NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Sebuah mobil hitam melaju mulus di jalanan pagi yang mulai ramai. Di dalamnya, suasana terasa hening.

Axel duduk di sisi kanan, tubuhnya tegak, satu tangan bertumpu di sandaran, sementara tangan lainnya sesekali melirik jam di pergelangannya. Wajahnya tetap dingin seperti biasa—tak terbaca.

Di sebelahnya, Queen duduk diam. Tatapannya kosong menembus jendela, namun pikirannya jelas tidak berada di sana.

Beberapa menit berlalu tanpa suara. Hingga akhirnya—

“Axel…”

Suara itu pelan. Hampir ragu.

Axel tidak langsung menoleh. “Hm.”

Queen menarik napas kecil. “Boleh aku … mampir sebentar ke suatu tempat?”

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, Axel menoleh. Tatapannya tajam, langsung membaca sesuatu di balik permintaan itu. Namun ia tidak bertanya. Ia hanya mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam dengan cepat.

“Penerbangan kita satu jam lagi,” ucapnya datar. “Kau punya waktu kurang dari dua puluh lima menit.”

Queen mengangguk pelan.

Cukup.

Ia lalu menyebutkan sebuah alamat. Dan—untuk sesaat—hening itu berubah makna.

Axel tidak bereaksi. Namun sorot matanya berubah tipis. Ia tahu. Tahu persis siapa pemilik alamat itu.

Namun ia tetap bersandar kembali, tidak berkata apa-apa.

“Ke sana,” perintahnya singkat pada sopir.

Mobil pun berbelok arah.

Beberapa menit kemudian—mobil itu berhenti.

Tepat di depan sebuah mansion megah dengan pagar tinggi dan sistem keamanan ketat.

Mansion Nial.

Mesin mobil masih menyala pelan saat Queen membuka pintu. Namun sebelum ia benar-benar keluar—

“Lexi.”

Axel memanggil. Nama panggilan Queen yang lebih disukai pria itu.

Wanita itu langsung berhenti dan menoleh. Tatapan mereka bertemu.

“Jangan lakukan hal bodoh,” ucap Axel rendah.

Bukan larangan. Lebih seperti … peringatan.

Queen menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk kecil. “Aku hanya ingin mengambil barangku yang tertinggal.”

Tanpa menunggu lagi, ia keluar dari mobil.

Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Axel tetap duduk di dalam.

Matanya mengikuti langkah Queen yang semakin menjauh … hingga akhirnya masuk ke dalam mansion itu setelah penjaga mempersilahkannya.

Pintu utama terbuka. Dan seketika—kenangan menyambutnya.

Rumah ini … pernah menjadi tempat pelariannya.

Tempat di mana ia merasa … tidak sepenuhnya sendirian.

Langkah Queen terhenti sejenak di dalam. Dadanya terasa sesak. Namun ia memaksa dirinya berjalan.

“Nona Queen?”

Suara itu membuatnya menoleh.

Rayden.

Pria itu baru saja keluar dari lorong dalam, dan jelas terlihat terkejut.

“Nona Queen…” ulangnya, sedikit menunduk. “Saya tidak menyangka Anda akan datang.”

Queen tersenyum tipis. Lelah. “Pagi, Rayden.”

Rayden langsung mempersilakan dengan gestur sopan. “Silakan masuk.”

Tanpa ragu, Queen melangkah lebih dalam.

Sepi. Rumah sebesar ini terasa … terlalu sunyi.

Rayden berjalan di sampingnya. “Tuan Nial ada di kamarnya,” ucapnya pelan. “Beliau baru saja tertidur.”

Queen sedikit menoleh.

Rayden melanjutkan, “Saya terpaksa memberinya obat tidur. Beliau tidak tidur selama beberapa hari.”

Langkah Queen terhenti. Beberapa detik. Tidak ada kata. Namun sesuatu di matanya berubah.

“Terima kasih,” ucapnya pelan. Lalu tanpa menunggu lagi—ia berjalan menuju kamar itu. Sendiri.

•••

Pintu kamar terbuka perlahan. Queen masuk dengan langkah hati-hati. Seolah takut suara sekecil apa pun akan membangunkan seseorang.

