Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Ruangan kerja Tuan Aryan diselimuti kegelapan, hanya diterangi samar oleh cahaya lampu jalan dan kilatan petir sesekali yang masuk lewat celah jendela. Suara hujan yang masih mengguyur deras terdengar berirama, menambah kesunyian yang terasa mencekam.
Tuan Aryan duduk membungkuk di belakang meja besar, bahunya terkulai lemas. Perlahan, tangannya terulur dan meraih sebuah bingkai foto berukuran sedang yang ada di sudut meja, itu adalah foto mendiang istrinya, ibu kandung Kania, dengan senyum lembut yang masih terlihat hidup. Jari-jarinya mengusap kaca pelindung foto itu dengan gerakan lambat dan gemetar, seolah menyentuh wajah yang sudah lama tiada.
"Kalau kau masih ada… apa yang akan kau katakan padaku?" gumamnya lirih, suaranya tercekik. "Kania… darah daging kita berdua… tapi aku harus membuangnya…"
Belum sempat ia melanjutkan, pintu ruangan terbuka perlahan. Nyonya Melani masuk tanpa suara, menyalakan lampu meja dengan cahaya redup agar tidak terlalu menyilaukan. Ia melangkah mendekat dengan tenang, lalu berdiri di sisi meja dan menatap suaminya dengan pandangan yang terlihat memahami.
"Mas masih belum tidur dan memikirkan anak itu?" tanyanya lembut, lalu meletakkan tangan di atas bahu Tuan Aryan. "Sudah larut malam, sebaiknya Mas istirahat saja."
Tuan Aryan tidak menoleh, matanya masih terpaku pada foto di tangannya. "Aku hanya teringat janji pada mendiang Kirana… jika aku akan menjaga dan melindungi Kania sampai ia tumbuh dewasa. Tapi hari ini… aku gagal menepatinya."
Nyonya Melani mendengus pelan, lalu menegaskan ucapannya dengan nada yang meyakinkan namun tetap halus. "Mas tidak gagal. Justru keputusan yang Mas ambil ini adalah hal paling tepat untuk dilakukan. Jika Mas membiarkannya tetap tinggal, apa yang terjadi? Nama baik yang dibangun puluhan tahun akan hancur dalam semalam, usaha kita akan dipandang rendah, bahkan masa depan Luna dan keluarga ini akan terbenam bersama aib itu."
Ia melangkah lebih dekat, berbicara lebih lirih seolah membisikkan kebenaran mutlak.
"Membawanya pergi bukan berarti membuang tanpa alasan. Itu cara terbaik untuk melindunginya juga, agar Kania tidak terus menjadi bahan pembicaraan orang, agar ia bisa hidup tenang di tempat lain tanpa beban pandangan buruk. Kalau Kirana masih ada, ia pun akan mengerti bahwa demi keselamatan dan keutuhan keluarga, pengorbanan kecil itu harus diambil. Ini bukan kejam, Mas, ini adalah kewajiban kepala keluarga."
Tuan Aryan mengepalkan tangan yang memegang bingkai foto itu. Kata-kata itu kembali menyerbu pikirannya, menutupi suara hati yang masih meronta. Rasa bersalah perlahan tergantikan kembali oleh rasa yakin yang dipaksakan.
"Kamu benar… memang sudah tidak ada jalan lain," jawabnya akhirnya dengan suara berat, lalu meletakkan foto itu kembali ke tempat semula seolah menyingkirkan beban yang tak sanggup ia pikul. "Biarkan saja dia pergi. Mulai hari ini, dia bukan lagi bagian dari keluarga ini. Dan jangan pernah sebut namanya lagi di rumah ini."
Nyonya Melani tersenyum puas, lalu menepuk bahu suaminya lembut. "Istirahatlah, Mas. Tidak perlu memikirkan masalah ini terlalu dalam, setelah Kania merenung dia juga akan paham jika yang kamu lakukan ini sudah benar."
Saat ia berbalik hendak keluar, matanya melirik sekilas ke arah foto mendiang Kirana, di balik tatapan tenangnya tersembunyi pandangan dingin dan penuh kemenangan.
"Kamu lihat sendiri kan, Kirana... rintangan terbesarku sudah tersingkir dengan sempurna."
