Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 rahasia
Biel masih duduk terdiam di atas motornya ketika Shahnaz turun dari mobil.
Wanita itu berdiri tegak di sisi mobil sambil melepas kaca mata hitamnya.
Pandangannya terarah pada sosok Biel yang berada di seberang jalan.
Sadar sedang menjadi pusat perhatian,
Biel menutup kaca helmnya, tak lama ia menyalakan mesin motornya dan segera berlalu dari tempat itu.
Ia tak siap jika harus kembali bertemu dan berhadapan dengan wanita itu.
Ia tetap seperti dulu....
Tak memiliki apapun untuk bisa ia jadikan untuk melawan wanita itu.
Sementara itu Shahnaz,
Ia yang merasa aneh dengan seseorang di atas motor yang berada di seberang jalan sana kian merasa curiga ketika seseorang tiba tiba pergi ketika ia memperhatikannya.
" Johan....!! " panggilnya dengan suara sedikit keras kepada salah satu penjaga pintu utamanya di pos itu.
" ya Nyonya " seorang pemuda segera berlari mendekat kepadanya.
" kau lihat orang di seberang jalan tadi ?! "
tanya Shahnaz
" iya nyonya...saya melihatnya "
" kau tahu siapa dia ?! "
" tidak nyonya, saya baru kali ini melihatnya....mungkin dia hanya sedang berteduh atau beristirahat saja nyonya.
jika di lihat dari cara berpakaiannya....mungkin dia baru pulang kerja " jawab Johan menjelaskan.
Shahnaz terdiam,
Penjelasan Johan cukup masuk akal.
Akhirnya ia memilih masuk ke dalam mobil dan kembali melajukan mobilnya masuk ke dalam area yayasan.
Seperti biasa saat ia datang ke tempat ini, Wanita itu langsung melangkah ke arah ruang kepala sekolah.
" selamat pagi nyonya " sapa seorang laki laki paruh baya yang berada di dalam ruang kantor kepala yayasan.
" hemm....aku baik,
bagaimana barang kita ?! " tanya Shahnaz setelah ia masuk ke dalam ruangan.
" semua sudah di pack dan siap edar nyonya....
kita hanya butuh perantara saja untuk membuat barang kita berada di pasaran " jawab laki laki baya itu sambil menunjukkan rekaman cctv sebuah ruangan yang menunjukkan gambar bertumpuk tumpuknya sesuatu yang di bungkus rapi dengan kotak kotak kayu.
Senyum tersungging di bibir Shahnaz.
" bagus....
aku suka kerjamu, tunggu pemilihan tahun depan,
aku pastikan kau akan menjadi salah satu kandidat wali kota di kota ini " ucap Shahnaz dengan penuh percaya diri.
" terima kasih nyonya.....terima kasih " jawab seseorang itu dengan raut wajah senang dan bahagia.
" jangan terlalu senang dulu pak Hutomo, aku tidak bisa memberimu jaminan jika kau pasti akan terpilih.
Aku hanya bisa memberimu jalan saja "
" iya nyonya....aku mengerti "
" tapi percayalah....
aku tidak akan berhenti sampai di situ saja, sebisaku aku tentu akan membuatmu terpilih. Dan setelah itu,
kau pun harus tahu apa yang harus kau lakukan "
" tentu saja nyonya ....aku tidak akan pernah lupa dengan budi baik anda kepada saya "
" bagus ....
kalau begitu ...persiapkan untuk pengiriman selanjutnya.... "
" baik nyonya ....." jawab pak Hutomo penuh kesiapan.
Setelah perbincangan itu, Dua orang masuk ke dalam ruangan itu.
" nyonya....
silahkan...." ucap salah satu dari dua orang itu.
Shahnaz mengangguk dan kemudian ia bangkit dari duduknya mengikuti dua orang yang lebih dulu melangkah ke arah sebuah pintu yang ada di pojok ruangan itu.
Di belakangnya,
Pak Hutomo turut mengikuti.
Pintu terbuka,
Sebuah kamar mandi biasa, ke empat orang itu masuk ke dalam kamar mandi itu menuju sebuah kaca besar yang menempel di dinding.
Kaca itu di geser dan lagi sebuah pintu terlihat.
Pintu itupun di buka....
Seketika sebuah ruangan yang cukup luas terhampar di sana.
Tumpukan tumpukan karung berwarna putih memenuhi ruangan itu.
Wajah Shahnaz berbinar, di matanya itu bukan hanya tumpukan karung putih biasa.
