TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control* *BAB 7: Ego Sang Tuan Muda dan Penolakan yang Mengguncang*
*Toxic and Control*
*BAB 7: Ego Sang Tuan Muda dan Penolakan yang Mengguncang*
"Kamu sudah menampar wajahku dan membuatku malu di depan teman-temanku, Kinara Jose," bisik Rian dengan nada dingin yang sarat akan kendali mutlak. "Kamu pikir perbuatan sekasar itu bisa selesai begitu saja hanya dengan kata maaf?"
Kinara mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, berusaha menutupi kepanikannya. "Lalu ganti rugi apa yang Kak Rian mau? Aku tidak punya uang untuk hal-hal tidak penting seperti ini."
Rian tidak marah. Dia justru terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang terdengar begitu tenang namun sarat akan keangkuhan. Dia menyandarkan kembali punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada dengan tatapan mata elang yang mengunci manik mata Kinara dari balik lensa kacamata tebal gadis itu.
"Aku tidak kekurangan uang, Kinara," ujar Rian datar, nadanya terdengar sangat santai seolah uang adalah hal paling remeh di dunia ini. Dia memajukan tubuhnya kembali, menatap Kinara dengan binar obsesi yang pekat. "Yang aku mau... kamu. Jadilah pacarku."
"KAK RIAN GILA YA?!"
Suara Kinara pecah, melengking tinggi memutus keheningan absolut perpustakaan sekolah yang tenang. Jeritan spontan yang sarat akan syok dan penolakan mentah-mentah itu menggema keras, memantul di antara rak-rak buku tinggi dan langit-langit ruangan yang ber-AC. Kinara bahkan berdiri dari kursinya begitu cepat hingga kakinya membentur meja kayu dengan keras.
"Kalau Kak Rian sedang bosan, lakukan apa pun yang biasa Kak Rian lakukan!" lanjut Kinara dengan napas memburu, meluapkan seluruh kekesalannya tanpa peduli lagi pada status senioritas di antara mereka. "Aku tidak ada waktu untuk meladeni permainan Kak Rian. Apalagi Kak Rian kan sudah punya Kak Silla!"
Dalam sekejap, atmosfer tenang perpustakaan langsung runtuh total.
Puluhan pasang mata yang tadinya fokus pada buku pelajaran kini serentak menoleh ke sudut paling sepi itu dengan wajah melongo. Para siswa yang sedang membaca membeku, penjaga perpustakaan menghentikan aktivitas stempelnya, dan beberapa murid yang sedang mengerjakan tugas kelompok langsung menegakkan tubuh demi menonton drama yang tidak terduga ini.
Keheningan mencekam merayap, sebelum akhirnya pecah oleh bisikan-bisikan tajam yang menyebar seperti virus ke seluruh penjuru ruangan.
"Eh, apa aku enggak salah dengar? Barusan murid beasiswa itu baru saja menolak Kak Rian?"
"Demi apa? Kinara si cupu itu berteriak di depan Rian Pradifta?!"
"Dia gila ya? Berani-beraninya membentak Rian secara mentah-mentah di depan umum!"
"Tunggu, Rian menembak dia? Murid beasiswa yang miskin itu? Yang benar saja!"
Kasak-kusuk itu terdengar semakin bising, memenuhi ruang perpustakaan seperti dengungan lebah. Harga diri Rian yang biasanya tak tersentuh kini mendadak diseret ke lantai dasar oleh penolakan yang begitu vokal di depan publik.
Namun, Rian tetap duduk di tempatnya dengan tenang. Alih-alih marah karena harga dirinya diinjak-injak di depan umum, isi otak Rian yang gila kontrol justru menyaring kalimat Kinara dengan cara yang berbeda. Pria itu hanya menangkap bagian paling ujung dari ucapan Kinara.
Jadi, masalahnya ada di Silla.
Bagi Rian, jika ada penghalang di depannya, maka solusinya hanya satu: singkirkan penghalang itu saat ini juga.
Dengan gerakan yang teramat tenang dan dingin, Rian meraba saku celana abu-abunya. Dia mengeluarkan ponsel pintarnya, menggeser layar sebentar, lalu langsung menghubungi sebuah nomor yang berada di daftar teratas. Rian mendekatkan ponsel itu ke telinganya, sementara mata elangnya tetap menatap lekat ke arah Kinara yang masih berdiri gemetar menahan amarah.
