Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Petir dan Ikatan Darah
Perlahan-lahan, sepasang kelopak mata pemuda itu terbuka, memancarkan kilatan
cahaya emas tipis yang sangat tajam di dalam kegelapan goa batu yang sunyi.
"Manusia kecil... aku bisa merasakan pendaran energi kontrak setara itu telah
terbentuk sempurna di dalam lautan jiwamu," suara dengungan lemah Kirin raksasa
kembali terdengar langsung di dalam kepala Luo Chen melalui transmisi jiwa.
"Jiwa kita telah terhubung sejenak, dan aku tahu kau akan memegang janjimu dengan
tulus."
"Saya berjanji, Tuan Kirin. Saya telah menguasai Seni Ikatan Harmoni Jiwa,"
sahut Luo Chen merangkak mendekat, menatap wajah Kirin raksasa yang kini
sisik-sisiknya mulai meredup kehilangan kilau cahayanya. "Saya akan merawat anak
Anda sebagai saudara jiwa saya sendiri. Dia tidak akan pernah menjadi budak
manusia."
Satu embusan napas panjang yang sangat lemah keluar dari hidung Kirin raksasa
tersebut, menyebarkan sisa-sisa kehangatan terakhir di dalam goa yang dingin. Ia
menggunakan ujung moncongnya untuk mendorong sebuah kotak batu abu-abu kecil
berukir kuno yang sejak tadi disembunyikannya di bawah tumpukan rumput spiritual
kering.
"Ambil kotak ini. Di dalamnya terdapat satu-satunya warisan yang tersisa dari
ras kunoku, termasuk sebuah Cincin Ruang kelas Langit yang belum terikat," bisik
suara Kirin tersebut untuk terakhir kalinya di dalam kepala Luo Chen sebelum
matanya yang besar perlahan-lahan terpejam sepenuhnya.
Butiran cahaya emas murni berukuran jutaan bintik kecil mendadak melesat keluar
dari seluruh permukaan tubuh Kirin raksasa tersebut, menerangi langit-langit goa
batu bagai hamparan bintang malam yang berkilauan. Jasad binatang spiritual kuno
itu melarutkan dirinya sendiri sepenuhnya menjadi energi spiritual murni bumi,
menyatu kembali dengan alam agar sisa-sisa tubuhnya tidak bisa dijarah oleh para
praktisi sekte yang serakah di luar sana.
Di atas tanah goa yang kini kosong, menyisakan kotak batu abu-abu kecil dan bayi
Kirin yang terus mengeluarkan suara mencicit parau seraya mengendus tumpukan
pasir tempat ibunya baru saja memudar.
"Cincin Ruang kelas Langit ini memiliki kapasitas ruang penyimpanan yang sangat
luar biasa luas," batin Luo Chen membuka kotak batu tersebut dan
mengambil sebuah cincin perak berukir pola awan emas dari dalamnya. "Aku harus
segera mengikat cincin ini menggunakan setetes darahku agar tidak bisa diakses
oleh orang lain."
Dengan mengalirkan sedikit energi fisik tahap keempat ke ujung jari telunjuknya,
ia menekan permukaan cincin perak tersebut hingga setetes darah merah segar
terserap habis ke dalam logamnya.
"Ratusan batu roh kualitas rendah di dalam Kantong Semesta kelas Langit ini...
jumlahnya sangat melimpah," batinnya memeriksa isi dimensi penyimpanan di
dalam cincin tersebut yang kini telah terhubung dengan kesadarannya. "Ini jauh
lebih dari cukup untuk membayar lempengan kuningan kuno milik pedagang tua
misterius itu esok hari, sekaligus membeli persediaan bahan alkimia dasar
di kota."
Sambil meraba gulungan slip giok kuno berwarna biru tua yang juga tersimpan di
dalam cincin tersebut, ia menyalurkan sedikit energinya untuk membaca barisan
aksara yang terpahat di permukaannya.
"Langkah Petir... sebuah teknik mobilitas gerak cepat kelas Bumi," batin Luo
Chen mempelajari sirkulasi energi yang tergambar di dalam slip giok
tersebut. "Teknik gerakan kaki ini memanfaatkan pelepasan energi fisik secara
eksplosif dari otot paha dan betis, memicu percikan energi Qi putih yang bisa
membuat tubuh melesat instan layaknya kilat. Ini adalah teknik melarikan diri
dan menyerang yang sangat taktis."
