Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diantara tuduhan dan fakta yang nyata
Tanpa buang waktu sedetik pun, aku berlari kembali ke rumah sakit. Langkahku cepat dan bergetar menyusuri lorong yang terasa tak berujung. Di depan ruangan Aslan, aku membuka pintu agak keras — napasku tersendat melihat adikku masih meringis hebat, menahan rasa sakit yang tak tertahankan. Kaki terasa lemas mendekati ranjang, hatiku perih melihatnya menderita seperti ini, tapi aku tak boleh diam saja. Segera berbalik dan berlari menuju bagian pendaftaran.
Di sana dua petugas duduk tenang di balik meja. Jantungku berdegup kencang saat mendekat, suaraku tercekat di tenggorokan: “Permisi… mau tanya, apakah biaya operasi Aslan sudah lunas?”
Mereka saling pandang sekilas, lalu menggelengkan kepala serempak. “Maaf Nona, belum ada pembayaran masuk.”
Seketika dadaku makin sesak dan berat, seolah tertimpa batu besar. Aku menggigit bibir kuat-kuat menahan kecewa yang menyerang dari segala arah. Berbalik perlahan, langkahku terhuyung, bergumam pelan yang hanya bisa kudengar sendiri: “Apakah dia menipuku? Tidak mungkin… lalu apa yang harus kulakukan?”
Aku hanya berdiri terpaku di tengah lorong yang ramai itu dengan pikiran yang kembali kacau. Tiba-tiba ada seseorang yang berhenti berdiri tepat di hadapanku. Rambutnya berwarna hitam pekat yang tampak berkilau terkena cahaya lampu, disisir dengan sangat rapi namun tidak terasa kaku. Tubuhnya tinggi dan tegap, mengenakan setelan jas hitam yang sangat pas menyesuaikan bentuk tubuhnya, dengan kemeja putih bersih dan dasi yang senada — penampilannya terlihat sangat berkelas dan berwibawa. Garis rahangnya terlihat tegas, sepasang matanya tajam dan dingin seolah mampu melihat apa saja yang ada di dalam pikiran seseorang. Di bagian sisi lehernya terlihat sebuah tato dengan corak yang rumit berwarna gelap; hal itu semakin memperjelas bahwa orang yang berdiri di hadapanku ini bukanlah orang sembarangan.
“Permisi, Nona Zara?” tanyanya sopan namun tegas, tanpa keraguan sedikit pun.
“Benar, saya,” jawabku heran, mundur selangkah. Siapa dia? Kenapa tahu namaku?
“Saya Yamal, sekretaris pribadi Tuan Adrian Romanov. Saya datang untuk melunasi seluruh biaya pengobatan dan operasi adik Anda — tak perlu cemas lagi.”
Ia berbalik menuju meja pendaftaran, suaranya tenang dan berwibawa: “Ini pelunasan semua biaya perawatan Aslan sampai operasi selesai dan kondisinya stabil. Pindahkan segera ke ruang rawat kelas satu.”
Setelah urusan selesai dengan cepat dan rapi, ia kembali menghadapku. “Tuan Adrian berpesan: bersiap besok pagi. Saya jemput tepat waktu ke kantor urusan agama untuk menikah sesuai perjanjian.”
Tak terlalu kaget mendengarnya, hanya diam mematung — seluruh perhatianku tertuju pada satu hal saja: Aslan aman sekarang. Tanpa menunggu jawabanku, Yamal berbalik pergi meninggalkanku sendirian di lorong yang kini terasa jauh lebih ringan.
Mataku terpaku tak berkedip pada pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Kedua tanganku saling meremas erat satu sama lain, sementara hatiku tak henti-hentinya berdoa sepenuh jiwa. Enam jam yang berlalu terasa seperti berabad-abad lamanya di tengah keheningan yang terasa menekan dada. Hingga akhirnya pintu itu terbuka perlahan dari dalam, dan dokter beserta tim medis keluar dengan raut wajah yang tampak lega.
“Syukurlah, operasi berjalan dengan sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun,” ucap dokter itu dengan nada yang meyakinkan hatiku. “Adikmu akan segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Ia masih akan terbaring dalam keadaan koma untuk beberapa waktu — hal itu wajar terjadi agar tubuhnya bisa beristirahat sepenuhnya dan memulihkan tenaganya. Saat ini kondisinya sudah stabil, kita hanya tinggal menunggu waktu sampai ia sadar kembali secara alami.”
