Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Jejak Palsu dan Kalajengking Merah
Tekanan spiritual itu menghantam seperti dinding besi yang tak kasat mata. Dedaunan di sekitar Lin Tian mengering dan hancur menjadi debu halus dalam sekejap mata. Napasnya tercekat, darah segar kembali merembes dari luka menganga di pinggangnya yang belum kering.
Ia tahu pasti, lari hanya akan memancing insting berburu monster di atas sana. Kultivator di tahap Pondasi Awal bisa mencium bau ketakutan dari jarak bermil-mil tanpa kesulitan.
Lin Tian segera menekan sirkulasi qi di dantiannya hingga titik terendah. Ia menjatuhkan tubuhnya ke dalam lumpur hitam pekat di akar pohon beringin raksasa. Bau amis tanah dan pembusukan langsung menyelimuti kulitnya, menyamarkan aroma darah manusia yang sangat menyengat.
Ia mengoleskan lumpur kental itu ke wajah dan lehernya, mengubah dirinya menjadi bagian dari hutan yang gelap dan lembap.
Suara angin malam terbelah paksa. Dua sosok mendarat di jalur setapak, tepat di tempat ketiga mayat itu terbaring kaku.
Orang pertama adalah pria tua berjubah perak dengan wajah keriput yang kaku dan kejam. Aura pedang yang tajam memancar dari setiap pori-porinya, membuat rumput di sekitarnya terpotong-potong secara acak. Itu adalah Tetua dari Sekte Pedang Perak.
Di sampingnya berdiri sosok kedua yang jauh lebih misterius. Ia mengenakan jubah hitam legam dan topeng besi tanpa fitur wajah. Tidak ada aura yang bocor dari tubuhnya, seolah ia adalah lubang hitam yang menelan cahaya di sekitarnya. Utusan langsung dari Istana Langit Hitam.
"Tiga murid inti mati dalam waktu yang bersamaan," suara Tetua itu terdengar dingin, menatap mayat yang terbelah dadanya. "Pembunuhnya tidak menggunakan teknik pedang standar sekte mana pun. Ini adalah qi liar yang sangat brutal dan tidak terlatih."
Utusan bertopeng itu berjongkok pelan, menyentuh genangan darah dengan jari telunjuknya yang pucat. Ia mendekatkan jari itu ke hidungnya, lalu mengeluarkan sebuah piringan giok berwarna putih susu. Darah di jarinya menetes ke atas piringan, langsung menguap dan membentuk asap merah tipis yang melayang ke arah selatan hutan.
"Jejaknya masih sangat segar," suara utusan itu terdengar serak seperti gesekan batu nisan. "Dia lari ke arah Lembah Ular Hijau. Kecepatannya tidak terlalu cepat, kemungkinan besar dia terluka parah akibat racun pembeku darah kita."
Lin Tian menahan napasnya di balik semak berduri. Jantungnya berdetak pelan namun sangat berat. Asap merah itu berasal dari darah yang menetes dari pedangnya saat ia membunuh pria ketiga. Ia sengaja tidak membersihkan bilah pedang itu dan melemparkannya jauh ke arah selatan sebelum bersembunyi di lumpur.
"Lembah Ular Hijau?" Tetua berjubah perak itu mendengus remeh, matanya menyipit penuh hinaan. "Bocah cacat yang bahkan belum mencapai Pengumpulan Qi tingkat dua itu pikir dia bisa selamat di sarang binatang buas? Ayo kita potong jalannya sebelum dia menjadi makanan ular."
Kedua sosok itu melesat ke udara, meninggalkan jejak cahaya perak dan hitam yang membelah kanopi hutan dengan kasar. Tekanan spiritual yang mencekik leher Lin Tian perlahan memudar, digantikan oleh suara angin malam yang dingin dan sunyi.
Lin Tian tidak langsung keluar dari persembunyiannya. Ia menunggu hingga hitungan keseribu di dalam kepalanya sebelum akhirnya menyeret tubuhnya naik dari lumpur. Otot-ototnya kaku, dan rasa dingin dari racun belati tadi mulai menjalar berbahaya ke tulang rusuknya.
Ia memuntahkan seteguk darah hitam pekat, lalu menelan pil Pemadam Api keduanya tanpa ragu.
Hawa dingin dari pil itu langsung membentur api liar di dantiannya. Kali ini, reaksinya jauh lebih keras dan menyakitkan. Lin Tian menggigit bibirnya hingga berdarah saat meridiannya terasa seperti disiram air es dan dibakar secara bersamaan.
Ia memaksa qi itu berputar mengikuti jalur sirkulasi dasar yang diajarkan Mo Cang sebelum pria tua itu tewas.
Satu putaran. Dua putaran. Tiga putaran.
Keringat bercampur lumpur menetes dari pelipisnya, jatuh membasahi tanah yang lembap. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca, memaksa paru-parunya bekerja lebih keras untuk menyaring qi alam yang tipis di dalam hutan ini.