Dan di sana—Nial. Terbaring di atas ranjang besar, tertidur.

Untuk pertama kalinya … tanpa ekspresi dingin itu. Wajahnya terlihat damai. Tenang. Jauh dari pria yang selalu penuh kontrol dan dominasi.

Queen berdiri diam di dekat pintu. Menatapnya lama. Lalu perlahan—ia mendekat. Langkah demi langkah. Hingga akhirnya berdiri di sisi ranjang.

Tangannya terangkat ragu. Namun akhirnya … menyentuh. Jari-jarinya menyusuri garis wajah Nial—rahang tegas, hidung mancung, hingga bibir yang selalu berkata hal-hal tajam itu.

“…”

Napasnya sedikit bergetar. Matanya jatuh ke bawah mata Nial—

lingkaran hitam yang jelas terlihat. Hatinya mencubit.

Pelan.

Tanpa suara, Queen berbalik ke arah meja kecil. Ia membuka laci. Mencari sesuatu. Dan—ia menemukannya.

Masker mata yang pernah ia beli. Masih ada. Belum dibuang.

Senyum kecil terbit di bibirnya.

Ia kembali ke sisi ranjang, lalu dengan hati-hati menempelkan masker itu di bawah mata Nial.

Gerakannya lembut. Hampir seperti … merawat sesuatu yang sangat rapuh.

“Kau pasti akan marah besar kalau tahu aku melakukan ini ke wajahmu.”

Senyumnya tipis. Namun matanya mulai berkaca-kaca. Dan tanpa sadar—ia membungkuk. Memeluk Nial dengan erat.

Wajahnya tenggelam di dada pria itu, menghirup dalam-dalam aroma yang begitu familiar.

Hangat.

Menenangkan.

Dan justru itu—yang menghancurkannya.

Tangis Queen pecah. Pelan. Tertahan. Namun tidak bisa dihentikan.

Ia menggigit bibirnya sendiri, menahan suara. Namun air matanya terus jatuh. Ia tidak takut membangunkannya.

Rayden sudah bilang—Nial diberi obat tidur. Ia tidak akan bangun. Setidaknya … tidak sekarang. Dan itu memberinya keberanian—untuk menumpahkan kerinduan.

Beberapa menit berlalu. Atau mungkin lebih. Hingga akhirnya Queen perlahan melepaskan pelukannya. Ia mengusap wajahnya cepat, mengambil napas dalam. Lalu berdiri. Kakinya membawanya ke ruang ganti.

Ruangan itu rapi. Maskulin. Dan penuh … Nial.

Queen berjalan pelan, tangannya menyentuh beberapa gantungan pakaian. Hingga akhirnya—ia mengambil satu kemeja hitam. Yang paling sering ia lihat dipakai pria itu. Lalu—sebotol parfum. Aroma yang terlalu ia kenal.

Ia menggenggam keduanya. Diam sejenak. Lalu keluar kembali.

Queen berdiri lagi di samping ranjang.

Menatap Nial. Lebih lama dari sebelumnya.

“Maaf…” ucapnya pelan. Suaranya lembut, tapi jelas.

“Aku mencuri beberapa barangmu.”

Ia menunduk sedikit. Matanya melembut. “Tapi aku harus. Ini satu - satunya caraku … untuk bertahan saat aku merindukanmu.”

Sunyi.

Tak ada jawaban. Namun seolah … cukup.

Queen membungkuk perlahan. Dan—mengecup bibir Nial.

Beberapa detik lalu ia menjauh. Menatapnya sekali lagi.

Terakhir.

"Aku mencintaimu, Nial."

Queen tersenyum pahit, lalu berbalik. Dan pergi. Meninggalkan ruangan itu … dengan sebagian hatinya yang tertinggal di sana.

"Semoga kau segera menemukan kebahagiaanmu."

•••

Nial terbangun saat jarum jam menunjukkan pukul delapan malam. Efek obat tidur dari Rayden masih menyisakan sedikit rasa berat di kepalanya, namun kewaspadaannya sebagai seorang pria yang selalu memegang kendali segera kembali.

Ia mencoba mengerjapkan mata, namun ada sesuatu yang mengganjal di bawah matanya. Nial meraba wajahnya, lalu menarik benda itu.

