NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15 — Tumor Kedua Puluh Sembilan

Dalam dua hari, seluruh RSUD Dr. Soetomo mengetahui Surya menyatakan perasaan kepada Anindya di atap rumah sakit.

Rizki bersumpah dia tidak membocorkannya. Bayu juga tidak mengaku. Pak Hendra hanya tersenyum setiap kali Surya lewat.

"Rumah sakit ini punya kamera lebih banyak daripada harga diri kalian," kata Anindya.

"Jadi jawabanmu apa?" tanya Surya ketika mereka akhirnya sendirian.

Anindya menatapnya lama. "Aku juga mencintaimu. Justru itu masalahnya."

"Bagi saya itu bukan masalah."

"Kamu belum merasakan saat penyakit saya menjadi masalah."

Percakapan mereka terhenti karena Prof. Guntur datang untuk menilai kasus Bedah Saraf yang dirujuk. Pasien memiliki dua puluh delapan glioma kecil yang tersebar di sekitar ventrikel. Operasi tunggal berisiko merusak bahasa, gerak, dan fungsi dasar.

Prof. Guntur melihat nama Surya pada susunan tim. "Dokter umum muda ditempatkan pada sisi ventrikel kiri?"

"Dia punya ketelitian terbaik di sini," jawab Pak Hendra.

"Keberanian bukan pengganti pengalaman saraf."

Surya menahan diri untuk tidak membalas. Dia mempelajari MRI, jalur serabut putih, suplai darah, dan posisi setiap massa. Nomor satu sampai dua puluh delapan ditandai pada rekonstruksi tiga dimensi.

Sebelum hari operasi, sebuah rumah sakit pendidikan besar di Jakarta menawarkan kontrak Rp1.000.000.000 per tahun setelah mendengar rekam tindakannya.

Surya menolak.

"Akar saya ada di sini," katanya. "Saya belum selesai membangun IGD ini."

Anindya membaca surat penolakan, lalu membawa Surya ke area parkir. Sebuah Toyota Alphard baru menunggu dengan pita sederhana di kap mesin.

"Mobilmu terlalu sering mogok," katanya.

Surya menatap kendaraan itu. "Ini bukan hadiah kecil."

"Saya tidak membeli keputusanmu. Saya memastikan dokter yang ingin mencapai Level tertinggi tidak mati di jalan karena motor tua."

Surya menoleh tajam. Anindya tidak mengetahui sistem; kata level digunakan dalam arti karier, tetapi tetap membuat jantungnya melompat.

"Saya juga membeli beberapa pakaian," lanjut Anindya. "Jasmu hanya dua dan salah satunya masih punya noda yang tidak bisa hilang."

"Kalau saya menerima ini, saya terdengar seperti pria simpanan."

"Kalau menolak, kamu terdengar tidak tahu berterima kasih. Pilih yang lebih nyaman."

Surya tertawa dan menerima kuncinya.

Operasi otak dimulai keesokan pagi.

Prof. Guntur menangani sisi kanan. Surya bertanggung jawab pada ventrikel kiri dengan navigasi dan pemantauan saraf. Setiap tumor diangkat satu per satu, dihitung keras agar tidak ada yang tertinggal.

"Dua puluh enam."

"Dua puluh tujuh."

"Dua puluh delapan."

Setelah massa terakhir terangkat, pemetaan ulang menunjukkan bayangan lain di dekat batang otak.

Tumor kedua puluh sembilan.

Lebih kecil, tetapi berada di lokasi yang dapat merusak pusat napas dan jalur bahasa. Massa itu tidak jelas pada rekonstruksi awal karena tersembunyi di balik lesi lain.

Prof. Guntur menahan napas. "Terlalu dekat. Kita pertimbangkan meninggalkannya."

Pasien yang menjalani operasi sadar-terkontrol diminta menyebut nama benda pada gambar. Awalnya jawabannya tepat.

Lalu dia berkata, "Miau."

Gambar kedua.

"Miau."

Gambar ketiga.

"Miau, miau, miau."

Aktivitas bahasa memburuk. Tumor atau pembengkakan di sekitarnya mulai menekan jalur kritis.

Surya memasukkan satu Permen Keberuntungan ke mulut di balik masker sebelum kembali ke meja. Sistem menunjukkan peluang meningkat menjadi sembilan puluh sembilan persen, tetapi tetap bukan seratus.

Dia memetakan batas, menyiapkan alat, dan menunggu satu celah ketika jaringan di sekeliling massa rileks.

"Sekarang."

Tiga detik menentukan seluruh operasi.

