"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
empat
"sini di..!" tangan manager itu melambai memanggil chef itu yang masih berdiri terpaku.
"ada pelanggan yang ingin mendengar langsung makanan rekomended dari kamu!"
Diandra melangkah ragu, ia meraih toque hitam dari kepalanya. Ada debar yang berkejaran di dadanya, bukankah pria itu xavier pratama.
"ini tuan xavier dan pacarnya di, mereka pengen tahu masakan terbaikmu!"
Diandra berdiri di depan xavier yang menatapnya lekat, berulangkali ia menelan salivanya yang mendadak nyangkut rasanya di tenggorokan.
"ada spagheti alla carbonara, ada beef steak dengan selera nusantara"
Suara diandra yang mencicit pelan, membuat xavier menatapnya lekat, apalagi wanita itu tak berani menatap ke arahnya.
Xavier masih mendengarkan penjelasan chef itu yang terlihat gelisah, tiba-tiba hidungnya mengendus aroma mint.
Kening xavier mengerut, cuping hidungnya terlihat mengendus.
"kamu..!" tunjuknya pada diandra yang membeku seketika.
"kamu pakai parfum?"
Diandra kaget, semuanya kaget mendengar pertanyaan xavier yang aneh.
Diandra menatap heran, "parfum? Tidak.." gelengnya.
"maaf pak xavier, kami melarang chef kami memakai parfum ketika memasak, mungkin aroma parfum dari pengunjung lain"
Xavier tak menjawab, dia hanya mengamati diandra. Matanya tak berpaling sedikitpun dari wanita itu.
Mengapa ia merasa familiar dengan wanita ini, padahal xavier yakin ini pertemuan pertama mereka. Ia selalu ingat wajah wanita cantik yang pernah hadir dalam hidupnya, namun wajah wanita ini sepertinya belum pernah hadir. Tapi mengapa ada rasa aneh setiap ia menatap wanita ini yang entah mengapa sepertinya sangat gelisah.
Aroma mint yang samar tadi, menyadarkan xavier. Matanya mengamati diandra yang masih menjelaskan masakannya itu, tadi terasa jelas aroma itu tercium dari tubuh wanita ini.
Xavier tak lagi memperhatikan penjelasan diandra, benaknya masih mencari kemungkinan-kemungkinan aroma tadi dan hubungan aroma itu dengan chef ini.
"jadi anda pesan yang mana?" diandra menatap xavier dan geraldine bergantian, namun ia tak berani lama menatap mata pria itu.
"bagaimana menurutmu?" xavier menyerahkan pada geraldine yang mengangguk.
"aku mau spagheti alla carbonara saja"
Diandra mengangguk paham, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah xavier yang ternyata menatapnya penuh selidik.
Diandra kembali kesusahan menelan saliva, ada rasa takut menjalari hati. Tapi sepertinya pria ini tidak mengenalinya, beberapa kali tadi pria itu hanya menatapnya dengan sorot antusias dan ingin tahu, tak terlihat sama sekali kalau xavier pratama mengenalinya.
"baiklah, saya akan buatkan!, tunggu sekitar 30 menit" ujar diandra sebelum meninggalkan xavier dan geraldine.
Mata xavier mengikuti diandra sampai hilang dari padangannya,
"siapa nama chef itu pak farid?" tanyanya masih dengan mata yang menatap ke arah dapur.
"diandra ratunisa, apakah pak xavier mengenalnya?"
xavier menoleh, kepalanya menggeleng, namun ia tak menjawab.
"tolong bawakan kami 2 gelas wine" pintanya, yang dianggukin manager tambun itu semangat.
"kamu kenal chef tadi?, sepertinya kamu penasaran padanya" tanya geraldine, setelah manager itu berlalu. Mata wanita itu menatap dengan sorot ingin tahu.
"atau kamu kagum karena chef tadi cantik?"
Xavier tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis.
"kenapa kamu mau ikut kencan ini?" tanyanya mengalihkan perhatian wanita itu, sebenarnya xavier memang penasaran, penasaran akan sosok wanita tadi, tapi karena dia sedang duduk dengan wanita yang dijodohkan omanya ini, agak sedikit malas kalau harus membahasnya orang lain. Apalagi orang lainnya itu, wanita yang agak menganggu perasaannya sedari tadi.
Sementara di dapur, diandra menarik nafasnya lega. Sedari tadi, berdiri di depan pria itu terus terang membuatnya gugup.
Apakah pria itu tidak mengenalinya, diandra mengerutkan keningnya. Kenangan 6 tahun silam kembali berkelebat di benaknya, malam itu, malam saat ia harus kehilangan harta yang paling berharga yang dimilikinya demi segepok rupiah untuk menyelamatkan nyawa papanya di meja operasi.
Diandra menata spagheti hati-hati, walau pikirannya sama sekali tidak dapat diajak kompromi.
