Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas
Pintu lift privat berdentang halus, membuka langsung ke dalam sebuah penthouse dua lantai yang megah. Dinding-dindingnya didominasi oleh kaca besar yang memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu malam Jakarta dari ketinggian lantai lima puluh lima. Kemewahan tempat ini begitu kontras dengan flat kecil berdebu milik Mentari, namun bagi Mentari, tempat ini tak lebih dari sebuah sangkar emas yang dirancang khusus untuk mengurung kebebasannya.
Devan melangkah masuk terlebih dahulu, melempar kunci mobil dan dompetnya ke atas meja konsol berbahan marmer hitam. Ia berbalik, mendapati Mentari yang masih berdiri kaku di ambang pintu lift, memeluk tas kerjanya laksana sebuah perisai pelindung.
"Masuk, Mentari. Tempat ini tidak akan menggigitmu," ujar Devan dingin, meski matanya tetap memperhatikan setiap gerak-gerik wanita itu dengan intensitas yang pekat.
Mentari melangkah pelan, sepatunya mengetuk lantai parket kayu jati yang mengilap. "Devan... semua barang-barangku benar-benar sudah di sini? Bagaimana dengan ibuku? Apakah mereka tahu—"
"Ibumu aman di bawah penjagaan tim medis terbaik yang kubayar," potong Devan cepat, membalikkan tubuhnya menghadap Mentari. Pria itu mulai melonggarkan dasinya, membiarkan kain sutra itu tergantung longgar di lehernya yang kokoh. "Tidak ada satu pun kaki tangan Arkan Bramantyo yang bisa mendekati rumah sakit itu lagi. Dan mengenai barang-barangmu, semuanya sudah diatur di kamar utama."
"Kamar utama?" Mentari mendongak, matanya membelalak. "Maksudmu... kita berbagi kamar?"
Sebuah senyum sinis yang tipis terukir di sudut bibir Devan. Ia melangkah mendekat, mengintimidasi Mentari dengan tinggi badannya yang dominan hingga wanita itu mundur satu langkah, punggungnya membentur pilar beton bertulang yang kokoh. Devan meletakkan satu tangannya di pilar, tepat di samping kepala Mentari, mengurungnya lagi.
"Apakah aku perlu mengingatkanmu lagi tentang statusmu malam ini?" bisik Devan rendah, napasnya yang hangat berbau mint menerpa wajah Mentari. "Kamu adalah milikku, secara legal dan mutlak. Tinggal di sini berarti bersedia berada di bawah jangkauan pandanganku kapan pun aku mau. Tapi jangan khawatir... aku tidak akan menyentuhmu sebelum kamu sendiri yang memohon padaku."
Mentari menggigit bibir bawahnya, memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan elang Devan yang seolah bisa menembus hingga ke dasar jiwanya. "Aku lelah, Devan. Aku ingin istirahat."
Devan menatap profil samping wajah Mentari selama beberapa detik, memperhatikan bulu mata wanita itu yang masih sedikit basah karena sisa tangisan di restoran tadi. Perlahan, ia menurunkan tangannya. "Kamar tidurmu ada di sebelah kanan atas tangga. Mandilah dan bersihkan dirimu. Pakaianmu sudah disiapkan di dalam walk-in closet."
Tanpa membuang waktu, Mentari segera melesat pergi, menaiki anak tangga melingkar menuju lantai dua penthouse tersebut, melarikan diri dari kungkungan aura posesif Devan yang hampir membuatnya sesak napas.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Mentari menyandarkan punggungnya dan merosot hingga terduduk di atas lantai porselen yang dingin. Air matanya kembali menetes pelan. Rasa aman karena dilindungi oleh Devan bercampur baur dengan rasa bersalah yang teramat sangat. Sembilan tahun lalu ia melepaskan Devan agar pria itu tidak hancur oleh kekuasaan Bramantyo, namun kini, takdir justru membawa Devan masuk kembali ke dalam pusaran badai yang sama, bahkan dengan skala yang jauh lebih besar.
Setelah membersihkan diri dengan air hangat yang sedikit meredakan ketegangan otot-ototnya, Mentari mengenakan gaun tidur satin panjang berwarna krem yang telah disediakan. Ketika ia melangkah keluar dari kamar mandi menuju area tempat tidur yang luas, ia teringat akan ponselnya yang masih berada di dalam tas kerja di atas ranjang.
Mentari buru-buru meraih tasnya, mengeluarkan ponsel, dan membuka pesan dari nomor misterius yang sempat dilihatnya di dalam lift tadi.