Lin Tian membayangkan aliran sungai bawah tanah yang pernah ia lihat bersama Kakek Mo, membiarkan energi itu mengalir tanpa hambatan, mengikis sumbatan-sumbatan kecil di meridiannya yang baru terbuka.
Qi liar yang sebelumnya menabrak-nabrak dinding pembuluh darahnya perlahan mulai jinak, mengalir membentuk siklus yang stabil. Rasa sakit di pinggang dan bahunya memudar dengan cepat, digantikan oleh rasa gatal yang menandakan dagingnya sedang menyatu kembali.
Lin Tian membuka matanya lebar-lebar. Pupil matanya kini lebih tajam, memantulkan cahaya bulan yang menembus celah dedaunan. Ia telah resmi melangkah ke tahap Pengumpulan Qi tingkat dua. Tidak ada lonjakan kekuatan yang dramatis, hanya fondasi yang akhirnya kokoh dan siap dibangun.
Ia membersihkan lumpur di tubuhnya dengan air dari kendi salah satu mayat, lalu mengenakan jubah luar milik pria pertama yang ukurannya sedikit lebih besar. Jubah perak itu akan membantunya menyamar di antara kerumunan peserta ujian nanti.
Kompas perunggu yang rusak ia tinggalkan di dekat mayat pria ketiga. Benda itu sudah tidak berguna dan justru akan menjadi jebakan fatal jika utusan Istana Langit Hitam kembali melacaknya.
Lin Tian melangkah ke arah utara, menjauhi Lembah Ular Hijau. Token ujian di sakunya bergetar pelan, bereaksi terhadap qi yang kini mengalir stabil di tubuhnya. Lempengan besi itu memancarkan cahaya samar, membentuk panah tipis yang menunjuk ke arah puncak Gunung Awan di ujung hutan.
Perjalanan malam itu sunyi dan melelahkan. Lin Tian menghindari jalan utama, memilih memanjat tebing terjal dan menyusuri dahan pohon untuk menghindari patroli sekte. Setiap langkahnya dihitung dengan cermat, tidak ada energi yang terbuang sia-sia.
Ia bukan lagi bocah yang berlari panik menyelamatkan diri. Ia adalah pemburu yang sedang mengintai mangsanya.
Menjelang fajar, kabut tebal mulai turun menyelimuti kaki Gunung Awan. Suara gemericik air terjun terdengar samar, diiringi oleh dengungan rendah yang menggetarkan tulang dada.
Lin Tian berhenti di balik batu besar, menatap ke bawah dengan napas yang tertahan.
Di lembah luas di bawah sana, sebuah alun-alun batu putih raksasa telah dibangun. Ratusan tenda berjajar rapi, dipenuhi oleh ribuan pemuda dan pemudi dari berbagai kota yang sedang mengantre.
Di langit di atas alun-alun, tiga kapal terbang kayu seukuran gunung kecil melayang diam, memancarkan aura formasi pelindung yang membuat udara bergetar hebat.
Ujian Seleksi Sekte Pedang Perak telah dimulai.
Lin Tian menghela napas panjang, mempersiapkan diri untuk turun dan bergabung dengan kerumunan. Namun, tepat saat kakinya hendak melangkah keluar dari balik batu, sebuah suara ringan terdengar dari atas kepalanya.
"Kau pikir lumpur dan darah binatang bisa menipu hiduku, Tikus Kecil?"
Lin Tian membeku di tempat. Darahnya seolah berhenti mengalir dalam sekejap.
Ia perlahan mendongak. Duduk di dahan pohon tepat di atas kepalanya, seorang pemuda berjubah putih bersih sedang menggoyang-goyangkan kakinya dengan santai. Pemuda itu memegang kipas lipat bertulang giok, menatap Lin Tian dengan senyuman yang membuat bulu kuduk berdiri.
Di leher pemuda itu, terdapat tato kalajengking merah yang merayap hingga ke rahangnya.
Pemuda itu melompat turun, mendarat tanpa menimbulkan suara sedikit pun, seolah gravitasi tidak berlaku baginya. Ia mengibaskan jubah putihnya yang tidak ternoda oleh debu hutan, lalu menatap Lin Tian dengan tatapan yang sama seperti seseorang yang sedang menatap bangkai tikus di selokan.
Tangan kanannya perlahan terangkat, dan qi berwarna merah darah mulai mengembun di ujung jari-jarinya, membentuk cakar tak kasat mata yang merobek udara di sekitar mereka.
"Tetua Sekte Pedang Perak memang bodoh, tapi anjing-anjing Istana Langit Hitam tidak pernah salah melacak," bisik pemuda itu, menutup kipasnya dengan suara tak yang nyaring di keheningan pagi. "Serahkan kepalamu, dan aku akan membiarkan jiwamu tetap utuh."
Lin Tian tidak menjawab. Ia perlahan menggeser kaki kirinya ke belakang, mencengkeram gagang pedang beracunnya yang masih berlumuran darah kering. Qi hitam di dantiannya kembali mendidih, merespons ancaman mematikan di depannya.