Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Didorong rasa penasaran, Mida mencari Dapit. Ia berharap bisa memperoleh sedikit petunjuk tentang kejadian hari itu. Namun harapannya pupus. Setiap kali Mida mencoba mengajak bicara, Dapit selalu menghindar. Tatapannya gelisah, jawabannya singkat, lalu ia segera mencari alasan untuk pergi.
Sikap itu membuat hati Mida semakin tidak tenang. Jika memang tidak mengetahui apa-apa, mengapa Dapit seolah takut berhadapan dengannya?
Mida kembali berusaha menemui Dapit. Ia berharap, kali ini anak itu mau membuka mulut dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada hari terakhir Harapan. Namun, seperti sebelumnya, Dapit tetap menghindar. Setiap pertanyaan Mida dijawab singkat, lalu ia buru-buru pergi seolah tak ingin berlama-lama berada di dekatnya.
Saat Mida baru saja kembali ke gubuknya, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari kejauhan. Kak Dewi datang sambil terengah-engah.
"Mida... aku baru ingat. Tadi Nurul cerita. Katanya beberapa hari sebelum kejadian, Dapit sempat berkelahi sama Harapan."
Mida langsung menatap Kak Dewi penuh harap. "Berkelahi? Gara-gara apa, Kak?"
"Dapit marah karena gagal mewakili sekolah ikut lomba menggambar. Awalnya dia yang dipilih. Tapi akhirnya guru menggantinya dengan Harapan karena gambar Harapan dinilai lebih bagus."
Ucapan itu membuat Mida terdiam. Selama ini ia mengira Dapit dan Harapan tidak pernah memiliki masalah. Kini, untuk pertama kalinya, ia mengetahui bahwa di antara mereka pernah terjadi pertengkaran yang dipicu rasa iri dan kecewa. Meski belum bisa dijadikan bukti, informasi itu menjadi petunjuk baru yang membuat Mida semakin yakin bahwa kematian putranya menyimpan sesuatu yang belum terungkap.
***
Mida sudah tak sanggup lagi menahan kegelisahannya. Petunjuk demi petunjuk justru membuat pikirannya semakin dipenuhi pertanyaan. Sore itu, ia sengaja menunggu di jalan setapak dekat surau. Saat Dapit pulang sehabis salat, Mida menghentikan langkah bocah itu. Dengan suara yang bergetar menahan emosi, Mida berkata, "Dapit... apa yang sebenarnya terjadi hari itu? Kalau kamu terus diam, Bibi akan lapor ke polisi. Biar polisi yang mengusut semuanya."
Mendengar kata polisi, wajah Dapit langsung pucat. Tubuh kecilnya gemetar. Ia mundur selangkah, lalu menggeleng berkali-kali. "Aku... aku nggak tahu apa-apa, Bi. Aku nggak tahu..."
Belum sempat Mida bertanya lagi, tangis Dapit pecah. Bocah sepuluh tahun itu menangis histeris, seolah menyimpan ketakutan yang sudah terlalu lama dipendam.
Mida terdiam. Naluri seorang ibu mengatakan, tangisan itu bukan sekadar tangisan anak yang ketakutan dimarahi. Ada sesuatu yang disembunyikan Dapit. Sesuatu yang belum sanggup ia ucapkan dengan kata-kata.
Mida menatap Dapit dengan mata yang mulai dipenuhi air mata. Amarah yang tadi membuncah perlahan berubah menjadi permohonan seorang ibu yang kehilangan anak. "Bicaralah, Dapit... tolong Bibi. Bibi cuma ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Harapan. Kalau kamu tahu sesuatu, jangan dipendam sendiri. Tolong... katakan yang sebenarnya."
Suara Mida bergetar. Ia tidak lagi mengancam. Yang tersisa hanyalah harapan agar bocah di hadapannya mau membuka mulut dan mengakhiri penantian panjang seorang ibu yang selama ini hidup dalam tanda tanya.
Dapit menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangisnya semakin keras. Tubuh kecilnya bergetar hebat, seolah beban yang dipikulnya selama ini terlalu berat untuk ditanggung seorang anak berusia sepuluh tahun.