"Apa ini?" gumamnya serak.

Sebuah masker mata sutra merah muda.

Nial menatap benda itu dengan dahi berkerut dalam. Ia tidak pernah memakai barang konyol seperti ini, dan Rayden tahu betul bahwa ia paling benci jika ada yang menyentuh wajahnya saat tidur.

Apa asistennya itu sudah bosan hidup?

Nial memutuskan untuk mengabaikannya sejenak. Ia bangkit dengan tubuh yang masih sedikit kaku, lalu melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air dingin.

Sepuluh menit kemudian...

Pintu kamar terbuka dengan bunyi pelan.

Uap hangat masih mengikuti langkah Nial saat ia keluar dari kamar mandi.

Rambutnya sedikit basah, beberapa helai jatuh ke dahi. Handuk melingkar di pinggangnya, memperlihatkan tubuh tegap yang masih dipenuhi sisa-sisa air.

Ia terlihat lebih segar—namun tidak benar-benar tenang. Langkahnya langsung menuju ruang ganti. Seperti biasa. Teratur. Namun—ia berhenti. Alisnya mengerut tipis. Tatapannya jatuh pada satu titik.

Rak paling ujung.

Beberapa detik ia tidak bergerak. Tangannya terangkat, menyentuh gantungan itu. Terasa ada yang janggal.

Ia beralih ke meja kecil. Tangannya otomatis meraih botol parfum—dan berhenti di udara.

Dari sekian banyak koleksi parfum Nial. Ada satu parfum yang biasa ia gunakan tidak ada ditempatnya.

Perlahan, rahangnya mengeras. Ia membuka beberapa laci.

Satu.

Dua.

Tiga.

Semuanya rapi. Tidak ada yang berubah—kecuali dua benda itu. Kemeja dan parfum.

“Rayden.” Suara Nial memecah keheningan.

Tak lama, pintu diketuk.

“Masuk.”

Rayden muncul dengan sikap seperti biasa—tenang, rapi, tak terbaca.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

Nial tidak langsung menjawab. Matanya masih menyapu ruangan.

“Siapa yang masuk ke kamarku?”

Rayden terdiam sepersekian detik.

Sangat singkat, namun cukup untuk menunjukkan—

ia tahu sesuatu.

“Tidak ada laporan, Tuan.” Jawaban itu keluar halus.

Nial menoleh perlahan. Tatapannya tajam. “Bicara yang jelas. Tidak ada laporan … atau tidak ada yang masuk?”

Rayden menunduk sedikit. “Sistem tidak mencatat akses mencurigakan, Tuan.”

Setengah benar. Setengah disembunyikan.

Nial menatapnya beberapa detik. Lama. Menguji. Namun akhirnya ia berbalik.

“Ada yang hilang.”

Rayden tetap diam.

“Parfumku. Dan satu kemeja hitam.” Nial melangkah keluar dari ruang ganti. “Yang seharusnya ada di rak paling ujung.”

Sunyi.

Rayden mengikuti di belakangnya. Wajahnya tetap datar. Namun dalam diam—ia mengingat beberapa waktu lalu.

“Rayden…”

Suara Queen saat itu pelan. Matanya sembab, tapi ia berusaha terlihat kuat.

“Tolong … jangan bilang pada Nial kalau aku datang.”

Rayden menatapnya. Tidak langsung menjawab.

“Anggap saja … aku tidak pernah ke sini.”

Permintaan itu sederhana. Namun berat.

“Ini penting bagiku,” lanjut Queen, nyaris berbisik.

Rayden menghela napas pelan. Lalu mengangguk. “Baik, Nona.”

Dan sekarang—ia berdiri di belakang pria yang jelas mulai mencurigai sesuatu.

“CCTV.” Satu kata dari Nial. Tegas. “Sekarang.”

“…Baik, Tuan.” Rayden tidak bisa menolak.

Beberapa menit kemudian, layar menyala. Rekaman diputar.

Nial berdiri di depan layar. Diam. Fokus.

“Berhenti.” Perintahnya.

Gambar seketika membeku.

Deg!

"Queen?" Nial terpaku.

Rayden tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap lurus ke depan.

“Perbesar.”