-
-
-
Di dalam mobil yang sempit dan bergerak terguncang menerobos hujan, Kania duduk terjepit rapat di antara kedua pria berperawakan kekar itu. Setiap sisi tubuhnya tertekan, napasnya terasa sesak, namun ia tidak berhenti berusaha melepaskan diri.
"Lepaskan aku! Aku tidak akan pergi! Aku korban! Aku tidak bersalah!" teriaknya parau. Kedua tangannya mencoba mendorong lengan pria di kanan dan kirinya, kakinya menendang ke depan dan ke samping, namun genggaman mereka terasa seperti besi yang tak bisa digoyahkan.
"Diam! Teriakanmu tidak ada gunanya disini!" bentak salah satu pria itu dengan nada kasar, lalu menekan bahu Kania lebih kuat. "Sebaiknya kamu menurut, kami disini hanya menjalankan tugas."
"Aku tidak akan diam sebelum kalian menghentikan mobil dan membiarkan aku turun!" seru Kania kembali, memutar kepalanya mencoba menggigit atau mencakar apa saja yang terjangkau. Rambutnya yang basah kuyup berantakan menutupi wajahnya yang pucat, air mata bercampur air hujan terus mengalir turun membasahi leher dan bajunya.
Sopir yang duduk di depan hanya melirik sekilas dari kaca spion, lalu segera memusatkan pandangan kembali ke jalan yang licin dan gelap. Ia tidak berani berbicara atau ikut campur.
Mobil terus melaju membelah jalan yang makin sempit dan berkelok tajam, hujan turun semakin lebat sehingga pandangan terbatas hanya beberapa meter ke depan. Saat tiba di tikungan menanjak yang curam, jalan menjadi sangat licin. Sopir terpaksa menginjak rem secara perlahan dan mengurangi kecepatan secara drastis agar kendaraan tidak tergelincir.
Inilah celah yang ditunggu Kania. Tepat saat mobil melambat dan tubuh mereka terguncang ke samping karena tikungan, Kania yang pura-pura lemas seketika mengerahkan sisa tenaga terakhirnya. Ia mendorong bahu pria di sebelah kanannya sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung ke arah temannya, menyebabkan kedua pengawal itu terjatuh berdesakan satu sama lain dan kehilangan cengkeraman sejenak.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kania meraih gagang pintu yang tidak terkunci rapat, menariknya dengan gerakan cepat, lalu melompat keluar. Tubuhnya terguling beberapa kali di atas aspal basah dan berlumpur, tergores batu serta semak belukar, namun ia langsung mencoba berdiri meski terhuyung, lalu berlari secepat kakinya bisa membawanya masuk ke kegelapan pinggir jalan.
"Hei! Berhenti! Jangan lari!" teriak kedua pria itu terkejut, segera melompat turun dan mengejarnya dengan langkah besar.
Suara deru air yang jatuh ke tanah menyamarkan langkah kaki Kania, dan kabut tebal menutupi pandangan para pengejar. Ia terus berlari tanpa peduli rasa perih di lutut dan telapak tangan, tanpa menoleh ke belakang.
Kania terus berlari tanpa menoleh, napasnya memburu, dadanya terasa sesak, air hujan membasahi seluruh tubuhnya hingga tulangnya terasa beku. Kakinya terbentur batu dan tergores semak belukar, namun rasa sakit itu tak ia hiraukan, yang ada hanya keinginan untuk tidak tertangkap kembali.
Namun tenaganya semakin habis. Setelah berlari jauh, kakinya tergelincir di atas lumpur licin, dan tubuhnya terjatuh tersungkur dengan keras di pinggir jalan. Ia mencoba merangkak, tapi lutut dan telapak tangannya terasa lemas tak bertenaga. Suara langkah kaki dibelakang sudah terdengar semakin dekat.
Disaat bersamaan, cahaya lampu sorot terang menyapu jalanan, diikuti suara deru mesin mobil yang mendekat dengan cepat. Kendaraan itu melaju perlahan lalu berhenti tepat di samping tubuh Kania yang terbaring lemas.
Pintu belakang terbuka lebar. Di dalam kabin yang hangat dan kering itu, duduk seorang pria bertubuh tinggi dengan penampilan rapi, mengenakan jas gelap yang terlihat mahal. Wajahnya tegas, tatapannya tajam namun tanpa ekspresi, terlihat dingin dan berwibawa seolah tak ada yang bisa menggoyahkan ketenangannya.
"Masuk."
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