Jemarinya gemetar saat membaca ulang baris kalimat itu:
"Babak pertama mungkin milik Devan, Mentari. Tapi rekaman asli tentang konspirasi ayahmu... masih ada di tanganku. Bersiaplah untuk hari di mana rajamu mengetahui kebenaran yang sesungguhnya."
Siapa sebenarnya orang ini? Jika Arkan tadi hanya membawa rekaman palsu untuk memerasnya, berarti ada orang lain yang memegang kartu as yang sesungguhnya. Seseorang yang jauh lebih licik, yang sengaja membiarkan Arkan maju terlebih dahulu sebagai umpan untuk memancing Devan keluar.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Mentari tersentak, refleks menyembunyikan ponselnya di balik bantal besar di belakang punggungnya.
Devan melangkah masuk dengan setelan kasual, hanya mengenakan celana kain hitam dan kaus oblong abu-abu yang pas di tubuh atletisnya. Rambutnya yang biasanya ditata rapi kini tampak agak acak-acakan dan sedikit basah, menandakan ia juga baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi lain.
Matanya yang tajam langsung menangkap gerakan panik Mentari yang menyembunyikan sesuatu. Devan menyipitkan mata, berjalan lambat mendekati ranjang berukuran king size tersebut.
"Apa yang kamu sembunyikan di balik bantal itu, Mentari?" tanya Devan, suaranya merendah, sarat akan nada selidik yang berbahaya.
"T-tidak ada, Devan. Aku hanya terkejut karena kamu masuk tanpa mengetuk pintu," bohong Mentari, jantungnya berdegup kencang berkejaran dengan waktu.
Devan tidak menjawab. Ia langsung menaiki ranjang dengan satu lututnya, mencondongkan tubuhnya ke depan dan dengan gerakan secepat kilat meraih pergelangan tangan Mentari, sementara tangannya yang lain merogoh ke bawah bantal. Dalam hitungan detik, ponsel Mentari sudah berpindah ke tangan pria itu.
"Devan, kembalikan! Itu privasiku!" pekik Mentari, mencoba merebut ponsel itu kembali, namun Devan dengan mudah menepis tangannya dengan satu tangan, sementara matanya fokus menatap layar ponsel yang masih menyala, menampilkan pesan teks misterius tersebut.
Seketika itu juga, atmosfer di dalam kamar tidur yang mewah itu membeku. Wajah Devan yang tadinya tampak santai mendadak berubah menjadi sangat dingin dan kaku laksana batu karang. Sepasang matanya membaca baris demi baris pesan ancaman itu berulang kali. Rahangnya mengatup rapat hingga urat di pelipisnya berdenyut kasar.
Devan perlahan menurunkan ponsel tersebut, lalu menatap Mentari dengan pandangan yang begitu tajam hingga membuat Mentari merasa seolah-olah ia sedang ditelanjangi oleh kebenaran.
"Konspirasi ayahmu?" desis Devan, suaranya terlampau tenang, namun justru itulah yang paling mengerikan. "Rekaman asli yang ada di tangan seseorang? Mentari... apa maksud dari semua ini?"
Mentari menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai menggenang kembali. "Aku tidak tahu, Devan... aku bersumpah aku tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu!"
"Jangan berbohong padaku!" bentak Devan mendadak, suaranya menggelegar di dalam kamar yang sunyi itu hingga membuat Mentari tersentak ketakutan. Devan mencengkeram kedua bahu Mentari dengan erat, memaksa wanita itu menatap matanya yang kini dipenuhi oleh rasa dikhianati dan amarah yang membara.
"Sembilan tahun lalu kamu membuangku seperti sampah tanpa alasan yang jelas! Kamu bilang kamu membenci kemiskinanku! Dan sekarang, ada seseorang yang mengancammu tentang konspirasi masa lalu yang melibatkan namaku dan ayahmu?!" Devan mencengkeram bahu Mentari sedikit lebih keras, menuntut jawaban yang telah lama dinantikannya. "Katakan padaku, Mentari! Apakah alasanmu meninggalkanku dulu... ada hubungannya dengan konspirasi yang dimaksud oleh orang ini?!"
Mentari menangis tersedu-sedu, tidak sanggup lagi menahan tekanan emosional yang bertubi-tubi menyerangnya sejak semalam. Rahasia besar yang ia simpan sendirian selama hampir satu dekade kini berada di ujung tanduk, siap meledak dan menghancurkan pria yang teramat sangat dicintainya ini di dalam sangkar emas yang dibangunnya sendiri.