Wajah Queen terlihat jelas. Langkahnya pelan. Hati-hati.

Nial tidak bergerak. Namun rahangnya mengeras.

“Putar.”

Rekaman berjalan lagi. Setiap detik—terlihat jelas.

Queen mendekat, menyentuhnya, memeluk, bahkan menciumnya. Dan dia juga ... menangis tanpa suara.

Semuanya terlalu nyata untuk diabaikan.

“Berhenti.”

Layar kembali membeku.

“Keluar.”

Rayden menunduk. “Baik, Tuan.” Ia berbalik. Namun sebelum benar-benar keluar—

“Rayden.”

Langkahnya terhenti. “Ya, Tuan?”

Nial tidak menoleh. Tatapannya masih di layar. "Kapan dia kesini?"

"Nona Queen datang satu jam sebelum penerbangannya, Tuan. Beliau hanya ingin pamit—"

“Penerbangan? Ke mana?” Cengkeraman Nial di lengan Rayden menguat tanpa sadar. Nada suaranya tidak lagi sekadar dingin—ada desakan yang nyaris tak terkendali di sana.

Rayden menunduk. “Saya … tidak tahu, Tuan.”

Kalimat itu menggantung di udara beberapa detik—cukup lama untuk mengubah sesuatu di wajah Nial.

Matanya menajam.

“Tidak tahu?” ulangnya rendah. Cengkeramannya semakin kuat. “Bagaimana bisa kau tidak tahu, hah?”

Ada sesuatu yang mulai pecah di dalam nada suaranya. Bukan hanya marah—tapi frustrasi yang tidak bisa ia tekan.

Rayden tetap menunduk. Tidak melawan. Tidak membela diri. “Maaf, Tuan.”

Satu kalimat. Dan itu justru memperburuk segalanya.

“Brengsek!” Nial melepaskan cengkeramannya dengan kasar.

Ia berbalik, mengusap wajahnya sendiri dengan frustrasi. Napasnya memburu, dadanya naik turun tidak teratur.

Untuk pertama kalinya—

ia benar-benar terlihat kehilangan kendali.

“Keluar!” Perintah itu keluar cepat. Tajam.

“Baik, Tuan.”

Rayden tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik dan keluar dari ruangan, menutup pintu dengan pelan.

Klik.

Dan saat suara itu terdengar—kesunyian langsung menelan ruangan. Namun hanya untuk satu detik.

PRAAANG!

Sebuah benda dari atas meja melayang, menghantam lantai dan pecah berkeping-keping.

Nial menyapu hampir semua yang ada di hadapannya—Laptop, berkas, pena, bahkan gelas kristal—semuanya jatuh tanpa arah.

Suara pecahan bergema, berantakan. Kacau. Sama seperti yang ada di dalam dirinya saat ini.

Nial berdiri di tengah kekacauan itu, napasnya berat, tangannya mengepal keras. Namun matanya kembali tertarik ke satu benda yang masih menyala di atas meja. Tablet. Yang masih menampilkan rekaman itu.

Ia melangkah mendekat. Tatapannya terkunci pada layar. Tangannya terangkat, menyentuh layar itu—tepat di mana wajah Queen terlihat begitu dekat.

“Berani sekali kau…” gumamnya serak. Namun penuh tekanan. “Datang diam-diam ke tempatku ... menyentuhku, lalu pergi begitu saja?”

Rahang Nial mengeras. Matanya mulai memerah—bukan karena lemah, tapi karena sesuatu yang ia tahan terlalu keras.

“Kau pikir ini apa, Queen?” bisiknya semakin pelan. “Permainan?”

Sunyi.

Hanya bayangan Queen yang terus bergerak di layar. Dan itu— cukup untuk membuatnya semakin kacau.

“Kau benar-benar…” Nial menghembuskan napas kasar. Tangannya turun, lalu mengepal di sisi tubuhnya. “…berniat membuatku gila sampai akhir.”

Tatapannya yang semula hancur perlahan mulai membeku. Gejolak emosi yang tadi mengombang-ambingkan kewarasannya ditarik mundur secara paksa, dan digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih mematikan—kendali mutlak.