Pria itu ternyata tak mengenalinya sedikitpun, diandra tahu dia memang bukan gadis yang menarik. Jadi wajar saja dirinya tak layak untuk diingat oleh seseorang, tapi masa' pria itu sedikitpun tak mengingatnya.
Diandra tahu, malam itu, apa yang mereka lakukan bukan karena cinta. Namun apakah setak layak itukah dirinya untuk diingat oleh seorang laki-laki.
Diandra menekan lonceng memanggil pelayan, untuk mengantarkan hidangan yang sudah dirapikannya.
"hhhhhh, apa yang kuharapkan!" dengusnya pelan, terdengar tawa sumbang dari bibirnya.
"diandra..!"
Diandra menoleh kaget, farid managernya berdiri di ambang dapur.
"apa mas?" alis diandra naik sebelah, meletakkan apron, di atas meja. Shiftnya berakhir sudah, karena shift malam ada chef ronal menggantikannya.
"mas elang memanggilmu ke ruangannya"
Diandra mengangguk, senyumnya melebar indah. Hari ini gajian, ia memang selalu meminta pada pemilik restoran untuk memberikan gajinya cash saja.
"buruan di.."
"iya mas!" sahut diandra, "aku salin bentar, sekalian beberes pulang"
Diandra menuju ke lokernya, meletakkan toque dan apron ke dalam loker, menyambar goodybag hitamnya, dan melangkah tenang menuju ruangan sang pemilik restoran.
Tadi diandra sempat mencuri pandang ke arah xavier, pria itu menikmati hidangannya dan mengobrol santai dengan wanita cantik yang duduk di hadapannya.
"gimana mungkin dia ngenali aku, pacarnya aja secantik itu, anggun lagi" gumam diandra pelan.
Ada rasa yang aneh merayapi hatinya, melihat xavier tertawa mesra dengan wanita itu, entah mengapa ada sedikit rasa sakit.
Padahal jelas ia bukan siapa-siapa, kisahnya dengan pria itu hanya 1 malam, tanpa cinta. Hanya kebutuhan, ia membutuhkan uang, sementara pria itu membutuhkan tubuhnya.
Diandra membuka ikatan di rambut ikalnya yang indah dan mengibaskan rambutnya yang tadi terikat ketat.
Saat diandra mengibaskan rambutnya, xavier sempat melihatnya, lagi-lagi xavier merasakan hal aneh.
Rasa itu kembali datang, rasa familiar, nyaman dan juga rasa tenang. Xavier heran, ada apa sebenarnya dengan dirinya ini, mengapa aura chef bernama diandra tadi terasa hangat dan mendebarkan.
Diandra melangkah mantap, mengetuk pintu pak elang atmaja, bos utamanya.
"masuk!"
Suara pria bernama elang itu terdengar berat, diandra meraih handle pintu dan membukanya perlahan.
Pria bernama elang atmaja itu, duduk dengan wibawanya di kursi dengan komputer di depannya.
Pria tampan berkulit putih kemerahan, dengan wajah kearab-araban, tubuhnya yang atletis membuat aura pria itu terlihat sangat luar biasa.
Pria bernama elang itu, mendongak. Menatap diandra dan tersenyum manis,
"udah selesai shift kamu di?"
"sudah mas.." angguk diandra santai, dia duduk di sofa tanpa disuruh.
"kenapa sih kamu nggak mau gaji kamu di transfer?"
"ribet mas.." sahut diandra tertawa kecil.
"lagian aku nih rada jadul, suka yang cash-cash aja"
Elang terbahak, ia menghampiri diandra dengan amplop di tangannya.
"nih, gaji kamu bulan ini..." ujar pria itu meletakkan amplop di depan diandra.
"dan ini buat killian.."
"mas..!" diandra protes, sebuah amplop lagi diletakkan di atas pangkuannya.
"kumohon di, terimalah. Aku nggak maksa kamu menerima perasaanku lewat itu" tunjuk pria itu dengan dagunya ke amplop yang ada di pangkuan diandra.
"aku tahu, killian besok ulangtahun, anggap aja itu kado dari aku"
Diandra tersenyum masam, ada rasa jengah menghampirinya. Sudah 2 tahun ini elang menunjukkan perasaannya dengan jelas, namun diandra nggak berani menerima perasaan itu.
Rasa tak percaya dirinya terlalu mengakar di hati. Diandra sadar diri, dia hanya seorang wanita yatim piatu yang membesarkan seorang putra tanpa ayah. Bagaimana bisa dia merasa dirinya cukup layak untuk pria setampan dan semapan elang atmaja.
Orangtua elang, terutama ibu pria itu, jelas-jelas menunjukkan ketidak sukaannya pada diandra. Beberapa kali pernah terdengar di telinga diandra tanpa sengaja, ibunya elang mewanti-wanti pria itu untuk tidak menyukainya.
Sejak itu diandra sadar, bahwa dia bukanlah wanita yang layak untuk siapapun.
Bersambung...