Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lidah Tajam Ibu Tiri
Kinara menatap layar komputer yang masih menampilkan berkas-berkas kerja. Jarum jam di dinding kantor sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun ia masih saja duduk di meja kerjanya.
Sesekali ia memijat pelipis, berusaha mengusir rasa pusing yang menyerang akibat menumpuknya pekerjaan.
Hari-hari ini pikirannya tidak pernah tenang. Masalah keluarga membuatnya sulit fokus bekerja.
Setiap kali mencoba mengetik, bayangan angka sepuluh miliar kembali muncul di kepalanya. Angka itu bagai dinding raksasa yang menjulang tinggi, seolah mustahil ia bisa melewatinya.
Setelah memastikan semua pekerjaannya rampung, ia menghela napas panjang. Dengan langkah lelah, Kinara berjalan menuju lift.
Namun begitu pintu terbuka, tubuhnya mendadak kaku. Di dalam sana, berdiri seorang pria dengan tubuh tegap, tinggi menjulang, mengenakan jas hitam elegan. Renald Dirgantara.
Suhu ruangan yang semula hangat seketika terasa dingin menusuk tulang.
“Ingat...” Suara bariton itu terdengar jelas, penuh kuasa. “Besok pagi kau harus memberikan jawaban.”
Kinara terperanjat. Ia menoleh, dan tatapan dingin pria itu menusuk langsung ke dalam dadanya.
Tak ada kata yang sanggup keluar dari bibirnya. Di dalam hati, dua pilihan terus bertarung hebat. Jika ia menyetujui keinginan orang tuanya untuk menikah dengan Arman Nasution, pria tua kaya raya itu, maka selamanya ia akan terjebak dalam rumah tangga penuh penderitaan.
Tapi jika ia menolak, ia harus menemukan uang sepuluh miliar untuk menolong perusahaan Papanya yang di ambang kebangkrutan.
Berfikir untuk melarikan diri? Tidak mungkin. Ia tahu Papanya pasti akan menemukan dirinya, ke mana pun ia pergi.
Tiga puluh detik berada dalam lift bersama Renald terasa seperti tiga puluh tahun. Jantungnya berdegup kencang, telapak tangannya dingin berkeringat. Begitu pintu terbuka, tanpa menoleh sedikit pun, Kinara bergegas keluar, seolah ingin melarikan diri dari bayangan pria itu.
Setibanya di rumah, Kinara langsung dihadapkan pada pemandangan yang sudah tak asing lagi baginya.
Rani—ibu tirinya, duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Begitu melihat anak tirinya, lidah tajamnya langsung beraksi.
“Lihat tuh, Pa, anakmu! Mana ada gadis pulang jam segini? Perempuan yang pulang malam begitu biasanya keluyuran nggak benar.”
Kinara meremas tas di tangannya. Ia tidak berhenti berjalan, tak sekalipun menoleh pada sumber suara yang menusuk hatinya. Sudah terlalu sering ia mendengar tuduhan serupa dari wanita itu. Semakin ditanggapi, semakin puas Rani melukai dirinya. Maka kini, diam adalah senjata paling aman.
“Orang tua ngomong kok nggak didenger. Dasar nggak ada sopan santun!” Rani masih terus mencerca, meski Kinara sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
Arbian— Papa Kinara, hanya duduk terdiam. Tatapannya kosong, seolah tak berdaya menghadapi ocehan istrinya sendiri.
Di kamarnya, Kinara menyalakan lampu, lalu merebahkan diri di atas ranjang. Baginya, kamar adalah satu-satunya tempat aman untuk menghapus penat.
Ia menutup mata, mencoba menghalau semua kebisingan pikiran. Namun bayangan Renald kembali muncul—tatapan dinginnya, syarat yang menjijikkan itu, dan kenyataan bahwa besok ia harus memilih.
Tangannya meraih ponsel. Ia menekan nomor Bayu, kekasih yang paling ia percaya. Namun panggilan itu hanya dijawab suara operator. Ia mencoba lagi, berkali-kali, hasilnya sama.
“Aneh… biasanya Bayu selalu angkat, sekalipun sibuk.” Gumamnya.
Menghilangkan kecemasan, Kinara berjalan ke kamar mandi. Ia mengisi bathtub dengan air hangat, lalu membenamkan tubuhnya. Uap air menenangkan kulitnya, namun pikirannya tetap penuh beban.
"Apakah Bayu masih akan menerima dirinya, jika pria itu tahu kalau dirinya memilih jalan terlarang itu?" Pertanyaan itu terus menghantui benak Kinara.
Selama ini bahkan ketika Bayu memohon dan meminta, ia tak pernah rela memberikan hal yang paling berharga itu. Ia ingin tetap suci sampai menikah. Namun kini, dunia seolah menekannya hingga ia harus menyerahkan segalanya demi menyelamatkan keluarga terutama dirinya sendiri.
———
Sementara itu, di sebuah kamar hotel mewah di samping klub malam Harmos, suara dering telepon membangunkan seorang wanita. Diana—adik tiri Kinara, terbangun dengan senyum kemenangan.
