Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.
"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Malam itu, Putri Li Yuexin tidak tidur.
Di balik tirai kamarnya yang tertutup rapat, ia duduk di dekat lampu minyak kecil, membuka gulungan medis yang diselamatkan dari perpustakaan. Cahaya api yang berkedip-kedip menerangi tulisan-tulisan halus tinta hitam di atas kertas kuning tua.
Isinya adalah catatan pemeriksaan jenazah dan resep obat untuk Selir Liu, ibu dari Pangeran Kedua, yang meninggal mendadak lima tahun lalu. Secara resmi, penyebab kematiannya adalah "gagal jantung akibat kelelahan". Namun, catatan tabib muda yang saat itu masih junior, seorang pria bernama Tabib Wen yang kini sudah hilang tanpa jejak, menulis sesuatu yang berbeda di bagian bawah halaman dengan huruf yang sangat kecil dan miring.
"Nadi korban menunjukkan tanda keracunan arsenik kronis dosis rendah. Gejala mirip kelelahan, namun terdapat residu logam berat di kuku dan rambut. Sumber racun diduga berasal dari dupa harian atau teh tonik."
Putri Li Yuexin memejamkan mata sejenak, mencerna informasi itu. Arsenik kronis, racun yang bekerja perlahan, membuat korban terlihat sakit-sakitan sebelum akhirnya mati secara "alami". Metode yang sama persis digunakan padanya di kehidupan sebelumnya.
"Selir Rong..." gumam Putri Li Yuexin pelan. Namanya terasa seperti racun di lidahnya.
Dia melipat kembali gulungan itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam kotak rahasia di bawah lantai kamarnya, tempat hanya dia dan Qingyu yang tahu. Bukti ini belum bisa digunakan sekarang.
Jika dia mengungkapkannya tiba-tiba, Selir Rong akan menyangkal dan menuduh Putri Li Yuexin memalsukan dokumen. Dia butuh lebih banyak bukti pendukung, dan dia butuh waktu untuk menjebak Selir Rong agar melakukan kesalahan lagi.
Untuk sekarang, dia harus fokus pada target yang lebih dekat yaitu Lin Meirong.
Keesokan harinya,
Cuaca cerah dengan langit biru tanpa awan, angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga magnolia dari taman istana. Ini adalah hari yang sempurna untuk "kebetulan" bertemu.
Putri Li Yuexin mengenakan hanfu berwarna hijau pucat dengan sulaman daun bambu, memberikan kesan segar dan tidak berbahaya. Dia berjalan menuju Taman Teratai, tempat yang sering dikunjungi oleh para wanita muda istana untuk bersantai dan melukis pemandangan.
Seperti yang diperkirakan, Lin Meirong sudah ada di sana.
Gadis itu duduk di paviliun tepi kolam, dikelilingi oleh tiga atau empat gadis bangsawan tingkat rendah. Lin Meirong sedang memainkan pipa (alat musik petik), lagunya lembut dan menyayat hati. Wajahnya yang cantik alami, tanpa makeup berlebihan, membuatnya tampak murni dan rapuh, persis seperti yang diinginkan Gu Wenhao.
Saat Putri Li Yuexin mendekat, permainan pipa berhenti. Lin Meirong segera berdiri, wajahnya berubah menjadi ekspresi bahagia yang berlebihan.
"Tuanku Putri!" seru Lin Meirong, berlari kecil mendekati Putri Li Yuexin dan membungkuk hormat dalam-dalam. "Hamba tidak menyangka Putri akan datang ke sini. Hamba baru saja memainkan lagu 'Musim Semi di Jiangnan' untuk teman-teman."
Putri Li Yuexin tersenyum. Senyum yang hangat, ramah, dan sama sekali tidak mencerminkan dinginnya hati. "Permainanmu semakin baik, Meirong. Aku bisa mendengar nada kesedihan di dalamnya. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?"
Ini adalah jebakan perkataan. Di kehidupan sebelumnya, Putri Li Yuexin akan bertanya dengan khawatir, memberi ruang bagi Lin Meirong untuk bercerita tentang "kesulitan hidupnya" dan memancing simpati.
Tapi kali ini, pertanyaan itu dilontarkan dengan nada santai, seolah-olah hanya basa-basi sosial.
Lin Meirong sedikit tergagap. Dia mengharapkan kekhawatiran tulus, bukan pengamatan yang dingin. "Ah... tidak, Putri. Hamba hanya... merindukan kampung halaman. Itu saja."
"Memahami rindu adalah hal yang manusiawi," kata Putri Li Yuexin sambil duduk di kursi utama paviliun. Dia menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada Qingyu untuk menyiapkan teh. "Duduklah, Meirong. Mari kita minum teh bersama. Aku membawa kue kacang merah favoritmu."
Lin Meirong duduk dengan ragu-ragu. Matanya sesekali melirik ke arah tas kain di samping Putri Li Yuexin, tempat kue itu berada.
Di kehidupan sebelumnya, kue-kue dari Putri Li Yuexin selalu dia terima dengan gembira, bahkan sering dia bawa pulang untuk keluarganya. Qingyu menuangkan teh ke dalam cawan kecil. Aroma teh melati yang harum menyebar di udara.
