NovelToon NovelToon
Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 29: Kemandirian dari Balik Kedai Kecil

Aroma kopi bubuk yang diseduh, wangi sabun cuci sasetan, dan tumpukan beras di dalam karung mini kini menjadi pemandangan sehari-hari yang menghiasi kehidupan Kirana.

Delapan bulan berlalu sejak kematian ibunya, Kirana akhirnya berhasil mengambil satu langkah besar dalam hidupnya.

Dengan sisa uang tabungan dari bonus Koh Aliong serta hasil menjual beberapa perabot kosan yang tidak terpakai, dia memberanikan diri membuka sebuah warung kelontong dan sembako kecil-kecilan di depan gang rumah kosnya yang baru.

Warung itu tidak besar, hanya berukuran dua kali tiga meter dengan dinding papan tripleks yang dicat warna hijau muda. Namun, bagi Kirana yang sekarang, warung kecil ini adalah sebuah istana kejujuran dan rasa syukur.

"Neng Kirana, beli telur ayamnya setengah kilo sama minyak goreng yang kemasan satu liter ya," ujar Bu RT, salah satu pelanggan setia warung Kirana, sambil meletakkan selembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah di atas meja kayu.

"Iya, Bu RT. Sebentar ya, saya pilihkan telur yang paling bagus dan baru datang subuh tadi," jawab Kirana dengan senyum tulus yang mengembang alami di wajahnya. Tangannya dengan cekatan menimbang telur menggunakan timbangan bebek manual, memastikan jarum timbangannya pas tanpa mengurangi hak pembeli sedikit pun.

Sembari membungkus belanjaan, Bu RT menatap Kirana dengan pandangan kagum. "Neng Kirana ini hebat ya. Masih muda, cantik, tapi gak gengsi jualan sembako di gang senggol begini. Mana kerjanya rajin, ramah lagi sama warga. Beda banget sama anak-anak muda zaman sekarang yang maunya instan gonta-ganti baju bagus tapi males kerja."

Kirana terkekeh pelan, menyerahkan kantong plastik belanjaan beserta uang kembaliannya. "Ah, Bu RT bisa saja. Hidup itu kan yang penting berkah dan halal, Bu. Percuma punya penampilan mewah kalau semuanya hasil berutang atau menyusahkan orang lain. Sekarang saya malah merasa jauh lebih tenang hidup seperti ini."

"Betul pisan, Neng! Ya sudah, Ibu duluan ya. Semoga warungnya makin laris manis!" doa Bu RT sebelum berjalan pergi.

"Amin... terima kasih banyak, Bu RT," bisik Kirana, matanya berbinar menatap uang lima puluh ribu di tangannya. .

Dia memasukkan uang itu ke dalam kotak kayu tempat penyimpanan modalnya.

Ketika suasana warung kembali sepi, Kirana duduk di atas kursi kayu kecilnya. Dia mengambil sebuah buku catatan bergaris kusam, lalu mulai menuliskan rincian pengeluaran dan pemasukan hari itu secara manual. Fikirannya mendadak melayang pada masa dua tahun lalu, saat dia masih berstatus sebagai istri manajer keuangan. Dulu, dia sering memaki Aldi jika pria itu terlambat memberikan uang bulanan, atau jika nominal yang diberikan tidak cukup untuk menuruti gengsi arisan ibunya.

“Dulu aku begitu buta,” batin Kirana, jemarinya mengusap permukaan halaman buku kasnya. “Aku membuang berlian demi mengejar batu kerikil yang berkilau semu. Sekarang, mendapatkan keuntungan bersih lima puluh ribu sehari saja rasanya sudah seperti memenangkan lotre. Maafkan kebodohanku yang dulu, ya Allah.”

Namun, di tengah lamunannya, sebuah bayangan masa lalu kembali mengetuk pintunya ketika sebuah mobil minibus berlogo sebuah yayasan sosial besar berhenti tepat di depan gang sempit warungnya. Seorang pria paruh baya berpakaian seragam rapi turun dengan membawa sebuah berkas besar, berjalan lurus menuju ke arah warung kelontong milik Kirana.

.

.

.

.

"Selamat siang, apakah benar ini dengan Ibu Kirana, pemilik Warung Sembako Barokah?" tanya pria berseragam itu dengan sangat sopan setelah berdiri di depan etalase warung Kirana.