Sambungan telepon langsung diangkat di seberang sana dalam hitungan detik. Terdengar suara manja Silla yang samar dari pengeras suara ponsel Rian. "Halo, Rian Sayang? Kamu di mana—"
"Silla," potong Rian dingin, suaranya terdengar datar tanpa ada riak emosi atau rasa bersalah sedikit pun. "Jangan menampakkan dirimu di depanku lagi. Kita putus."
_Pip._
Rian langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak sebelum Silla sempat mengeluarkan satu kata pun. Dia melempar ponselnya kembali ke atas meja kayu dengan gerakan santai yang teramat menjengkelkan.
Kinara terengah-engah, matanya membelalak sempurna di balik kacamata tebalnya. Dia menatap Rian dengan rasa tidak percaya yang teramat sangat. Cowok di hadapannya ini benar-benar sakit. Dia baru saja memutuskan hubungan yang sudah berjalan berbulan-bulan dengan gadis paling populer di sekolah hanya dalam waktu lima detik, murni karena ego gilanya.
Rian perlahan berdiri dari kursinya. Tubuh tingginya yang tegap kini menjulang di depan Kinara, memancarkan aura intimidasi yang berkali-kali lipat lebih pekat. Dia memberikan senyuman miring yang penuh kemenangan yang mutlak.
"Sekarang," bisik Rian dengan nada berat yang menuntut, mengabaikan puluhan pasang mata murid lain yang kini semakin syok mendengar percakapan mereka. "Silla sudah bukan masalah lagi. Jadi, apa alasanmu untuk menolakku sekarang, Kinara Jose?"
Kinara langsung mundur satu langkah. Wajahnya memerah padam menahan malu yang luar biasa karena kini dia benar-benar menjadi pusat perhatian seisi perpustakaan. Bisikan-bisikan di sekelilingnya terasa mencekik. Dalam posisi terdesak, otak Kinara berputar cepat mencari jalan keluar.
"Aku gak mau..." ucap Kinara akhirnya dengan terbata-bata. Dia meremas ujung seragamnya, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya. "...udah ada orang yang aku suka."
Itu dusta. Sebuah kebohongan besar yang Kinara lempar demi menyelamatkan dirinya dari jeratan cowok gila kontrol ini.
"Siapa? Randy?"
Seketika, tawa Rian pecah. Suara kekehannya terdengar begitu meremehkan saat membayangkan dirinya harus bersaing dengan Randy—si anak basket populer sekolah yang menurut Rian sama sekali bukan tandingannya. Bagi Rian, Randy hanyalah kerikil kecil yang bisa dia singkirkan kapan saja. Tawa itu terdengar begitu angkuh, menegaskan dominasi mutlak yang dia miliki.
Mendengar tawa ejekan Rian, keberanian Kinara justru tersulut kembali. Dia mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata elang Rian tanpa rasa takut lagi.
"Siapa pun itu, gak ada hubungannya sama Kak Rian!" tegas Kinara, suaranya kini terdengar lebih mantap meskipun jantungnya berdegup gila. "Jadi jangan ganggu aku. Soal kejadian di basecamp kemarin, Kak Rian juga salah. Aku gak mau minta maaf karena aku gak salah. Kak Rian pantas mendapatkannya karena sudah bersikap tidak sopan!"
Setelah menumpahkan seluruh kata-kata itu, Kinara tidak memberikan kesempatan bagi Rian untuk membalas. Dengan gerakan cepat, dia menyambar buku paket biologinya, berbalik, dan melangkah lebar meninggalkan sudut perpustakaan. Dia mengabaikan tatapan melongo dari puluhan murid yang menyaksikan keberanian seorang anak beasiswa cupu yang baru saja menginjak-injak harga diri sang penguasa sekolah.
Sesaat setelah punggung Kinara Jose menghilang di balik pintu kaca perpustakaan, atmosfer di dalam ruangan itu masih terasa membeku. Rian perlahan menurunkan pandangannya, menatap potongan-potongan tiket nonton milik Randy yang berserakan di atas meja kayu. Kasak-kusuk murid lain di sekitarnya mendadak senyap begitu Rian menolehkan kepalanya dengan lambat, memberikan tatapan membunuh yang membuat semua orang langsung pura-pura sibuk dengan buku masing-masing.
