Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Bunyi alarm memenuhi kamar dengan tiga orang gadis di dalamnya, namun sudah dua menit berbunyi tak ada satupun dari mereka yang terbangun.
"Akhhhh berisik banget!" Keira langsung memposisikan diri duduk dari tidurnya, karena merasa terganggu dengan bunyi alarm itu. Ia mengucek matanya beberapa kali, lalu mengedarkan pandangan untuk melihat sumber dari alarm.
"Ya ampun jauh banget tu hp, males banget gue," gumamnya. Ternyata alarm yang berbunyi itu dari ponsel Laila.
Dilihatnya jam di dinding penginapan, matanya langsung terbelalak saat tersadar waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Cepat-cepat ia mengambil langkah besar menuju kamar mandi. Bukan tanpa alasan Keira buru-buru untuk mandi, pagi ini mereka sudah ada janji dengan instruktur selancar, dari pada berebut kamar mandi nanti dengan kedua sahabatnya maka Keira lebih dulu mengambil start untuk mandi dan bersiap-siap.
Tasya yang terganggu dengan suara gaduh Keira akhirnya ikut terbangun, saat membuka mata ia melihat Keira yang sudah menenteng alat mandi dan handuk yang melingkar di leher menuju kamar mandi.
Tasya berusaha bangkit dari tidurnya dan menggapai ponsel di atas nakas, sudah ada beberapa pesan masuk dari instruktur selancar yang sudah mereka booking dari jauh-jauh hari. Dari pesan masuk itu instruktur selancar menginfokan kembali waktu mereka akan memulai latihan.
"Laila bangun." Tasya menggoyang pelan tubuh Laila yang berada tepat di sampingnya.
Merasakan tubuhnya terguncang beberapa kali, Laila bergerak menggeliat. Ia memaksakan matanya untuk terbuka.
"Udah jam berapa Sya?" tanya Laila dengan suara serak.
"Jam enam lewat lima," jawab singkat Tasya. "Eh ini ada Bli Oka udah chat gue buat konfirmasi lagi jam giliran kita buat latihan selancaran," lanjut Tasya.
"Ohh gitu, jadi jam berapa giliran kita Sya?"
"Jam delapan katanya."
"Hah jam delapan!" Laila terkejut dengan jawaban Tasya, karena jadwal dimajukan untuk mereka, yang awalnya jam sembilan.
Laila bergegas bangun dari tidurnya dan segera menyiapkan keperluan mandinya, bukan tanpa alasan Laila pun terlihat buru-buru seperti Keira tadi, ini dikarenakan mereka berdua itu tipe yang lama untuk bersiap-siap. Semasa kuliah saja mereka kerap terlambat di beberapa kelas pagi.
"Yaelah santai aja kali La, masih jam enam juga ini. Lagian masih ada si Keira tuh di kamar mandi," ucap Tasya santai.
Meski mendapat kata menenangkan dari sahabatnya, Laila tidak mendengarkan itu, tetap saja dia terburu-buru menyiapkan keperluan untuk hari ini seperti baju yang akan dikenakan, serta make-up travelnya.
"Lo kan tau Sya, gue orangnya lama kalo siap-siap."
"Aduh si Keira lama banget lagi." Laila berjalan mendekati pintu kamar mandi.
beberapa kali ia menggedor pintu kamar mandi. "Kei cepatan!" teriak Laila.
"Bentar lagi sabar!" sahut Keira dari dalam kamar mandi.
Pagi itu kamar dipenuhi dengan suara kegaduhan para ciwi-ciwi itu dalam mempersiapkan diri.
Satu jam lebih telah berlalu, akhirnya ketiganya siap untuk melakukan aktivitas outdoor hari ini.
"Girls coba liatin blush on gue, ketebelan gak sih?" tanya Laila pada kedua sahabatnya.
Tasya dan Keira kompak langsung melihat blush on pada tulang pipi Laila. Pasalnya sering kali ada perbedaan hasil make-up saat dilihat di dalam ruangan dan di luar ruangan. Ketika kita merasa make-up sudah pas, ternyata di luar terdapat perbedaan yang sangat mencolok, yang sering terjadi itu pada blush on yang sering berlebihan hasilnya.
"Gak kok, udah pas itu," jawab Tasya.
"Oke, i'm ready for today!" Laila sangat semangat menyambut hari ini.
Saat mereka keluar penginapan, di lobi beberapa orang terlihat melirik mereka sesekali. Siapa yang bisa melewatkan pesona ketiga gadis itu, mereka bahkan dikenal dengan julukan tiga bidadari angkatan. Terlebih lagi saat ini mereka memakai pakaian renang yang sedikit berani.