"Selamat siang, Pak. Iya benar, saya sendiri Kirana. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" jawab Kirana sambil berdiri dari kursi kayunya, menatap logo di dada seragam pria itu yang bertuliskan Pratama Care Foundation. Jantung Kirana mendadak berdesir cepat saat melihat kata 'Pratama', namun dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap bersikap profesional dan tenang.

Pria itu tersenyum hangat, lalu membuka map dokumen yang dibawanya. "Perkenalkan, saya Rahman, manajer operasional lapangan dari Pratama Care Foundation. Yayasan kami bergerak di bidang sosial kemanusiaan, dan kebetulan bulan ini kami memiliki program rutin penyaluran paket sembako gratis untuk seribu kepala keluarga prasejahtera di area kecamatan ini."

Kirana mendengarkan dengan saksama, dahinya sedikit mengernyit bingung. "Wah, program yang sangat bagus sekali, Pak. Tapi... apa hubungannya dengan warung kecil saya ini?"

"Begini, Ibu Kirana," jelas Pak Rahman sambil menunjukkan lembar kerja di dokumennya. "Sesuai dengan instruksi terbaru dari pimpinan pusat kami, Tuan Muda Aldi Pratama, yayasan kami dilarang keras membeli pasokan sembako dari jaringan ritel raksasa atau supermarket besar untuk program sosial. Beliau ingin dana yayasan dialokasikan langsung untuk membantu memutar roda ekonomi para pedagang mikro dan warung-warung kecil di sekitar lokasi penyaluran. Berdasarkan survei dan rekomendasi dari perangkat desa setempat, warung Ibu Kirana terpilih sebagai salah satu mitra penyedia komoditas beras dan minyak goreng untuk wilayah kelurahan ini."

Mendengar nama 'Tuan Muda Aldi Pratama' disebut sebagai pencetus kebijakan mulia tersebut, dada Kirana mendadak terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Air mata hampir saja menetes dari sudut matanya, namun dia buru-buru menyekanya dengan ujung jilbab sederhananya.

Pria yang dulu dia sia-siakan, kini telah tumbuh menjadi seorang pemimpin yang begitu bijaksana, memikirkan nasib rakyat kecil hingga ke detail yang paling bawah.

"Jadi... yayasan ingin memesan pasokan dari warung saya, Pak?" tanya Kirana dengan suara yang sedikit serak karena menahan emosi.

"Benar, Ibu Kirana. Tahap awal ini, kami ingin memesan dua ratus paket. Setiap paket berisi lima kilo beras kualitas premium dan dua liter minyak goreng. Kami akan membayar lunas di depan hari ini juga secara transfer bank, dan barangnya mohon disiapkan dalam waktu tiga hari ke depan. Bagaimana, Ibu Kirana? Apakah Anda sanggup memenuhi kuota pesanan ini?" tanya Pak Rahman penuh harap.

Kirana sempat terdiam sejenak, menghitung kapasitas modal dan tenaganya. Pesanan ini adalah sebuah berkah raksasa yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Keuntungan dari dua ratus paket ini bisa dia gunakan untuk melunasi biaya pengobatan terakhir almarhum ibunya dan menambah modal warungnya agar semakin berkembang.

"Saya... saya sanggup, Pak Rahman," jawab Kirana dengan anggukan kepala yang mantap, matanya berbinar penuh rasa syukur. "Saya akan pastikan seluruh beras dan minyak goreng yang saya sediakan adalah kualitas terbaik tanpa ada cacat sedikit pun. Terima kasih banyak atas kepercayaannya, Pak."

"Alhamdulillah. Silakan tanda tangani berkas kemitraan ini, Ibu Kirana. Setelah ini tim keuangan kami akan langsung memproses pembayarannya," ucap Pak Rahman menyodorkan pulpen.

Saat menggoreskan tanda tangannya di atas kertas berlogo Pratama Group itu, Kirana tersenyum dengan hati yang lapang. Dia tahu, Aldi tidak akan pernah tahu bahwa warung kecil miliknya adalah salah satu yang menerima bantuan ini, karena bagi Aldi, ini hanyalah kebijakan korporat biasa.

Namun bagi Kirana, ini adalah cara semesta menunjukkan bahwa kebaikan Aldi di masa lalu masih terus mengalir dan menyelamatkan hidupnya, bahkan setelah mereka tidak lagi bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!