Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 19: Bayaran untuk Sebuah Keangkuhan
Rendy melangkah mundur selangkah demi selangkah, wajahnya yang tampan kini distorsi oleh ketakutan yang luar biasa. Dia menatap ke sekeliling, namun semua orang yang tadinya menjilat dan memujinya kini memalingkan wajah, tidak sudi terlibat dengan seorang kriminal yang baru saja mengkhianati pemilik Pratama Group.
"Rendy Wijaya," panggil Aldi, melangkah maju dua langkah, mengikis jarak di antara mereka. Suara ketukan sepatu kulit Aldi terasa seperti lonceng kematian di telinga Rendy. "Kamu kembali ke sini dengan modal uang suap dan dana curian, mengira bisa merebut apa yang menjadi milikku. Kamu menginjak harga diriku di kantor, mempermalukanku di gudang belakang, bahkan memberiku uang tip seratus ribu rupiah kemarin, bukan?"
Aldi merogoh saku jas mewahnya, mengeluarkan selembar cek kosong, lalu menuliskan angka di atasnya dengan pulpen emasnya. Dia menjatuhkan cek itu tepat di depan wajah Rendy yang sedang membeku.
"Ini lima puluh miliar rupiah, jumlah yang sama dengan dana investasi yang kamu gelapkan ke rekening cangkangmu," ucap Aldi dengan nada dingin yang mematikan. "Ambil uang ini, dan gunakan untuk membayar pengacara terbaik yang bisa kamu temukan di negara ini. Karena setelah malam ini, tim legal Pratama Group akan memastikan kamu membusuk di sel isolasi seumur hidupmu."
"Tuan Muda Aldi! Tolong kasihanilah saya, Tuan Muda! Saya khilaf! Saya melakukan ini karena obsesi masa lalu saya pada Kirana!" teriak Rendy, akhirnya berlutut di atas lantai, kehilangan seluruh harga diri dan arogansinya sebagai CEO. Dia menangis memohon belas kasihan, namun Aldi bahkan tidak berkedip.
Bapak Subroto langsung memberi isyarat kepada petugas kepolisian berseragam yang sejak tadi menunggu di luar ballroom. Empat orang polisi masuk dengan borgol besi di tangan mereka, langsung meringkus Rendy dan Soni di depan ratusan pasang mata yang menonton.
"Bawa mereka pergi. Lakukan proses hukum tanpa ada dispensasi sedikit pun," perintah Bapak Subroto tegas.
Saat Rendy dan Soni diseret keluar dari ballroom sambil berteriak histeris meminta ampun, keheningan kembali menguasai ruangan. Kini, perhatian Aldi perlahan beralih ke sudut meja VIP, tempat di mana Ibu Ratna dan Riko sedang berdiri dengan tubuh yang menggigil layaknya ayam kuyu di tengah badai.
Ibu Ratna memegang dada kirinya yang terasa sesak. Wajah wanita paruh baya yang biasanya angkuh dan bermulut tajam itu kini tampak sangat menyedihkan. Dia menatap menantunya—pria yang setiap malam dia sindir di meja makan—dengan pandangan penuh ketakutan sekaligus harapan palsu yang egois.
"A-Aldi... menantuku yang tampan..." ucap Ibu Ratna dengan suara gemetar, mencoba memaksakan senyum manis yang justru terlihat sangat mengerikan karena kepanikan.
"Mama... Mama bener-bener gak tahu kalau kamu itu Tuan Muda kaya raya. Maafkan Mama ya, Nak. Selama ini Mama cuma bercanda di meja makan, Mama cuma mau memotivasi kamu supaya sukses... Kamu gak marah kan sama Mama?"
Mendengar ucapan ibunya, Kirana seketika merasa dunianya runtuh dua kali. Rasa malu yang teramat sangat menghantam kesadarannya. Bagaimana bisa ibunya masih sempat-sempatnya bermuka dua dan mengemis harta setelah semua penghinaan keji yang mereka lontarkan pada Aldi?
Riko juga ikut maju dengan wajah memelas, kehilangan seluruh gaya sok kerennya. "I-iya, Mas Aldi... Kakak iparku yang hebat. Tolong maafkan Riko ya, Mas. Soal cicilan rumah dan uang kuliah Riko... Riko bener-bener minta maaf. Riko gak bakal minta laptop gaming lagi, Mas. Tolong jangan cabut fasilitas kuliah Riko..."
