**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 kejutan dari sang kakek
Kepergian Tiffany yang memalukan sore itu meninggalkan keheningan yang jauh lebih manis di Penthouse Lavender. Devan tidak lagi melepaskan rangkulannya di pundak Alya bahkan setelah Yudha kembali ke lobi untuk mengurus sisa pemecatan staf keamanan yang lalai. Ada kenyamanan baru yang tak terucapkan di antara mereka berdua—sebuah pengertian bahwa mereka kini berada di kapal yang sama, siap menghadapi apa pun badai di luar sana.
Namun, seperti yang selalu dikatakan oleh sang janin ajaib, badai di dunia konglomerat tidak pernah benar-benar mereda. Mereka hanya berganti wujud.
Tiga hari setelah insiden Tiffany, sebuah mobil Mercedes-Benz Pullman klasik berwarna hitam legam—mobil yang hanya dikeluarkan untuk acara-acara kenegaraan atau urusan internal keluarga paling sakral—memasuki pelataran lobi privat Penthouse Lavender.
Sore itu, Devan kebetulan sedang berada di rumah, duduk di sofa ruang tamu seraya meninjau laporan keuangan bulanan melalui tabletnya. Alya berada di sampingnya, mengenakan salah satu gaun hamil rajut berwarna abu-abu muda pemberian Nyonya Sofia yang sangat nyaman.
*Ting!*
Pintu lift privat berdenting lambat. Bukan Yudha yang melangkah keluar, melainkan seorang pria tua bertubuh jangkung yang berjalan dengan bantuan tongkat kayu berkepala naga emas.
Pria tua itu mengenakan batik tulis sutra bermotif parang yang sangat berwibawa. Rambutnya sudah memutih sepenuhnya, namun sepasang mata elang di balik kerutan wajahnya memancarkan ketajaman yang bahkan jauh lebih mengintimidasi daripada milik Devan. Di belakangnya, dua orang pengawal pribadi berwajah legam mengikuti dengan sikap membungkuk penuh hormat.
Dia adalah **Tuan Besar Abraham Dirgantara**—pendiri sekaligus kaisar tertinggi di balik seluruh imperium Dirgantara Group. Kakek kandung Devan.
"Kakek?" Devan langsung meletakkan tabletnya dan berdiri tegak. Ekspresi wajah sang CEO dingin yang biasanya tak tergoyahkan, kini menegang sempurna. Hubungannya dengan sang kakek selalu dipenuhi dengan tekanan profesional tingkat tinggi.
Alya ikut berdiri dengan canggung, merasakan aura dominasi yang begitu pekat merangsek masuk ke dalam ruangan.
Tuan Besar Abraham tidak langsung menjawab Devan. Tongkat kayu naganya mengetuk lantai marmer dengan bunyi *tok* yang berat. Sepasang mata tuanya langsung mengunci sosok Alya, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang begitu tajam hingga terasa seperti menembus ke dalam jiwa.
"Jadi... ini gadis yang membuat cucu tunggalku memecat seluruh staf keamanan mal, memutuskan hubungan bisnis dengan keluarga Alexander, dan menyembunyikannya di atas awan ini?" suara Abraham berat, parau, namun memiliki kekuatan yang sanggup membuat papan direksi perusahaan gemetar.
Abraham berjalan mendekat, menolak bantuan Devan yang hendak memapahnya. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Alya, bertumpu pada tongkat naganya.
"Siapa namamu, Gadis Kecil?" tanya Abraham datar.
"A-Alya Putri, Tuan Besar," jawab Alya, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar meskipun lututnya mendadak terasa lemas menghadapi tatapan sang kaisar bisnis.
Abraham mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar setengah meremehkan setengah menguji. "Latar belakangmu sudah berada di mejaku sejak dua minggu lalu. Kosong. Tidak ada koneksi, tidak ada saham, tidak ada nilai tambah bagi masa depan Dirgantara Group. Devan... apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu hanya karena satu malam yang ceroboh?"
Devan melangkah maju, menempatkan tubuhnya sedikit di depan Alya dengan sikap protektif yang tegas. "Kakek, Alya sedang mengandung anakku. Dia membawa pewaris sah Dirgantara Group. Itu sudah lebih dari cukup untuk memberinya posisi di sampingku."
"Pewaris sah?!" Abraham mengetuk tongkatnya keras-keras ke lantai. *BRAK!* "Siapa yang bisa menjamin anak di dalam kandungan itu benar-benar darah daging keluarga Dirgantara? Di dunia ini, terlalu banyak wanita yang rela menggunakan trik murahan untuk memalsukan kehamilan demi merangkak naik ke kelas atas!"
Mendengar kata-kata "trik murahan" dan keraguan atas eksistensinya, entitas kecil di dalam rahim Alya mendadak terusik. Rasa hangat yang pekat langsung menjalar di perut Alya, diiringi gelombang kemarahan batin yang luar biasa kuat dari sang janin.
Di dalam kepala Alya, suara Baby El bergaung dengan nada yang sangat angkuh dan dingin—jiwa kaisar bisnisnya di kehidupan lalu benar-benar tersulut oleh kesombongan sang kakek buyut.
> *[Hmph! Pria tua yang keras kepala! Berani-beraninya kau meragukan keaslian gen kaisarku?! Jalur spiritualmu sudah sangat tua dan rapuh, Kakek Buyut! Jika bukan karena aku memilih rahim Ibu untuk terlahir kembali di keluarga ini, Dirgantara Group milikmu ini akan hancur dalam waktu lima tahun di tangan sepupu-sepupumu yang serakah itu!]*
Alya terkejut mendengar kemarahan bayinya. Namun, Baby El tidak hanya meluapkan amarahnya pada Alya. Detik berikutnya, janin ajaib itu melepaskan proyeksi energi batiniah berskala penuh yang langsung menembus masuk ke dalam pusat kesadaran Tuan Besar Abraham dan Devan sekaligus!
