Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hujan turun perlahan merayapi Kota Awan Biru.
Namun, ini bukan sekadar hujan biasa. Setiap tetes airnya mengandung serpihan Qi Langit yang teramat tipis. Bagi para kultivator tingkat tinggi, fenomena ini tak lebih dari embun tak berguna yang tidak sudi mereka lirik. Tetapi bagi rakyat jelata, gerimis ini adalah berkah spiritual yang luar biasa.
Di sudut sebuah kios obat sederhana, seorang pemuda tampak sibuk menata keranjang-keranjang berisi tanaman herbal. Namanya Arga, usianya baru menginjak dua puluh tahun. Ia bukanlah murid dari sekte besar, bukan pula keturunan dari klan terpandang. Ditambah lagi, bakat kultivasinya dinilai sangat rendah oleh standar dunia luar.
"Arga! Cepat antarkan ramuan ini ke kediaman keluarga Han!" teriak pemilik kios dari dalam.
"Baik, Paman," sahut Arga tangkas.
Tanpa mengeluh, Arga langsung memanggul keranjang kayu tersebut. Sejak kecil ia sudah hidup sebatang kara sebagai yatim piatu. Demi menyambung hidup, ia rela bekerja serabutan sembari mempelajari seni kultivasi secara otodidak dari kitab murah yang dibelinya dengan susah payah.
Tiga tahun berlatih dengan keras, ia masih saja tertahan di Tingkat Pemurnian Qi Lapisan Pertama.
Banyak orang yang mencibir dan menertawakan usahanya. “Orang cacat kultivasi sepertimu lebih cocok jadi petani daripada bermimpi menjadi kultivator,” ejek mereka.
Namun, Arga hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki jalan dan garis takdirnya masing-masing.
Sore itu, hujan turun semakin deras. Di tengah perjalanan menuju rumah keluarga Han, langkah Arga mendadak terhenti saat telinganya menangkap suara benturan logam yang nyaring dari sebuah gang sempit.
Clang! Clang!
Suara tebasan pedang itu disusul oleh jeritan tertahan seorang wanita. "Tolong...!"
Arga sempat ragu. Ia tahu betul kapasitas dirinya—ia bukanlah orang kuat. Namun, hatinya menolak untuk diam. Kakinya justru melangkah lebar menuju sumber suara.
Di dalam gang yang remang-remang, tiga pria berpakaian hitam tampak mengepung seorang gadis berjubah putih. Sudut bibir gadis itu mengalirkan darah segar, namun sepasang matanya tetap menatap tajam, sedingin bilah pedang.
"Serahkan Giok Bintang itu sekarang juga!" bentak salah satu pria berpakaian hitam.
"Tidak akan pernah," jawab gadis itu tegas, meski napasnya mulai terengah-engah.
"Hmph! Kalau begitu, matilah!"
Ketiga bilah pedang melesat secara bersamaan, siap merenggut nyawa si gadis.
Arga tahu betul bahwa ikut campur sama saja dengan bunuh diri. Namun, sebelum logikanya sempat mencegah, tubuhnya sudah bergerak lebih dulu secara impulsif.
"Hei! Lihat ke sini!" teriak Arga lantang.
Ketiga pria itu menoleh terkejut. Tepat pada saat itu, Arga melemparkan keranjang obatnya sekuat tenaga ke arah mereka. Puluhan tanaman herbal beterbangan di udara, mengacaukan pandangan.
Brak!
Keranjang kayu itu menghantam keras wajah salah satu penyerang hingga membuatnya terhuyung mundur.
"Pergi dari sana!" teriak Arga pada si gadis.
Gadis berjubah putih itu tertegun sesaat. Ia tidak menyangka seorang kultivator Lapisan Pertama—yang kekuatannya tak lebih dari manusia biasa—berani mempertaruhkan nyawa demi menolongnya.
Namun, celah sempit itu sudah lebih dari cukup bagi sang gadis. Mengumpulkan sisa Qi yang bergejolak di dalam tubuhnya, ia menghentakkan kakinya dan menebaskan pedang dengan cepat.
Sret!
Satu penyerang berbaju hitam langsung roboh bersimbah darah.