Nial meraih ponselnya di antara kekacauan meja kerja, mengabaikan denyut di pelipisnya saat melihat jarum jam yang terus melaju. Waktu mungkin sudah terlalu jauh, namun bagi pria seperti Nial Percy, kata terlambat hanyalah sebuah opsi yang tidak akan pernah ia ambil.

"Rayden," suaranya membelah kesunyian, dingin dan tajam.

Panggilan itu tersambung hampir seketika. Di seberang sana, Rayden tetap pada mode profesionalnya, seolah badai yang baru saja meluluhlantakkan ego tuannya tidak pernah terjadi.

Nial kembali mengalihkan pandangannya pada layar tablet, menatap siluet Queen yang membeku dalam satu frame—momen saat wanita itu memeluknya dengan sisa-sisa keberanian terakhir.

"Aktifkan semua jaringan kita," perintah Nial. Suaranya rendah, nyaris menyerupai geraman predator yang telah menemukan jejak mangsanya. "Cari dia. Sekarang."

Rayden terdiam sejenak, jeda yang jarang ia lakukan, sebelum bertanya pelan, "...Tuan?"

"Aku tidak akan mengulang, Rayden," potong Nial. "Cari Queen di mana pun. Bandara, pelabuhan, jalanan, atau bahkan jika dia sudah berada ribuan kaki di udara ... turunkan dia jika perlu."

Hening sejenak di seberang telepon. Rayden bukan pria bodoh; ia tahu ini bukan lagi soal urusan bisnis atau sekadar membawa pulang 'aset' yang melarikan diri. Ini adalah obsesi.

"Temukan dia. Aku tidak peduli bagaimana caranya, atau berapa banyak hukum yang harus kau tabrak. Bawa dia kembali padaku."

Setelah keheningan dua detik yang terasa seperti keabadian, jawaban yang dinanti akhirnya terdengar. "Dimengerti, Tuan."

Nial mematikan ponselnya, jemarinya mengusap permukaan layar tablet yang menampilkan wajah Queen. "Kau pikir kau bisa pergi setelah mencuri hatiku, Queen? Kau salah. Kau milikku, dan aku akan memastikan kau kembali padaku."

•••

Satu tahun kemudian.

Waktu berjalan, tapi tidak semua hal ikut bergerak maju.

Gedung Percy Group tetap berdiri megah seperti biasa—dingin, rapi, penuh kendali. Namun di lantai paling atas, ada sesuatu yang berubah.

Nial.

Ia masih bekerja. Masih tajam. Masih sempurna di mata publik. Tapi tidak lagi sama.

Setengah dari harinya dihabiskan untuk perusahaan. Setengah lainnya—untuk sesuatu yang tidak pernah ia akui secara langsung.

Mencari jejak seorang wanita yang seolah … lenyap dari dunia.

Pintu ruang kerja terbuka. Rayden masuk seperti biasa. Rapi. Tenang. Membawa tablet di tangannya.

Rutinitas ini sudah terjadi selama satu tahun terakhir. Setiap hari, tanpa jeda.

“Laporan hari ini, Tuan,” ucapnya.

Nial tidak langsung menoleh. Ia masih menatap dokumen di tangannya, namun jelas—fokusnya tidak sepenuhnya di sana.

“Tidak ada pergerakan signifikan,” lanjut Rayden. “Tim kita sudah memperluas pencarian ke beberapa negara tambahan. Namun—” Ia berhenti sejenak. “…kami belum menemukan Nona Queen.”

Sunyi.

Kalimat itu bukan lagi hal baru. Namun tetap saja— tidak pernah benar-benar terasa biasa.

Nial menutup dokumen itu perlahan. Tidak ada ledakan. Tidak ada amarah. Hanya satu gerakan kecil—yang justru terasa lebih berat.

"Cukup."

Rayden mengangkat pandangan. “…Tuan?”

“Hentikan pencariannya.”

Nada suara Nial datar. Seolah keputusan itu sudah dipikirkan lama … dan akhirnya diucapkan tanpa emosi.

Rayden terdiam beberapa detik. “Maksud Anda ... semua tim ditarik?”

Nial berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela besar, menatap kota di bawah sana.

“Satu tahun,” ucapnya pelan. Bukan keluhan. Lebih seperti fakta. “Kalau dia tidak ingin ditemukan … maka tidak ada yang akan menemukannya.”