Sambil mengenakan jubah biru tua berpola sulaman emas yang juga ditemukannya di
dalam cincin ruang tersebut, Luo Chen melangkah mendekati bayi Kirin kecil yang
masih terduduk lemas di atas tumpukan pasir. Jubah mewah tersebut melekat sangat
pas pada postur tubuh fisiknya yang kini tampak tegap dan gagah setelah
menerobos ke tahap keempat.
"Mulai hari ini, namamu adalah Xiao Lin," ujar Luo Chen berlutut dan
mengulurkan telapak tangan kanannya yang bersih ke hadapan anak Kirin tersebut.
"Kita adalah saudara jiwa. Aku akan melindungimu, dan kau akan membantuku tumbuh
menjadi lebih kuat."
Satu tetes darah segar dikeluarkan dari ujung jari Luo Chen, melayang di udara
sebelum menyatu dengan setetes darah merah keemasan dari dahi bayi Kirin
tersebut melalui perantara "Seni Ikatan Harmoni Jiwa". Kilatan cahaya emas tipis
berbentuk simbol pusaran spiritual mendadak terbentuk di antara mereka, sebelum
akhirnya membelah diri menjadi dua bagian dan masuk mengunci ke dalam kening
mereka masing-masing sebagai segel persaudaraan jiwa yang murni.
Suara mencicit parau yang gembira terdengar dari mulut Xiao Lin melompat
ringan ke atas pundak kanan Luo Chen, menggosokkan kepala kecilnya yang berbulu
emas ke pipi pemuda tersebut dengan sangat akrab.
"Bahaya datang dari arah sela-sela batu tebing goa," batin Luo Chen saat
merasakan adanya getaran langkah kaki yang sangat cepat dan berisik dari arah
kegelapan celah batu di belakang mereka. "Aroma residu energi spiritual emas
dari kematian induk Kirin tadi sepertinya telah memancing kedatangan hewan liar
di dalam goa ini."
Dari sela-sela celah batu yang gelap, belasan tikus gua liar berukuran sebesar
kucing dewasa dengan mata merah menyala dan sepasang gigi taring kuning yang
tajam melompat keluar secara bersamaan, mengincar tubuh Xiao Lin yang berada di
atas pundak Luo Chen.
"Akan ku gunakan Langkah Petir untuk menguji kecepatan gerak fisikku yang baru!" batin
Luo Chen menurunkan tubuhnya dalam posisi kuda-kuda rendah.
Satu sentakan kaki Luo Chen ke atas lantai batu goa memicu pelepasan energi
fisik secara eksplosif dari otot betisnya, melepaskan "Langkah Petir". Percikan
cahaya putih keperakan setebal beberapa milimeter mendadak meledak di sekitar
pergelangan kakinya, membuat tubuhnya melesat instan sejauh tiga meter ke
samping layaknya kilatan petir malam, menghindari terkaman belasan tikus gua
liar dengan sangat mudah.
Hantaman telak kepalan tangan kanan dari "Tinju Dasar klan Luo" tahap keempat
mendarat lurus ke arah kepala tikus gua terbesar yang memimpin kawanan tersebut.
Benturan keras itu seketika meremukkan tengkorak kepala hewan liar itu hingga
hancur berantakan di atas lantai batu, menyebarkan noda darah hitam ke
sekeliling area pertarungan.
"Gerakan Langkah Petir ini benar-benar sangat cepat, tetapi konsumsi energi
fisiknya hampir menghabiskan sepertiga dari total tenagaku," batin Luo Chen
kembali melesat cepat menghindari gigitan tikus kedua menggunakan gerakan
zigzag instan yang berliku tajam. "Aku harus meminimalkan penggunaan energi kaki
ini dan menyelesaikan pertarungan menggunakan pukulan fisik biasa."
Dengan satu kibasan parang panjang peninggalan pemburu A-Biao yang tajam, ia
menebas kepala tiga tikus gua liar lainnya secara berurutan dalam satu gerakan
putaran tubuh yang sangat bersih. Sisa-sisa tikus gua liar yang ketakutan
setelah melihat setengah dari kawanan mereka hancur berantakan segera berbalik
arah dan berlari melarikan diri kembali masuk ke dalam kegelapan celah batu
tebing goa dengan panik.
Xiao Lin mengeluarkan suara mencicit parau penuh kekaguman dari atas pundak Luo
Chen seraya menepuk-nepuk pipi pemuda tersebut menggunakan kaki depannya yang
kecil. Luo Chen menyeka sisa darah hitam di bilah parangnya menggunakan
saputangan kering sebelum segera melangkah keluar meninggalkan goa air terjun
tersebut menuju jalan pulang.