Rian meraba saku celananya kembali. Dia mengambil ponsel yang baru saja dia pakai untuk memutuskan Silla. Dengan rahang yang masih mengeras kokoh, jarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan singkat kepada orang kepercayaannya di luar sekolah.
“Cari tahu siapa saja bajingan yang sedang mendekati Kinara Jose di sekolah ini. Sekarang.”
Rian paling benci jika ada sesuatu yang berjalan di luar kendalinya. Kalimat Kinara yang mengatakan bahwa sudah ada orang yang cewek itu sukai terus terngiang di kepalanya, membakar ego dan insting posesifnya hingga ke tingkat yang membahayakan.
Hanya butuh waktu satu jam bagi bawahan Rian untuk mengumpulkan data. Saat jam istirahat kedua, sebuah dokumen digital masuk ke ponselnya. Rian yang sedang duduk sendirian di sofa ruang OSIS membuka file tersebut. Sepasang mata elangnya menyipit tajam saat membaca baris demi baris laporan yang dikirimkan. Alisnya bertaut rapat. Napasnya mendadak terasa berat oleh gelombang amarah yang baru.
Ternyata... bukan cuma Randy.
Di dalam laporan itu, ada beberapa nama murid laki-laki populer lainnya. Mulai dari ketua klub debat, kapten tim futsal, hingga beberapa anak kelas sebelas yang diam-diam sering meninggalkan susu kotak atau roti di kolong meja Kinara saat kelas kosong.
Rian mendengus kasar, melemparkan ponselnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan denting yang nyaring. Dada cowok itu bergemuruh hebat oleh rasa tidak rela yang teramat pekat.
Kinara sudah mati-matian menyembunyikan kecantikannya. Gadis itu sengaja memakai kacamata berbingkai hitam yang kebesaran, mengikat rambutnya dengan asal-asalan, berkulit pucat karena kurang tidur, dan selalu memakai seragam yang longgar agar bentuk tubuhnya tidak terlihat. Dia sengaja menenggelamkan dirinya menjadi murid beasiswa yang miskin, cupu, dan tidak terlihat demi bisa bertahan hidup dengan tenang.
Namun sialnya, insting para murid cowok di Garuda Nusantara ternyata setajam itu.
Mereka seperti serigala yang bisa mengendus keberadaan permata berharga murni di balik tumpukan lumpur. Cowok-cowok itu menyadari apa yang Rian sadari: bahwa di balik penampilan luar yang menyedihkan itu, Kinara memiliki sepasang mata jernih yang memikat, bentuk bibir yang sempurna, dan aura misterius yang justru membuat kaum adam penasaran setengah mati untuk menjinakkannya.
Fakta tersembunyi inilah yang sebenarnya menjadi alasan utama mengapa Kinara begitu dibenci oleh murid-murid perempuan di sekolah ini.
Selama ini, siswi-siswi Garuda Nusantara selalu memandang rendah Kinara. Bagi mereka, Kinara itu jelek, miskin, dan membosankan. Namun, mereka dibuat heran sekaligus meradang karena secara tidak sadar, perhatian para cowok populer yang mereka puja justru sering kali teralihkan pada si anak beasiswa itu. Rasa iri dan dengki yang tidak berdasar itu membuat Kinara sering kali menjadi korban bullying halus, dikucilkan, dan ditatap sinis setiap kali melewati koridor kelas.
Rian berdiri dari sofanya, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke arah lapangan sekolah. Dari lantai dua, mata elangnya menangkap sosok Kinara yang sedang berjalan menunduk di pinggir lapangan, memeluk buku biologinya dengan erat.
"Sialan," umpat Rian rendah, suaranya terdengar sangat posesif dan berbahaya.
Mengetahui bahwa ada banyak mata pria lain yang sedang mengincar gadis itu membuat insting berburu Rian semakin membubung tinggi. Dia tidak akan membiarkan satu pria pun menyentuh atau mendekati apa yang sudah dia tandai sebagai miliknya. Jika satu sekolah menganggap Kinara adalah milik bersama yang bisa didekati, maka Rian akan memastikan bahwa mereka semua harus menghadapi konsekuensinya terlebih dahulu.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk