NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 – Rival Pertama

Dua minggu berlalu sejak Arga mulai menjual gelang warna-warni di warung keluarganya.

Perubahannya memang belum terlalu besar, tetapi cukup untuk membuat suasana warung berbeda dari sebelumnya.

Setidaknya sekarang tidak lagi terasa mati.

Setiap jam istirahat sekolah atau menjelang pulang, beberapa pelajar mulai mampir.

Ada yang membeli gelang.

Ada yang membeli minuman.

Ada juga yang sekadar melihat-lihat sebelum akhirnya membeli makanan ringan.

Jumlah pelanggan memang tidak banyak, tetapi jauh lebih baik dibanding kondisi sebelumnya.

Yang paling bahagia melihat perubahan itu tentu saja kedua orang tuanya.

Malam itu, setelah warung tutup, mereka duduk bersama menghitung pemasukan.

Tumpukan uang pecahan kecil memenuhi meja.

Ibunya mencatat setiap transaksi dengan teliti.

Ayahnya menghitung hasil penjualan hari itu.

Beberapa menit kemudian, ayahnya mengangkat kepala.

"Naik lagi."

Ibunya ikut tersenyum.

"Sudah hampir seminggu terus naik."

Arga yang duduk di samping hanya memperhatikan.

Melihat senyum kedua orang tuanya membuat dadanya terasa hangat.

Di kehidupan sebelumnya, pemandangan seperti ini semakin jarang ia lihat setelah warung mulai merugi.

Sedikit demi sedikit, tekanan ekonomi mengubah suasana rumah menjadi lebih suram.

Namun kali ini berbeda.

Setidaknya untuk saat ini.

"Aku masih harus melakukan lebih banyak."

Arga berkata dalam hati.

Karena ia tahu keuntungan yang mereka peroleh sekarang masih sangat kecil.

Belum cukup untuk mengubah nasib keluarga.

Belum cukup untuk melunasi utang.

Belum cukup untuk memberikan kehidupan yang layak kepada kedua orang tuanya.

Ini baru langkah pertama.

Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, Arga tidak langsung menuju rumah.

Ia sengaja berjalan melewati minimarket yang berada tidak jauh dari gerbang sekolah.

Tempat itu selalu ramai.

Bahkan jauh lebih ramai dibanding warung keluarganya.

Saat berdiri di seberang jalan, Arga mengamati kondisi minimarket tersebut.

Bangunannya bersih.

Pencahayaan terang.

Produk tersusun rapi.

Ada pendingin minuman.

Ada area parkir kecil.

Dan yang paling penting, mereka memahami kebutuhan pelanggan.

Arga mengangguk pelan.

Kalau ia menjadi pelanggan biasa, kemungkinan besar ia juga akan memilih berbelanja di sana.

Karena memang lebih nyaman.

Saat itulah pandangannya tertuju pada rak dekat kasir.

Matanya sedikit menyipit.

Di sana tergantung puluhan gelang warna-warni.

Bentuknya hampir sama dengan yang ia jual.

Jumlahnya bahkan lebih banyak.

Arga tersenyum tipis.

"Akhirnya muncul juga."

Ia sama sekali tidak marah.

Justru sebaliknya.

Kalau pesaing tidak meniru produk yang laku, berarti pesaing tersebut tidak kompeten.

Dan pemilik minimarket jelas bukan orang bodoh.

Arga masuk ke dalam minimarket.

Ia berpura-pura menjadi pelanggan biasa.

Sambil membeli minuman, ia memperhatikan harga gelang yang dipajang.

Sedikit lebih murah dibanding miliknya.

Strategi yang masuk akal.

Dengan modal lebih besar, minimarket memang bisa membeli stok dalam jumlah banyak sehingga harga beli lebih rendah.

Akibatnya mereka mampu menjual lebih murah.

Dalam dunia bisnis, itu hal yang wajar.

Saat keluar dari minimarket, Arga sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.

Dan benar saja.

Dalam beberapa hari berikutnya, penjualan gelang di warung keluarganya mulai menurun.

Masih ada yang membeli.

Tetapi tidak sebanyak sebelumnya.

Pada hari ketiga, ibunya mulai menyadarinya.

"Sepertinya anak-anak sekarang beli gelang di minimarket."

Arga mengangguk.

"Mungkin."

Ibunya menghela napas.

"Padahal baru mulai ramai."

Melihat ekspresi ibunya, Arga tersenyum.

"Bu, kalau ada yang meniru berarti kita melakukan sesuatu yang benar."

Ibunya terlihat bingung.

"Maksudnya?"

"Kalau usaha kita tidak menghasilkan apa-apa, siapa yang mau meniru?"

Ibunya terdiam beberapa saat.

Kemudian tertawa kecil.

"Kamu ini bicara seperti pengusaha tua."

Arga hampir tersedak mendengarnya.

Kalau dihitung berdasarkan dua kehidupannya, mungkin ia memang bisa dianggap pengusaha tua.

Malam itu, Arga kembali membuka buku catatannya.

Di halaman pertama tertulis beberapa poin.

Produk bisa ditiru.

Harga bisa ditiru.

Lokasi bisa ditiru.

Yang sulit ditiru adalah kreativitas.

Ia menatap tulisan tersebut cukup lama.

Pengalaman dari kehidupan sebelumnya mengajarinya satu hal.

Keunggulan sementara bukanlah kemenangan.

Banyak perusahaan besar runtuh karena merasa puas terlalu cepat.

Arga tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Karena itu ia mulai memikirkan langkah berikutnya.

Beberapa hari kemudian, seorang pria memasuki warung.

Usianya sekitar akhir dua puluhan.

Penampilannya rapi.

Kemeja lengan panjang berwarna biru muda.

Celana bahan hitam.

Jam tangan sederhana di pergelangan tangan kiri.

Pria itu membeli sebotol air mineral.

Namun setelah membayar, ia tidak langsung pergi.

Sebaliknya, ia memperhatikan seluruh isi warung.

Rak-rak yang tertata.

Harga yang dipasang dengan jelas.

Area depan yang bersih.

Kemudian pandangannya berhenti pada Arga.

"Kamu Arga?"

Arga sedikit terkejut.

"Iya."

Pria itu tersenyum ramah.

"Perkenalkan. Namaku Rudi."

Nama itu langsung dikenali Arga.

Pemilik minimarket dekat sekolah.

Orang yang selama ini diam-diam mengamati perkembangan warung keluarganya.

"Senang bertemu denganmu."

Arga mengangguk sopan.

Rudi menatap rak gelang yang masih tersisa.

"Gelang itu ide yang bagus."

"Terima kasih."

"Aku melihat penjualan warung ini meningkat cukup banyak."

Arga tidak langsung menjawab.

Ia memilih berhati-hati.

Rudi tampaknya menyadari hal itu.

Pria tersebut tertawa kecil.

"Tenang saja. Aku bukan datang untuk mencari masalah."

Suasana menjadi lebih santai.

Rudi bersandar ringan pada meja kasir.

"Jujur saja, aku penasaran."

"Penasaran apa?"

"Warung ini hampir tidak berubah selama bertahun-tahun."

Ia menunjuk rak makanan.

"Lalu tiba-tiba semuanya lebih rapi."

Kemudian ia menunjuk papan harga.

"Harga dipasang dengan jelas."

Lalu ia menunjuk bagian depan warung.

"Bahkan halaman depan juga lebih bersih."

Tatapannya kembali kepada Arga.

"Dan semua perubahan itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat."

Arga mulai memahami sesuatu.

Rudi bukan hanya menjalankan bisnis.

Ia juga memperhatikan detail.

Pria seperti ini jauh lebih berbahaya dibanding orang yang hanya mengandalkan modal besar.

Karena ia menggunakan otaknya.

"Menurutku perubahan itu bagus," lanjut Rudi.

"Terima kasih."

"Kebanyakan orang meremehkan warung kecil."

Rudi tersenyum.

"Padahal bisnis besar juga dimulai dari tempat kecil."

Kalimat itu membuat Arga sedikit terkejut.

Karena pemikiran tersebut jauh lebih dewasa dibanding yang ia bayangkan.

Selama beberapa menit berikutnya mereka berbincang ringan.

Tentang pelanggan.

Tentang sekolah.

Tentang kondisi ekonomi daerah sekitar.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada permusuhan.

Hanya dua orang yang sama-sama tertarik pada dunia bisnis.

Sebelum pergi, Rudi mengulurkan tangan.

"Semoga usahanya makin maju."

Arga menyambut uluran tangan tersebut.

"Terima kasih."

Namun saat hendak keluar, Rudi berhenti sejenak.

Ia menoleh.

"Lagipula, dunia bisnis memang seperti itu."

Arga mengangkat alis.

"Seperti apa?"

Rudi tersenyum tipis.

"Begitu ada peluang, semua orang akan mengejarnya."

Setelah mengatakan itu, ia pergi.

Meninggalkan Arga yang berdiri diam di dalam warung.

Beberapa saat kemudian, ia tersenyum.

Karena ia tahu ucapan itu benar.

Pengetahuan masa depan memang memberinya keuntungan.

Tetapi keuntungan itu tidak akan bertahan selamanya.

Cepat atau lambat, orang lain akan mengejar.

Cepat atau lambat, pesaing akan meniru.

Dan saat itu terjadi, hanya mereka yang terus berkembang yang mampu bertahan.

Malam itu, setelah warung tutup, Arga kembali membuka buku catatannya.

Ia menuliskan sebuah kalimat besar di halaman baru.

"Jangan pernah bergantung pada satu peluang."

Kemudian ia mulai menyusun rencana berikutnya.

Rencana yang lebih besar.

Rencana yang tidak hanya meningkatkan penjualan warung, tetapi juga membangun fondasi masa depan keluarganya.

Dan tanpa ia sadari, keputusan yang akan diambilnya dalam beberapa hari ke depan akan menjadi titik balik pertama dalam perjalanan menuju kerajaan bisnis yang selama ini hanya ada dalam pikirannya.

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!