Freya Winata (25) adalah definisi sempurna dari wanita modern, cantik, ceria, manja, dan enerjik. hidupnya yang penuh warna mendadak berubah ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Adrian Valerick (30), seorang CEO dingin yang kaku, keras kepala dan hanya peduli dengan tumpukan berkas di kantornya.
Bagi Adrian, pernikahan adalah transaksi yang tidak logis. Namun, ancaman pencopotan jabatan dari sang ayah membuatnya terpaksa mengucapkan janji suci. Berbeda dengan Adrian yang murka, Freya justru melihat kejengkelan Adrian sebagai tantangan paling seru dalam hidupnya. Ia bertekad menjinakkan "Tuan Kaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama
Aroma manis nan segar dari perpaduan blackcurrant, peony, dan sentuhan hangat vanilla gourmand khas parfum Maison Francis Kurkdjian milik Freya mulai menjajah setiap sudut lantai satu mansion. Wangi itu tidak hanya harum, tetapi juga meninggalkan jejak aromatik yang tegas, seolah menandai bahwa sang nyonya muda kini memegang kendali penuh atas wilayah tersebut.
"Pak Hadi, tolong vas bunga kristal yang di pojok itu digeser dua senti ke kanan ya.
Yes, perfect! Biar estetikanya pas," titah Freya anggun.
Dia berdiri di tengah ruang keluarga sambil memegang cangkir porselen berisi chamomile tea. Gaun satin rumahan berwarna merah muda lembut membungkus tubuh proporsionalnya dengan pas. Poni rambutnya bergerak halus saat dia mengangguk puas melihat perubahan dekorasi harian yang dia pandu.
"Baik, Nyonya Muda. Apakah ada hal lain?" Pak Hadi menyeka keringat di dahinya dengan saputangan, merasa sedikit kewalahan namun kagum dengan ketelitian Freya yang setara dengan kurator museum seni internasional.
"Oh, satu lagi. Tolong pastikan lilin aromaterapi dengan wangi salted caramel sudah dinyalakan di koridor tengah sebelum jam tujuh malam. Mas Adrian kan suka pusing kalau pulang kantor, biar otaknya agar rileks sedikit," Freya mengedipkan matanya jenaka.
"Akan segera saya laksanakan, Nyonya," Pak Hadi membungkuk hormat lalu segera undur diri ke belakang bersama dua pelayan lainnya.
Tepat pukul delapan malam, suara deru mesin mobil mewah Rolls-Royce Phantom milik Adrian terdengar berhenti di pelataran depan. Pintu ganda terbuka, menampilkan sosok Adrian Valerick dengan langkah tegap, gagah, namun wajahnya tampak luar biasa lelah setelah seharian memantau grafik bursa saham dunia yang bergejolak ekstrem. Jas hitamnya sudah tersampir di lengan kiri, sementara tangan kanannya sibuk melonggarkan dasi sutranya.
Begitu melangkah melewati pembatas pintu, langkah Adrian mendadak terhenti secara instan. Alis tebalnya bertaut tajam. Saraf-sarafnya yang kaku mendadak mendeteksi distorsi tajam di dalam mansion.
Wangi blackcurrant dan peony yang manis nan segar itu langsung menyergap hidungnya, bertubrukan dengan aroma kopi hitam yang biasa mendominasi ruangan pribadinya.
"Kenapa tata letak ruangan ini berubah?" suara bariton Adrian menggema dingin di dalam ruangan.
Matanya yang tajam langsung mengarah pada vas bunga kristal dan beberapa majalah Vogue serta Harper's Bazaar yang tertata rapi di atas meja marmer.
Freya, yang sejak tadi duduk santai di sofa beludru sambil membaca tabletnya, langsung menoleh. Dia berdiri dengan gerakan yang sangat elegan dan berjalan mendekati Adrian dengan senyuman ceria yang tidak pernah pudar.
"Selamat malam, Hubby! Welcome home," sapa Freya manis, mengabaikan raut wajah suaminya yang sedingin es batu di dalam freezer.
Adrian mundur satu langkah saat Freya berdiri tepat di depannya. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat wangi parfum dari tubuh Freya makin pekat terasa. Adrian berdehem kaku, mencoba mempertahankan benteng rasionalitasnya.
"Saya bertanya tentang dekorasi ini, Freya. Ini melanggar efisiensi fungsi ruangan yang sudah saya tetapkan."
"Efisiensi? Oh come on, Mas Adrian," Freya tertawa renyah, menepuk pelan lengan tegap Adrian yang keras seperti batu.
"Ini namanya sentuhan estetika tingkat tinggi. Biar mansion ini kelihatan hidup, bukan kayak kantor cabang bank swasta. Lagian, wangi parfum aku enak kan? Lebih bagus daripada bau berkas-berkas saham kamu yang membosankan itu."
Adrian menatap Freya lurus-lurus dengan pandangan yang mampu membuat nyali direksi perusahaan manapun menciut. "Saya tidak peduli dengan estetika atau jenis parfum apa pun yang kamu pakai. Saya hanya ingin rumah ini tetap teratur sesuai sistem saya."
"Aturan kamu itu monoton banget tahu, Pak CEO," Freya memajukan wajahnya, berbisik centil dengan kuku-kuku manikurnya yang mengetuk pelan dada bidang Adrian.
"Pelan-pelan saja... aku pasti bakal ubah semua aturan kaku kamu itu satu per satu. Just wait and see."
Adrian merasakan rahangnya mengeras. Ada kepuasan aneh yang menantang dari binar mata istrinya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Adrian langsung membalikkan badan, melangkah kaku menuju tangga dengan hentakan kaki yang tegas.
"Terserah kamu. Jangan ganggu waktu istirahat saya malam ini."
Freya hanya terkekeh geli melihat punggung tegap suaminya yang berjalan cepat seperti dikejar setan. Di balik punggung Adrian, Pak Hadi dan Bi Darmi yang mengintip dari koridor belakang hanya bisa menarik napas lega. Tuan muda mereka mungkin sekeras batu baja, tapi nyonya muda mereka jelas punya cara berkelas untuk terus mengikis permukaannya.