*BZZZZT!*
Ruang tamu penthouse mendadak terasa bergetar halus. Lampu kristal di atas mereka berpendar redup selama beberapa detik.
Tuan Besar Abraham mendadak membelalakkan matanya yang keriput. Tangannya yang memegang tongkat naga emas bergetar hebat. Wajah tuanya yang tadinya angkuh dan keras, seketika membeku dalam ekspresi horor yang luar biasa. Di dalam otaknya, sebuah visi masa depan yang sangat jelas berputar paksa seperti proyeksi hologram.
Dalam visi itu, ia melihat gambaran bursa saham global di mana Dirgantara Group sedang berada di ambang kebangkrutan akibat pengkhianatan internal, namun tiba-tiba sesosok anak kecil berusia sekitar tujuh tahun dengan mata abu-abu yang persis seperti Devan berdiri di atas podium utama bursa efek New York, menjentikkan jarinya, dan membalikkan seluruh valuasi pasar hingga menyelamatkan imperium mereka dalam semalam.
Dan bersamaan dengan visi itu, suara anak kecil yang penuh wibawa dan keagungan absolut bergema di kepala Abraham:
> *[Buka matamu, Abraham Dirgantara! Aku adalah reinkarnasi dari Elio Vance. Aku datang bukan untuk mengemis kekayaanmu, melainkan untuk memperluas imperium bisnismu hingga ke puncak tertinggi yang bahkan tidak pernah kau impikan seumur hidupmu!]*
> *[Hormati Ibuku! Karena jika Ibuku sampai menitikkan air mata karena keangkuhanmu, aku bersumpah akan lahir sebagai anak idiot yang akan menghancurkan seluruh sisa sejarah keluarga Dirgantara dari dalam!]*
*Uhuk! Uhuk!*
Tuan Besar Abraham terbatuk keras, melangkah mundur dua langkah hingga hampir terjatuh jika kedua pengawalnya tidak dengan cekatan menangkap tubuh tuanya. Keringat dingin bercucuran di pelipis sang kaisar bisnis. Ia menatap perut Alya dengan pandangan yang dipenuhi oleh rasa ngeri, kagum, dan ketakutan yang teramat sangat yang belum pernah ia rasakan sejak ia mendirikan perusahaan lima puluh tahun lalu.
Devan yang ikut mendengar bisikan batin yang sama di kepalanya hanya bisa berdiri mematung dengan napas tertahan. Ia menatap anaknya di dalam perut Alya dengan rasa takjub yang semakin mendalam. Anak ini... benar-benar monster kecil yang sangat mengerikan.
"K-Kakek?" panggil Devan dengan suara berat, memastikan kondisi sang kakek yang tampak sangat syok.
Tuan Besar Abraham mengangkat tangan kanannya yang gemetar, memberi isyarat agar para pengawalnya melepaskan pegangan mereka. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba memulihkan detak jantungnya yang berkejaran. Setelah beberapa saat yang menegangkan, Abraham menatap Alya kembali.
Namun kali ini, tidak ada lagi hawa dingin atau tatapan meremehkan. Mata elang sang pria tua kini dipenuhi oleh binar kegembiraan yang luar biasa besar, jenis kegilaan yang hanya dimiliki oleh para visioner bisnis yang melihat peluang emas terbesar dalam hidup mereka.
"Hahaha... Hahaha!" Abraham tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa parau yang menggema di seluruh ruangan penthouse, membuat kedua pengawalnya kebingungan setengah mati.
"Luar biasa! Benar-benar luar biasa!" Abraham melangkah maju kembali dengan tergesa-gesa, mengabaikan tongkat naganya yang kini diseret asal. Ia menatap Alya bagaikan melihat tumpukan batangan emas terbesar di dunia.
"Alya Putri... kamu... kamu adalah berkah terbesar yang pernah dikirimkan Tuhan untuk keluarga Dirgantara!" ucap Abraham dengan suara bergetar penuh antusiasme. Pria tua itu langsung melepas sebuah cincin giok hijau kuno bertatahkan lambang keluarga Dirgantara dari ibu jarinya—cincin simbol kekuasaan tertinggi yang hanya diwariskan kepada kepala keluarga sah.
Tanpa ragu, Abraham meraih tangan kanan Alya yang kebingungan dan memasangkan cincin giok yang longgar itu ke jari manis Alya.
"Mulai hari ini, kamu adalah Nyonya Muda Dirgantara yang sah! Siapa pun yang berani meragukanmu atau membuatmu tidak nyaman—termasuk bocah bodoh di sampingmu ini—akan berhadapan langsung denganku!" seru Abraham tegas, melotot galak ke arah Devan di akhir kalimatnya.
Devan hanya bisa mengembus napas pasrah, menopang keningnya dengan satu tangan. Strategi batiniah Baby El lagi-lagi berhasil menaklukkan benteng terkuat di keluarganya dalam waktu kurang dari lima menit.
> *[Hahaha! Sukses besar, Ibu! Sekarang kita memegang cincin kekuasaan tertinggi keluarga Dirgantara! Ayah Dingin... bersiaplah untuk menjadi bawahan kami yang paling patuh mulai sekarang!]*
Alya menatap cincin giok besar di jarinya dengan senyum canggung namun di dalam hatinya ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Pertemuan yang awalnya ia kira akan menjadi neraka, kini justru berakhir dengan dirinya yang memegang kendali penuh atas perlindungan seluruh keluarga terkaya di negara ini, semuanya berkat janin ajaib yang kini mulai tertidur lelap kembali di dalam kandungannya dengan penuh kemenangan.