Mida ikut berlutut di hadapannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir tanpa bisa dibendung. "Nak... Bibi nggak mau menyakiti kamu. Bibi cuma ingin tahu... Apakah ada sesuatu yang salah? Kalau memang kamu tahu sesuatu, tolong jangan biarkan Bibi terus hidup dalam kebingungan."
Tangis Dapit semakin pecah. Bibirnya bergetar, tetapi tak sepatah kata pun keluar.
Mida menggenggam kedua bahu bocah itu dengan lembut. "Setiap malam Bibi tidur sambil memeluk baju Harapan. Setiap bangun pagi, Bibi masih berharap dia keluar dari kamar sambil bilang lapar. Tapi semua itu nggak akan pernah terjadi lagi. Yang Bibi punya sekarang cuma pertanyaan... dan pertanyaan itu terus menghantui Bibi."
Dapit perlahan menurunkan kedua tangannya. Wajahnya basah oleh air mata. Napasnya tersengal-sengal. "Bi... aku..." Kalimat itu terhenti. Ia kembali menangis, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Mida tidak mendesak. Ia hanya memejamkan mata sambil terus menangis.
Di antara isak mereka berdua, sore itu terasa begitu sunyi. Seorang ibu yang kehilangan anak memohon jawaban, sementara seorang bocah yang tampak menyimpan sesuatu berjuang melawan rasa takut di dalam dirinya.
Untuk sesaat, tak ada lagi kata-kata. Hanya tangis yang seolah mewakili semua luka yang belum mampu diucapkan.
Entah apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam diri Dapit. Wajahnya semakin pucat. Napasnya memburu, tubuhnya gemetar tak terkendali. Tiba-tiba kedua lututnya lemas. Bruk! Tubuh kecil itu roboh ke tanah.
"Dapit...!" seru Mida panik. Mida segera memangku kepala bocah itu. Wajah Dapit benar-benar tak sadarkan diri. Mida berusaha menepuk-nepuk pipinya, tetapi tak ada respons. Dengan tenaga yang tersisa, Mida membopong tubuh Dapit menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa rumah dari gubuknya. Sesampainya di depan rumah, Mida berteriak memanggil. "Bu... Bu... tolong!"
Ibu Dapit bergegas keluar. Begitu melihat anaknya tergolek lemas di pelukan Mida, wajahnya langsung berubah pucat. "Ya Allah... Dapit! Kenapa anakku?" Ia segera memeluk tubuh putranya yang masih tak sadarkan diri. Tangannya gemetar membelai wajah Dapit sambil terus memanggil namanya.
Sementara Mida hanya berdiri terpaku. Hatinya diliputi rasa bersalah sekaligus kebingungan. Ia tak pernah berniat membuat Dapit ketakutan hingga seperti itu. Ia hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Harapan.
Namun, melihat reaksi Dapit yang begitu hebat, keyakinan Mida semakin menguat. Bocah itu pasti mengetahui sesuatu. Sesuatu yang selama ini ia pendam hingga rasa takut itu akhirnya meruntuhkan tubuhnya sendiri.
***
Meski belum memiliki bukti yang kuat, Mida memutuskan mendatangi kantor polisi. Ia tak ingin terus bergantung pada dugaan dan firasatnya. Baginya, setiap petunjuk sekecil apa pun layak diselidiki.
Di hadapan petugas, Mida menceritakan semuanya. Tentang kesaksian teman-teman Harapan yang melihat putranya pergi bersama Dapit sebelum menghilang. Tentang sikap Dapit yang selalu menghindar. Hingga ketakutan Dapit yang berujung pingsan saat ia ditanya.
Petugas mendengarkan dengan saksama. Setelah beberapa saat, salah seorang dari mereka berbicara dengan nada hati-hati. "Bu, kami memahami perasaan Ibu. Tapi untuk memulai penyelidikan, kami membutuhkan bukti atau petunjuk yang lebih kuat. Kesaksian anak-anak saja belum cukup untuk menetapkan adanya tindak pidana."
Mida menundukkan kepala. Tangannya menggenggam erat ujung kerudungnya. "Jadi... saya harus bagaimana, Pak? Anak saya sudah meninggal. Saya cuma ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Petugas menghela napas. "Kalau nanti Ibu menemukan bukti baru atau ada saksi yang bersedia memberikan keterangan lebih lengkap, silakan datang lagi. Kami akan mempelajarinya."