Sunyi kembali jatuh.

Rayden memahami. Ini bukan menyerah. Ini—

mengubah cara.

“Baik, Tuan.”

Namun sebelum percakapan itu berlanjut—ponsel Nial berdering. Nama yang muncul membuat sorot matanya berubah tipis.

Mother.

Ia mengangkat panggilan itu.

“Ya.”

“Nial, sayang,” suara wanita di seberang terdengar elegan, tenang, dengan aksen khas prancis. “Kapan kau akan mengunjungi Mommy? Ini sudah terlalu lama.”

Nial menutup matanya sejenak. “Segera.”

“Segera itu kapan?” suara itu terdengar sedikit menekan, tapi tetap lembut. “Kau selalu mengatakan itu.”

Nial tidak langsung menjawab.

“Dengar! Acara pertunangan itu akan diadakan dalam waktu dekat,” lanjut ibunya. “Dan … Mommy ingin kau datang lebih cepat.”

“Aku akan datang.” Jawaban singkat. Namun cukup.

“Bagus,” balas wanita itu, terdengar puas. “Mommy tunggu.”

Panggilan terputus.

Nial menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kembali kosong. Namun kini—ada sesuatu yang bergeser.

“Siapkan jadwal ke Prancis,” ucapnya kepada Rayden, tanpa menoleh.

“Baik, Tuan.”

•••

Paris, Prancis.

Langit pagi berwarna kelabu lembut, khas kota itu.

Di sebuah jalan elite yang dipenuhi butik-butik mewah dan kafe eksklusif, berdiri sebuah toko bunga yang langsung menarik perhatian siapa pun yang lewat.

Elegan dan berkelas. Nama toko itu terpampang sederhana—namun memiliki reputasi yang tidak sederhana.

Setiap rangkaian bunga di dalamnya bukan sekadar indah—tapi memiliki “rasa”. Dan hanya orang-orang tertentu yang tahu … siapa otak di balik semua desain itu.

Di dalam toko—seorang wanita berdiri di balik meja, menyusun beberapa tangkai bunga dengan gerakan terlatih.

Sharena.

Cantik, anggun, dewasa. Dengan aura tenang yang kuat. Dan di mata publik—ia adalah pemilik toko ini.

“Pesanan untuk Nyonya Elara Whitmore sudah siap?” tanya seorang staf.

Sharena mengangguk. “Ya. Pastikan dikirim dengan hati-hati.”

Pintu toko terbuka. Seorang wanita elegan masuk.

Langkahnya tenang, penuh wibawa.

Elara Whitmore. Ibu kandung nial. Wanita yang namanya baru saja disebut.

“Selamat pagi,” sapa Sharena dengan senyum profesional.

“Elara, seperti biasa,” balas wanita itu ringan.

Sharena menyerahkan rangkaian bunga yang baru saja selesai.

Elara menerimanya, matanya langsung menelusuri detail demi detail. Dan seperti biasa—ia terdiam sejenak. Terpukau.

“Selalu luar biasa,” gumamnya pelan. “Desainnya … tidak pernah gagal.”

Sharena tersenyum tipis. “Terima kasih.”

Keduanya kemudian duduk di sudut toko, ditemani teh hangat. Percakapan ringan mengalir. Namun kemudian—Elara meletakkan cangkirnya.

“Aku ingin bertemu dengan pemilik toko ini.”

Sharena sedikit terdiam. Namun ekspresinya tetap tenang. “Boleh saya tahu alasannya?”

“Aku punya acara penting,” jawab Elara. “Pertunangan anakku.” Ia menatap bunga di tangannya. “Aku ingin orang yang mendesain ini … yang langsung menangani semuanya.”

Nada suaranya jelas. Bukan permintaan biasa.

Sharena menarik napas pelan. “Saya akan menyampaikan permintaan ini.” Tidak langsung menjawab. Karena ia tahu—keputusan itu bukan miliknya.

Elara tersenyum. “Aku akan sangat menghargainya.”

Dan tepat saat itu—lonceng kecil di pintu berbunyi.

Ting.