Melihat rekan mereka tumbang, dua pria yang tersisa mengalihkan amarah mereka sepenuhnya pada Arga. "Bocah sialan! Beraninya kau mencari mati!"
Buk!
Satu pukulan telak mendarat di dada Arga, membuatnya terlempar beberapa meter hingga menghantam dinding. Darah segar menyembur dari mulutnya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh, membuatnya nyaris kehilangan kesadaran.
Pemimpin kelompok itu mendekat, lalu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dengan tatapan sadis. "Matilah, serangga bodoh."
Tepat saat bilah pedang itu hendak mengayun turun—
Wussh!
Secercah cahaya putih melintas secepat kilat.
Sebelum kedua pria itu menyadari apa yang terjadi, gelombang energi yang dahsyat menghantam tubuh mereka hingga terpental hebat dan pingsan seketika.
Gang sempit itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara deru hujan.
Gadis berjubah putih itu berdiri dengan napas yang memburu. Di tangan kanannya, sebuah pedang tipis masih memancarkan pendar cahaya yang redup. Ia berjalan perlahan, lalu menatap Arga yang tergeletak lemah bersimbah darah.
"Kenapa kau menolongku?" tanyanya dengan nada heran sekaligus tersentuh. "Kau bisa saja mati."
Arga memaksakan sebuah senyuman lemah di wajahnya yang pucat. "Karena... jika aku berbalik dan mengabaikanmu... aku tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, garis wajah dingin gadis itu mencair. Ia tersenyum—sebuah senyuman yang begitu hangat, hingga dinginnya air hujan yang membasahi bumi seolah lenyap seketika.
"Aku Ling Yue."
"Arga..." jawab pemuda itu lirih sebelum pandangannya menggelap.
Saat itu, keduanya belum menyadari bahwa pertemuan singkat di bawah guyuran hujan roh itu telah memutar roda takdir yang baru. Pertemuan yang tidak hanya akan mengikat hati mereka, melainkan juga mengguncang dan mengubah tatanan seluruh Dunia Kultivasi selamanya.
Arga perlahan terbangun, disambut oleh aroma lembut tanaman herbal yang menenangkan indra penciumannya.
Ketika ia membuka mata, pekatnya langit malam telah menggantikan mendungnya hujan sore tadi. Ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang kayu kecil di dalam kios obat tempatnya bekerja.
"Sudah bangun?"
Sebuah suara perempuan yang tenang dan jernih memecah keheningan, memancing Arga untuk menolehkan kepala.
Ling Yue tampak duduk bersandar di dekat bingkai jendela. Jubah putihnya yang bernoda darah kini telah berganti dengan pakaian kain biru sederhana agar tidak menarik perhatian. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai pasrah, sementara paras cantiknya terpapar siluet cahaya bulan yang menembus ventilasi.
"Kau... yang membawaku kembali ke sini?" tanya Arga, suaranya masih parau.
Ling Yue mengangguk pelan. "Jika aku meninggalkanmu begitu saja di gang itu, kau pasti sudah mati kehabisan darah."
Arga mencoba untuk bangkit dan duduk. "Ah..." Namun, seringai sekejap lolos dari bibirnya saat rasa nyeri yang menusuk kembali mendera dadanya.
"Jangan bergerak dulu," ucap Ling Yue seraya menahan bahu Arga dengan lembut namun tegas. Sepasang matanya menatap lekat pemuda itu. "Kau bahkan tidak mengenalku sama sekali. Mengapa kau begitu bodoh hingga berani mempertaruhkan nyawamu?"
Arga membalas tatapan itu, lalu tersenyum kecil. "Jika semua orang di dunia ini hanya mau menolong orang yang mereka kenal, maka dunia ini pasti akan menjadi tempat yang jauh lebih kejam."
Mendengar jawaban itu, Ling Yue tertegun.
Sudah bertahun-tahun ia hidup dan dibesarkan di dunia kultivasi yang kejam—sebuah dunia yang dipenuhi intrik, pengkhianatan, dan pertumpahan darah demi memperebutkan harta surgawi. Baru kali inilah ia bertemu dengan seseorang yang rela mati demi orang asing tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
"Namamu Arga, bukan?" tanya Ling Yue, memecah kecanggungan.
"Iya."