Mereka menggunakan fasilitas penginapan yaitu buggy untuk mengantar mereka ke lokasi selancar yang tak jauh dari penginapan. Hanya beberapa menit saja mereka sudah hampir sampai di tempat janji dengan instruktur selancar, dari kejauhan Bli Oka terlihat sudah menunggu mereka dengan beberapa orang timnya.
Saat buggy semakin mendekat Laila melihat Devan juga sudah berada di sana, senyumnya terukir indah dan matanya berbinar saat melihat sosok itu. Namun seperkian detik senyum itu hilang saat ia melihat Arjuna juga berada di sana.
"Siapa yang ngajak jir, kenapa ada dia sih," gumam Laila.
"Apaan La." Keira mendengar sayup suara Laila.
"Oh nggak papa kok."
Buggy hanya bisa mengantar mereka sampai pada perbatasan jalan, mereka harus berjalan beberapa meter saja untuk benar-benar sampai ke tepi pantai. Semua mata yang menunggu mereka tertuju pada ketiga gadis itu, terlebih Devan yang beberapa kali melempar kedipan mata pada Laila. Pandangan Laila sesekali melihat ekspresi Arjuna yang terlihat seperti terkejut melihat keberadaan mereka. Entahlah apa yang membuatnya terkejut.
"Kenapa sih tu cowok, mukanya ngeselin banget," gumam Laila.
"Welcome girls, akhirnya yang ditunggu datang juga!" sapa Bli Oka sesaat para gadis itu sampai di hadapan mereka.
Mereka bersalaman dan memperkenalkan diri masing-masing secara singkat dengan Bli Oka dan beberapa timnya. Setelahnya mereka membuat lingkaran kecil untuk mendengarkan instruksi dari Bli Oka. Devan terlihat mendekatkan diri pada Laila.
"Cantik banget sayang," bisik Devan. Laila salah tingkah mendengar pujian dari Devan.
"Apaan sih." Laila memukul pelan pundak Devan.
Tasya yang melihat kelakuan dia sejoli itu dengan sigap mencolek lengan Laila yang berada tepat di samping kirinya.
"Ntar lagi kali lanjut mesra-mesraannya, dengerin dulu instruksi Bli Oka," bisa Tasya.
"Siap Buk," balas Laila setengah berbisik.
Karena mereka adalah pemula, Bli Oka memberikan instruksi dengan serius pada mereka. Mulai dari cara memposisikan tubuh di atas papan selancar, cara mendayung, teknik berdiri di atas papan selancar, serta aturan keselamatan yang sangat ditekankan oleh Bli Oka. Bersamaan dengan penjelasan Bli Oka, terdapat dua orang dari tim Bli Oka yang mencontohkan. Ketiga gadis itu pun sembari mendengarkan juga mencoba apa yang dicontohkan dengan papan selancar masing-masing.
Setelah selesai memberi instruksi, Bli Oka mengizinkan mereka untuk perlahan mulai menggunakan selancar di perairan pantai yang dangkal terlebih dahulu dan mencoba berdiri di atas papan selancar.
Tasya dan Keira ditemani dua tim Bli Oka untuk melatih keseimbangan mereka, sedangkan Laila ditemani Devan. Beberapa kali Laila terjatuh saat mencoba berdiri di papan selancar yang mulai bergoyang diterpa ombak, dan berkali-kali juga ia ditangkap oleh Devan. Mereka memanfaatkan masa-masa itu untuk bermesraan dan tertawa lepas. Tangan Devan terlihat beberapa kali tanpa sengaja bersentuhan dengan bagian sensitif Laila.
Sementara itu dari kejauhan terdapat sepasang mata yang sedari tadi menatap tajam dua sejoli itu dari pinggir pantai.
"Mas Juna, tidak ikut bermain?" Pertanyaan Bli Oka membuyarkan fokus mata Arjuna pada kedua sejoli itu.
"Tidak Bli Oka, saya hanya menemani mereka saja," jawab singkat Arjuna.
Dua jam penuh mereka bersenang-senang dengan kegiatan berselancar dan akhirnya Bli Oka memutuskan untuk menyudahi kegiatan itu karena ombak sudah mulai tinggi untuk ukuran pemula seperti mereka.
"Wahhhh selancaran seru banget titik," ujar Keira.
"Iya ya, mana tim Bli Oka pada pinter ngambil foto-foto kita," sambung Tasya.
"Iya ihhh, makin suka. Jadi banyak pilihan buat di upload ke insta." Laila terdengar sangat senang dengan itu.
"Abis istirahat bentar lanjut main banana boat kita girls!" ucap Tasya.
"Aaaa gak sabar banget." Keira sampai melompat-lompat kecil mendengar itu.
Mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar di kafe terdekat untuk mendingin badan setelah diterpa panas beberapa saat tadi.
...Bersambung... ...