Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.
Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Rencana di Bawah Bulan
Malam itu, setelah pertemuan darurat berakhir dan sebagian besar peserta rapat kembali ke tempat istirahat masing-masing, Elena tetap terjaga di meja dapur, menatap peta kasar yang digambar Jedediah menunjukkan lokasi Ashford—sebuah kota pertambangan lama di sisi selatan, dikelilingi ngarai berbatu yang membuatnya sulit didekati tanpa terdeteksi.
Whitlock duduk di seberangnya, menyesap kopi yang sudah dingin, matanya juga tertuju pada peta yang sama. "Kalau Grimes benar punya senjata secanggih yang digambarkan Jedediah, menyerang langsung sama saja bunuh diri. Kita butuh cara masuk yang lebih halus."
"Aku sudah memikirkannya," kata Elena, menggeser jarinya di atas peta menuju jalur ngarai sempit di sisi timur kota. "Jedediah bilang jalur ini jarang dijaga karena dianggap terlalu berbahaya untuk dilalui kereta atau kuda beban. Tapi untuk beberapa orang yang bergerak cepat dan diam-diam..."
"Sebuah tim kecil," gumam Whitlock, memahami arah pikiran Elena. "Masuk diam-diam, cari cara bicara dengan Grimes atau setidaknya menilai kekuatannya dari dekat, sebelum memutuskan langkah selanjutnya."
Pintu dapur berderit terbuka, dan Sarah masuk dengan Abel tertidur di gendongannya, wajahnya menunjukkan bahwa ia telah mendengar sebagian dari percakapan itu. "Aku ikut," katanya tegas, sebelum Elena atau Whitlock sempat berkata apa pun.
"Sarah, kau punya Abel yang masih bayi—" mulai Elena, namun Sarah menggeleng cepat.
"Dan kau punya Grace, tapi itu tidak menghentikanmu pergi ke Prometheus," potong Sarah, matanya tegas namun penuh kasih sayang. "Aku sudah belajar cukup banyak soal pengobatan darurat sejak melahirkan Grace, Elena. Kalau tim ini menghadapi bahaya, kalian butuh seseorang yang bisa menangani luka di lapangan. Daniel bisa menjaga Abel dan Grace bersama-sama di sini, dengan bantuan yang lain."
Elena menatap sahabatnya lama, mengingat keberanian Sarah malam pertempuran melawan Rourke, kegigihannya membantu proses kelahiran Grace di tengah kekacauan. "Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi kau menuruti setiap perintahku di lapangan, tanpa bantahan."
Sarah tersenyum tipis. "Tentu saja, Nyonya Cross," katanya dengan nada bercanda yang menyembunyikan ketegangan di baliknya.
Keesokan paginya, tim kecil mulai terbentuk—Elena, Whitlock, Sarah, dan Cassius yang kembali dikirim Margaret dari Prescott karena kemampuannya mengintai medan asing. Dr. Voss, meski tidak ikut secara fisik karena tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari efek panjang menjadi Subjek Fase Tiga, membekali mereka dengan pengetahuan berharga.
"Kalau Grimes memang meresonansi dengan fragmen Prometheus sepertimu," jelas Voss sebelum keberangkatan mereka, "ada kemungkinan dia juga mendapat peringatan serupa dari Gudangnya sendiri—sesuatu yang bisa mendeteksi niat jahat, sama seperti bubuk mesiu terkutuk yang pernah kau gunakan melawan Rourke. Berhati-hatilah, Nyonya Cross. Kekuatan sepertimu, di tangan yang salah, sama berbahayanya dengan pasukan Fase Tiga yang pernah kau hadapi."
Elena mengangguk serius, menyimpan peringatan itu baik-baik. Sebelum berangkat, ia berlutut di samping boks Grace, mengecup dahi putrinya yang tertidur lembut.
"Ibu akan pulang lagi, sayang," bisiknya, suara bergetar menahan emosi yang selalu muncul setiap kali ia harus meninggalkan putrinya untuk misi berbahaya. "Ibu janji."
Grace, seolah merasakan kehadiran ibunya meski tertidur, menggeliat pelan, tangan mungilnya menggenggam erat selimut kecilnya—seolah juga membalas janji itu dengan caranya sendiri.
Empat hari kemudian, setelah perjalanan panjang melintasi padang yang perlahan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan alami—rumput hijau mulai tumbuh kembali di beberapa area, burung-burung dengan warna bulu normal mulai terlihat sesekali—tim kecil itu akhirnya mencapai ngarai timur yang mengarah ke Ashford, tepat saat matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan corak jingga yang untuk pertama kalinya terlihat sepenuhnya alami sejak kiamat dimulai.
"Kita masuk saat malam," bisik Cassius, mengamati jalur ngarai dari kejauhan melalui teropong tua yang ia bawa. "Lebih mudah bergerak tanpa terdeteksi."
Elena menatap ke arah cahaya lampu-lampu Ashford yang mulai menyala di kejauhan, ratusan jiwa yang menunggu di baliknya—beberapa mungkin telah kehilangan harapan, namun mungkin, dengan keberanian dan kehati-hatian yang tepat, masih bisa diselamatkan dari kegelapan yang telah mencengkeram kota mereka.
"Kalau begitu," katanya, mengencangkan tali senapan di bahunya, "mari kita mulai."
Ngarai timur ternyata lebih curam dari yang digambarkan Jedediah, memaksa tim kecil itu turun dari kuda dan menuntunnya dengan hati-hati melalui jalur berbatu yang sempit. Cassius memimpin di depan, matanya yang terlatih membaca setiap bayangan mencurigakan di kegelapan yang mulai turun.