Setelah menyampaikan hal itu, dokter dan timnya pun berpamitan pergi untuk melanjutkan tugas mereka. Tak lama kemudian, tandu tempat Aslan berbaring didorong keluar perlahan. Banyak selang dan alat pemantau yang menempel pada tubuh kecilnya, lalu ia dibawa masuk ke dalam ruang ICU yang luas. Aku sempat tertegun memandang ke sekeliling — ruangan itu tampak sangat luas, bersih, dan dilengkapi dengan peralatan yang terlihat sangat canggih serta mewah. Bahkan tersedia ruang istirahat terpisah untuk keluarga, meski saat ini aku belum diizinkan masuk untuk menjenguknya.
Seorang perawat mendekat kepadaku dengan sopan. “Mohon maaf Nona, untuk saat ini kunjungan dilarang. Daya tahan tubuh pasien masih sangat lemah, dan kami harus menjaganya dari segala kemungkinan kuman demi keselamatan dan pemulihannya. Kami akan segera memberitahu Nona begitu perawatannya sudah diperbolehkan.”
Aku pun kembali duduk diam di bangku panjang yang ada tepat di depan pintu ruangan itu, mataku hanya menatap dinding kosong di hadapanku. Langit di luar jendela perlahan berubah menjadi gelap, aku tak lagi tahu sudah berapa jam lamanya aku duduk diam di sana sendirian. Hingga tiba-tiba pesan yang disampaikan Yamal tadi pagi terlintas kembali di benakku: Besok pagi kau harus bersiap untuk melangsungkan pernikahan…
Keheningan kembali menyelimuti. Bangkit perlahan, mendekat ke kaca kecil di pintu ICU. Melihat Aslan terbaring lemah namun tenang di dalam sana, air mata jatuh membasahi pipi tanpa izin. Senyum tipis getir tersungging di bibirku, bergumam pelan pada Ayah dan Ibu di atas sana: “Ayah, Ibu… lihatlah. Aku selamatkan Aslan seperti yang kalian inginkan. Tak perlu cemas lagi. Selama aku masih bernapas, takkan biarkan hal buruk menimpanya.”
Beban berat di dadaku terangkat sedikit. Menunduk penuh syukur yang tulus: “Terima kasih… terima kasih telah mendengar doaku dan menyelamatkan adikku.”
Pagi hari tiba, suara kicauan burung terdengar riang bersahutan dari pepohonan di luar, sesekali tercampur dengan suara klakson kendaraan yang lewat di jalan raya. Di dalam ruang perawatan itu, Aslan masih terbaring dengan tenang, belum terlihat ada tanda-tanda ia akan segera sadar. Aku sempat membersihkan diriku sejenak, namun karena tidak memiliki pakaian ganti yang lain, aku terpaksa tetap mengenakan pakaian yang sama — yang tampak lusuh, kusam, dan masih terlihat bekas kotoran di sana-sini.
Tiba-tiba perutku berbunyi cukup nyaring, mengingatkanku bahwa sudah hampir dua hari ini aku nyaris tidak memasukkan makanan apa pun ke dalam perutku. Tanganku merogoh saku baju, hanya menemukan selembar uang kertas kecil yang terlipat rapi di sana. Rasa lapar terasa semakin menyengat, dan tiba-tiba aku teringat kembali akan botol ramuan pemberian Ibu yang belum sempat kuminum sejak lama.
Aku pun menyusuri lorong rumah sakit hingga sampai ke pintu keluar, berjalan mencari warung makan kecil yang terjangkau. Di sana aku membeli sebungkus nasi sederhana dan sebotol air minum. Sepanjang perjalanan kembali, masih ada saja orang-orang yang melirikku dengan pandangan yang tidak menyenangkan, namun entah mengapa aku sudah mulai terbiasa — bahkan sejak kami masih tinggal di desa, pandangan seperti itu sudah sering kulihat dari orang-orang sekitar. Namun saat aku hendak melangkah kembali menuju rumah sakit, kakiku tiba-tiba terhenti. Di depanku, sebuah restoran yang tidak jauh dari sini terlihat sedang ricuh — sekumpulan orang berkumpul memenuhi halaman depannya. Aku hanya berdiri agak menjauh, kedua tanganku meremas erat kantung plastik berisi makanan itu dengan rasa cemas.
