Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Satu Telepon dari Ranjang Rumah Sakit
Direktur yang ingin membeli Klub Enggar tidak menelepon lagi.
Sebagai gantinya, pengacaranya datang ke ruang pertemuan RS Wira Medika membawa surat penarikan penawaran, pernyataan penghentian tekanan terhadap mitra, dan permintaan agar masalah itu tidak dibawa ke auditor eksternal.
Anindya duduk di kursi roda dengan bantal menopang bahunya. Ia baru selesai menjalani fisioterapi dan belum diizinkan pulang sampai tekanan darahnya kembali stabil.
“Klien kami mengakui pendekatan kemarin terlalu agresif,” kata pengacara itu.
“Terlalu agresif?” Anindya membaca halaman pertama. “Dia mengancam izin operasional dan membeli utang mitra kami melalui perusahaan perantara.”
“Semua tuntutan itu sudah ditarik.”
“Belum cukup.”
Pengacara itu menegang. “Apa lagi yang Anda inginkan?”
“Surat kepada tiga mitra yang dirugikan, biaya hukum mereka dibayar penuh, dan jaminan tidak ada data komersial yang dipakai setelah hari ini.”
“Saya perlu persetujuan klien.”
“Tambahkan satu hal lagi. Klien Anda tidak boleh memakai keberadaan pemilik rahasia Klub Enggar sebagai bahan rumor pasar.”
Pengacara itu menatapnya lebih cermat. “Anda berbicara seolah memiliki kewenangan penuh.”
“Pak Enggar memberi saya kuasa untuk negosiasi ini.”
“Kami bersedia menandatangani jika nama pemilik sebenarnya dicantumkan sebagai pihak pelepas tuntutan.”
“Tidak.”
“Tanpa identitas pihak yang berwenang, dokumen ini bisa dipertanyakan.”
Anindya menunjuk Enggar. “Pemegang kontrak yang tercatat berdiri di sana. Surat Anda ditujukan kepada badan usaha, bukan kepada rumor tentang seseorang. Jangan gunakan kesalahan klien untuk membeli satu informasi lagi.”
Pria itu menutup mapnya sedikit lebih keras. Ia baru memahami bahwa perempuan di kursi roda itu tak akan menukar rahasia dengan penyelesaian yang memang menjadi hak Klub Enggar.
“Telepon dia.”
Pria itu keluar ke lorong. Sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan wajah kaku dan menyetujui seluruh syarat.
Enggar menerima dokumen yang sudah ditandatangani. “Saya akan kirim ke tim legal, Bos.”
“Pastikan semua mitra menerima salinan sebelum sore.”
“Siap.”
Setelah pengacara pergi, Sisi membuka laporan operasional Klub Enggar. Tak satu pun kepala divisi mengundurkan diri selama kabar kecelakaan beredar. Beberapa pegawai bahkan menawarkan pemotongan bonus agar gudang bantuan bencana tetap berjalan.
“Mereka tahu pemiliknya masih memimpin,” ujar Sisi.
“Mereka tahu Enggar memimpin,” koreksi Anindya. “Nama saya belum boleh keluar.”
Enggar menatapnya. “Tetap saja, mereka merasakan Bos belum jatuh.”
Anindya menutup map. Kelelahan mulai menarik warna dari wajahnya. Dewa yang berdiri di pintu mengangkat jam tangan.
“Waktu kerja selesai. Tekanan darah Anda baru stabil setelah terapi.”
“Lima menit lagi.”
“Dua menit.”
Enggar tertawa pelan. “Akhirnya ada yang berani mengatur Bos.”
“Keluar sebelum saya ubah pikiran tentang bonus,” kata Anindya.
Enggar dan Sisi mengemasi berkas, tetapi Sisi menyisakan satu halaman di meja.
“Ada informasi yang Bos minta.”
Di halaman itu tercetak agenda sosial keluarga Adiwijaya. Belum ada tanggal akad atau lamaran resmi. Namun, lima minggu lagi keluarga tersebut akan menjadi penyandang dana utama malam amal bertema topeng. Sejumlah media menyebut acara itu sebagai penampilan publik pertama Arka dan Amara setelah insiden Merapi.
“Jadi pernikahannya belum ditetapkan?” tanya Anindya.
“Belum ada tanggal resmi. Bu Ratna kabarnya meminta semua persiapan ditahan sampai penyelidikan kecelakaan selesai.”
“Amara pasti tidak senang.”
“Dia memberi infotainment cerita berbeda. Katanya mereka hanya menunggu jadwal Arka.”
Dewa mengetuk pintu. Dua menit telah habis.
“Sebelum pergi,” kata Anindya kepada Sisi, “periksa semua pemasok acara malam amal. Saya tidak mau masuk memakai jalur ilegal atau memalsukan dokumen.”
“Sponsor privat boleh mengalihkan undangannya kepada satu tamu selama identitas diverifikasi panitia.”
“Gunakan jalur itu. Panitia boleh tahu identitas saya untuk keamanan, tapi nama saya tidak masuk daftar yang dilihat tamu atau media.”