"Kita tinggalkan kuda di sini," bisiknya akhirnya, menunjuk sebuah celah batu tersembunyi yang cukup untuk menyembunyikan empat ekor kuda. "Sisanya kita jalan kaki."
Mereka melanjutkan dalam diam, hanya suara langkah hati-hati dan angin malam yang menemani. Semakin dekat ke Ashford, semakin jelas terlihat betapa berbedanya kota ini dari Prescott atau Rocking Spur—tembok pertahanan tinggi terbuat dari logam yang jauh lebih rapi dan terorganisir, menara pengawas dengan lampu sorot yang menyapu area sekitar secara berkala, dan yang paling mengkhawatirkan, sosok-sosok penjaga bersenjata yang mondar-mandir dengan senjata yang bahkan dari kejauhan terlihat jauh lebih canggih dari senapan biasa.
"Itu bukan senjata buatan tangan," bisik Whitlock, menyipitkan mata mengamati salah satu penjaga. "Itu terlihat seperti sesuatu yang dikeluarkan langsung dari Gudang, seperti punya Elena."
Sarah, yang merunduk di samping Elena, meraih tangannya erat. "Bagaimana kita bisa masuk tanpa terlihat dengan pengawasan seketat ini?"
Elena menatap ke arah tembok tinggi itu, pikirannya berputar cepat. Kotak cahaya di sudut penglihatannya berdenyut pelan, seolah menawarkan sesuatu. Ia mengulurkan tangan hati-hati, memusatkan pikiran pada kebutuhan mereka—cara masuk diam-diam, tanpa terdeteksi.
> **[Permintaan Terdeteksi: Infiltrasi Tanpa Konflik]**
> **[Item Tersedia: Jubah Peredam Bayangan (4 unit)]**
> **[Catatan: Efek terbatas, hanya bertahan beberapa jam dan tidak melindungi dari kontak fisik langsung]**
Empat jubah berwarna abu-gelap meluncur keluar dari udara kosong, teksturnya aneh—seolah menyerap cahaya di sekitarnya alih-alih memantulkannya.
"Pakai ini," bisik Elena, membagikan jubah pada yang lain. "Semoga bisa membantu kita melewati penjagaan mereka."
Setelah mengenakan jubah aneh itu, mereka mendekati tembok dengan hati-hati, dan benar saja—cahaya sorot dari menara pengawas seolah meluncur melewati mereka tanpa benar-benar "melihat" keberadaan mereka, seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan malam.
Mereka menemukan celah kecil di dasar tembok—bekas saluran air lama yang sudah tidak digunakan—cukup besar untuk dilalui satu per satu dengan merangkak. Setelah perjuangan menahan napas dan gerakan yang menyakitkan, mereka akhirnya berhasil masuk ke dalam kota Ashford tanpa terdeteksi.
Yang mereka lihat di dalam jauh lebih mengerikan dari yang digambarkan Jedediah. Jalan-jalan kota dipenuhi orang-orang dengan wajah lelah dan pandangan kosong, bergerak seperti robot menjalankan tugas-tugas yang diperintahkan, diawasi ketat oleh penjaga bersenjata di setiap sudut. Di tengah alun-alun kota, sebuah bangunan besar berdiri megah—jelas dibangun dengan sumber daya yang jauh melebihi bangunan lain di sekitarnya—dengan bendera aneh berkibar di atasnya, lambang mahkota emas dengan latar belakang ungu gelap.
"Itu istananya," bisik Cassius, menunjuk bangunan itu. "Kalau Grimes ada di mana pun di kota ini, dia pasti di sana."
Mereka bergerak hati-hati menyusuri bayangan gang-gang sempit, menghindari patroli penjaga, hingga akhirnya menemukan tempat persembunyian di balik tumpukan peti kayu tak jauh dari "istana" Grimes. Dari sana, mereka bisa mengamati lebih jelas aktivitas di sekitar bangunan itu.
"Lihat itu," bisik Sarah tiba-tiba, menunjuk ke arah sekelompok orang yang digiring keluar dari pintu samping bangunan, tangan mereka terikat, wajah mereka dipenuhi ketakutan.
Seorang pria berpakaian mewah—jauh lebih mewah dari kondisi dunia yang seharusnya memungkinkan—berdiri di balkon istana, mengawasi proses itu dengan ekspresi dingin yang mengerikan. Di sampingnya, sebuah kotak cahaya keunguan mengambang, mirip namun juga sangat berbeda dari milik Elena—lebih gelap, lebih agresif dalam cara berdenyutnya.
"Itu Grimes," bisik Whitlock tegang, mengenali sosok itu dari deskripsi Jedediah.
Elena menatap sosok itu dari kejauhan, merasakan sesuatu yang aneh—resonansi samar dari kotak cahayanya sendiri, seolah mengenali kehadiran fragmen lain yang begitu dekat. Namun resonansi itu terasa berbeda, lebih dingin, hampir terasa... rusak.
"Sekarang, dengarkan aku baik-baik!" suara Grimes menggelegar dari balkon, cukup keras untuk terdengar oleh seluruh alun-alun. "Orang-orang ini mencoba mencuri jatah makanan tambahan tanpa izinku. Kalian tahu konsekuensinya."
Ia mengangkat tangannya ke arah kotak cahaya keunguan miliknya, dan sesuatu yang gelap dan mengerikan mulai terbentuk di telapaknya—jauh berbeda dari perbekalan atau senjata pertahanan yang pernah dikeluarkan Elena dari Gudangnya sendiri.
"Kita harus bertindak sekarang," desis Elena, merasakan urgensi mencekam dadanya. "Sebelum dia melukai orang-orang tak bersalah itu."
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!