Queen melangkah masuk. Penampilannya … jauh dari kata sederhana. Ia mengenakan dress panjang berpotongan elegan dengan warna lembut yang menegaskan kulitnya yang bersih. Rambutnya tergerai rapi, berkilau di bawah cahaya. Setiap langkahnya tenang, anggun, dan penuh kendali—seolah dunia memang terbiasa menyesuaikan diri dengannya.

Memukau. Bukan hanya cantik—tapi memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan.

Di sampingnya, seorang anak laki-laki kecil menggenggam tangannya. Seragam sekolahnya masih rapi, meski dasinya sedikit miring. Wajahnya tampan, garis-garis tegasnya mengingatkan pada seseorang.

Arsen.

Putra Axel dan Sharena.

“Mommy Queen … apa yang terjadi tadi akan jadi rahasia kita, ya?” bisik Arsen. Nada suaranya polos … tapi penuh makna.

Queen terdiam sepersekian detik. Lalu bibirnya melengkung lembut. Ia menunduk sedikit, menyamakan tinggi dengan Arsen, lalu mengusap lembut rambut anak itu.

“Tentu saja,” jawabnya pelan. “Rahasia kita berdua.”

Arsen langsung tersenyum puas, seolah dunia kembali aman karena satu kalimat itu.

“Mom!”

Suara kecil itu langsung memecah suasana. Sharena yang sedang berbincang langsung menoleh—dan tanpa ragu berjalan cepat menghampiri mereka.

“Kau sudah selesai?” tanyanya, sedikit membungkuk di depan anaknya. Tangannya merapikan kerah seragam itu secara refleks.

Anak itu mengangguk.

“Bagaimana dengan panggilan dari sekolah?” lanjut Sharena, kini menatap Queen.

Queen tersenyum tipis. Tenang. “Sudah aku tangani.”

Sharena menghela napas pelan, lalu menoleh pada putranya. “Kau dengar itu?” ucapnya lembut namun tegas. “Jangan membuat masalah lagi di sekolah.”

“Iya, Mom…” jawab anak itu pelan, sedikit cemberut.

Queen hanya tersenyum kecil melihat interaksi itu.

Namun—tatapannya tanpa sengaja bergeser dan berhenti di sudut ruangan.

Seorang wanita elegan sedang menatapnya. Elara Whitmore. Ibu Nial.

Tatapan mereka bertemu. Dan untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan—Elara tersenyum. Bukan senyum basa-basi. Tapi hangat.

Queen sempat terdiam sepersekian detik. Lalu membalasnya dengan sopan.

Sharena mengikuti arah pandang itu, lalu seperti baru menyadari sesuatu. “Ah—kebetulan sekali,” ucapnya pelan. Ia menoleh pada Queen. “Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”

Beberapa menit kemudian—Queen berdiri berhadapan langsung dengan Elara.

“Elara Whitmore,” ucap wanita itu lebih dulu, mengulurkan tangan.

“Queen,” balasnya singkat, menjabat dengan tenang.

Elara menatapnya sejenak. Mengamati. Menilai. Dan … menyukai apa yang ia lihat.

“Jadi … kau orang di balik semua desain ini,” ucapnya, matanya sekilas melirik rangkaian bunga di sekitar.

Queen tidak menyangkal. “Hanya sebagian.”

Elara tersenyum. “Aku punya permintaan.”

Queen diam. Menunggu.

“Putraku akan bertunangan dalam waktu dekat,” lanjut Elara. “Dan aku ingin kau yang mendesain seluruh rangkaian bunga untuk acara itu.”

Sunyi sejenak. Queen menatapnya. “Aku jarang mengambil proyek langsung,” jawabnya halus.

Sebuah penolakan terselubung namun jelas.

Elara tidak goyah. “Anggap saja ini pengecualian.”

Nada suaranya lembut. “Bunga-bungamu … memiliki rasa. Dan aku tidak ingin orang lain.”

Queen terdiam.

Beberapa detik.

"Kumohon!"

Sharena memperhatikan dari samping—tanpa ikut campur.

Queen menarik napas kecil. Lalu— “Baiklah.”

Satu kata. Keputusan sudah diambil.

Elara tersenyum puas. “Terima kasih. Aku akan menuliskan alamatnya.”

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!