“Dan pengawalan?”
“Dua orang di luar ballroom. Tidak ada yang mengikuti saya di dalam.”
Enggar tampak hendak protes.
“Saya pergi ke pesta amal, bukan operasi penyelamatan,” tambah Anindya. “Kali ini kita patuhi kapasitas ruangan dan keamanan hotel.”
Enggar akhirnya mengangguk.
Sisi pergi. Anindya kembali ke kamar perawatan singkat untuk pemantauan setelah fisioterapi. Agenda acara tetap berada di meja dekat ranjang.
Ponselnya bergetar.
Nama Arkana muncul di layar.
Anindya menatapnya sampai dering hampir berakhir, lalu menerima panggilan.
“Ya, Kapten?”
“Dokter penerbangan mengirim hasil evaluasi. Kamu belum boleh ikut penerbangan, tapi bisa mulai simulator dasar minggu depan kalau Dewa menyetujui.”
“Saya sudah membaca hasilnya.”
“Saya ingin memastikan tidak ada manajer yang menekanmu untuk kembali lebih cepat.”
“Tidak ada. Anda sendiri sudah melarang pengecualian.”
Hening singkat. “Kamu mendengarnya?”
“Saya ada di kokpit saat Anda bicara di luar.”
“Saya tidak meragukan kemampuanmu.”
“Tapi?”
“Saya melihatmu jatuh.”
Kalimat itu keluar begitu pelan hingga Anindya hampir mengira sambungan terputus.
“Setiap kali kamu masuk ke pesawat, saya melihatnya lagi.”
Jemari Anindya menyentuh tepi selimut. “Itu masalah yang perlu Anda selesaikan, Arka. Bukan alasan untuk mengambil langit dari saya.”
“Saya tahu.”
Untuk pertama kalinya, pria itu tidak membantah.
Anindya memandang agenda malam amal. “Ada satu hal lain. Pernikahan Anda dengan Amara ditetapkan kapan?”
Napas Arka terdengar jelas di ujung telepon.
“Kenapa kamu bertanya?”
“Saya ingin tahu apakah calon istri CEO akan terus masuk ke area operasi dan mengganggu kru atas nama hubungan pribadi.”
“Belum ada tanggal.”
“Karena kecelakaan?”
“Karena saya belum menyetujuinya.”
Anindya terdiam.
“Ibu dan keluarga Wicaksana membicarakan rencana itu,” lanjut Arka. “Saya tidak pernah menetapkan tanggal akad.”
“Tapi Anda memberikan apartemen saya kepadanya dan membiarkan seluruh kota memanggilnya calon istri.”
“Saya membuat kesalahan.”
“Banyak sekali.”
“Saya tahu apartemen itu bukan soal bangunan.” Suara Arka terdengar lebih berat. “Saya membiarkan Amara masuk ke tempat yang kamu bangun sebagai rumah, lalu menyebut semuanya keputusan praktis.”
“Dan pin penerbang saya?”
“Saya sudah mengambilnya kembali dari apartemen.”
“Simpan sebagai aset perusahaan, seperti kata pengacara Anda.”
“Itu bukan aset perusahaan. Saya tidak pernah memerintahkan kalimat itu dimasukkan ke daftar.”
“Tapi nama Anda ada di setiap halaman.”
Arka tak punya jawaban yang bisa membersihkan tanda tangannya.
“Nindya, saya ingin bicara tanpa telepon.”
“Tidak hari ini.”
“Kapan?”
Anindya melihat undangan malam amal di layar tablet. Topeng hitam dan emas menjadi lambang acara.
“Saat saya siap.”
Ia memutus panggilan.
Dewa masuk untuk memeriksa tekanan darahnya. “Percakapan itu tidak terdengar seperti istirahat.”
Angka pada monitor memang naik. Dewa meminta Anindya menarik napas perlahan, lalu menunggu sampai denyutnya turun sebelum melepas manset.
“Tubuh Anda belum bisa diajak berbohong,” katanya.
“Saya tidak berbohong.”
“Anda bilang percakapan itu tidak penting, tapi tekanan darah Anda berbeda pendapat.”
Anindya menatap jendela. Dewa tidak memaksanya menjelaskan. Ia hanya mencatat angka, mengubah waktu fisioterapi berikutnya, dan meletakkan segelas air dalam jangkauan tangan kiri.
“Dokter juga mendengarkan telepon pasien sekarang?”
“Hanya pasien yang suaranya naik setiap kali menyebut satu nama tertentu.”
Anindya tidak menanggapi. Ia membuka pesan baru kepada Sisi.
Siapkan satu undangan untuk malam amal itu. Jangan gunakan nama saya.
Balasan datang beberapa detik kemudian.
Siap, Bos. Identitas tamu privat, meja sponsor anonim.
Anindya mematikan layar dan bersandar. Lima minggu lagi, ia tidak akan datang sebagai mantan istri yang dibuang atau kopilot yang dikasihani.
Ia akan datang sebagai perempuan yang memilih sendiri kapan wajahnya boleh dilihat.