Instrumen masuk, memisahkan dasar tumor, dan mengangkatnya tanpa menyentuh batang otak. Gerakan itu hanya tiga detik karena seluruh perencanaan telah dilakukan selama beberapa menit sebelumnya.

"Tunjukkan gambar ini," kata Surya.

Pasien menatap kartu.

"Jam tangan."

Ruang operasi membeku, lalu beberapa orang mengembuskan napas bersamaan.

Prof. Guntur memeriksa lapangan operasi. Tidak ada perdarahan baru. Monitoring saraf stabil.

"Anak muda ini tidak sederhana," katanya pelan.

Dua puluh empat jam kemudian, pasien dapat menyebut benda, mengenali keluarga, dan menggerakkan keempat anggota tubuh sesuai perintah. Ada kelemahan ringan yang masih membutuhkan rehabilitasi, tetapi gangguan "miau" tidak muncul lagi.

Prof. Guntur meminta rekaman tiga detik itu diputar berulang kali di ruang evaluasi.

"Saya mengira kamu hanya berani karena belum cukup lama melihat komplikasi," katanya kepada Surya. "Ternyata kamu menunggu sampai memiliki jalur yang dapat dipertanggungjawabkan."

"Kalau saya bergerak tanpa pemetaan, pasien bisa berhenti bernapas. Tiga detik itu berasal dari semua menit pemetaan sebelumnya, Prof."

Profesor tersebut mengangguk. "Jawaban yang benar. Banyak dokter muda ingin dikenal dari gerakan terakhir. Mereka lupa keputusan sebelum gerakan itulah yang menyelamatkan pasien."

Dia menandatangani evaluasi kompetensi Surya dan menambahkan rekomendasi agar akses pendidikan Bedah Saraf diberikan lebih luas, tetap di bawah supervisi formal.

Anindya menunggu di luar dengan dua gelas kopi.

"Prof. Guntur memujimu selama tujuh menit," katanya. "Itu mungkin lebih langka daripada dua puluh sembilan tumor."

"Kamu menghitung?"

"Saya memastikan kepalamu belum membesar. Kalau terlalu besar, nanti tidak masuk CT."

Surya menerima kopi. "Tapi kamu tetap mencintai kepala ini."

Anindya menahan senyum dan berjalan lebih dulu. "Jangan memaksa saya menyangkal di depan kamera."

Setelah operasi, satu kasus lain masuk ke Radiologi. Seorang pasien mengeluh berdebar pada perut sejak kecil. Pencitraan menunjukkan jantung ektopik berada rendah di rongga abdomen dengan susunan pembuluh yang tidak biasa.

Surya tidak langsung menjadikannya tontonan. Dia menutup akses gambar, membatasi tim, dan menyusun evaluasi Kardiologi karena pasien selama ini masih stabil. Kasus langka bukan izin menghapus privasi.

Rangkaian penyelamatan dan rasa terima kasih pasien membuat Nilai Pahala mencapai seratus persen.

『Undian tersedia.』

『Poin Atribut ×8 diperoleh.』

『Super Dopamin ×2 diperoleh.』

『Permen Keberuntungan ×1 diperoleh.』

『Detektor Medis Sekali Pakai ×2 diperoleh.』

『Penyadap Pikiran diperoleh. Durasi penggunaan: sepuluh menit.』

Total poin yang belum dibagi menjadi tiga puluh tiga. Super Dopamin menjadi delapan. Detektor Medis menjadi lima. Permen Keberuntungan kembali menjadi dua setelah satu digunakan dalam operasi.

Surya melihat Pak Hendra yang masih memeriksa rekaman pengangkatan tumor. Tanpa sengaja, pikirannya menyentuh ikon Penyadap Pikiran.

『Target terkunci. Durasi: 09:59.』

Sebuah suara yang tidak keluar dari mulut Pak Hendra terdengar di kepala Surya.

Anak ini sebenarnya punya mata tembus atau apa? Bagaimana dia melihat tumor itu?

Surya tersedak air.

Pak Hendra menoleh. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa, Pak."

Kalau sampai dia tahu saya tadi takut setengah mati, habis wibawa Bapak.

Surya menunduk agar tidak tertawa.

Di balik humor itu, panel Level 10 kembali muncul sesaat.

Penyembuhan Super.

Satu-satunya kemungkinan yang ditawarkan sistem untuk menyembuhkan Anindya.

Dan tiga puluh tiga poin yang belum dibagi masih belum cukup membawa kemampuan klinisnya mendekati puncak.

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!