Putri Li Yuexin mengambil satu kue kacang merah, lalu menawarkannya kepada Lin Meirong. "Cobalah. Dapur istana baru belajar resep ini dari daerah selatan. Rasanya manis, tapi tidak terlalu legit."
Lin Meirong mengambil kue itu. Tangannya gemetar sedikit. "Terima kasih, Putri. Putri selalu begitu baik pada hamba."
"Karena kau sahabatku," jawab Putri Li Yuexin datar. Matanya menatap lurus ke mata Lin Meirong. "Dan seorang sahabat seharusnya jujur, bukan?"
Udara di pavilion tiba-tiba terasa membeku. Gadis-gadis lain yang hadir saling berpandang, sensing bahwa ada ketegangan yang tak terlihat.
Lin Meirong menelan ludah. "Jujur... dalam hal apa, Putri?"
Putri Li Yuexin tersenyum tipis. Dia mengambil cawan tehnya, meniup uapnya pelan. "Kemarin sore, aku melihat seseorang yang sangat mirip dengan ayahmu di dekat Gerbang Barat. Dia terlihat sangat bahagia menerima bungkusan dari seorang pria muda. Aku penasaran, apakah keluarga Lin sudah pulih keuangannya? Jika ya, aku sangat senang. Aku tidak ingin sahabatku merasa terhutang budi padaku selamanya."
Wajah Lin Meirong memucat. Darah seolah surut dari wajahnya. Bungkusan dari Gu Wenhao. Putri Li Yuexin tahu? Seberapa banyak yang dia tahu?
"N-Nona mungkin salah lihat," Lin Meirong menjawab dengan gagap, suaranya bergetar. "Ayah hamba sudah lama meninggal, orang itu mungkin hanya mirip."
"Benarkah?" tanya Putri Li Yuexin polos, meski matanya tajam seperti elang. "Aneh. Karena orang itu juga memiliki cara berjalan yang pincang sedikit di kaki kiri, persis seperti lukamu saat kecil yang pernah kau ceritakan padaku. Atau mungkin... itu bukan ayahmu, tapi seseorang yang sangat penting bagimu?"
Lin Meirong keringat dingin mengalir di punggungnya. Dia terjepit. Jika dia mengakui itu ayahnya, berarti dia berbohong tentang kematian ayahnya untuk mendapatkan simpati. Jika dia menyangkal, Putri Li Yuexin sudah menyebut ciri fisik yang sangat tepat.
"Aku hanya bercanda, Meirong," kata Putri Li Yuexin tiba-tiba, tertawa ringan. Tawa yang renyah dan terdengar tidak bersalah. "Lihat wajahmu, pucat sekali. Kau mudah sekali panik. Mungkin kau kurang tidur? Atau... ada rahasia yang membebanimu?"
Lin Meirong tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menunduk, memegang kue kacang merah itu erat-erat hingga remuk.
Putri Li Yuexin berdiri. "Aku harus pergi. Ibu Permaisuri memanggilku untuk belajar mengatur anggaran rumah tangga. Oh, ya..." Dia berhenti sejenak, menoleh ke belakang. "Jangan makan kue itu sekarang, Meirong. Kacang merahnya agak keras. Lebih baik kau bawa pulang saja. Sebagai kenang-kenangan persahabatan kita."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan penekanan khusus. Kenang-kenangan.
Putri Li Yuexin berjalan pergi, meninggalkan Lin Meirong yang gemetar di paviliun. Gadis-gadis lain mulai bergosip pelan, memandang Lin Meirong dengan curiga. Reputasi "gadis murni dan malang" Lin Meirong baru saja retak sedikit. Hanya sedikit, tapi cukup untuk menanam benih keraguan.
Di tengah jalan kembali ke Istana Bulan Giok, Putri Li Yuexin bertemu dengan Qingyu yang sudah menunggu di persimpangan.
"Bagaimana, Nona?" tanya Qingyu pelan.
"Dia panik," jawab Putri Li Yuexin singkat. "Sekarang dia akan melaporkan ini pada Gu Wenhao. Mereka akan berpikir aku hanya curiga, belum punya bukti. Mereka akan mencoba menutupi jejak lebih rapat, dan dalam kepanikan, mereka akan membuat kesalahan."
"Apakah Nona tidak takut mereka akan menyerang balik?"
Putri Li Yuexin tersenyum dingin. Angin memainkan helai rambutnya. "Biarkan mereka mencoba. Setiap serangan mereka adalah celah baru bagiku. Ingat, Qingyu, musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang menyerang dengan pedang, melainkan mereka yang tersenyum sambil menusuk dari belakang. Tapi kali ini... akulah yang memegang pisau di balik senyuman."
Mereka melanjutkan perjalanan. Di kejauhan, lonceng istana berbunyi, menandakan waktu makan siang.
Putri Li Yuexin yang merasa lapar. Bukan lapar akan makanan, tapi lapar akan keadilan. Dan dia tahu, pesta balas dendamnya baru saja dimulai.