Ternyata wanita pemilik restoran yang dulu pernah memaki dan menginjak makananku itu sedang berdiri di sana dengan wajah yang memerah karena amarah. Di belakangnya berjejer rapi seluruh karyawan laki-laki maupun perempuan, beserta petugas keamanan tempat itu. Ia berteriak dengan suara yang sangat keras, meluapkan segala kemarahannya kepada mereka:
“Bagaimana barang berharga bisa hilang tanpa ada yang menyadarinya?! Begitu caranya kalian bekerja? Gaji kalian untuk menjaga tempat ini dengan baik, tapi apa hasilnya? Dasar tidak berguna! Semua kalian tak berguna!”
Saat matanya menangkapku dari kejauhan, ia segera berjalan cepat mendekat penuh kebencian yang tak bisa disembunyikan. Hatiku tak tenang, mencoba berbalik pergi — tapi sudah terlambat. Suaranya lantang memecah keheningan pagi:
“Hei kau! Berhenti di situ!”
Ia segera berdiri tepat di hadapanku, dan tanpa aba-aba tangannya terayun keras — terdengar suara nyaring saat tamparan itu mendarat tepat di pipi kananku.
“Ini semua gara-gara kau yang sial ini! Sejak kau datang tak ada hal baik yang terjadi!” jarinya menunjuk wajahku dengan kasar, matanya melotot penuh kebencian.
Aku menekan pipi yang terasa panas dan perih, mata berkaca-kaca menahan sakit hati yang mendalam. Bingung dan sedih — kenapa begitu banyak orang membenciku padahal aku tak pernah mengganggu siapa pun? Tak punya apa-apa, tak bisa membela diri, hanya bisa menerima dengan pasrah. Orang-orang berkerumun rapat menonton seolah ini hiburan pagi mereka.
Di tengah keramaian, bisik seorang pegawai wanita yang kaget terdengar jelas di telingaku: “Bukan itu gadis yang adiknya sakit parah butuh biaya besar?”
“Iya, aku juga dengar itu,” sahut temannya dengan nada menghina. “Dapat uang entah dari mana? Percuma habiskan untuk nyawa yang cuma jadi beban seumur hidup. Kalau aku, takkan susah payah begitu.”
Mendengar itu, pemilik restoran diam sejenak, menatapku dengan curiga penuh prasangka buruk. “Jangan-jangan kau bersekongkol dengan perampok itu ya? Masih dendam padaku, makanya berani berbuat jahat bersamanya!”
“Tidak! Tak melakukan itu, tak pernah mencuri apa pun, percayalah!” aku mengangkat kedua tangan menolak dengan panik, kepala menggeleng kuat-kuat memohon jangan menuduh sembarangan.
“Kalau tak bersalah, jelaskan dari mana kau dapat uang sebanyak itu dalam semalam?! Jawab sekarang! Atau kau menjual dirimu? Padahal penampilan lusuh begini, mana ada yang mau beli!”
Ia segera menyambar paksa kantung plastik yang sedari tadi kugenggam erat di tanganku. “Tolong jangan, kembalikan padaku!” aku berusaha menahannya sekuat tenaga, namun kekuatannya jauh lebih besar daripada diriku. Ia mendorong tubuhku dengan sangat keras hingga aku terjatuh tersungkur di atas permukaan jalan yang keras dan kasar. Telapak tanganku tergores tajam hingga terasa perih dan lecet. Kantung itu direbut dariku, lalu dibanting keras ke tanah, sebelum akhirnya diinjak-injak berkali-kali hingga seluruh isinya lumat dan tercampur debu.
Air mata yang sedari tadi kutahan sekuat tenaga akhirnya tumpah deras membasahi kedua pipiku. Aku mencoba menyekanya dengan punggung tanganku yang kini mulai mengeluarkan darah, namun rasanya aku tak lagi sanggup menahan segala kesedihan yang meluap-luap di dadaku.
Namun belum sempat aku bangkit berdiri, ia kembali menginjak telapak tanganku yang terluka itu dengan sepatu hak tingginya — dengan tekanan yang sangat kuat hingga terasa nyeri sekali. Aku merasakan rasa sakit yang tajam menyelimuti seluruh tubuhku, berusaha menarik tanganku menjauh, namun ia justru menekannya semakin keras seolah tak ingin memberiku sedikit pun ruang untuk bernapas. Tubuhku gemetar hebat menahan rasa sakit yang tak terlukiskan, sementara air mataku terus mengalir tanpa henti di atas permukaan jalan yang kasar dan penuh debu. Tak ada satu pun di antara kerumunan orang itu yang berani menolongku — mereka hanya berdiri diam menatap dengan tatapan campur aduk, seolah aku hanyalah pertunjukan murahan yang layak ditonton tanpa belas kasih sedikit pun.