Aldi menatap Ibu Ratna dan Riko dengan pandangan mata yang kosong, tanpa ada amarah, namun juga tanpa ada lagi rasa hormat. Pandangan yang diberikan seseorang kepada orang asing yang tidak penting di pinggir jalan.
"Ibu Ratna," ucap Aldi, tidak lagi memanggilnya dengan sebutan 'Ma'. Kalimat itu membuat Ibu Ratna tersentak seolah ditampar. "Rumah besar yang Anda tempati saat ini, sertifikatnya dibeli kembali dari bank menggunakan dana pribadi saya dua tahun lalu secara senyap. Dan seluruh biaya arisan mewah Anda, cicilan rumah Riko, serta gaya hidup glamor yang Anda banggakan di depan teman-teman Anda... semuanya bersumber dari uang hasil jerih payah pria yang Anda sebut sebagai 'menantu gak berguna'."
Aldi menoleh pada Edi yang berdiri di sampingnya. "Edi, mulai malam ini, blokir seluruh kartu kredit sekunder yang terhubung dengan akun saya atas nama Ratna Sitorus dan Riko Sitorus. Batalkan seluruh jaminan dana untuk cicilan rumah kluster Riko, dan biarkan pihak bank melakukan prosedur penyitaan sesuai hukum yang berlaku."
"Baik, Tuan Muda. Instruksi langsung dijalankan," jawab Edi dengan tegas.
"Aldi! Jangan, Aldi! Tolong kasihanilah kami! Kalau rumah Riko disita, kami mau taruh di mana muka kami di depan tetangga?!" jerit Ibu Ratna, histeris hingga hampir pingsan, sementara Riko langsung tertunduk lesu dengan air mata yang mulai menetes karena tahu masa depan mewahnya hancur dalam sekejap.
Di tengah kekacauan itu, Aldi akhirnya melangkah mendekati Kirana yang berdiri membisu dengan tubuh gemetar hebat. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa satu langkah, namun Kirana bisa merasakan bahwa jarak emosional di antara mereka sudah sejauh langit dan bumi.
"Mas... Aldi..." bisik Kirana, suaranya parau oleh air mata. Dia menatap mata suaminya, mencari sisa-sisa kehangatan yang biasanya selalu ada untuknya, namun yang dia temukan hanyalah hamparan es yang dingin. "Aku... aku bener-bener minta maaf. Aku salah, Mas. Aku silau karena gengsi... Aku terpengaruh oleh Mama dan Rendy... Tolong, Mas... jangan tinggalkan aku..." Kirana berlutut di depan Aldi, memegang ujung celana kain mewah suaminya dengan tangis yang pecah.
Aldi menatap istrinya yang sedang bersimpuh di kakinya. Ada sejumput rasa sakit di hati Aldi melihat wanita yang pernah sangat dicintainya berada dalam kondisi senasib ini. Namun, luka akibat pengkhianatan keercayaan dan ketiadaan pembelaan dari Kirana saat dia diinjak-injak jauh lebih dalam dan telah mengubah segalanya.
"Kirana," ucap Aldi lembut, namun nadanya mengunci mati semua harapan. Dia membungkuk perlahan, melepaskan tangan Kirana dari celananya dengan gestur yang tegas.
"Saat aku bersedia menanggalkan seluruh kemewahanku demi hidup sederhana bersamamu, kamu justru memilih membuang sisa kehormatanku demi kemewahan semu orang lain.
Pernikahan kita yang didasari ketulusan, sudah kamu hancurkan sendiri dengan racun gengsimu."
Aldi menegakkan tubuhnya kembali, berbalik badan memunggungi Kirana. "Surat perceraian resmi kita akan dikirimkan oleh tim pengacara Pratama Group ke rumahmu besok pagi. Tandatangani itu, dan hiduplah dengan status yang selama ini sangat kamu dambakan."
Aldi melangkah tegap meninggalkan Grand Ballroom, dikawal oleh puluhan pengawal jas hitam dan Bapak Subroto, tanpa menoleh ke belakang lagi. Di tengah aula yang megah itu, Kirana hanya bisa menangis histeris meratapi kebodohannya, sementara Ibu Ratna dan Riko terduduk lemas menyadari bahwa badai kemiskinan dan rasa malu yang sesungguhnya baru saja dimulai bagi keluarga mereka.