuka pintu kayu kamar 501. Edgard berjalan tepat di belakangnya, bertindak sebagai jangkar emosional yang siap menjaganya jika kakinya kembali lemas menahan haru.

Di dalam kamar perawatan yang luas dan ber-AC dingin itu, Bramantyo sedang bersandar pada tumpukan bantal ranjang medisnya yang dinaikkan setengah. Wajah kerasnya yang dulu selalu memancarkan keangkuhan seorang konglomerat kini tampak begitu kuyu, pucat, dan ringkih. Namun, begitu sepasang mata tuanya yang layu menangkap sosok Anya berjalan masuk mendekati ranjang, binar kehidupan yang teramat terang seketika menyala di matanya.

"A-Anya... putri kecil Papa..." bisik Papa dengan suara yang sangat serak, bergetar hebat karena luapan emosi yang tidak tertahankan. Tangan kanannya yang terpasang selang infus gemetar di udara, bergerak mencoba meraih kehadiran anak bungsunya.

Anya tidak lagi berdiri mematung dalam jarak satu meter dengan melipat tangan di dada seperti kemarin. Dia berlari kecil mendekati tepi ranjang, lalu berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Anya menangkap telapak tangan kanan Papanya yang kasar dan keriput, lalu menempelkannya di pipi putih cerahnya yang kini telah basah kuyup oleh air mata yang mengalir deras.

"Iya, Pa... Ini Anya. Anya pulang, Papa..." tangis Anya pecah sejadi-jadinya di samping ranjang medis. Dia mencium punggung tangan Papanya berulang kali dengan rasa penyesalan yang mendalam. "Anya sudah membaca semua catatan harian Papa di dalam kotak mahoni... Anya minta maaf karena sudah berpikiran buruk tentang Papa selama tinggal di Surabaya. Anya egois, Pa... Anya minta maaf..."

Papa menggelengkan kepalanya yang lemah perlahan, air mata penyesalan ikut mengalir membasahi pipinya yang berkerut. Dengan sisa kekuatannya, tangan kiri Papa bergerak mengusap rambut panjang lurus Anya yang hitam legam dengan kelembutan yang selama setahun ini selalu dia bisikkan di dalam doa sepertiga malamnya.

"Papa yang salah, Anya... Papa yang bodoh karena terlalu pengecut menghadapi dewan komisaris Baskoro malam itu," bisik Papa dengan napas yang terengah-engah, suaranya sarat akan beban dosa masa lalu yang kini terangkat seutuhnya. "Papa mengirimmu ke sana bukan karena menganggapmu tidak berguna, Sayang... Papa hanya ingin melindungimu dari kelicikan bisnis mereka di Jakarta. Maafkan Papa yang tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu..."

"Enggak, Pa... Papa adalah ayah terbaik buat Anya," jawab Anya di sela isak tangisnya, mendongak menatap mata tua ayahnya dengan binar ketulisan yang selama setahun ini menghilang dari wajah cantiknya. "Anya berjanji tidak akan pernah pergi lagi. Anya akan tetap di Jakarta menemani Papa sampai Papa sembuh total."

Mendengar janji dari bibir putrinya, Bramantyo tersenyum lemah—sebuah senyuman tulus yang paling melegakan yang pernah dia rasakan seumur hidupnya. Dia melirik ke arah Edgard yang berdiri di balik punggung Anya dengan tatapan mata yang sarat akan rasa terima kasih yang teramat dalam. Papa tahu, tanpa pembelaan taktis dan pemaksaan ego dari sang CEO utama, putri bungsunya tidak akan pernah sudi melangkah kembali ke kamar ini.

Edgard mengangguk pelan ke arah Papa, memberikan janji bisu melalui sorot mata elangnya yang tajam bahwa mulai hari ini, dia yang akan berdiri di garis paling depan untuk menjadi perisai yang melindungi kebahagiaan Anya dan seluruh keluarga Bramantyo dari badai korporat mana pun di ibu kota.

1
Adinda
visualnya bule thor
Alia Chans
Jadi ingat lirik sebuah lagu nih thor🤭🤭
Irene: 😍🤭🤭 judulnya apa ya?
total 1 replies
Skyline Scribe
mampir kak
semangat nulisnya 💪
Irene: Terimakasih kak 😍
total 1 replies
Irene
😍😍😍
Irene
Semangat Anya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!