Tapi itu adalah tumpukan uang baginya.
Karena tumpukan itu, banyak orang bertekuk lutut di hadapannya.
Mereka semua berlomba lomba menyenangkan hatinya dan berebut untuk mendapatkan perhatian darinya.
Tak ada yang berani
" kalian sudah mendapatkan pengirim itu ?! " tanya Shahnaz
" sudah nyonya ...sesuai petunjuk dari tuan muda.
Kami berhasil menghubunginya.
Tapi kami tidak bisa bertemu langsung dengan orang itu karena ia menolaknya.
Ia meminta barang di kirim ke alamat yang ia kirimkan dan kemudian dia sendiri yang akan melanjutkan mengirim sesuai keinginan kita.
Intinya hanya dia tidak mau kita mengetahui jati dirinya "
jelas Erea salah satu perempuan di tempat itu yang juga merupakan kepercayaan Shahnaz.
" tak apa Erea ...
aku sudah banyak mendengar sepak terjangnya dari Steve.
Selama ini katanya memang tidak ada satupun yang telah memakai jasanya yang pernah bertemu dengannya.
Yang penting barang kita bisa sampai tujuan tepat waktu.
Itu sudah cukup.....
Dan jika itu benar terjadi, tambahkan lagi bagiannya " ucap Shahnaz lagi.
Tiga orang lain di tempat itu mengangguk mengerti.
Shahnaz kembali melangkah masuk semakin dalam ke dalam ruangan itu.
Dan lagi lagi sebuah pintu yang tertutup dinding berada di sana.
Wanita cantik itu membuka pintu itu.
Wajahnya kian merekah, hamparan tanaman kehijaun segera tersaji di hadapannya ketika pintu itu buka.
" tanaman anda tumbuh subur nyonya " ucap Erea.
" hemmmmm......
dan dengan ini, aku akan tetap menjadi pemegang kota ini " jawab Shahnaz dengan senyum menyeringai.
Shahnaz benar benar telah gelap mata, ambisi sungguh telah merubahnya begitu jauh.
Berawal dari ingin menjadi satu satunya di hati Ricard yang nyatanya diam diam menyimpan rasa kepada wanita yang telah ia hamili namun ia tak berani mengungkapkan perasaannya karena perbedaan status.
Shahnaz berubah menjadi wanita serakah.
Segala cara ia lakukan hanya agar keberadaanya terlihat dan di akui di mata semua orang.
Kini,
Semua yang ia inginkan telah tercapai, dengan uang .....
Jangankan seseorang seperti Ricard yang dulu sulit tersentuh olehnya.
Kini laki laki itu bahkan tak berdaya di hadapannya selain terbaring lemah di atas pembaringan.
Dan sebagai bonusnya, banyak orang juga berada di dalam genggamannya karena uang.
🍀
Senja di sebuah apartemen,
Erick yang baru saja pulang dari kantor terlihat duduk di balkon kamarnya sambil menikmati secangkir coklat hangat.
Tatapan pria itu menatap lurus ke depan, tepatnya ke arah jalan raya yang di padati kendaraan bermotor.
Juga pada lampu lampu jalan yang mulai menyala.
Lampu lampu nampak berkerlap kerlip indah.
Glek ...
Erick menenggak minumannya, rasa hangat seketika melewati tenggorokannya.
Ingatannya melayang pada malam kemaren di club yang ia datangi bersama dengan Aris.
( Bee .....)
sebuah nama terngiang di telinganya.
" siapa sebenarnya kau....kenapa aku sungguh merasa tidak asing denganmu ?! " bisik Erick lagi.
sementara itu jauh dari ia berada saat ini,
seseorang yang sedang ia pikirkan nampak menyusuri area pemakaman.
Satu hal yang sering Biel lakukan setiap satu Minggu sekali.
mencari makam sang ibu,
Ia tak pernah tahu di mana sang ibu di makamkan sehingga ia mendatangi area pemakaman di kota yang telah lama ia tinggalkan ini satu demi satu dengan harapan....
Mungkin di salah satu area pemakaman itu, ia akan menemukan sebuah batu nisan bertuliskan.
" Saraswati Anggraini Calista......"
Nama sang ibu.
Tapi selama ini, usahanya tak pernah membuahkan hasil.
Ia tak pernah menemukan apa yang ia cari.
Entah di mana mereka menguburkan sang ibu yang kata mereka telah tiada.