"Apakah kau selalu tinggal di kota terpencil ini?"
Arga mengangguk pelan. "Aku hanya seorang pelayan di kios obat ini."
"Tetapi kau juga seorang kultivator."
"Hanya kultivator amatir."
Ling Yue diam-diam memfokuskan indranya untuk mengamati aliran energi di dalam tubuh Arga. Qi di dalam dantian pemuda itu memang sangat tipis, bahkan jauh lebih lemah dibandingkan dengan murid luar dari sekte tingkat rendah sekalipun.
Namun, entah mengapa ada sesuatu yang ganjil. Aliran Qi Arga bergerak dengan sangat stabil dan murni, seolah-olah fondasi kultivasinya telah ditempa dengan tingkat kesabaran yang luar biasa selama bertahun-tahun.
"Siapa nama gurumu?" tanya Ling Yue penasaran.
"Aku tidak punya guru. Aku belajar sendiri dari kitab bekas."
Ling Yue hampir mengira pendengarannya bermasalah. Belajar sendiri secara otodidak? Mustahil bagi manusia biasa untuk membentuk fondasi kultivasi yang begitu stabil tanpa bimbingan seorang master.
Sebelum Ling Yue sempat bertanya lebih jauh, pintu depan kios didorong paksa dari luar hingga berderit keras.
Brak!
Paman Darma, pemilik kios obat, masuk dengan wajah yang pucat pasi dan napas terengah-engah.
"Arga! Kau benar-benar mencarikan masalah besar untukku!" seru Paman Darma panik. "Apakah kau tahu siapa orang-orang berpakaian hitam yang kau lawan di gang tadi?!"
Arga menggelengkan kepalanya perlahan.
"Mereka adalah anggota dari Kelompok Serigala Hitam! Mereka adalah kawanan bandit kejam yang terkenal gemar membantai tanpa ampun!"
Ling Yue langsung berdiri dari tempat duduknya, memotong kepanikan pria tua itu. "Tenang saja. Masalah ini tidak akan melibatkan kalian berdua."
Paman Darma tersentak dan baru menyadari keberadaan gadis asing itu. "Kau..."
Sebelum pemilik toko itu sempat memprotes, Ling Yue mengeluarkan sekeping batu roh tingkat rendah dari balik sakunya dan meletakkannya dengan tenang di atas meja kayu. Kilau energi spiritual murni memancar dari batu tersebut.
Mata Paman Darma seketika membelalak sempurna. Satu keping batu roh itu nilainya setara dengan seluruh pendapatan kios obatnya selama bertahun-tahun.
"Ini... ini terlalu banyak..." bisik Paman Darma dengan tangan gemetar.
"Itu bukan uang pembayaran," sela Ling Yue, lalu mengalihkan tatapannya kembali pada Arga.
"Melainkan sebuah ucapan terima kasih."
Arga dengan cepat menggelengkan kepala.
"Paman, jangan diambil. Nona Ling, aku tidak bisa menerima ini."
"Kau hampir kehilangan nyawamu demi orang asing," tukas Ling Yue datar.
"Itu adalah pilihanku sendiri, bukan sebuah transaksi," jawab Arga tegas.
Ling Yue kembali dibuat terdiam. Pemuda di hadapannya ini benar-benar aneh. Di dunia kultivasi, semua orang saling membantai demi sekeping batu roh, teknik langka, ataupun pusaka kuno. Sementara Arga, pemuda miskin dengan pakaian lusuh ini, justru menolak hadiah yang diimpikan oleh jutaan orang.
Di luar kios, angin malam bertiup semakin kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Namun jauh di atas lapisan awan yang menyelimuti Kota Awan Biru, seekor burung roh raksasa terbang melintas membelah kegelapan. Di atas punggung makhluk mistis tersebut, berdiri seorang pria tua berjubah ungu megah.
Tatapannya yang tajam dan sedalam lautan menembus kabut malam, langsung mengarah ke sudut kota di bawahnya.
"Akhirnya aku menemukan jejakmu, Nona Muda..." gumam pria tua itu dengan suara berat yang bergetar pelan.
Ia terdiam sejenak, alisnya berkerut heran. "Tapi... mengapa Anda bisa bersama dengan seorang pemuda fana yang begitu biasa?"