Ia menoleh pada pria yang kini sudah terlelap di sampingnya, Bayu Minoto. Kekasih kakaknya.
Senyum licik merekah di bibir Diana. Ia meraih ponsel Bayu yang tergeletak di lantai. Layar menyala, menunjukkan panggilan masuk dari Kinara. Mata Diana berkilat puas. Tanpa pikir panjang, ia menonaktifkan ponsel itu.
Kini, hanya tersisa satu langkah terakhir dari rencana yang sudah ia susun matang-matang. Diana meraih gaun yang berserakan di lantai, lalu mengambil gunting kecil dari dalam tasnya.
Dengan gerakan hati-hati, ia mulai mengoyak kain itu, meninggalkan jejak robekan yang tampak kasar, seolah-olah telah terjadi pemaksaan.
Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, semakin melebar setiap kali gunting itu menutup dan membuka. Kepuasannya jelas tergambar.
“Sebentar lagi… semua akan berjalan persis seperti yang kuinginkan.” Bisiknya lirih, nyaris seperti mantra yang ia ucapkan untuk dirinya sendiri.
Setelah memastikan segalanya tampak sempurna, ia melangkah pelan mendekati Bayu yang masih terlelap dengan napas teratur.
Tanpa ragu, Diana menyelipkan tubuhnya ke sisi pria itu, lalu merebahkan diri di atas dada bidangnya, seakan-akan merekam sebuah adegan yang akan sulit terbantahkan ketika pagi tiba.
•
Keesokan paginya, cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar hotel. Bayu membuka mata perlahan. Kepalanya berat, berputar hebat. Ia mencoba mengingat kejadian semalam, namun kepalanya terasa kosong.
Suara tangisan lirih menusuk telinganya. Ia menoleh, dan mendapati seorang wanita meringkuk di sisi ranjang, tubuhnya hanya tertutup selimut. Rambut panjangnya terurai kusut, wajahnya tampak sembab.
Seketika, tubuh Bayu menegang. Potongan-potongan memori samar muncul—senyum seorang wanita, sentuhan asing, kemudian gelap.
“Apa… yang terjadi semalam?” Bisiknya, nyaris tak terdengar.
Wanita itu mendongak. Air mata membasahi pipinya. “Jangan mendekat!" Pekiknya seolah trauma dengan apa yang baru saja terjadi.
Bayu terperanjat. “Apa? Aku… aku nggak mungkin—”
Tangannya gemetar. Hati kecilnya menolak, tapi sisa-sisa bayangan semalam justru menguatkan tuduhan itu.
“Aku… aku akan bertanggung jawab.” Ucap Bayu akhirnya, suaranya berat.
Diana, yang sejak tadi berpura-pura rapuh, tersenyum samar di balik tangisnya. Semudah ini mendapatkan Bayu? pikirnya. Namun ia cepat menyembunyikan senyum itu, menggantinya dengan wajah penuh luka.
Bayu mendekat, berusaha menenangkan. “Tapi… siapa kamu sebenarnya? Kenapa bisa ada di sini?”
“Aku… Diana Bramasta.” Jawabnya pelan.
Nama itu membuat Bayu tersentak. “Apa? Diana Bramasta? A-adiknya Kinara?” Tanyanya gelagapan.
“Iya.” Diana menunduk, pura-pura menahan tangis. “Kinara kakakku.”
Bayu merasa dunia runtuh menimpanya. Ia mundur, wajahnya pucat. “Nggak… ini nggak mungkin…!”
Tangannya menutup wajah, penuh penyesalan. “Aku… aku nggak mungkin nikahin kamu. Ka-kalau kau butuh uang, aku akan transfer berapa pun. Tapi jangan minta aku—”
Diana langsung menangis lebih keras, membuat Bayu semakin frustasi.
Ingatan tentang awal hubungannya dengan Kinara menyeruak di kepala Bayu. Hari ketika ia menabrak gadis itu di persimpangan jalan. Hari ketika ia menemaninya di rumah sakit, saat tidak ada satu pun keluarga yang datang.
Selama dua minggu, Bayu setia menemani. Dari situlah perasaan tumbuh. Ia jatuh cinta pada ketegaran gadis itu, dan Kinara pun akhirnya membuka hati.
Bayu bukan pria sempurna. Ia tidak selalu murah hati, bahkan cenderung pelit jika menyangkut uang. Tapi ia selalu berusaha bertanggung jawab atas setiap kesalahannya. Itulah yang membuat Kinara yakin, bahwa ia akhirnya menemukan pria yang benar-benar tulus.
Dan kini, semua itu hancur dalam semalam.
Bayu menatap Diana yang masih menangis. Sesak menghimpit dadanya.
Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan semua ini pada Kinara? Bagaimana ia bisa mempertahankan cintanya, sementara ia baru saja menghancurkan kepercayaan itu dengan cara paling kejam?
Bayu menutup mata, wajahnya penuh penyesalan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa tak tahu harus memilih jalan mana.